Uncategorized

Tentang Krisis Yang Berulang

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II, Edisi 48, Tanggal 22 September 2009
Oleh:  Sukasah Syahdan

Sehubungan dengan runtuhnya dominasi Lehman Brothers dan serangkaian tindakan bail-out (penalangan) terhadap Fannie Mae, Freddy Mac dan AIG oleh Depkeu AS, ada dua hal yang agak mengejutkan.

Pertama, bahwa ternyata krisis yang terjadi bukan saja mengejutkan orang awam melainkan juga banyak ekonom dan pejabat pemerintahan. Kedua, kebanyakan ekonom dan pengamat berpendapat bahwa yang dilakukan Pemerintah AS dengan penalangan tersebut, sudah seharusnya dilakukan.

Di dalam negeri, peristiwa di atas telah dipahami secara berbeda oleh sejumlah pengamat dan ekonom.

Seorang ekonom dua hari lalu di sebuah surat kabar menyalahkan ketamakan spekulan hipotek perumahan.

“Ketamakan pelaku pasar keuangan telah memakan dirinya sendiri. Liberalisasi pasar keuangan tanpa rambu kehati-hatian telah menelan banyak korban. Krisis keuangan global yang kita hadapi saat ini adalah krisis yang serius, bukan suatu masalah yang bisa selesai dalam waktu tiga bulan….”

Seorang ekonom lain, lulusan Prancis,  di surat kabar yang sama, langsung menuding. Katanya, itu akibat kesalahan pasar. Itu pula sebabnya sudah sepatutnya pemerintah bertindak demikian, demi penyelamatan.

“[G]ejolak ini semata-mata kesalahan prosedur tata kelola yang mengakibatkan fenomena kegagalan (market failure). Maka, solusinya sederhana, yaitu usaha penyelamatan oleh negara. Karena itu, mengapa Ben Bernanke (Ketua The Fed) dan Henry Paulson (Menteri Keuangan) sepakat menyuntik AIG 85 miliar dollar AS.”

Jika Anda cukup sreg dengan pandangan mereka, boleh berhenti membaca esei ini.  Sebaliknya, jika merasa tidak sreg dengan pandangan demikian namun agak bingung memahami state of the affairs, saya sarankan Anda untuk membaca buku Murray Rothbard yang saya terjemahkan tahun lalu: Apa Yang Dilakukan Pemerintah terhadap Uang Kita?

Buku ini memberi pemahaman baru yang bahkan mungkin dapat mengubah pandangan Anda secara drastis tentang seluk beluk persoalan moneter dan serba-serbi “kebijakan canggih” menyangkut  uang.  (Warning: berdasarkan saran beberapa pembaca, jika Anda kesulitan mendapati buku ini di toko buku, silakan hubungi penerbitnya langsung lewat tautan di kanan bawah halaman muka Jurnal.)

Di bagian pengantar buku tersebut dikatakan, sesuai perspektif Rothbardian, bahwa krisis berikutnya niscaya berulang lagi-hanya menunggu waktu saja.

alt text

Tesis utamanya sbb.: Krisis dalam jenis yang sedang terjadi di AS saat ini TIDAK patut disangkut-pautkan dengan ulah spekulan; dia tidak ada hubungannya dengan kegagalan pasar-kecuali dengan keadaan pasar yang telah terdistorsi sedemikian hebatnya.

Selama sistem fiat masih diterapkan, yang notabene berarti monopoli pemerintah atas uang, krisis niscaya akan terus terjadi.  Inilah mahasumber segala krisis keuangan di dunia sejak dulu, hingga kini, dan juga kelak di masa depan: sistem fiat yang berbasis penguasaan monopoli pemerintah atas uang.

Jadi, sekali lagi, keliru menyalahkan spekulator; keliru menyalahkan pasar.  Sebab kenyataan sebenarnya adalah bahwa pemerintah AS melalui sistem uang fiat telah memanipulasi demand masyarakat terhadap hipotek melalui pemanipulasian suplai uang lewat sistem penawaran berdiskon dan penjaminan sertifikat oleh badan-badan bentukan pemerintah-terutama Fanny Mae dan Freddy Freddie Mac. Kedua institusi ini adalah kontribusi pemikiran “brilian” presiden-presiden AS–yang pertama di tahun 30an, satunya lagi pada 70-an. Pasar hipotek di AS adalah pasar yang selama berdekade-dekade telah didistorsi.

Bail out pemerintah adalah kasus moral hazard yang selalu berulang; begitu kerapnya sehingga mayoritas masyarakat awam dan mayoritas ekonom nyaris tidak mampu menentukan sikap lagi terhadap duduknya perkara; terhadap apa yang sebenarnya terjadi; mana yang benar, mana yang bathil; dan bagaimana soal ini harus diatasi. 

Bail-out pada hakikatnya adalah pemecahan kekisruhan perekonomian yang ditimbulkan oleh ketidakbijakan pemerintah AS dengan jalan memajaki warganegaranya.  Setiap kali bail out semacam ini dilakukan, maka setiap kali pula kesalahan dilimpahkan kepada rakyat atas kebijakan buruk yang berkepanjangan dan berlarut-larut di pihak pemerintah.

Pantaskah pemerintah AS melakukan bail-out?  Siapa saja yang mau melakukan penalangan, monggo;  syaratnya cuma satu: pakai duwit sendiri. [F]

Sesuai dengan teori siklus bisnis Austria, penalangan tidak akan berarti banyak. Sistem fiat ciptaan pemerintah memang memungkinkan pemerintah mencetak dan menciptakan uang dari udara hampa; tapi yang namanya uang serta modal, saudara, sejatinya bukanlah ciptaan pemerintah.  Carl Menger di abad 19 (Principles of Economics) dan Ludwig von Mises di abad 20 (The Theory of Money) membuktikan bahwa uang adalah komoditas yang berasal dari pasar itu sendiri.

Intervensi pemerintah hanya akan memberi waktu sementara dan cenderung akan memperbesar derajat kekacauan yang bakal terjadi lewat ledakan krisis berikutnya.  Di pihak pemerintah, cara terbaik untuk mengatasi krisis hanya satu: yaitu hands off policy, sehingga perekonomian, atau pasar, akan merespons secara alamiah dengan membuang segala distrorsi yang terjadi.

Terkait solusi bail-out, pertanyaan seputar pengelolaan perekonomian masyarakat ini berubah menjadi pertanyaan etis.  Haruskah pemerintah melakukannya?  Keadilan kayak apa yang tengah ditegakkan? Keadilan siapa yang mau dibela pemerintah?  Bankir? Juru hipotek? Apa yang begitu istimewa dengan banking, dengan hipotik dan tetek bengek semacam itu sehingga harus diproteksi pemerintah?

The truth is, seperti kata pepatah, we are in this thing together.  Every one of us is in fact an entrepreneur. Bisnis yang harus mendapat perlindungan di bawah ketiak pemerintah adalah bisnis-bisnisan, bukan bisnis sejati yang akan meningkatkan standar kehidupan ataupun layak dipandang dengan penuh kekaguman. (*)

[F]  Update 20:07: Malam ini saya pulang naik ojek. Pengemudinya, mantan pengojek langganan saya sekitar 6 tahun yang lalu, Mas Syarif. Ia sempat bercerita, selama ini ia bekerja di sebuah rumah makan Cina di belakang kantor saya.  Tapi restoran tersebut gulung tikar; jadi untuk sementara ia harus mengojek kembali.  Poinnya di sini adalah, bahwa sistem loss (kerugian) adalah JUGA perkara normal yang sesungguhnya juga sangat penting dalam semesta bisnis; bukan cuma profit (laba) belaka.  Untung dan rugi adalah sesuatu yang normal dan alamiah.  Tak perlu “mbel-out mbel-outan”, kecuali kalau si penalang memang mampu melakukannya tanpa merugikan pihak lain.  Kecuali kalau kita semua memang mau terus-menerus mempertahankan kekacauan!

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

8 comments for “Tentang Krisis Yang Berulang”

  1. Saya sudah menduga blog ini akan punya pendapat berseberangan terhadap mainstream opinion saat ini. Selamat. Saya harus baca dan memahami lebih dalam lagi, baru berani berkomentar 🙂

    Thanks 

    Posted by F | 25 September 2008, 4:17 pm
  2. saya punya rekomendasi yg juga menarik. Baca ini.

    Posted by Giyanto | 26 September 2008, 1:49 am
  3. @ F Halo, F!  Ada perkembangan menarik ttg pandangan 'mainstream'. Beberapa gubernur negara bagian AS dan sejumlah ekonom Inggris spt M. Wolf juga berpandangan kurang lebih sama. Hemat saya, kuncinya terletak pada seberapa jauh sejarah dan cara kerja Fannie dan Freddie dipahami. Di internet banyak tulisan yang sudah menyorotinya; esei singkat ini mem-praasumsikan pemahaman tsb.

    @ Giy

    Trims atas link-nya! Ini memang salah satu buku awal MNR yang diterbitkan kembali. Saya sudah baca sekitar 4 tahun lalu, versi terdahulunya. Buku ini lebih sistematis dan teknis; cocok buat ekonom dan bankir.

    Posted by Nad | 26 September 2008, 5:31 am
  4. Nad kata-kata bagus:
    “Bisnis yang harus mendapat perlindungan di bawah ketiak pemerintah adalah bisnis-bisnisan, bukan bisnis sejati yang akan meningkatkan standar kehidupan ataupun layak dipandang dengan penuh kekaguman”

    Giy:
    Saya tambahi: pebisnis yang begituan tidak layak disebut pebisnis, tapi pengemis (baca: bankir)  yg meminta perampok (baca: pemerintah) untuk menolongnya agar mereka tetap berperut gendut. Dengan dalih menjaga liquiditas, ‘kepercayaan masyarakat’, dan meningkatkan perekonomian dsb. Tapi menurut saya, ini adalah perampokan atas pajak masyarakat yg sepenuhnya mendapat dukungan para politisi, wartawan, bankir dan parahnya oleh para ekonom sendiri.
    Konon masyarakat harus membayar pajak dan mengawasi penggunaannya. Tapi kemarin di headline kompas ada tulisan besar bahwa pemerintah merampok 60 triliun untuk menalangi para bankir. Banyak orang diam saja!
    masalahnya, pemerintah telah menggunakan ‘kata-kata’ sakti yg sulit dipahami masyarakat awam. Atas dalil stabilisasi!
    Slogan yg sebenarnya seharusnya adalah: upaya stabilisasi ialah penyebab kekacauan itu sendiri!

    Posted by Giyanto | 26 September 2008, 9:35 pm
  5. Ya saya barusan baca buku tersebut dan belum selesai. Kelihatannya memang cocok bagi pembaca yg suka membaca dengan grafik.

    Posted by Giyanto | 27 September 2008, 12:37 am
  6. Bosen dgn politikus dan birokrat? Pilih Partai Kursi Kosong!!! Bikin tekanan supaya "tidak memilih = pilih kursi kosong" dan porsi itu harus dikosongkan di parlemen. Pada akhirnya, ke arah birokrasi yang ramping.

    Posted by imam semar | 29 September 2008, 5:16 pm
  7. Kalau saya selama ini cuma menganggap demokrasi seperti tontonan ‘ketoprak’ di kampung2. Paling kalau tontotannya ndk bagus, kita bisanya ngomel-ngomel di internet…Yang menganggap ‘demokrasi’ sebagai hal yg serius paling para pemainnya sendiri, kalau ndk ya yg bercita-cita jadi pemain…atau minim para komentator di media massa yg dapat royalti dari si media itu sendiri…
    Kembali ke masalah bailout, lihat aja Tuan Bush dipusingin masalah ‘koordinasi dan persetujuan’.  Ya itulah politik tidak ada kebenaran di sana.
    Hanya ada dua pilihan bagi Tuan Bush: membiarkan mekanisme pasar berjalan sendiri, yg layak bangkrut biarkan menjadi bangkrut atau memilih mengucurkan $700 miliar untuk menghancurkan ekonomi mereka sendiri di masa depan yang bisa jadi menghilangkan peradaban Amerika,he2..

    Posted by Giyanto | 29 September 2008, 9:04 pm
  8. @IS:

    Ide yang sederhana, relevan dan sekaligus fair. Ironisnya, demokrasi sebagai sistem tidak mampu mengakomodasinya. Satu kelemahan mendasar….

    Posted by Nad | 30 September 2008, 1:59 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: