Uncategorized

Pertarungan Kaum Liberal: Kontradiksi Pikiran Bryan Caplan

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi No. 54 Tanggal 3 November 2008
Oleh: Giyanto

Akhir minggu lalu, di Mises Institute blog terjadi ‘pertarungan’ sengit antara pendukung perbankan bebas dengan baku emas dengan pendukung perbankan bebas pendukung Fractional Reserve Bank (FRB). Diskusi sengit seperti ini mungkin tidak akan kita lihat di negara kita, karena kebanyakan intelektual di negeri kita memang keturunan beo….

Terlepas dari penilaian tersebut, dalam ocehan kali saya akan sedikit mengomentari makna filsafat kebebasan.  Dalam hal ini tentang bagaimana seharusnya dunia perbankan dijalankan. Ketika seseorang mendeklarasikan dirinya sebagai pengusung ideologi pasar bebas, seharusnya dirinya tidak terjebak dalam alur logika yang kontradiktif dengan filsafat yang diusungnya.

alt textBryan Caplan

Semisal argumen Bryan Caplan yang mendukung sistem FRB. Konon Caplan adalah seorang anarkis pasar bebas yang mendukung hak milik individu, tapi ia membela sistem FRB perbankan. Dia secara gegabah mendukung bahwa ‘tabungan’ seseorang boleh saja dibagi-bagi kemudian diutangkan ke beberapa orang dengan nilai yang berlipat ganda. Artinya, ketika sebuah bank memiliki ‘cadangan dana’ 10 milyar maka dia boleh saja memberi pinjaman kepada pengusaha senilai 100 milyar. Pertanyaannya, darimanakah uang 90 milyar tersebut didapat?

Menurut pendukung Caplan yang mengaku ‘liberal’ tersebut, uang 90 milyar merupakan hasil nilai jaminan yang diberikan pengusaha kepada perbankan dengan nilai yang setara diberi oleh nilai agunan sang pengusaha. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa sebuah bank tidak dapat dikatakan mencuri hak milik penabung dengan back up agunan asset sang pengusaha-menurut pendapat Caplan.

Berbeda dengan paham penganut sistem perbankan deposit dengan cadangan emas. Mereka, Mises-Rothbard dkk.–dengan prinsip hak milik, mengatakan bahwa seharusnya jumlah deposit bank harus setara dengan jumlah ‘nota uang’ yang beredar di pasar, ataupun setara dengan jumlah uang yang dipinjamkan kepada pengusaha. Jadi tidak ada ‘perlipatan’ nilai uang di perbankan.  Terlepas efek buruk sistem FRB yang dapat memicu terjadinya krisis, saya akan mencoba menyoroti dari sisi prinsip filsafat pasar bebas yang saya pahami.

Salah satu prinsip dasar paham pasar bebas adalah adanya pengakuan hak milik pribadi. Dalam sistem ini, apabila diterapkan dalam konsep sistem perbankan kita, maka sang penabung memiliki hak penuh terhadap tabungannya. Seorang bankir harus secara penuh menjamin keamanan simpanan nasabah. Adapun risiko apabila terjadi kehilangan, perampokan, ataupun kredit macet adalah risiko yang memang seharusnya ditanggung oleh bankir—ini adalah sesuatu yang wajar dalam berbisnis. Kalaupun ada gagal bayar kredit dari seorang pengusaha, seharusnya yang dikorbankan bukanlah sang nasabah yang menabung di bank. Tanggungjawab tersebut sepenuhnya harus dipikul bersama oleh bankir yang meminjamkan dana dan juga pengusaha yang meminjam uang di bank tersebut. Bukan sebaliknya, harus dipikul oleh nasabah dengan kehilangan dananya—hal ini yang pernah kita lihat ketika terjadi “rush” tahun 2007, nasabah dibatasi pengambilan dananya cuma Rp. 20 juta. Bukankah ini namanya disebut keadilan? Ketika orang mengambil hak miliknya tapi dilarang pemerintah melalui pembatasan jaminan.

Kembali ke argumen Caplan. Menurut saya, Bryan Caplan—tokoh idola ekonom-ekonom ‘liberal’ kita— tidak dapat membedakan antara menabung dan berinvestasi. Ketika seseorang berniat menabung, apa yang diharapkannya adalah mengurangi ketidakpastian masa depan. Sehingga dirinya menyimpan sebagian dananya untuk mengurangi risiko masa depan.

Berbeda dengan berinvestasi: seorang investor dengan sengaja mengambil risiko untuk mendapat keuntungan.  Jadi dalam benak sang investor, dia akan siap menanggung segala apapun risiko asalkan dia berpotensi mendapat keuntungan. Apabila suatu saat sang investor tidak dapat mendapakan kembali dananya, dia akan siap dengan konsekuensi tersebut. Apabila dia mendapatkan keuntungan berdasarkan risiko yang dia ambil, itu juga merupakan balasan yang setimpal atas pilihannya.

Jadi menurut saya, Bryan Caplan, melalui sistem FRB yang didukungnya, menumpangtindihkan antara tujuan menabung dengan investasi. Dengan kata lain, dengan sistem FRB, sang penabung harus ikut menanggung segala risiko yang menjadi pilihan sengaja sang ‘investor’.

Jadi di sini, menurut saya, sistem FRB yang mengklaim diri bahwa dirinya adalah penganut pasar bebas yang menjamin kepemilikan individu, tidak dapat dikatakan sebagai liberal sejati. Barangkali benar apa yang dikatakan oleh seorang teman bahwa: musuh terbesar bagi gerakan liberalisme adalah kaum liberal itu sendiri!

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

3 comments for “Pertarungan Kaum Liberal: Kontradiksi Pikiran Bryan Caplan”

  1. Giy, saya mencatat beberapa hal yang mungkin bisa dibahas kapan-kapan.

    Pertama kalimat Anda yang berisi: “…bagaimana seharusnya dunia perbankan dijalankan.” 
    Ini menyangkut persoalan etis (Should), padahal mungkin maksud Anda pernyataan praksiologis (IS) yang obyektif.   Sebagian orang sensitif dengan pernyataan etis ketika sedang membahas fenomena ekonomi; tapi Rothbard pernah dengan cerdik melompat dari IS ke SHOULD dengan cara analisis praksiologis tentang means dan ends.  (Minggu depan saya coba selesaikan draft tulsian terkait hal ini.)

    Kedua, tentang perbedaan antara tabungan dan investasi. Keynes jelas-jelas membedakan keduanya; dia sangat negatif terhadap yang pertama. Bedanya hampir tidak ada; tipis sekali. Isu teknis ini dibahas oleh Hayek dalam salah satu eseinya, The “Paradox” of Savings, dalam Prices and Production and Other Works.  FYI, sebagian besar buku teks ekonomi masih menerima paradoks tersebut.

    NamBah: Pasar bebas memang tidak terbayangkan tanpa perbankan bebas; begitu juga sebaliknya; mereka “satu paket.” Trims atas kiriman artikelnya. Setahu saya ini artikel pertama (di dalam negeri) ttg perbankan bebas, yang jelas masih dianggap tabu.

    Posted by Nad | 10 November 2008, 11:39 pm
  2. Trism atas apresiasinya…
    maaf baru komentar, coz minggu2 ini saya dihujani pekerjaan. Saya memang bukan ekonom atau ahli perbankan. Tapi tiap hari saya sering diposisikan dalam pilihan2 tersebut. Antara uang hasil usaha saya harus saya ‘investasikan’ atau saya  ‘tabungkan’. Jelas2 tujuan dari kedua-duanya berbeda. Untuk yang pertama, saya sering menghitung2 tingkat resikonya, sedangkan yang kedua biasanya saya siapkan untuk persiapan perpanjang kontrak kios.  Alasan saya, setiap uang yang saya ‘investasikan’ untuk barang tertentu, pasti dihadapkan pada resiko-resiko tertentu pula. Oh ya sekedar info, saya juga kemarin ‘meleset’ dalam hal prediksi spekulasi ketika libur lebaran. Ternyata harganya ‘M-kios’ tidak naik seperti yang saya harapkan.  Jadi yang menganggap setiap investasi itu pasti untung, itu hanya pelajaran teks books.
    mengenai artikel tersebut, saya cuma menulis sekilas ketika sempat membaca perdebatan di mises blog. Eh munculnya malah tulisan tersebut….
    Mengenai teori2 dari Keynes, Hayek, dan Rothbard saya memang belum sempat  ‘menelitinya’. Dan mengenai ‘pasar bebas’, sepertinya ada yang ‘mis’ dari pandangan umum tentang ‘pasar bebas’.  Semisal, ketika banyak orang menyebut itu ‘terlalu bebas’ saya malah menganggapnya itu ‘sosialis’. Atau ketika ada yang mengatakan tentang ‘neolib’ saya menganggapnya sebagai ‘liberal setengah hati dan berbau statisme’…dsb2…
    Ya, bahasa memang memiliki keterbatasan. Dan saya merasakan ini juga terjadi dalam kajian praksiologi. Ketika sebuah abstraksi saya lakukan, kendala yang saya hadapi adalah mengubahnya ke ranah bahasa….
    Mengenai persoalan etis dan obyektif….saya memang belum memikirkannya…dan saya tunggu ulasan mengenai per-bank-an….
    Kan Anda ahlinya?he2…

    Posted by Giyanto | 11 November 2008, 5:59 pm
  3. terimakasih atas informasinya 😀

    Posted by sky | 21 July 2010, 5:28 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: