Uncategorized

Panik 2008 dan Kutukan Fiat

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 51, Tanggal 13 Oktober 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

alt text Panic at the Disco

Krisis, kata orang, selalu mendatangkan peluang.  Dalam artikel terakhirnya, situs EOWI mengulas aspek tersebut secara khas dan menarik. Di sini akan dibahas peluang lain.

Krisis adalah juga peluang bagi kehadiran pemerintahan yang lebih besar.  Krisis adalah undangan bagi hadirnya Pemerintah Besar dengan sepak terjang, campur tangan dan  intervensinya yang lebih besar daripada sebelumnya.  Pihak yang terobsesi dengan politik akan menyambut akhir 2008 sebagai awal perayaan kembalinya Pemerintah Besar. Sebaliknya, mereka yang mengadvokasikan peran minimum pemerintahan, deregulasi di sektor-sektor pemerintahan, akan mendapati tahun ini sebagai pemicu pembengkakan birokrasi dan aturan-aturan sektoral.

Krisis keuangan global saat ini, yang dipicu oleh housing bubbles yang terjadi di AS dan menjalar ke seluruh dunia, kembali memperlihatkan kenyataan tersebut.  Solusi pemerintah AS yang diikuti oleh berbagai solusi serupa oleh negara-negara Eropa menyimpan implikasi tersembunyi bahwa intervensi pemerintah lewat bank sentral melalui bailout ataupun modus lain adalah sesuatu yang tindakan yang harus, perlu, wajib atau kudu dilakukan. Implikasi ini bekerja menjadi semacam isyarat sekaligus tekanan psikologis “intelektual” tertentu kepada negara-negara lain, terutama yang secara longgar sering dinamakan negara berkembang termasuk Indonesia.  Implikasi ini muncul dari bias yang nyaris kekal tentang tugas pemerintah dan bank sentralnya.

Di sela kepanikan lokal yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) minggu lalu terlihat betapa sebagian besar pimpinan perusahaan brokerage saham dalam rapat dengan pimpinan BEI  mendambakan tindakan penyelamatan oleh pemerintah.

Di akhir minggu lalu pun pemerintah dan bank sentral memutuskan langkah-langkah penyelamatannya (bailout) sendiri, antara lain: buyback saham-saham BUMN, pelarangan shorting, pelonggaran cadangan wajib, peningkatan besar jaminan pengaman finansial (masih berupa wacana) dan lain-lain.

(Stop press: peran negara sering dikelirukan dengan peran orang tua.  Kalau pemerintah dalam konteks ini dianggap sedang menjalankan peran itu, maka anak mana yang harus dibela ketika pembelaannya berisiko  akan menumpulkan kemampuan anaknya dalam menempuh hidupnya sendiri? Juga, karena ortu ini tidak punya penghasilan, mengapa menolong sekelompok anak dengan menghukum anak-anaknya yang lain?)

Banyak pertanyaan dan jawaban telah diajukan. Dari laporan di surat-surat kabar dan tayangan berita-berita TV dan radio kita telah mendapatkannya. Sebagian telah memberi kita pemahaman; sebagian lagi, sayangnya, semakin menambah kebingungan.

Salah satu pertanyaan paling fundamental diawali dengan kata ini: mengapa.  Mengapa krisis ini menjadi semacam kutukan yang selalu menimpa kehidupan kita setiap satu atau dua dekade sekali?

Bailout dan tindakan-tindakan sejenis mempraasumsikan mitos-mitos besar, antara lain:

1) keberadaan perekonomian nasional dan kemampuan perencanaannya;
2) bahwa sistem moneter saat ini tidak boleh runtuh, sebagai satu-satunya yang harus kita miliki;
3) bahwa sektor perbankan/keuangan adalah jantung perekonomian atau darah bagi perekonomian.

Semesta perekonomian di setiap geografi adalah jumlah dari kegiatan ekonomi yang direncanakan dan dilakukan antarindividu berdasarkan prinsip hak milik dan sistem division of labor, di dalam maupun di luar batas-batas geografis.

Perekonomian adalah proses dan hasil pertukaran yang dilakukan secara bebas si Badu dengan si Budi, atau si Jack dengan Wang Zhou, dsb.  Negara atau pemerintah, yang fungsi terutamanya adalah menjamin berlangsungkan  proses tersebut, pada kenyataannya tidak berniaga. Maka, para pelaku pasar di Tanah Abang atau Klewer akan berlangsung menempuh risiko tanpa wanti-wanti Wapres manapun.

Dorongan Perencanaan

Dorongan untuk melakukan perencanaan secara nasional adalah buah dari pandangan sosial tertentu yang meyakini bahwa pasar bebas dalam pengertian di atas adalah kumpulan chaos yang tidak terencana dan oleh karenanya harus dikendalikan melalui perencanaan yang terarah. (Mises, The Theory of Money and Credit, 1912, h. 478]

Berhadapan langsung dengan doktrin ini adalah hukum dasar ekonomi, supply dan demand. Pada hakikatnya baik supply maupun demand tidak lain dan tidak bukan merupakan rencana-rencana mengagumkan yang saling terkait satu sama lain secara kompleks dari semua individu yang berbagi hidup di planet ini.

Pemahaman krisis tidak dapat dilepaskan dari pemahaman akan hakikat uang. (Topik ini paling sedikit dibahas dalam buku-buku teks standar.)

Uang,  Moneter, Perbankan

Sesuai sejarahnya, uang adalah fenomena perekonomian bebas; dia muncul sejak manusia menyadari perlunya bertukar dengan sesama dengan cara tidak langsung melalui medium tukar, untuk mengatasi keterbatasan sistem barter.

Sebagai medium pertukaran, uang tidak pernah berasal dari keputusan pemerintah. Di dalam buku rujukan ini Mises menyajikan teori yang kelak disebutnya sebagai Regression Theorem, yang membuktikan bahwa nilai uang hari ini (n) berlandas pada nilainya kemarin (n-1); demikian seterusnya hingga ke acuan terakhir: pada emas. (Mises, ibid. h. 42-46.)

Emas, terlepas dari penghujatannya oleh Keynes sebagai reliks barbar, sejak dulu hingga kini adalah sistem penyimpanan nilai yang solid dan andal-tidak ada seorang Alchemist pun yang dapat menciptakan emas.

Maka, ketika di tahun 1971 pemerintah AS memutuskan untuk memenggal sepenuhnya hubungan uang fiat dengan emas (sebagai penjamin penerbitan kertas tersebut), maka berlakulah sistem moneter fiat. Sistem inilah yang berlaku sekarang, di mana uang yang dicetak tidak lagi memiliki backup berupa cadangan emas.

“Semenjak AS benar-benar keluar dari emas di bulan Agustus 1971 dan menerapkan sistem fiat berfluktuasi a la Friedman pada bulan Maret 1973, Amerika Serikat dan dunia telah mengalami inflasi berkelanjutan yang paling intens di masa damai di sepanjang sejarah dunia. Hal ini jelas tidak dapat disebut suatu kebetulan belaka. Sebelum dolar dipisah dari emas, para pengikut Keynes dan pengikut Friedman, yang dalam cara masing-masing setia pada uang kertas fiat, dengan penuh keyakinan memprediksikan bahwa bila uang fiat tercipta, harga emas di pasar akan langsung jatuh ke tingkat non-moneternya, sekitar $8 per ons dalam estimasi saat itu. Sama-sama tidak menyukai sistem emas, kedua kelompok ini berpendapat bahwa dolar yang kuatlah yang menaikkan harga emas, bukan sebaliknya. Kenyataannya, sejak 1971 harga emas di pasar tetap tidak pernah lebih rendah dari harga lamanya, $35 per ons, dan terus meningkat naik dengan hebat.” (Rothbard, Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita, 2007, h. 99-100.) [Update:14/10/08; 21:45]

Keputusan memfiatkan uang menanam benih kejatuhan sistem itu sendiri; ketika sekelompok orang memonopoli penerbitannya lewat udara kosong dengan bantuan alat cetak semata, maka apa yang mencegah pencetakan yang inflasif?  Sejauh ini, hukum ekonomi berupa inflasi, masih dapat berfungsi sebagai pengendali inflasi. Jika sebuah pemerintah mendongkrak suplai uang melalui percetakan maupun meelalui penciptaan kredit, maka inflasi pun terjadi. Kenaikan harga-harga yang mencerminkan turunnya nilai uang, adalah akibat, bukan penyebab.

Perencanaan moneter dilandasi oleh pretext bahwa stabilitas dapat diciptakan; harga dapat direncanakan; pasar dapat diciptakan. Ajaran ilmu ekonomi yang ingin menyetabilkan perekonomian adalah ajaran yang ingin mengubah tindakan manusia menjadi data.

Di katakan pula di sejumlah buku teks keuangan bahwa sektor keuangan dan perbankan adalah indikator-indikator yang mencerminkan kecanggihan negara; yang menjadi leading indicator bagi apa yang akan terjadi dengan sektor-sektor lainnya selang beberapa saat kemudian.  Pernyataan semacam ini mengandung butir-butir kebenaran dalam kondisi pasar yang diijinkan bebas, bukan yang terdistorsi.  Sebab jika lapangan golf adalah indikator kesejahteraan, seorang gubernur dengan mudah dapat mewajibkan pembangunan lapangan-lapangan golf di kotanya.

Solusi yang ditempuh Amerika  menjelang tahun 2008 ini telah ditempuhnya menjelang Depresi Besar di tahun 1929 dan di masa-masa kepanikan lain sebelum dan sesudah itu. Solusi yang ditempuh Amerika saat ini adalah semacam yang menyebabkan stagnasi berkepanjangan dalam perekonomian Jepang.  Solusi yang ditempuh oleh negara-negara besar, diikuti oleh negara-negara kecil, berisiko pula dianggap solusi yang benar.

Kombinasi sistem fiat dan fractional reserve perbankan membuat kerangka moneter ini rentan terhadap 3 jenis tindakan yang kriminal dan berujung inflasi: 1) penciptaan uang lewat percetakan uang secara eksesif; 2) penciptaan kredit-kredit baru; 3) pemalsuan.  Akhir-akhir ini, pemerintahan di dunia kini semakin menyerukan kerjasama global.  Sayup terdengar pula rencana penerbitan Phoniex, mata uang global.  Jika ini terjadi, maka terbuka pula jalan untuk melakukan inflasi secara besar-besaran dan global.

Demikianlah tulisan ini mencoba menjelaskan akar persoalan keuangan global yang terjadi saat ini dan menyimpulkan mengapa krisis serupa niscaya berulang seperti kutukan, yang kita sebut saja: Kutukan Fiat.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

13 comments for “Panik 2008 dan Kutukan Fiat”

  1. Sebagai tambahan, dari grass root kita akan melihat para Analis perbankan mengharap intervensi BI, Para pengusaha meminta penurunan suku bunga, Pemerintah akan melonggarkan kebijakan fiskal dan merevisi rancangan APBN, Perusahaan BUMN minta perlindungan dari pemerintah karena takut dicaplok 'asing', Para nasabah minta peningkatan jaminan dsb…Kita akan melihat jeritan-jeritan manusia yang tidak berdaya mengahadapi nasibnya sendiri! Dan semua itu adalah awal dari kehancuran.

    Posted by Giyanto | 14 October 2008, 2:22 am
  2. Kalau tidak salah pemerintah AS melepas sepenuhnya hubungan uang fiat dengan cacangan emasnya (disimpan di Fort Knox?) karena terus membengkaknya beban defisit membiayai   perang Vietnam. Langkan itu diikuti negara2 lain, lalu US$ jadi mata uang dunia. Inovasi produk2 finansial dg basis uang fiat tanpa ada penyangga nilainya (emas) berkembang dg pesat, hingga menimbulkan assets bubles gara2 sekuritisasi  aset yg kebablasan diikuti oleh berbagai derivatives-nya, yg juga tidak punya underlying assets yg jelas.  Penjelasan ini, ditambah dg main pesatnya pertumbuhan perdagangan mata uang,  mungkin bisa memperkuat analisis ttg Kutukan Fiat. Silakan kalo ada yg mau mengkoreksi.

    Posted by F | 14 October 2008, 2:33 pm
  3. US hutang banyak – fiscal deficit & current account deficit – dan banyak negara kebanjiran US$ di cadangan devisanya.

    Nixon terpaksa menutup loket penukaran US$ dengan emas tahun 1972(?). Kemudian memutuskan hubungan antara US$ dan emas thn 1973. Hal ini disebabkan karena De Gaulle (Prancis) memotori gerakan untuk menukarkan US$ cadangan devisanya dengan emas.

    Begitu ceritanya.

    Posted by imam semar | 14 October 2008, 10:17 pm
  4. Menanggapi tanggapan2 yang masuk, artikel di atas kami mutakhirkan dgn mencantumkan rujukan dan kutipan.  Terima kasih.

    Posted by Nad | 15 October 2008, 4:42 am
  5. jauhi riba…jangan main-main dengan riba…kebali kesistem islam ekonomi akan stabil slalu…

    Posted by acut | 15 October 2008, 4:55 am
  6. Bosan liat berita ttg krisis di televisi/media cetak. Pembicaranya melulu dari perbankan yang alirannya intervensionis. Ngapain nggak pernah ngundang Pak IS ataupun Bung Nad. Yang pandanganya laissez faires!

    Posted by Giyanto | 15 October 2008, 5:35 am
  7. Pasar Bebas?

    apakah hanya menjadi pergumulan intelektual semata?

    akankah terlahir seorang Lenin "laissez faires"yang merevolusi sistem saat ini?

    ataukah khalifah Imam Mahdi yang ummat islam percayai karena sumbernya dari sabda rasul?

    Wallahuallam

    Posted by aser oswara | 15 October 2008, 1:04 pm
  8. @Acut:

    Saya betulkan….: "jauhi hutang (kredit)"

    Bukankah nabi mengajarkan agar kita berdoa supaya terlindung dari hutang dan tekananan akibat hutang. – Doa pagi-sore.

    Posted by imam semar | 15 October 2008, 2:02 pm
  9. Baru saja saya baca berita bahwa bursa Iceland jatuh 77% setelah disuspen 3 hari.

    http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=newsarchiv

    Yang menarik ialah dari 3 bank yang ditolong pemerintah, hutangnya mencapai 3 kali GDP negara itu.

    Hutang di US (pemerintah, swasta, perorangan) sekitar 4 kali GDP. Kemana arahnya nanti US? Kita lihat saja.

    Posted by imam semar | 15 October 2008, 5:27 pm
  10. gaga4et4tdsagdsgfghdretretasdszcxvfg

    Posted by ROMOBAGONG | 16 October 2008, 5:22 am
  11. @IS:

    ya! apalagi dng sistem sepihak!/riba.

    bagaimana dng BEI?

    berbagai macam intervensi.sampai sampai aturan AR dipermak seenak udelnya.apakah bursa emank tidak boleh turun?

    apakah harus selalu naik.justru menurut saya penurunan saat ini bursa mencari equilibriumnya setelah kenaikan spekulatif tahun lalu.atau jangan jangan bandar pemerintah rugi besar karena bursa jatuh?

    sorry..OOT

    Posted by aser oswara | 16 October 2008, 3:06 pm
  12. "Kewenangan Ekstra Pemerintah" menjadi berita utama Kompas selang hanya 5 hari sejak penulisan esei di atas; ini satu dari ratusan dan ribuan kewenangan ekstra lain yang menyongsong di depan.

    Posted by Nad | 20 October 2008, 4:12 pm
  13. Beberapa teman mengusulkan untuk kembali lagi menggunakan baku emas/perak (dinar/dirham). Apakah dengan begitu kita akan terbebas dari kutukan fiat?

    Posted by Dee | 4 March 2011, 3:05 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: