Featured

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 10)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 48, Tanggal 22 September 2008
Oleh: Ludwig von Mises

(Kembali ke Bagian 9; atau ke Bagian 1)

4. “PRASANGKA BORJUIS” TENTANG KEBEBASAN

Sejarah peradaban Barat adalah catatan perjuangan tanpa henti demi kebebasan.

Kerjasama sosial di bawah sistem pembagian kerja (division of labor) adalah satu-satunya sumber ultimat keberhasilan manusia dalam memperjuangkan keberlangsungkan hidup dan dalam upayanya meningkatkan setinggi-tingginya kondisi-kondisi material bagi kesejahteraannya. Namun, sebagaimana halnya dengan kodat manusia, masyarakat tidak dapat bertahan tanpa adanya aturan yang mencegah mereka yang liar dan serampangan sehingga mereka tidak menempuh tindakan-tindakan yang tidak kompatibel dengan kehidupan komunitas. Untuk mempertahankan kerjasama yang damai, orang harus siap menempuh cara supresi yang keras bagi siapa saja yang mengganggu perdamaian. Masyarakat tidak dapat berjalan tanpa adanya aparatus sosial atas dasar koersi dan kompulsi, misalnya tanpa negara dan pemerintahan. Persoalan selanjutnya kemudian muncul: bagaimana membatasi seseorang yang bertugas menjalankan fungsi pemerintahan supaya orang tersebut tidak menyalahgunakan kekuasaannya dan mengonversi semua orang lain menjadi semacam budaknya.  Seluruh perjuangan kebebasan bertujuan agar para petugas bersenjata yang menjaga perdamaian, tetap terkendali: yaitu para gubernur serta petugas hukum mereka. Konsep kebebasan individual secara politis berarti kebebasan dari kesewenang-wenangan kekuatan kepolisian.

Gagasan kebebasan adalah sesuatu yang memang khas Barat. Apa yang memisahkan Timur dan Barat pertama-tama adalah kenyataan bahwa gagasan kebebasan tidak pernah terpikirkan oleh bangsa-bangsa Timur.  Kejayaan hebat bangsa Yunani Kuno telah dimungkinkan sebab merekalah yang pertama kali menangkap makna dan arti penting institusi-insitusi penjamin kebebasan. Penelitian historis belum lama ini telah berhasil menapaktilasi awal dari sejumlah pencapaian ilmiah yang sebelumnya dikreditkan kepada bangsa Hellenes dari sumber-sumber ketimuran. Namun demikian, tidak seorangpun pernah menentang bahwa gagasan kebebasan berasal dari kota-kota di Yunani tua. Tulisan-tulisan filsuf dan sejarawan Yunani ditransmisikan kepada bangsa Romawi dan kemudian kepada bangsa Eropa modern dan Amerika modern. Kkebebasan menjadi perhatian utama semua bangsa barat dalam upayanya mendirikan masyarakat yang baik.  Hal ini menghasilkan filsafat laissez-faire, yang kepadanya kemanusiaan telah berhutang bagi segala hal yang telah dicapai di abad kapitalisme.

Tujuan seluruh kelembagaan politik dan yudisial modern adalah memastikan kebebasan individu dari segala bentuk pelanggaran di pihak pemerintah.  Pemerintahan representatif dan aturan hukum, kemandirian pengadilan dan tribunal dari interferensi agen-agen administratif, habeas corpus, pemeriksaan yudisial dan tindakan pembelaan atau pemulihan nama baik (redress of act) dari administrasi, kebebasan berbicara dan kebebasan pers, pemisahan antara negara dan gereja, dan banyak lembaga lainnya ditujukan pada satu hal semata: untuk membatasi kekeluasaan para petinggi kantor dan membebaskan individu-individu dari kesewenang-wenangan mereka. Abad kapitalisme telah menghapuskan semua sisa perbudakan dan perhambaan. Dia telah mengakhiri pemberlakuan sistem hukuman yang kejam dan telah menekan hukuman kriminal ke titik minimum yang tidak dapat dihilangkan untuk mencegah para pelanggar hukum. Dia telah meniadakan sistem penyikasaan dan metode-metode lainnya yang menimbulkan keberatan banyak pihak dalam berurusan dengan para tertuduh dan pelanggar hukum.  Abad kapitalisme telah menarik kembali semua hak istimewa dan menjalankan keadilan bagi semua orang di mata hukum.  Dia telah mentransformasi para korban tirani menjadi warga negara  yang bebas.

Perbaikan materi acapkali merupakan buah dari reformasi dan inovasi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. Tatkala semua hak istimewa lenyap dan semua orang diberi hak untuk menantang kepentingan-kepentingan terselubung di dalam diri semua orang lain,  kebebasan diberikan kepada siapa saja yang cukup orisinil untuk mengembangkan semua industri baru yang kini membuat kondisi kehidupan materi banyak orang semakin memuaskan.  Angka populasi bermultiplikasi akan tetapi populasi yang meningkat masih tetap dapat menikmati hidup yang lebih baik ketimbang para leluhur mereka.

Juga di negara-negara berperadaban Barat sejak dulu selalu terdapat pihak yang mengadvokasikan tirani-peraturan arbitrer otokrat atau aristokrat yang absolut di satu sisi, serta penundukkan orang-orang lain di sisi lain. Tetapi di abad Pencerahan suara-suara semacam ini semakin berkurang. Dorongan akan kebebasan menyemuka. Di bagian pertama abad 19, prinsip kebebasan tampaknya telah mengalami kemajuan yang sulit terbendung. Para filsuf dan sejarawan luhung merasa yakin bahwa evolusi historis ke arah terbentuknya institusi-insittusi penjamin kebebasan; dan bahwa tidak satupun intrik plot para pendukung penghambaan, yang bakal mampu menghentikan laju tren ke arah liberalisme.

Dalam berurusan dengan filsafat sosial liberal terdapat kecenderungan untuk mengabaikan kekuatan satu faktor penting yang berdaya-dukung besar terhadap gagasan kebebasan, yakni peran penting yang diberikan kepada kesusastraan kuno dalam pendidikan kaum elit.  Memang di antara pengarang-pengarang Yunani tersebut ada pula yang menyuarakan omnipotensi pemerintahan, semacam Plato. Namun demikian, tenor esensial ideologi Yunani adalah pengejaran kebebasan. Dinilai berdasarkan standar lembaga-lembaga modern, kebanyakan kota-negara Yunani harus disebut sebagai oligarki. Kebebasan yang dielu-elukan oleh para negarawan, filsuf dan sejarawan Yunani sebagai barang yang paling berharga bagi manusia,  tersimpan secara khusus bagi minoritas saja. Dengan menjauhkannya dari pada metics (kelas residen pendatang di Yunani Kuno) dan budak, mereka pada akhirnya mengadvokasikan aturan lalim berdasarkan kasta oligarki sesuai keturunan. Namun, adalah kesalahan besar untuk mencampakkan himne-himne mereka terhadap kebebasan sebagai kepalsuan. Mereka tidak kalah tulusnya di dalam puja-puji dan di dalam pencarian terhadap kebebasan ketimbang yang dilakukan, sekitar dua ribu tahun kemudian, oleh para pemilik budak yang turut menandatangani Deklarasi Kemerdakaan Amerika. Adalah kesusastraan politis dari Yunani Kunolah yang menghasilkan gagasan tentang Monarchomachs, filsafat kaum Whig, doktrin-doktrin Althusius, Grotius dan John Locke serta ideologi yang diusung oleh para bapak konstitusi modern dan bills of rights.  Adalah kajian-kajian klasik, sebagai fitur esensial dari pendidikan liberal, yang membangunkan semangat kebebasan kelompok Stuart di Inggris, para Bourbon di Prancis, serta para korban kelaliman  selaksa pangeran di Italia. Tidak kurang lagi adalah Bismarck, di antara negarawan abad-19 nomor dua setelah Metternich sebagai musuh terbesar kebebasan, yang menyaksikan fakta bahwa, bahkan di Prusia di bawah Frederick William III pun, the Gymnasium, pendidikan berdasarkan kesusastraan Yunani dan Romawi, merupakan basis kuat republikanisme.[1] Upaya-upaya penuh gairah untuk menghilangkan kajian klasik dari kurikulum pendidikan liberal dan dengan demikian sama saja menghancurkan karakternya, atau sebagai  manifestasi utama dari kebangkitan ideologi penghambaan.

Adalah kenyataan bahwa seratus tahun lalu hanya segelintir orang saja yang mengantisipasi munculnya momentum yang sepertinya menakdirkan menguatkan gagasan anti-kebebasan dalam waktu yang amat singkat. [Padahal] ideal kebebasan tampak telah begitu kokoh mengakar sehingga semua orang beranggapan tidak mungkin akan ada gerakan reaksioner yang dapat menghapuskannya.  Memang, sia-sialah  menyerang kebebasan secara terbuka untuk mengadvokasikan secara tulus agar kita kembali kepada penghambaan dan keterikatan. namun, [gagasan] antiliberalisme menempati pikiran penduduk kebanyakan secara terselubung sebagai superliberalisme, atau sebagai pemenuhan gagasan kebebasan dan kemerdekaan itu sendiri.  Dia hadir sebagai sosialisme, komunisme, perencanaan yang menyamar.

Mereka yang cerdas tidak akan gagal mengenai bahwa apa yang dituju kaum sosialis, komunis dan perencana adalah penghapusan secara paling radikal dari kebebasan individu dan penciptaan kemahakuasaan pemerintah. Akan tetapi, mayoritas intelektual sosialis merasa yakin bahwa dengan memperjuangkan sosialisme mereka tengah memperjuangkan kebebasan. Mereka menyebut diri sendir sebagai sayap-kiri dan democrat, dan sekarang bahkan mereka mengklaim epitet ini untuk mereka, “liberal.” Kita telah menyoroti faktor-faktor psikologis yang mengaburkan penilaian para intelektual ini serta massa yang mengikuti arahan mereka.  Di dalam alam bawah sadar mereka sepenuhnya menyadari bahwa kegagalan mereka dalam mencapai tujuan jangka panjang yang digerakkan oleh ambisi mereka adalah akibat kegagalan di pihak diri mereka sendiri. Mereka tahun benar bahwa mereka tidak cukup bersinar atau rajin.  Tetapi mereka getol untuk tidak mengakui inferioritas mereka atau sejawat mereka dan olehkarena itu mereka mencari kambing hitam.  Mereka menenangkan diri sendiri dan mencoba meyakinkan yang lain bahwa penyebab kegagalan mereka bukanlah pada inferioritas mereka melainkan ketidakadilan organisasi perekonomian masyarakat. Di bawah kapitalisme, sesuai gembar-gembor mereka, realisasi-diri hanya mungkin bagi segelintir orang saja. “Kebebasan dalam masyarakat laissez-faire dapat dicapai hanya oleh mereka yang memiliki kekayaan atau kesempatan untuk membelinya.”[2] Dengan demikian, simpul mereka, negara perlu melakukan interferensi untuk merealisasikan “keadilan sosial”-apa yang mereka maksudkan sebenarnya adalah memberikan bagi yang berkualitas sedang dan frustrasi  sesuai dengan “kebutuhan mereka.”

Sejauh persoalan-persoalan sosialisme tersebut hanya sebatas debat saja, orang yang tidak memahami atau kurang mampu menilai secara jernih dapat menjadi korban ilusi yang mengatakan bahwa kebebasan dapat dipertahankan di bawah rejim sosialis. Penipuan diri sendiri semacam itu tidak lagi dapat dipertahankan semenjak pengalaman Soviet menunjukkan kepada kita kondisi-kondisi di bahwa persemakmuran sosialis.

Dewasa ini, para pembela sosialisme terpaksa harus mendistorsi fakta-fakta dan melakukan misrepresentasi makna sejati kata-kata ketika mereka ingin membuat orang percaya kepada kompatibilitas sosialisme dan kebebasan.

Professor Laski almarhum – yang sepanjang hidupnya merupakan anggota ternama sekaligus ketua Partai Buruh Inggris, yang dianggap non-komunis atau bahkan anti-komunis (self-styled)-mengatakan kepada kita bahwa “tidak ada keraguan [bahwa] di Soviet Russia, seorang komunis memiliki sense yang penuh akan kebebasan; tidak ada keraguan bahwa ia juga memiliki rasa yang mendalam bahwa kebebasan tidak dapat ia dapati di Negara Italia yang Fasis.”[3] Kebenaran sesungguhnya adalah bahwa seorang Rusia bebas menurut semua perintah yang diinstruksikan oleh para superiornya. Sejauh ia menyimpang seperseratus inci saja dari cara berpikir yang oleh otoritas dianggap benar, maka ia tanpa ampun akan dilikuidasi. Semua politisi, pemimpin kantor, pengarang, musisi dan ilmuwan yang ikut “terpangkas”-tentu saja-bukan para anti-komunis. Mereka, justru sebaliknya, para komunis fanatik anggota-anggota partai dalam posisi tinggi, yang oleh otoritas petinggi berhakt loyalitas mereka terhadap kredo Soviet, telah dipromosikan ke posisi-posisi tinggi. Satu-satunya kesalahan yang lakukan adalah mereka tidak cukup cepat dalam menyesuaikan gagasan, kebijakan, buku atau komposisi mereka terhadap perubahan-perubahan terakhir dalam gagasan dan selera Stalin. Orang sulit percaya bahwa mereka dianggap memiliki “sense terhadap kebebasan secara penuh” jika orang itu tidak mengubah makna kebebasan sedemikian rupa sehingga berbeda dari pengertian yang selama ini telah diberikan orang terhadap kata tersebut.

Italia yang fasis tentunya adalah sebuah negara yang tidak mengenal kebebasan. Dia mengadopsi “prinsip partai tunggal” a la pola Soviet yang dikenal amat buruk dan dengan demikian merepresi semua pandangan yang tidak setuju dengannya. Akan masih terdapat perbedaan yang menyolok antara para Bolshevik dan aplikasi prinsip ini oleh kelompok Fasis. Sebagai contoh, di Italia yang fasis terdapat seorang mantan anggota kelompok deputi parlemen, yang tetap loyal hingga ajal kepada ajaran-ajaran komunis, yaitu Professor Antonio Graziadei. Ia menerima uang pension dari pemerintah yang menjadi haknya sebagai professor kehormatan, dan ia bebas menulis dan memublikasikan melalui penerbit ternama di Italia, buku-buku aliran Marxis ortodoks. Ketiadaan kebebasannya tentunya sedikit lebih lunak ketimbang para komunis Rusia, sebagaimana dikatakan Profesor Laski, yang “tanpa keraguan” sedikitpun memiliki “sense yang penuh tentang kebebasan.”

Profesor Laski gemar mengulang-ulang truisme yang menyatakan bahwa kebebasan dalam selalu berarti kebebasan di dalam hukum. Ia terus mengatakan bahwa hukum selelu mengarah kepada “konferensi security terdapa kehidupan yang dianggap memuaskan oleh mereka yang mendominasik permesinan negara/pemerintahan.”[4] Ini adalahj deskripsi yang tepat tentang hukum-hukum sebuah Negara yang bebas jika hal tersebut berarti bahwa hukum bertujuan melindungi masyarakat dari konspirasi yang ditujukan untuk memicu perang saudara dan menjatuhkan pemerintahan melalui jalan kekerasan. Tetapi merupakan sebuah ksesalahan pernyataan yang serius ketika Profesor Laski menambahkan bahwa di dalam masyarakat yang kapitalistis:upaya di pihak oran gmiskin untuk mengubah secara radikan hak kepemilikan orang-orang kaya sekaligus dan secara seketika langsung membalikkan sekma kebabasan ke dalam jurang bahaya.”[5]

Ambil misalnya kasus tokoh yang menjadi idola bagi Profesor Laski dan sejawatnya, Karl Marx. Ketika pada 1848 dan 1849 ia mengambil bagian aktif di dalam organisasi dan di peristiwa revolusi itu sendiri, pertama di Prussia; lalu juga di negara-negara bagian Jerman lainnya, ia-sebagai pendatang legal-diusir dan dipindahkan, bersama-sama dengan istri, anak-anak dan para pembantunya, ke Paris dan kemudian London.[6] Kelak, ketika kedamaian kembali dan para pelaku revolusi yang abortif tersebut mendapatkan amnesty, ia pun bebas kembali ke seluruh bagian Jerman dan seringkali memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia tidak lagi berada dalam pengasingan, dan ia memilih untuk menjadikan London sebagai rumahnya.[7] Tak seorang pun mengganggunya ketika ia mendirikan, pada 1864, The International Working Men’s Association, sebuah badan yang dideklarasikan dengan tujuan  tunggalnya menyiapkan revolusi besar dunia. Tokoh ini tidak dihentikan saat, atas nama asosiasi ini, ia melakukan tur-tur ke berbagai negara di benua tersebut.. Ia bebas menulis dan memublikasikan artikel-artikelnya yang, dalam kata-kata Profesor Laski, adalah upaya “untuk mengubah secara radikal hal-hak kepemilikan orang-orang kaya”.  Dan ia wafat dengan tenang di rumahnya di London, 41 Maitland Park Road, pada tanggal 14 Maret, 1883.

Simak juga misalnya kasus Partai Buruh Inggris. Upaya mereka “untuk mengubah secara radikal hak-hak milik orang-orang kaya” adalah, sebagaimana diketahui Professor Laski dengan baik, tidak mendapat halangan berupa tindakan apapun yang bertentangan dengan prinsip kebebasan.

Marx, sang pembelot, dapat hidup nyaman sambil menulis dan mengadvokasikan revolusi, di era Viktoria Inggris sebagaimana juga Partai Buruh dapat dengan nyaman terlibat dalam semua kegiatan politisnya, di era pasca-Viktoria Inggris.  Di Rusia era Soviet, sedikitpun tanda-tanda oposisi tidak ditolerir.  Ini perbedaan antara kebebasan dan perbudakan.

5. KEBEBASAN DAN PERADABAN BARAT

Para kritikus kebebasan sebagai konsep legal dan konstitusional dan institusi-institusi yang diciptakan untuk realisasi praktisnya benar dalam pernyataan mereka bahwa kebebasan dari tindakan arbitrer di pihak para pimpinan perkantoran dalam dirinya sendiri belum memadai untuk membuat seorang individu menjadi bebas. Tetapi dengan menekankan kebenaran yang tak terpungkiri ini mereka running against open doors. Tidak ada pendukung kebebasan yang pernah contended bahwa untuk menahan arbitrariness of officialdom adalah segalanya yang dibutuhkan untuk menjadikan masyarakat bebtas. Apa yang memberi para individu kebebasan yang kombatibel dengan kehidupan di dalam masyarkart adalah beroperasinya perekonomian pasar.  Konstitusi dan bill or rights tidak menciptakan kebebasan. Mereka hanya memproteksi kebebasan sehingga yang berlaku bagi individu adalah sistem perekonomian yang kompetititf ketimbang penindasan yang dilakukan melalui kekuatan kepolisian.

Dalam perekonomian pasar orang berkesempatan untuk berjuang mencapai posisi yang ingin dicapainya di dalam struktur division of labor sosial. Mereka bebas memilih pekerjaan guna mewujudkan rencananya untuk mengabdi bagi sesamanya.   Di dalam perekonomian yang terrencana, mereka tidak memiliki hal semacam ini.  Di sini para penguasa menentukan setiap pekerjaan orang.  Keputusan para superior dalam mempromosikan seseorang kepada jabatan yang lebih baik atau, sebaliknya, menghalangi promosi semacam itu. Individu tergantung semata-mata pada kemurahan hati sanga penguasa. Tetapi di bawah kapitalisme setiap orang bebas menandingi kepentingan terselubung setiap orang lain. Jika menurutnya ia memiliki kemampuan untuk memberikan kepada publicdengan cara lebih baik atau lebih murah, ia dipersilakan mendemonstrasikan efisiensinya. Kekurangan dana semata tidak akan membuat frustrasi proyek-proyeknya.  Sebab kapitalis selalu mencari orang yang dapat memanfaatkan dana mereka dengan cara yang paling menguntungkan.  Hasil dari kegiatan bisnis seseorang tergantung semata pada perilaku para konsumen yang membeli apa yang paling mereka sukai.

Demikian pula halnya para pekerja penerima upah; mereka tidak tergantung kepada artibtrariness sang majikan. Seorang pengusaha yang gagal menyewa pekerja yang paling cocok untuk pekerjaannya dan untuk membayarnya secara cukup memadai sehingga pekerja semacam itu tidak mencari kerja di tempat lain mendapatkan hukumannya berupa berkurangnya penghasilan nettonya. Majikan tidak membuat pekerjanya berhutang budi kepadanya.  Ia menyewanya sebagai cara yang tak terpisahkan untuk keberhasilan usahanya dalam cara yang sama ia membeli bahan mentah dan perlatan pabrik. Sang karyawan bebas menari pekerjaan yang paling seusai dengannya.

Proses seleksi sosial yang menentukan posisi dan penghasilan setiap individu selalu berlangsung di dalam perekonomian pasar. Kekayaan yang luar biasa dapat berkurang dan bahkan akhirnya lenyap sepenuhnya sementara bagi orang lain, yang terlahir dalam kemiskinan, dapat meningkat ke posisi yang tinggi dan mendapatkan penghasilan yang besar.  Di mana tidak ada hak istimewa dan di mana penmerintah tidak memberi proteksi kepada sekumpulan kepentingan sehingga efisiensi kelompok tersebut menjadi lebih superior ketimbang para pendatang baru, mereka yang telah mencapai kekayaan di masa lalu dipaksa untuk mendapatkannya lagi setiap hari dalam kompetisi dengan semua orang lain.

Di dalam kerangka kerjasama sosial di bawah pembagian kerja semua orang tergantung pada keterkenalan layanannya di pihak public pembeli yang mana ia sendiri pun merupakan anggotanya. Setiap orang dalam keputusan membeli atau abstain dari membeli adalah anggota dari pengadilan suprim yang memberi tugas kepada semua orang-dan dengan demikian termasuk dirinya sendiri-tempat tertentu di dalam masyarkat. Setiap orang adalah instrumental di dalam proses yang memberi sebagian orang posisi yang lebih tinggi dan sementara kepada yang lain, penghasilan yang lebih rendah.  Setiap orang bebas membuat kontribusi yang siap untuk dihargai oleh sejawatnya melalui pengalokasian penghasilan yang lebih tinggi.  Kebebasan di bawah kapitalisme berarti : tidak tergantung kepada keputusan orang lain ketimbang kepada dirinya sendiri.  Tidak ada kebebasan lain yang dapat dibayangkan di mana produksi dilaksanakan di bawah pembagian kerja, dan tidak ada autarki perekonomian yang sempurna bagi semua orang.

Tidak perlu ditunjukkan bahwa argument esensial yang diutarakan untuk mendukung kapitalisme dan menentang sosialisme bukanlah fakta bahwa sosialisme pasti aakan menghapuskan puing-puing kebebasan dan mengubah semua manusia menjadi budak bagi mereka yang berkuasa. Sosialisme tidak dapat direalisasikan sebagai sistem perekonomian oleh karena masyarakart sosialis tidak akan memiliki peluang apapun untuk melakukan kalkulasi ekonomis.  Inilah menagapa dia tidak dapat dianggap sebagai sebuah sistem oragansiasi perekonomian masyarakat. Dia adalah cara untuk menceraiberaikan kerjasama sosial dan menghasilkan kemiskinan serta kekacauan.

Dalam berurusan dengan isu kebebasan orang tidak mengacu kepada problem perekonomian yang esensial tentang antagonisme antara kapitalisme dan sosialisme.  Alih-alih, orang menunjukkan bahwa penduduk Barat yang berbeda dari bangsa Asiatik telah sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kehidupan dalam kebebasan dan terbentuk oleh kehidupan di alam kebebasan. Peradaban-peradaban Cina, Jepang, India dan Negara -negara Islam di Timur dekat sebagaimana telah berada sebelum bangsa-bangsa ini berkenalanan dengan cara-cara kehiupan Barat tentunya tidak dapat disebut sebagai barbarisme.  Bangsa-bangsa ini, bebrapa ratus bahkan ribuan tahun lalu, telah mencapai kemacuan luar biasa di bidang seni industri, arsitektur, karya sastra dan fislafat serta di dalam pengembangan institusi-insituti pendidikan. Mereka membangun dan mengorganisir kperusahaan-perusahaan yang berdaya besar. Tetapi kemudian perkembangan mereka tertahan, kebudayaan mereka menjadi numb dan stagnan, dan mereka kehilangan kemampuan untuk mengatasi persoalan ekonomi dengan baik. Kejeniusan intelektual dan artistic mereka telah layu. Para artis dan pengarang mereka mencontoh bulat-bulat pola-pola tradisional mereka. Teologian, filsuf dan lawyer mereka berkecimpung di dalam penafsiran baku karya-karya tua.  Monumen  bangunan nenek moyang mereka runtuh.  Kekaisaran mereka terdisintegrasi.  Para penduduk kehilangan daya dan semangat mereka dan menjadi apatetis da;am menghadapai kebusukan dan kemiskinan yang meningkat.

Karya-karya tua filsafat dan syair-syair Oriental dapat dipandingkan karya-karya terbaik Barat. Tetapi selama beberapa abad Timur tidak lagi menghasilkan buku penting apapun. Sejarah intelektual dan sastra mereka di jaman modern hampir tidak mencatat satu nama pengarang Oriental.  Timur tidak lagi berkontribusi apa-apa terhadap upaya intelektual kemanusiaan.  Persoalan dan kontroversi yang mengagitasi Barat tetap tidak diketahui Timur.  Di Eropa terjadi kekacauan; di Timur terjadi stagnasi, inersia dan kemasabodohan.

Alasannya jelas. Bangsa Timur tidak memiliki hal primordial, gagasan kebebasan dari negara. Timur tidak pernah mengangkat umbul-umbul kebebasan; dia tidak pernah menekankan hak individu terhadap kekuasaan penguasa.  Dia tidak pernah mempertanyakan kemanasukaan para despot. Dan, sebagai konsekuensinya, dia tidak pernah membangun kerangka legal yang mampu memproteksi penduduk dari upaya perlucutan yang dilakukan para tiran. Sebaliknya, teriluisi oleh gagasan bahwa kekayaan orang kaya mereupakan penyebab kemiskinan si miskin, semua orang menyetujui praktik yang dilakukan para gubernur dalam menjarahi para pengusaha yang sukses. Dengan demikian, akumulasi modal dalam skala besar menjadi tercegah, dan banga-bangsa ini harus ketinggalan segala perbaikan yang membutuhkan investasi modal yang besar.

Tak satupun “borjuis” dapat berkembang, dan akibatnya tidak ada public yang akan menjadi patron mendukung para penulis, seniman, dan penemu.  Kepada putra-putra manusia semua jalan menuju pribadi yang berbeda telah tetutup kecuali satu saja. Mereka dapat mencoba membuka jalan dengan melayani keinginan pengeran-pangeran.  Masyarakat Barat dulunya adalah komunitas individu yang dapat bersaing untuk hadiah terbesar/tertinggi  Masyarakat timur adalah aglomerasi hamba penduduk yang tergantung pada kebaikan pemilik kedaulatan. Pemuda Barat yang siaga memandang dunia sebagai lahan tindakan di mana ia dapat memenangkan ketenaran, kebersaran, penghargaan, kehjormatan, dan kekayaan; tidak ada yang terlalu sulit bagi ambisinya.  Anak-cucu yang amat menurut kepada para orang tua Timur tidak mengenal cara lain kecuali mengikuti rutinitas lingkungan saja. Kemandirian yang agung manusia Barat menemukan ekspresi kejayaannya di dalam dithyramb (red: nyanyian pujian), semisal korus Antigone dalam lakon Sophocles, himne tentang manusia dan upayanya dan Simponi 9 Beethoven.  Hal-hal semacam ini tidak pernah terdengar di Timur.

Mungkinkah bahwa para keturunan kulit putih pembangun peradaban manusia menolak kebebasan dan dengan sukarela menyerah kepada kedaulatan pemerintah yang maha kuasa? Bahwa mereka harus puas di dalam sistem di mana satu-staunya tugas adalah menjadi baut di dalam mesin yang dirancang dan dioperasikan oleh pihak perencana yang maha kuasa? Haruskan mentalitas tentang peradaban yang tertahan ini menyapu gagasan ideal yang kenaikannya telah mengorbankan ribuan nyawa?

Ruere in servitium, mereka jatuh ke dalam perbudakan; demikian Tacitus dengan sedih mengatakan kesaksiannya tentang bangsa Romawi di jaman Tiberius.

(Bersambung)

(Ke Bagian 9; atau ke Bagian 1)


[1] Lihat Bismarck, Gedanken und Erinnerungen, New York, 1898, Vol. I, hal. 1.

[2] Lihat H. Laski, artikel kebebasan di Encyclopedia of the Sosial Sciences, IX, hal. 443.

[3] Lihat Laski, l.c., hal. 445-446.

[4] Lihat Laski, l.c., hal. 446.

[5] Lihat Laski, l.c., hal. 446.

[6] Tentang aktivitas Marx’ pada tahun 1848-1849 lihat: Karl Marx, Chronik seines Lebens in Einzeldaten, diterbitkan oleh Marx-Engels-Lenins-Institut di Moskow, 1934, hal. 43-81.

[7] Pada 1845 Marx secara sukarela melepaskan kewarganegaraan Prussia-nya. Ketika kelak, di awal usia 30-an, ia mempertimbangkan karir politik di Prussia, pemerintah setempat menolak aplikasi permohonan rehabilitasi status kewarganegaraannya . Dengan demikian, karir politiknya tertutup bagi Marx. Mungkin hal inilah yang membuatnya memutuskan menetap di London.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 10)”

  1. […] memperjuangkan keberlangsungkan hidupnya dan dalam upayanya meningkatkan setinggi-tingginya kondisi Go to source Blogs about London New […]

    Posted by Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 10) | London & New York arrivals | 22 September 2008, 5:11 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: