buku

Opini tentang Opini

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 50, Tanggal 6 Oktober 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Dialegorikan dalam sebuah buku klasik karya seorang filsuf Yunani, bahwa fakta dan opini itu ibarat realitas dan bayang-bayangnya yang terpantul di gua.

Kalau yang satu adalah fakta atau ‘episteme’ yang riil, maka selebihnya hanyalah opini, atau ‘doxa’ yang tidak lain hanya bayangan realitas.  Fakta langsung cenderung lebih dipentingkan daripada opini.  Opini cenderung dianggap sekunder, relatif kurang penting ketimbang fakta.  Opini kamu dan saya tentang opini itu sendiri, tidak jauh beranjak dari sini–sebagaimana pandangan Plato berabad-abad lalu dalam bukunya tersebut, Republik (VII).

alt text

Dan esei singkat ini bukan tentang fakta, melainkan tentang opini.  Sebab di dunia modern, ketika sains telah berhasil menguak begitu banyak fakta empiris dan menggeser batas-batasnya semakin jauh dan terbuka, kebenaran faktual hampir tidak perlu perlu didebat atau diperdebatkan lagi. Ini, mungkin, manfaat terpenting sains.

Namun di sisi lain, perkembangan sains tetap tidak menggusur opini ataupun menggerus signifikansinya. Bagaimana opini itu terbentuk kini bahkan menjadi bahan kajian ilmiah atau, setidaknya, semi-ilmiah. Menyatakan bahwa yang berlaku sekarang ini justru kebalikan dari pandangan di atas, kadang tidak berlebihan.

Opini seringkali lebih superior dan penting daripada fakta.  Pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan kejahatan, sesungguhnya lebih berlangsung pada tatanan ini daripada tatanan fakta. Sekali lagi, terkait fakta alamiah, ada ilmu pengetahuan alam yang membantu penerimaan.

Sementara itu “The real battle,” kata Ludwig von Mises dalam Socialism, “occurs in the mind.”  Dapat kita  konkretkan di sini: pertempuran sejati berlangsung di dunia gagasan.  Bolehlah kita konkretkan lagi,  bahwa: sebagian besar pertarungan adalah pergumulan “teori” yang dalam kajian ilmu sosial tidak jarang menciut menjadi sekadar pergumulan satu opini dengan opini lainnya.

Pernahkah terpikir olehmu bagaimana opinimu terbentuk atau bagaimana kamu memilih opini?  Ketika kamu tidak punya opini tertentu tentang satu hal, bagaimana kamu memilih satu opini dari yang lain?  Apa yang kamu perlukan sebelum, misalnya, bersedia mengubah opini lamamu dengan yang baru?  Yang juga penting, seberapa jauh peran media dalam memberimu informasi? Dan yang terpenting, seberapa jauh kamu bersedia menggali informasi tersebut untuk membentuk dan menguatkan atau bahkan membuang  opinimu?

Di persimpangan alinea ini saya ingin mengajak kamu menyikapi resensi sebuah buku di satu surat kabar minggu lalu (05/10). Peresensi buku tersebut telah melakukan tugasnya dengan baik. Sang penulisnya, Naomi Klein, memang menghujat segala kebijakan pro-pasar.  Adalah tujuannya membahas keterkaitan bencana, kondisi keterkejutan (shocked), dan kebijakan ekonomi pro-pasar.

alt text

Implisit menurut sang peresensi, tujuan tersebut berhasil dicapai.  Peresensi tersebut menambahkan:

“Klein tidak berhenti di sana. Dengan sangat spesifik ia menguraikan keterlibatan Milton Friedman dan para anak didiknya di Chicago School of Economics membidani pergantian rezim, mematikan demokrasi, dan menciptakan ekonomi propasar di Amerika Latin.”

Kalau kamu bersedia menyisihkan sedikit waktu lagi untuk memantapkan opinimu, resensi-resensi senada bisa kamu peroleh lewat internet.  Saya berikan beberapa sbb.:

  • http://kyutifluti.multiply.com/reviews/item/10
  • http://pakuwibowo.blogspot.com/2007/11/shock-doctrine.html
  • http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=1144
  • http://iang.web.id/index.php/2008/08/06/laissez-faire-pak-sby-laissez-faire.html/
  • http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/30/01175789/siapa.sih.lawan.kita

Sebagaimana segelintir pendukung kebebasan individu individu dan pasar bebas  pasti tergelitik untuk “membantah” tulisan atau resensi semacam di atas, demikian juga saya.  Rasanya penting bagi saya untuk menulis satu resensi populer singkat untuk menyatakan keberatan saya dan menawarkan pandangan alternatif. Ini penting; bukan demi kelainannya itu sendiri, melainkan karena pandangan saya yang berbeda seratus delapan puluh derajat baik dengan pandangan penulis maupun para peresensi buku tersebut, mengisyaratkan keberadaan sesuatu yang penting tentang bagaimana opini hinggap di ranting-ranting pemahamanmu dan aku serta duduknya perkara “kebenaran” yang mengelilingi kita semua.

Sayangnya, saya tidak punya dan belum baca The Shock Doctrine. Tapi untungnya, beberapa bulan lalu saya membaca sebuah makalah popular ilmiah karangan Johan Norberg yang meresensi buku tersebut.  (Ya, ini perjumpaan pertama saya dengan Norberg.) Lewat esei ini saya mau memperkenalkannya sama kamu (silakan unduh versi PDF tulisannya dari link ini).  Norberg memang boleh dianggap sebagai representasi suara kebebasan di benua tua Eropa.  Menurutnya di makalah tersebut, pasar bebas adalah sesuatu yang positif, atau sebut saja baik, bagi manusia dan kemanusiaan.

Apakah saya mendukung pandangan Norberg dan menolak pandangan Klein? Memang benar, tapi itu sama sekali tidak saya anggap penting di sini.  Dua macam resensi buku yang sama tersebut bagi saya sama-sama penting dan perlu dibaca demi melengkapi pemahaman kita.

Kata sebagian orang, selalu ada dua sisi dari setiap hal.  Dan kata sebagian lagi, satu sisi tentunya memiliki sebagian kebenaran, sementara sisi lain memiliki kebenaran lainnya.  Namun, saya tidak menerima kebenaran seperti itu.  Sebagaimana saya nyatakan di satu artikel minggu lalu (Tentang Keberpihakan Intelektual), kebenaran tidak bisa hadir secara bersamaan untuk dua hal yang kontradiktif.  Satu dari dua hal yang kontradiktif, haruslah dan pastilah salah.

Dalam hal-hal yang kontradiktif, sebagaimana hal-hal terpenting dalam kehidupan, tidak ada yang separuh-separuh. Yang satu pasti mengecualikan yang lain.  Dalam konteks tersebut hanya ada kesalahan atau kebenaran; orang tidak dapat separuh benar tetapi separuh salah sebagaimana kita tidak bisa separuh hidup atau separuh mati, melainkan hanya hidup atau mati.

Esei ini tidak bermaksud menggiring kamu ke opini tertentu. Tujuannya sekadar mengajak kamu dan saya untuk melakukan zeroing in; untuk kembali ke titik keseimbangan baru yang–mudah-mudahan–lebih tinggi, sambil menanggalkan (atau justru merangkul) apa-apa yang selama ini mungkin telah kita telan (atau tolak) bulat-bulat tanpa kita periksa secara lebih saksama.

Dalam hemat saya, kamu dan saya sebagai pembaca resensi tersebut akan sama-sama tidak mampu menjatuhkan penilaian terhadap seberapa sahihkah serangan Klein terhadap pandangan dan gagasan Milton Friedman, yang nyata-nyata diserangnya, jika kita tidak memiliki akses kepada teori ekonomi atau minimum perkembangan pemikiran ekonomi untuk memverifikasi kebenaran tuduhan/tudingan yang dilakukan Klein lewat bukunya.

alt text Foto: Klein, Friedman, Norberg

Klein menganggap pasar bebas sebagai suatu hal yang negatif, buruk, bagi kemanusiaan; sedangkan Friedman, maupun Norberg, meyakini sebaliknya.  Buku-buku untuk konsumsi umum tentang pengelolaan sistem perekonomian (termasuk The Shocked Doctrine) hampir mustahil dapat dipahami “secara utuh” tanpa akses terhadap sejumlah teori ekonomi dan/atau perkembangan pemikiran ekonomi.  Ini keyakinan saya, meski terdengar seperti agak terlalu membesar-besarkan signifikansi ilmu ekonomi. (Dan ini pula yang telah memotivasi saya tahun lalu untuk memulai penerbitan sederhana ini: yakni untuk ikut menyediakan akses alternatif bagi pembaca umum pada sejarah, teori dan pemikiran ekonomi. Khusus terkait pemikiran dan sepak terjang ekonom besar Milton Friedman dan para Chicagoites, hal-hal semacam itu dapat dijumpai pula dalam makalah Norberg yang saya kutip di atas.)

*

Kapankah hubungan antara fakta dan opini di atas menjadi berbalik?  Bilamanakah opini justru lebih penting daripada fakta ? Bagaimana hal itu dimungkinkan?  Barangkali ini termasuk misteri yang, jika dijelaskan, hanya akan berakhir sebagai rangkaian opini. [Meski demikian, sebagian jawabannya dapat kamu jumpai di Akal dan Kehendak, semisal dalam artikel ini dan ini.]

Pembentukan dan penerimaan opini sepertinya juga tidak luput dari selubung misteri. Tidak berbeda halnya dengan misteri kehidupan tentang adanya jenius lokal yang tetap mampu tumbuh di lahan-lahan yang secara intelektual tergolong tandus.  Tidak berbeda dengan misteri yang mengelilingi dunia pendidikan dan hubungannya, yang tidak pernah niscaya, dengan keintelektualan seseorang.

Di bagian ini saya ingin mencoba menjustifikasikan seberapa pentingnya nilai opini dalam kehidupan.

Bahwa opini seringkali lebih penting dari fakta, sebenarnya cukup jelas.   Kita dapat belajar dari seorang  Étienne de la Boétie, yang di abad 16 silam mengatakan bahwa bahkan sebuah pemerintahan yang kuat pun tidak akan bertahan dengan mengandalkan kekuatan semata.  Diperlukan semacam kesepakatan publik untuk itu, yakni melalui opini.

Dua abad berikutnya, secara terpisah filsuf David Hume juga menekankan pentingnya opini:

“…nothing appears more surprising to those who consider human affairs with a philosophical eye, than the easiness with which the many are governed by the few; and the implicit submission, with which men resign their own sentiments and passions to those of their rulers. When we enquire by what means this wonder is effected, we shall find that as Force is always on the side of the governed, the governors have nothing to support them but opinion.” (Hume, Essays, Literary, Moral and Political [Indianapolis, Ind.: Liberty Fund, 1987], hal. 32)

Sebelum Hume dan sesudah Ettiene, John Locke di Inggris dalam Essay Concerning Human Understanding (Jilid 2) menuliskan “hukum opini atau reputasi” sebagai hukum ketiga yang berlaku bagi manusia terkait dengan tindakan-tindakannya–yang pertama adalah hukum tuhan (divine law); yang kedua hukum sipil (civil law).  Semua ini kiranya opini-opini kredibel yang cukup dihormati dalam tradisi filsafat dan ilmiah tentang pentingnya opini.

*

Terkait Jurnal yang sedang kamu singgahi ini, pernah saya menulis kepada seorang teman.   Kalau “perabotan berpikirmu” tertata sedemikian rupa, Jurnal ini berpotensi menjadi bacaan yang menarik bagimu, bahkan penting.  Sebaliknya, jika tertata secara lain, kamu pasti tidak bakal tahan mengunjunginya tanpa ‘nausea.’

“Perabotan berpikirmu”  di sini boleh diartikan sebagai konstruksi logis/sikap kamu, atau boleh juga konstelasi opinimu itu sendiri.  Saya  selaku pengelola Jurnal tentunya berharap agar opini kamu telah–atau suatu saat dapat menjadi–“tertata sedemikian rupa”.

Begitulah opini saya tentang opini.  Bagaimana menurut kamu?

[Update & pemutakhiran links: 7 Oktober 2008]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

4 comments for “Opini tentang Opini”

  1. Saya sempat lihat-lihat situs yang disarankan http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=1144 , karena berbau Islam.

    Mengherankan, karena
    -argumennya tanpa dalil Quran
    -ada kebencian terhadap kelas kaya, padahal nabi Sulaiman sangat kaya raya. Juga nabi Yusuf. Nabi Muhammad juga kaya, ketika kawin dgn Khadijah, mas kawinnya 200 ekor onta (seharga Rp 2 milyar uang saat ini – 2008).
    -pajak dipakai untuk subsidi…., konsumsi barang yang sebenarnya tidak terjangkau.

    Islam yang saya pelajari kok berbeda yah? Apa karena opini penulis di sana tidak ada kaitannya dengan Islam sama sekali, hanya berdasarkan nafsu.

    Saya baru membuat tulisan tentang Islam di blog ini. Isinya akan mengejutkan anda karena berbeda dangan apa yang anda kenal. Tentu saja dengan bukti-bukti dan mengkaitkan kesimpulannya dengan kaidah-kaidah logika.
    http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2008/10/islam-agama-tanpa-spiritualitas.html

    Ada sayembara nya berhadiah Rp 10 juta. Serius nih.

    Posted by imam semar | 6 October 2008, 7:48 pm
  2. Trims Oom IS, juga atas berita artikelnya.  Saya pasti mampir dan coba komentari (siapa tahu menang sayembara).

    Posted by Nad | 7 October 2008, 6:19 am
  3. Seperti opini yang mengatakan bahwa: “‘krisis’ dapat kita atasi dengan ‘persatuan'”.
    Menurut saya, krisis tetaplah krisis. Dia adalah suatu hukuman dari penerapan sistem yang tidak adil. Sebuah sistem yang tidak berlandaskan sains!

    Posted by Giyanto | 7 October 2008, 6:58 am
  4. […] cukup banyak mengulas keterkaitan semua hal tersebut dalam konteks yang berbeda. (Misalnya dalam: Opini tentang Opini; Tentang Keberpihakan Intelektual; Hasil Survei A&K; dan 5 Alasan Utama… […]

    Posted by Akal & Kehendak | Informasi vs Individu Abad 21 (Bag. 3 – Tamat) | 14 December 2016, 9:49 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: