buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 9)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 47, Tanggal 15 September 2008
Oleh: Ludwig von Mises

(Kembali ke Bagian 8; atau ke Bagian 1)

3. KETIDAKADILAN

Para detraktor yang paling bersemangat dalam mengkritik kapitalisme adalah mereka yang menolaknya atas tuduhan ketidakadilan. Mengarang-ngarang hal-hal yang seharusnya terjadi dan mengontraskannya dengan apa yang tidak terjadi adalah kebiasaan yang menyenangkan oleh sebab hal tersebut bertentangan dengan hukum-hukum alam semesta yang riil dan memang tidak lentur.  Sejauh sebatas impian, itu tentu boleh-boleh saja. Namun, ketika para pengarang tersebut mulai mengabaikan perbedaan antara fantasi dan realitas, mereka menjelma menjadi hambatan yang paling serius bagi upaya manusia untuk meningkatkan kondisi eksternal kehidupan dan kesejahteraannya.

alt text(Source: www.ohiomm.com)

Yang terburuk dari delusi ini adalah gagasan yang mengatakan bahwa “alam” memberkahi setiap manusia dengan hak-hak tertentu. Menurut doktrin ini alam menerima dengan tangan terbuka setiap anak yang dilahirkan di bumi. Segala sesuatu sudah tersedia secara berlimpah bagi semua orang. Sebagai konsekuensinya, setiap orang memiliki klaim yang tidak teralienasikan dari sejawat serta masyarakatnya sehingga ia harus mendapatkan seporsi penuh apa yang telah dialokasikan oleh alam kepadanya. Hukum-hukum kodrati yang alamiah dan keadilan ilahi mengharuskan bahwa tidak seorangpun harus mengapropriasi bagi dirinya sendiri apa yang seusai haknya merupakan milik orang-orang lain.  Orang-orang miskin telah menjadi miskin oleh sebab manusia-manusia yang tidak adil teah melucuti mereka apa yang menjadi hak-hidup mereka. Adalah tugas gereja dan otoritas sekulerlah untuk mencegah terjadinya kecurangan semacam itu dan untuk membuat semua orang hidup makmur.

Setiap kata dalam doktrin ini, keliru. Alam tidak menyediakan segala sesuatu secara berkelimpahan, melainkan secara amat terbatas. Dia membatasi ketersediaan semua hal yang tidak terpisahkan bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Alam mengisi dunia ini dengan hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan; bagi makhluk-makhluk hidup ini, dorongan untuk menghancurkan kehidupan dan kesejahteraan manusia adalah sesuatu yang sudah “terpatri“. Alam memperlihatkan segenap daya dan elemen yang operasinya siap menghancurkan kehidupan manusia dan setiap upaya manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Keberlangsungan hidup dan kesejahteraan manusia adalah pencapaian keterampilan; dengan keterampilan ini manusia memanfaatkan instrumen utama yang diberikan alam kepadanya–yakni akal.

Manusia, yang saling bekerjasama satu sama lain dalam sistem pembagian kerja (division of labor), telah menciptakan kekayaan yang oleh para pemimpi di atas dianggap sebagai pemberian alam secara cuma-cuma. Dalam hal “distribusi” kekayaan tersebut, adalah tidak masuk akal jika kita mengacu kepada prinsip keadilan yang konon dikatakan bersifat kodrati atau ilahiah. Yang menjadi masalah bukanlah alokasi porsi-porsi dari “dana” yang disediakan alam kepada manusia. Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan institusi-institusi sosial tersebut, yang memungkinkan manusia untuk terus meningkatkan produksi segala  hal yang dibutuhkannya.

Dewan Gereja Dunia, sebuah organisasi ekumene (universal) Gereja-Gereja Protestan, pada 1948 mendeklarasikan: “Keadilan menuntut agar penduduk Asia dan Afrika, misalnya, menerima manfaat dari produksi yang menggunakan lebih banyak mesin (the benefits of more machine production).”[1] Hal ini hanya masuk akal jika orang mengimplikasikan bahwa Tuhan memberikan kemanusiaan dengan sejumlah tertentu permesinan dan mengharapkan agar alat-alat ini didistribusikan secara adil kepada berbagai bangsa. Akan tetapi negara-negara kapitalis ternyata “durjana”; mereka menguasai pasokan benda tersebut secara jauh lebih banyak ketimbang yang telah dialokasikan oleh “keadilan”, dan dengan demikian telah menyurangi para penduduk Asia dan Afrika dari porsi-porsi yang adil.  Betapa memalukannya!

Di sini kebenarannya adalah bahwa pengakumulasian modal dan investasi modal tersebut dalam bentuk mesin-mesin, sebagai sumber kemakmuran bangsa-bangsa Barat yang secara komparatif memang lebih besar, secara eksklusif disebabkan oleh kapitalisme laissez-faire yang dalam dokumen yang sama di atas telah dimisrepresentasikan dan ditolak oleh pihak geraja atas dasar pertimbangan moral. Bukanlah kesalahan para kapitalis jika bangsa-bangsa Asiatik atau Afrika tidak mengadopsi ideologi atau kebijakan yang memungkinkan terjadinya evolusi kapitalisme yang secara autochthonous [Red: tumbuh dari dalam diri mereka sendiri]. Bukan pula kesalahan para kapitalis jika kebijakan-kebijakan yang diambil oleh bangsa-bangsa tersebut mementahkan berbagai upaya investor asing untuk memberi mereka “the benefits of more machine production.” Tidak ada yang dapat membantah bahwa apa yang membuat ratusan juta manusia di Asia dan Afrika menjadi miskin adalah karena mereka tetap berpegang pada metode-metode produksi yang primitif dalam berproduksi dan gagal memeroleh manfaat yang sebenarnya dapat mereka nikmati dengan mengerahkan peranti yang lebih baik dan rancangan teknologis yang mutakhir. Hanya ada satu cara untuk mengatasi prahara mereka-yakni, pengadopsian secara penuh kapitalisme laissez-faire. Yang mereka butuhkan adalah wirausahawan swasta dan akumulasi-akumulasi modal, kapitalis dan wirausahawan baru. Tidaklah masuk akal menyalahkan kapitalisme dan bangsa-bangsa kapitalis Barat atas kesulitan yang diciptakan oleh bangsa-bangsa terbelakang tersebut kepada mereka sendiri. Resep obatnya mestinya bukan berupa “keadilan” melainkan penggantian kebijakan yang tidak tepat dengan yang tepat, misalnya laissez-faire.

Yang telah meningkatkan standar hidup orang-orang biasa di negara-negara kapitalistik sehingga mencapai ketinggiannya saat ini, bukanlah wacana yang congkak tentang konsep keadilan yang samar-samar, melainkan aktivitas-aktivitas sejumlah manusia yang dijuluki sebagai para “individualis yang kasar” dan “pelaku ekspolitasi.” Kemiskinan yang dialami bangsa-bangsa terbelakang adalah akibat fakta bahwa kebijakan-kebijakan ekspropriasi, perpajakan diskriminatif dan kontrol valas merekalah yang telah mencegah terjadinya investasi modal asing sementara kebijakan-kebijakan domestik mereka melibas pengakumulasian modal asli.

Semua yang menolak kapitalisme dengan dalih moral sebagai sistem yang tidak adil mengalami delusi akibat kegagalan mereka dalam memahami apa itu modal, bagaimana dia dapat terbentuk dan terjaga, dan apa saja manfaat-manfaat akibat pengerahannya dalam proses-proses produksi.

Satu-satunya sumber pembentukan barang-modal baru adalah melalui tabungan. Jika semua barang hasil produksi dikonsumsi, modal baru tidak tercipta. Tetapi jika konsumsi berada di belakang produksi dan surplus barang yang baru dihasilkan terhadap barang yang terkonsumsi dimanfaatkan lebih lanjut dalam proses-proses produksi, maka proses-proses ini demikian akan berlanjut dengan bantuan tambahan barang-modal. Semua barang modal merupakan barang-antara, langkah-langkah yang perlu ditempuh di jalan yang, dimulai dari pengerahan awal faktor-faktor produksi asli (misalnya berupa sumber daya alam dan tenaga manusia), menuju penciptaan final barang yang siap untuk dikonsumsi. Semua barang ini dapat habis terpakai. Cepat atau lambat, mereka akan aus dalam proses produksi. Jika semua produk dikonsumsi tanpa adanya penggantian barang modal yang telah terpakai dalam proses produksi, maka modal itu sendiri akan dikonsumsi. Jika hal ini terjadi, produksi selanjutnya hanya dapat tertopang oleh barang modal yang jumlahnya sedikit dan dengan demikian akan menghasilkan output yang lebih kecil per unit sumber daya alam dan tenaga kerja yang dikerahkan. Untuk mencegah terjadinya dissaving dan divestasi semacam ini, orang harus mendedikasikan sebagian upaya produktifnya khusus untuk mempertahankan modal, yakni dengan cara mengganti barang modal yang terserap dalam proses produksi barang-barang yang dapat dipakai.

Modal bukanlah barang bebas yang datang dari Tuhan atau alam. Dia merupakan hasil pengekangan oleh manusia yang melihat jauh ke depan. Dia diciptakan dan ditingkatkan lewat tabungan dan dipertahankan dengan mencegah tabungan sehingga tidak tergerus oleh konsumsi.

Modal atau barang modal pun tidak memiliki di dalam dirinya kemampuan untuk meningkatkan produktivitas sumber daya alam dan sumber daya manusia. Hanya jika buah-buah dari tabungan dikerahkan atau diinvestasikan secara bijaksanalah mereka meningkatkan output per unit sumber-sumber daya tersebut. Jika tidak demikian, mereka akan menjadi kesia-siaan.

Akumulasi modal baru, pengelolaan modal yang telah ada dan utilisasi modal untuk meningkatkan produktivitas upaya manusia merupakan hasil dari tindakan manusia yang bersengaja. Hal-hal tersebut adalah hasil dari perilaku orang-orang yang berhemat dan abstain dari tindakan-tindakan yang non-tabungan-dengan demikian, misalnya, para kapitalis memeroleh bunga; dan mereka yang berhasil memanfaatkannya untuk memuaskan kebutuhan konsuimen dengan cara terbaik-dengan demikian, para pengusaha mendapatkan keuntungan.

Baik kapital (atau barang modal), perilaku sang kapitalis maupun perilaku sang pengusaha sama-sama tidak dapat meningkatkan standar hidup orang lain jika mereka yang non-kapitalis dan non-pengusaha tidak bereaksi dalam cara tertentu. Jika para penerima upah bertindak dalam cara yang digambarkan oleh “hukum-besi upah” dan jika mereka memang benar-benar mengetahui bahwa upah mereka tidak akan bermanfaat lebih jauh selain untuk makan dan beranak pinak sana, maka hasil peningkatan modal yang terakumulasi hanya akan berlomba atau berkejaran dengan angka kenaikan populasi.  Semua manfaat yang diturunkan dari akumulasi tambahan modal akan terserap oleh pertambahan jumlah manusia.  Akan tetapi, cara manusia dalam merespon membaiknya kondisi eksternal kehidupannya berbeda dari respon yang dilakukan oleh kuman penyakit.  Manusia mengenal bentuk-bentuk kepuasan lain selain dengan cara makan dan berkembang biak. Sebagai konsekuensinya, di negara-negara berperadaban kapitalistik, peningkatan modal yang terakumulasi terjadi lebih cepat ketimbang peningkatan jumlah penduduk. Sejauh hal ini terjadi, produktivitas-marjinal tenaga kerja akan meningkat terhadap  produktivitas marjinal dari faktor-faktor material produksi. Kenaikan upah cenderung akan terjadi. Proporsi output total produksi yang bergerak ke arah para penerima upah semakin meningkat ketimbang proporsi bunga yang bakal diperoleh kapitalis dan proporsi nilai sewa bagi para pemilik lahan.[2]

Pembicaraan tentang produktivitas tenaga kerja hanya masuk akal jika orang mengacu kepada produktivitas marjinal dari tenaga kerja, a.l. terhadap pengurangan dalam output netto yang akan ditimbulkan oleh ketiadaan satu orang pekerja. Dengan demikian dia mengacu kepada suatu kuantitas ekonomis tertentu, yaitu kepada sejumlah determinat barang atau ekuivalennya dalam uang. Konsep produktivitas umum dari tenaga kerja sebagaimana diacu dalam diskusi popular yang berkisar tentang hak alamiah pekerja untuk mengklaim peningkatan produktivitas secara total adalah pembicaraan kosong dan tidak dapat didefinisikan. Dia berasal dari ilusi bahwa adalah memungkinkan menengtukan pangsa bagi masing-masing dari berbagai faktor komplementer produksi yang secara fisik berkontribusi dalam penghasilan produk. Jika seseorang memotong selembar kertas dengan gunting, tidaklah mungkin memastikan kuota yang pasti dari hasil yang diberikan gunting tersebut (atau masing-masing bilahnya) dan terhadap orang yang mengoperasikan gunting tersebut. Untuk membuat sebuah mobil, orang memerlukan berbagai mesin dan alat, berbagai bahan baku, tenaga kerja berbagai jenis pekerja manual dan, pertama-tama, rencana dari seorang perancang. Tetapi tidak seorangpun dapat memutuskan seberapa besar kuota dari mobil yang dihasilkan yang secara fisik disebabkan oleh berbagai faktor tersebut yang pengerahannya diperlukan dalam pemroduksian mobil..

Demi argumen semata, kita boleh mengesampingkan semua pertimbangan yang menunjukkan kekeliruan yang umum terjadi dalam menangani problem tersebut dan bertanya: Dari kedua faktor tersebut, tenaga kerja dan modal, yang manakah yang telah menyebabkan kenaikan produksi? Namun, jika kita menanyakannya persis dengan cara tersebut, jawabannya haruslah: modal. Apa yang menyebabkan output di AS dewasa ini (per kepala dari tenaga manusia yang dipekerjakan) lebih tinggi daripada di jaman-jaman lalu atau di Negara-negara yang perekonomiannya terbelakang-misalnya, Cina-adalah fakta bahwa pekerja kontemporer Amerka didukung oleh alat-alat yang lebih banyak dan lebih baik. Jika peralatan modal (per kepada setiap pekerja) tidak lebih melimpah ketimbang tiga ratus tahun lalu atau dewasa ini di Cina, maka output (per pekerja) tidak akan lebih tinggi. Apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan, ketika jumlah pegawai tidak mengalami kenaikan, jumlah total output industrial Amerika adalah investasi modal tambahan yang hanya dapat terakumulasi melalui tabungan baru. Tabungan dan investasi itulah yang harus diberikan kredit bagi berkembangnya produktivitas total tenaga kerja.

Apa yang menaikkan upah dan mengalokasikan kepada penermima upah porsi yang selalu lebih besar daripada yang telah menjadi semakin meningkat oleh akumulasi modal tambahan adalah fakta bahwa tingkat akumulasi modal melampaui tingkat pertambahan populasi. Doktrin resmi menyadari fakta ini namun tidak mengatakan apa-apa, atau bahwan mencoba membantahnya secara keras. Namun, kebijakan-kebijakan serikat buruh dengan jelas menunjukkan bahwa para pemimpin mereka menyadari sepenuhnya kebenaran teori yang secara public mereka nodai sebagai teori bodoh pendukung borjuis. Mereka bersemangat untuk membatas jumlah pencarai kerja di seluruh negeri melalui UU anti-imigrasi dan di setiap segmen pasar tenaga kerja dengan mencegah influks pendatang baru.

Bahwa kenaikan tingkat upah tidak tergantung pada “produktivitas” pekerja secara individual, melainkan pada produktivitas tenaga kerja secara marjinal, jelas didemonstasikan oleh kenyataan bahwa tingkat upah juga akan bergerak ke atas bagi kinerja-kinerja di mana “produktivitas” individual tidak mengalami perubahan sama sekali. Ada banyak pekerjaan yang seperti itu. Seorang pencukur rambut memotong rambut kliennya hari ini dengan cara yang sama persis dengan yang telah dilakukan pencukur-pencukur pendahulunya dua ratus tahun yang lalu. Seorang pelayan melayani meja PM Inggris dengan cara yang sama dengan car ayang dilakukan pelayan-pelayan sebelumnya yang dulu melayani Pitt dan Palmerston. Di bidang pertanian sejumlah pekerjaan tertentu masih dilakukan dengan alat-alat yang sama dengan yang dipergunakan berabad-abad lalu. Namun tingkat upah para pekerja tersebut dewasa ini lebih tinggi daripada di masa lalu. Mereka lebih tinggi karena upah mereka ditentukan oleh produktivitas marjinal tenaga kerja. Majikan dari sang pelayan mempertahankan orang tersebut agar tidak bekerja di pabrik dan dengan demikian harus membayarnya dengan nilai yang setara dengan kenaikan output yang dihasilkan oleh penugasan satu karyawan tambahan di parbrik. Bukan lantaran kontribusi sang pelayan yang menyebabkan kenaikan upahnya, melainkan fakta bahwa kenaikan modal yang ditanam melampaui kenaikan jumlah karyawan.

Semua doktrin pseudo-ekonomi yang mendepresiasikan peran tabungan dan pengakumulasian tabungan, musykil. Apa yang meningkatkan kemakmuran masyarakat kapitalistik dalam perbandingannya dengan masyarakat yang non-kapitalistik adalah fakta bahwa ketersediaan pasokan barang modal.  Faktanya adalah bahwa ketersediaan barang modal di negara-negara kapitalistik lebih besar ketimbang di negara-negara non-kapitalistik. Apa yang meningkatkan standar hidup para penerima upah adalah fakta bahwa peralatan modal per kepala dari penduduk yang bersemangat bekerja dan menerima upah telah mengalami kenaikan.  Konsekuensi dari fakta inilah bahwa prosi yang semakin meningkat dari total jumlah barang produksi yang dapat dipakai sampai ke pada para penerima upah tersebut. Kendati tidak tergolong ekonom utama penentang Marx, Keynes dan sejumlah penulis lain yang kurang terkenal, juga berhasil memperlihatkan titik lemah dalam pernyataan bahwa hanya terdapat satu cara untuk meningkatkan upah secara permanen demi kemaslahatan pekerja upahan-yakni, dengan mengakselerasikan peningkatan modal yang tersedia bagi populasi. Jika ini dikatakan “tidak adil”, maka kesalahannya terletak pada alam dan bukan pada manusia.

(Bersambung)

(Kembali ke Bagian 8; Bagian 1 atau Bagian 10)


[1] Lihat The Church and the Disorder of Society, New York, 1948, hal. 198.

[2] Keuntungan tidak terpengaruh. Dia adalah hasil yang didapat dengan cara menyesuaikan pengerahan faktor-faktor material produksi dan tenaga kerja kepada perubahan yang terjadi pada demand dan supply, dan tergantung pada seberapa besar kesalahan telah terjadi dalam proses penyesuaian (mal-adjustment) dan seberapa sulit diatasinya. Mereka bersifat sementara dan akan hilang begitu kesalahan tersebut teratasi sepenuhnya. Namun, perubahan dalam demand and supply akan terjadi terus menerus, sehingga sumber-sumber baru bagi keuntungan juga akan muncul terus menerus.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 9)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory