Uncategorized

Stiglitz dan Intervensionisme

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 9, 24 Agustus 2007

Tulisan ini dipicu oleh, dan sekaligus menanggapi, dua artikel di sebuah harian nasional (Stiglitz: Globalisasi Harus Adil (selanjutnya disebut SGHA, dan ”Saya Tidak Kontroversial” (STK); Kompas, 19/8/07).


Dalam SGHA Stiglitz menyinggung kelemahan teori ekonomi yang dicapnya sebagai ”tradisional”. Menurutnya, teori ini berpandangan bahwa pasar bekerja sempurna bila pemerintah tidak ikut campur tangan; dan bahwa pandangan ini didasari pada asumsi adanya kesempurnaan informasi dan bahwa setiap orang memiliki informasi yang sama. Stiglitz membantah teori tersebut; meyakinkan sejumlah pihak; dan pada tahun 2001 menerima hadiah Nobel di bidang ekonomi. Jasanya adalah mengembangkan cabang teori baru yang disebut ”ilmu-ilmu ekonomi mengenai informasi” [sic]. ”Model ekonominya memperhitungkan ketidaksimetrisan informasi sebagai asumsi dasarnya, yaitu bahkan sedikit saja ketidaksempurnaan informasi dapat berdampak besar terhadap ekonomi.” (SGHA par.2)

Dalam STK tudingan Stiglitz terhadap para ekonom ”tradisional” menajam. Katanya: “Mereka yang mengkritik saya, membela kepentingan mereka dari perspektif tertentu, yaitu model teori market fundamentalism yang sudah ketinggalan dan tidak didasarkan atas teori ekonomi, tetapi lebih atas dasar ideologi. Teori ekonomi sangat jelas menggambarkan, ketika terjadi kompetisi tidak sempurna, atau risiko yang tidak semua pihak mengetahui, pasar tidak bekerja”.

Semantik Stiglitz melalui terminologi ”fundamentalisme pasar”, ”sudah ketinggalan jaman” dan ”ideologi”, cukup menggelitik. Di satu sisi, cara pejoratif ini cukup ampuh dalam menghalau kritik, sebab citra dan asosiasi seputar fanatisme, kegilaan maniakal, kekunoan serta ketidakilmiahan dapat seketika menyeruak di benak pembaca untuk ikut mempengaruhi pandangan terhadap obyek pertimbangan.

Di sisi lain, pilihan cara tersebut membersitkan keyakinan Stiglitz terhadap evolusi pemikiran. Ia tampaknya percaya akan linearitas perkembangan paradigma, bahwa teori baru harus menggantikan teori lama. Pada titik ini, mungkin diperlukan cara pandang lain. Sesuai Kuhn (1970), dalam disiplin ilmiah, tidak menjadi soal apakah gagasan itu kuno atau tidak, baru atau lama; yang terpenting adalah apakah hal tersebut mampu mendekatkan manusia pada kebenaran, sebab sains (scientia) toh satu jalan utama kepada ”kebenaran”.

*

Ada kesamaan Stiglitz dengan ekonom Cambridge, John Maynard Keynes, yang di tahun 1930-an mempopulerkan pandangannya melalui Teori Umum. Keduanya mencoba memperkenalkan teori baru dengan cara meruntuhkan hegemoni teori sebelumnya. Cara ini sah, tentu. Namun, tanpa justifikasi yang cukup, cara ini berisiko mempersulit proses verifikasi ataupun falsifikasi, baik oleh masyarakat awam maupun para ekonom yang kini semakin terkutatkan dalam spesialisasi. Di pihak pembaca, tanpa pemahaman teori terdahulu, maka pandangan baru, alih-alih dicerna secara kritis dengan sikap ilmiah, cenderung akan harus diadopsi lewat iman sebagai doktrin.

Dalam Teori Umum, Keynes membangun argumennya dengan mengecam teori ekonomi klasik (khususnya supply-demand Say) yang dianggapnya ortodoks dan sarat kekeliruan. Persoalan pertama, ia menyapuratakan semua tokoh ekonomi terdahulu ke dalam kelompok tunggal monolitik pemikir(an) dengan justifikasi teoritis dan empiris yang amat tidak memadai. Persoalan kedua, ia keliru menginterpretasikan Say. Persoalan ketiga, teori barunya mengandung kesalahan serius baik yang besar mapun yang kecil yang hingga kini masih menyibukkan dunia akademi. Selain itu, Keynes seolah sengaja membuat dirinya menjadi ekstra sulit dipahami melalui caranya menyajikan isi pikirannya. Perlu kurang-lebih satu dekade untuk memahami doktrin-doktrinnya, yang pada intinya mengaggregasikan persoalan perekonomian secara makro dan membawanya ke “meja bedah” dan kabin perencanaan sentral. (Update: Lebih jauh tentang pemikiran ekonom ini, lihat artikel terkait dalam Jurnal ini–Editor).

Demikian pula Stiglitz, yang tidak menyebut secara eksplisit—setidaknya dalam artikel acuan, teori mana yang dicapnya sebagai tradisional; atau teori mana yang didasari asumsi bahwa informasi sempurna dan setiap orang memiliki informasi yang sama. Kuat dugaan saya, bahwa yang disanggahnya adalah pandangan Walrasian (dari Leon Walras (1834-1910), seputar konsep matematis ekuilibrium umum, di mana perekonomian dibayangkan bergerak sirkular dan robotik tanpa henti, di mana semua orang di pasar memiliki pengetahuan sempurna tentang masa kini dan masa depan, sementara ketidakpastian yang senantiasa terjadi di dunia nyata, dibuang sama sekali dalam gambaran model tersebut.

Keberatan Stiglitz atas pandangan di atas terhadap pasar cukup mendasar dan sahih (meski di sini ia tidak orisinil). Namun, kemungkinan asimetri informasi ini langsung dijadikan landasan kesimpulannya, tanpa justifikasi. “Saya percaya pada pasar,” katanya, ”tetapi pasar tidak dapat menyelesaikan persoalan begitu saja dan butuh intervensi pemerintah.”

Menurutnya intervensi diperlukan karena adanya kegagalan pasar akibat asimetri informasi. Kiranya, premis dalam argumennya dapat diparafrasekan sbb.: 1) ketika pasar tidak gagal, itu berarti informasi sudah tersebar secara sempurna; 2) pemerintah memiliki pengetahuan atau informasi yang sempurna.

*

Namun, seberapa jauh informasi dapat dikatakan sempurna? Pada titik mana kita dapat mengetahuinya saat hal itu terjadi? Adakah model matematis/statistik yang mampu menangkap semua variabel endogen dan eksogen sehingga semua informasi dapat tertangkap secara sempurna dan simetris? Apa artinya kegagalan pasar? Jika asimetri informasi dijadikan alasan sementara kesimetrian hanya abstraksi baru yang mustahil diobjektifkan, bukankah intervensi hanya bersandarkan pada sikap dan tabiat pengambil keputusan?

Teori ”mutakhir” tentang kegagalan pasar banyak dianut oleh ekonom yang tergolong dalam kelompok teoris Public Choicers, yang pandangannya hanya berbeda tipis dari pandangan Stiglitz. Menurut mereka, kegagalan pasar terjadi ketika suatu barang ekonomi gagal disediakan pasar sehingga memerlukan campur tangan pemerintah. Contoh klasik (mis. dalam buku teks Paul Samuelson) adalah mercusuar, yang menurutnya hampir tidak mungkin akan dibuat masyarakat atau ”pasar” sehingga harus disediakan pemerintah. Namun contoh klasik ini sudah lama terbantahkan (lihat mis. Thomas DiLorenzo).

Mengapa berasumsi bahwa pemerintah dapat melakukan aktivitas pasar lebih baik daripada pemain pasar itu sendiri? Barang atau jasa apa yang tidak dapat disediakan pasar? Pendidikan? Kesehatan? Bagi wilayah perekonomian yang kian terkungkung, pandangan Stiglitz memang terasa nyaman; tapi adakah disadari bahwa hal ini akan berujung pada digisime/statisme, di mana kewirausahaan tidak lagi cukup berkompetisi antarpengusaha, melainkan juga harus berkooptasi dan berkompetisi sekaligus dengan pemerintah yang ”dianjurkan” ikut selaku pemain?

F. A. Hayek dalam salah satu tulisannya yang terkenal, The Use of Knowledge for Society (1945), menyatakan bahwa pengetahuan tercecer di benak seluruh manusia. Tak seorangpun utuh memilikinya, meskipun dia perencana sentral. Hayek mencoba menekankan perlunya kerendahan hati para perencana kebijakan ekonomi terhadap apa-apa yang mungkin mustahil dilakukannya. Hayek justru mengutamakan keunggulan pengetahuan individu-individu setempat (lokal) baik secara temporal dan spatial dalam upaya memahami soal ekonomi, sebelum persoalan ekonomi dicoba dipahami dan kebijakan dirumuskan.

Sejak revolusi pemikiran ekonomi melalui subjektivitas nilai dan revolusi teori marjinal sekitar seratus tahun lalu, pasar dipercaya sebagai proses transaksi kewirausahaan yang berlangsung tanpa henti berdasarkan proses trial-error yang sama sekali jauh dari asumsi adanya kesempurnaan informasi. Variabel-variabel eksogen di pasar selalu berubah, maka titik keseimbangan yang dituju pasar juga selalu berubah. Misalnya, setiap kali terjadi kelebihan ”pasokan” komoditas/jasa, hal ini akan memberi tekanan yang cenderung menurunkan harga barang/jasa tersebut , dan hal ini selanjutnya mencegah produsen untuk terus memproduksi; sebaliknya, “kelangkaan” barang/jasa akan cenderung mengarah pada kenaikan harganya.

Pasar dalam pengertian seorang ekonom ataupun awam adalah tempat atau proses sosial pertukaran barang dan jasa. Dalam kondisi yang tidak terkendala dia adalah proses sosial pertukaran sukarela. Di pasar beragam informasi sudah terhimpun (melalui) dalam (mekanisme) harga. Melalui mekanisme ini pasar selalu bergerak menuju titik ekuilibrium–sebuah titik keseimbangan yang tidak akan pernah tercapai sebab dia tak lain konstruk imajiner yang kita idealisir. (Meski tidak terjadi di dunia nyata ini, konsep ini tetap berguna karena dapat memandu proses analisis dan perancangan, sebagaimana para insinyur dapat terpandu oleh konsep medan berfriksi nol; atau kecepatan maksimum yang dapat dicapai sebuah kendaraan.)

Realisme di pasar berlangsung berdasarkan trial-error di dalam ketidakpastian yang merupakan fakta kehidupan. Cepat atau lambat, kita sebagai pembeli akan tahu apakah barang belian kita terlalu mahal atau tidak. Cepat atau lambat kita, selaku penjual, dapat menemukan pembeli mana yang bersedia membeli dengan harga yang lebih tinggi. Kekuatan pasokan dan permintaan—sebagai salah satu hukum dasar ekonomi–justru beroperasi untuk memperbaiki keputusan-keputusan kita yang memang tidak melulu benar. Pemikiran ilmiah semacam inikah yang disebut Stiglitz sebagai prasangka berlandas “doktrin”? Sejak awal, asumsi informasi-sempurna semacam itu sepertinya melecehkan peran penting dan business acumen wirausahawan, di samping menegasikan kemampuan konsumen dalam menimbang-nimbang.

Bersandar pada “lompatan kuantum” kesimpulannya kepada keharusan intervensi, solusi tipikal yang dibayangkan Stiglitz tercermin saat ia berbicara tentang keadilan, fairness dan equity—topik subtil lain yang menuntut penjabaran lebih lanjut namun bukan topik bahasan di sini.

“”… Situasi dunia saat ini tidak adil untuk negara berkembang. Mereka yang dipasar keuangan punya kepentingan tertentu, punya juru bicara untuk membela posisi mereka, dan itu sebabnya debat dalam skala global terdistorsi.” Menurutnya, tidak adil untuk petani beras Indonesia bersaing dengan Washington (yang menyubsidi petani beras AS). Untuk membuat arena bermain yang selaras, bila Washington menyubsidi petaninya 50 persen, Indonesia dapat memajaki beras dari AS 50 persen.”

Kutipan kata-katanya di atas menyiratkan inti penyebab persoalan ’ketidakadilan’ yang ingin dibelanya. Apakah ketidakadilan tersebut sifat intrinsik pasar atau justru karena ulah faktor eksternal; pasarkah yang menimbulkan ketaksetaraan dalam level permainan? Jawaban intuitif dapat diperoleh manakala kita kembali kepada pemahaman kita terhadap pasar, yang tampaknya oleh Stiglitz tergolong sebagai fundamentalisme. Sementara itu, persoalan ketidakadilan untuk petani beras Indonesia, solusi pragmatis yang ditawarkan adalah semacam perban bagi luka pendarahan yang muncul sebagai akibat; sementara penyebabnya masih mengelak darinya, atau ia elakkan.

Stiglitz tidaklah kontroversial; ia ekonom Nobel yang ‘nyaman’ bagi setiap rejim di dalam dunia yang kian terkungkung dalam mahamatriks pemerintahan. Yang kontroversial mungkin sejumput intelektual yang mengatakan bahwa Stiglitz kontroversial. [ ]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. tidakkah setelah Kuhn kita tak lagi percaya dengan sifat akumulatif dalam pengetahuan, dus runtuhnya model linear evolutif paradigma?

    retakan, atau runtuhnya paradigma lama akhirnya digantikan dengan paradigma baru sebagai fondasi yang benar-benar baru bagi perkembangan ilmu. jadi teori lama biasanya benar-benar ditinggalkan. siapa yang percaya Ptolomeus saat ini?

    sekedar urun komentar
    tabik 🙂

    Posted by soedra | 12 November 2007, 3:58 pm

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory