Austrian economics

Depresi, Keberanian untuk Berharap dan Teori ABC

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi No. 55 Tanggal 10 November 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Kemarin seorang teman mampir untuk makan malam. Ia orang Amrik; datang dari Washington DC dan membawa oleh-oleh buat  istri saya, berupa T-Shirt dan pin Obama. Chris dan keluarganya di AS memang pendukung fanatik Obama.  Dalam percakapan kami ia bilang, dan saya langsung setuju, ekonomi adalah tentang human endeavors.  Oleh karenanya, lanjut Chris, ia yakin krisis AS akan segera berlalu dengan terpilihnya Barry Obama sebagai presiden.  Saya menukas, nanti dulu…. Dalam hal ini soalnya bukan individual, tapi lebih institusional.

alt textBarack Hussein Obama

Apakah kita cukup memiliki keberanian untuk berharap (audacity of hope) bahwa perekonomian Amerika dan global akan membaik dengan terpilihnya sang presiden-terpilih? Saya pun tergerak menulis artikel ini, meski topiknya bukan tentang Obama (yang kata Bapak mertua saya, agak mirip saya).  Semoga di akhir artikel nanti pembaca dapat tiba pada kesimpulan sendiri–bukan tentang mirip tidaknya saya dengan Obama;  tapi apakah keberanian kita dalam berharap itu bisa membawa kita keluar dari krisis, atau sekadar wishful thinking belaka.)

*

Akar permasalahan krisis global yang melanda dunia sudah dibahas dalam artikel sebelumnya. Artikel kali ini memperkenalkan teori siklus bisnis dalam tradisi pemikiran ekonomi mazhab Austria. Tujuannya: mengayakan pemahaman kita tentang krisis finansial sistemik (baca: yang memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan itu sendiri).

Kebanyakan pembaca pasti sudah cukup terpapar pada pandangan atau penjelasan dari berbagai ekonom dan pengamat dari dalam/luar negeri. Mulai dari yang mengatakan bahwa sumber krisis adalah sifat melekat sistem kapitalisme; hingga yang menggarisbawahi ketamakan manusia/spekulator/Yahudi; atau yang menegaskan kurangnya regulasi sehingga pemerintah perlu melakukan regulasi yang lebih ketat seperti lewat proses nasionalisasi bisnis; atau teori yang menyalahkan minimnya konsumsi masyarakat sehingga pemerintahan wajib meluncurkan paket-paket stimulus penyelamat perekonomian nasionalnya masing-masing; atau “teori-teori” lainnya.

Alinea-alinea selanjutnya akan memaparkan teori bisnis yang menurut saya satu-satunya teori yang andal dalam menjelaskan fenomena “boom” dan “bust” (BB) secara konsisten, tanpa mengawur dari teori umum ekonomi.

Teori siklus bisnis ini sering disebut sebagai Austrian theory of Business Cycles (Teori ABC),  yang pertama kali diperkenalkan oleh Ludwig von Mises, dan kelak dipercanggih dan diperkenalkan oleh Friedrich von Hayek dalam literatur Anglo-Sakson (yang antara lain membuatnya dianugerahi Nobel 1974).  Kerangka pemikiran yang saya kembangkan di sini sesuai dengan elaborasi yang padat dan sintal dari Murray N. Rothbard.  (Pembaca yang tertarik mengetahui lebih lanjut disarankan membaca acuan utama artikel ini.)[1]

Siklus Bisnis vs. Fluktuasi Bisnis

Krisis hanya dapat dipahami dengan bersandar pada teori.  Seperti dikatakan Mises:

“Pengalaman yang … digeluti ilmu-ilmu pengetahuan yang mengkaji tindakan manusia selalu berupa fenomena kompleks. Percobaan laboratorium tidak memungkinkan penelitian terhadap tindakan manusia. Kita tidak pernah berada dalam satu posisi yang memungkinkan kita mengamati perubahan yang terjadi pada satu elemen saja, sementara kondisi lain dari peristiwa yang diteliti dianggap tidak berubah.

Dan juga:

“Fenomena kompleks, yang terbentuk atas pertautan rantai sebab-akibat, tidak dapat menguji teori apapun. Justru sebaliknya, fenomena kompleks hanya bisa dimengerti melalui interpretasi berdasarkan pemahaman teori-teori lain yang telah dikembangkan sebelumnya dari sumber-sumber lain. Dalam hal fenomena alamiah, interpretasi terhadap peristiwa tidak harus bertentangan dengan teori yang sudah teruji secara memuaskan melalui eksperimen. Dalam hal peristiwa historis tidak dikenal batasan seperti itu. Para komentator dapat saja berlindung di balik penjelasan yang arbitrer. Ketika harus menjelaskan sesuatu, pikiran manusia tidak pernah kehilangan daya untuk menciptakan teori ad hoc rekaan, meskipun justifikasi logisnya tidak tersedia.” (Mises, Human Action, Bab 2; cetak miring saya.)

Oleh karena itu pemahaman terhadap krisis menuntut teori yang memuaskan. Teori tersebut harus berjangkar atau berlandas pada, dan tidak kontradiktif dengan, teori atau hukum ekonomi yang bersifat umum. Tanpa pemenuhan prasyarat ini, teori siklus tersebut pasti akan mengawang-awang dan perlu ditolak. Sebab jika diterima, kita mau tidak mau harus menolak teori umum ekonomi oleh sebab teori tersebut kurang umum dalam menjelaskan fenomena ekonomi.

Sebelum memahami teori siklus, penting dan amat mendasar bagi kita untuk membedakan siklus bisnis (yang menyebabkan terjadinya BB) dengan fluktuasi bisnis biasa.  Untuk mengerti fluktuasi bisnis, kita perlu sedikit mengingat fakta sederhana yang mendasar, berupa adanya perubahan dan ketidakpastian dalam kehidupan, yang senantiasa memengaruhi semua aktivitas manusia.

Oleh karena hidup adalah perubahan kontinyu tanpa akhir dan tanpa kepastian, manusia mencoba sebaik mungkin untuk memprediksi dan mengantisipasi perubahan. Orang-orang yang menggeluti bisnis pada hakikatnya berkecimpung dalam usaha meramalkan perubahan-perubahan yang terjadi di pasar, terutama perubahan kondisi supply (S) dan demand (D). Mereka harus mengantisipasi perubahan selera para konsumen dan perubahan preferensi mereka, mengatasi perubahan kuantitas/kualitas/lokasi tenaga kerja yang mereka libatkan,  ataupun perubahan-perubahan lain (mis. dalam hal ketersediaan bahan produksi, teknologi, cuaca, dan sebagainya). Semua perubahan tersebut fitur khas perekonomian dalam sistem apapun dan di manapun.

Pengusaha yang kerap berhasil dalam memprediksi, akan diganjar keuntungan. Sebaliknya, mereka dihajar kerugian.  Dengan kata lain, pengusaha yang paling berhasil adalah dia yang cakap dalam mengantisipasi kondisi bisnis ke depan. Prediksi tentu tidak pernah sempurna, sebab kalau sempurna tidak ada keuntungan ataupun kerugian terjadi di dunia bisnis.

Seperti juga nilai mata uang tidak dapat stabil, maka musykil mengharapkan stabilitas bisnis, sebab stabilitas bisnis mempra-sumsikan bahwa perubahan-perubahan di atas tidak terjadi atau bisa dikangkangi.  Upaya menstabilisasi atau menstatiskan fluktuasi, yang sebenarnya normal itu, pada akhirnya akan meniadakan kegiatan rasional untuk menjadi produktif.

Sebagai ilustrasi, kita tahu kalau setiap beberapa bulan sekali negeri kita ini diberkahi banyak hujan.  Pebisnis yang bergerak di bidang produksi alat-alat untuk menyiasati hujan (seperti mantel, payung, dsb.) akan merayakan kebutuhan masyarakat akan peranti tersebut.  Dapat diduga di bulan-bulan tertentu akan terjadi permintaan payung/mantel yang lebih tinggi daripada di bulan kemarau.  Jelas, setiap beberapa bulan sekali akan terjadi “boom” dalam industri terkait musim hujan.  Di bulan lain, bisnis di sektor ini harus siap mengalami “depresi”.

Kalaupun ada pihak tertentu yang berpretensi menstabilkan dunia bisnis sehingga, misalnya, setiap bulan produksi hujan atau mantel terbebas dari fluktuasi, upaya “cerdas” macam ini tidak akan menolong, bahkan sebenarnya mengganggu.  Upaya seperti itu berarti memaksa pengusaha agar menghasilkan produk sebelum produk tersebut diinginkan. Tenaga kerja yang dipakai dalam industri tersebut dipekerjakan atas nama “stabilisasi” sebelum ada kebutuhan akan mereka.

Kejadian yang menimpa lanskap hipotek perumahan di AS kira-kira seperti itu pulalah. Kalau masyarakat di suatu wilayah lebih menginginkan kendaraan dan ponsel ketimbang perumahan, apakah atas nama stabilisasi mereka harus diarahkan untuk membeli rumah  dan dicegah agar tidak membeli alat transportasi dan komunikasi tersebut?

Contoh-contoh di atas mengingatkan kita bahwa fluktuasi bisnis semacam selalu terjadi sepanjang masa dan untuk memahami hal tersebut, kita tidak perlu “teori siklus” secara khusus. Perubahan-perubahan tersebut semata terjadi karena adanya perubahan data ekonomi yang dengan sendirinya dapat diterangkan secara memuaskan oleh teori ekonomi umum.

Perlu ditambahkan bahwa penurunan kinerja dalam industri tertentu tidak akan memicu terjadinya depresi bisnis secara keseluruhan.  Perubahan data semacam di atas menyebabkan peningkatan aktivitas di sektor-sektor ekonomi lain sementara penurunan di bidang-bidang lain.

Siklus bisnis terjadi ketika persoalan fluktuasi tersebut menimbulkan terjadinya BB.  Teori siklus kita dibutuhkan bukan untuk memahami fluktuasi beberapa industri tertentu secara khusus dan kemudian melabelkan faktor-faktor apa yang telah memicu satu industri sehingga menjadi berjaya  sementara industri lain justru mengalami depresi.   Teori siklus bisnis mencoba menjelaskan kenapa dan bagaimana BB terjadi secara umum dan berbarengan.

Anatomi Depresi

Depresi disebut pecah atau meletus ketika terjadi serentetan kesalahan, atau sekelompok kekeliruan penilaian yang dilakukan oleh gugusan bisnis (bukan semata satu jenis bisnis tertentu saja), yang berujung pada kerugian besar yang terjadi secara relatif bersamaan.   Mengapa kesalahan-kesalahan tersebut terjadi serentak dan sekonyong-konyong?

Perubahan dan pergerakan yang seolah tiba-tiba dalam klaster bisnis pasti akan langsung tercermin dan “diterjemahkan” dalam nilai alat-tukar-yaitu uang, sebab uang adalah penaut segala kegiatan ekonomi.  Kalau harga satu jenis komoditas bergerak naik dan harga komoditas lain turun, boleh kita simpulkan adanya pergeseran D. Tapi kalau semua harga naik atau turun berbarengan, perubahan itu hanya dapat ditimbulkan oleh apa yang terjadi pada semesta moneter.

Perubahan harga secara umum hanya ditimbulkan oleh adanya perubahan dalam D atau S uang itu sendiri, yang juga komoditas.  Kalau S uang naik di saat D terhadapnya tetap, hal ini akan menyebabkan jatuhnya daya beli uang tersebut.  Kejatuhan daya beli uang tercermin pada kenaikan harga secara umum.

Sebaliknya, turunnya S uang di saat D-nya tetap akan menyebabkan turunnya harga secara umum. Kalau D akan uang meningkat sementara Snya tetap, hal tersebut akan meningkatkan daya beli uang (penurunan harga secara umum. Perubahan harga komoditas secara umum, dengan demikian, ditentukan oleh perubahan dalam S dan D uang. Dalam hal ini, S adalah stok uang yang berada di masyarakat.  D terhadap uang adalah kesediaan atau keinginan orang untuk memegang uang tunai di tangan, dan hal ini dapat dinyatakan dalam keinginan untuk menukar komoditas dengan uang atau menyimpan uang kontan.

D terhadap uang akan cenderung turun ketika daya belinya menguat, sebab setiap rupiah atau dolar akan lebih efektif jika berada sebagai saldo simpanan. Sebaliknya, S-uang akan naik kalau daya belinya melemah, sebab untuk melakukan tugas penukaran, orang akan membutuhkan lebih banyak rupiah atau dolar.  Ini yang disebut sebagai “relasi uang”, yang menjelaskan hubungan antara stok uang dan S terhadapnya S uang dan D terhadapnya. [F]

Pembacaan yang cermat akan masih meninggalkan satu pertanyaan penting: relasi-uang ini masih belum menjelaskan misteri siklus bisnis.  Kalau S uang naik atau Dnya turun, maka harga akan turun, tetapi apa hubungan semua ini dengan terjadinya siklus bisnis?  Mengapa depresi bisa terjadi? Apa lagi ciri penandanya?

Beberapa Ciri

Telah disinggung sebelumnya bahwa satu ciri periode depresi adalah terjadinya kerugian besar yang dialami oleh gugusan berbagai macam bisnis.  Kenapa para pebisnis yang berkecimpung dalam dunia prediksi dan antisipasi tiba-tiba seperti melakukan “konser bersama” berupa rugi bareng?  Apakah bisa diterima, bahwa krisis seperti yang tengah terjadi saat ini timbul akibat perubahan tiba-tiba pada data ekonomi?

Ciri kedua periode depresi adalah fakta bahwa industri yang bergerak di bidang barang-modal (capital goods; mis. bahan mentah, konstruksi, dan peralatan industri) mengalami fluktuasi yang lebih luas ketimbang industri barang-konsumen.  Industri barang-modal mengalami ekspansi lebih hebat di saat boom, tapi juga menderita paling dahsyat dalam periode depresi.

Ciri ketiga adalah adanya kenaikan S uang beredar di dalam perekonomian. Sebaliknya, S uang secara umum mengalami penurunan (meski tidak secara universal) S uang selama masa depresi.

ABC

Teori ABC mengatakan bahwa siklus BB terjadi akibat intervensi moneter terhadap pasar, terutama intervensi berupa ekspansi kredit bank ke sektor-sektor bisnis.  Penjelasannya sbb.:

Ketika bank mencetak uang baru baik berupa uang kertas ataupun deposit bank dan kemudian meminjamkannya kepada pebisnis, uang baru tersebut akan memasuki pasar uang dan memengaruhi (menurunkan) tingkat bunga pinjaman. Sekilas akan tampak seolah kenaikan S dana tabungan untuk tujuan investasi, sebab pada akhirnya efeknya memang mirip: S dana untuk investasi tampak naik, sementara tingkat bunga pinjaman turun.

Para pebisnis, singkatnya, secara keliru terbimbing oleh proses penciptaan uang yang inflasif oleh perbankan sehingga meyakini bahwa ada S dana yang lebih besar ketimbang yang sebenarnya. Lewat dana tersebut para pebisnis mendapat insentif untuk menanamkan investasinya dalam proses produksi yang memerlukan proses yang lebih panjang (mis. dalam struktur permodalan yang panjang, terutama dalam barang-barang dalam “tatanan yang lebih tinggi” atau yang masih jauh dari penikmatan konsumen.

(Pendiri mazhab ekonomi Austria Carl Menger membedakan komoditas ekonomi menjadi first atau lower order goods, high order goods, dan higher order goods yang mencerminkan nilai utilitas komoditas bagi konsumen dan atau durasi proses produksinya.   Barang dalam kategori terakhir dalam literatur modern dapat disamakan dengan komoditas yang nilai tambahnya lebih tinggi daripada komoditas higher atau lower order goods (barang hasil produksi yang tidak memerlukan proses-produksi panjang).

Dengan adanya dana baru para pebisnis menjadi terangsang untuk menggeser pola/macam produksi mereka, dari yang tadinya dekat kepada konsumen menjadi lebih-jauh (higher), atau dari barang konsumen menjadi barang modal. (Ulasan lengkap dapat dibaca dalam buku-buku ini.)[2]

Terlihat di sini adanya perubahan dalam ketersediaan dana dan dalam hal preferensi-waktu di pihak pengusaha (yaitu kesediaan mereka melakoni produksi yang membutuhkan waktu panjang).  Kalau semuanya ini murni memang demikian, tidak ada masalah.  Struktur produksi tersebut dapat tertopang secara indefinit. Masalahnya, semua ini efek dari ekspansi kredit perbankan. Ekspansi kredit menciptakan “boom” dalam gugusan industri yang bergerak di bidang barang-modal.  Cepat atau lambat, uang baru yang tercipta akan memasuki perekonomian; mula-mula dari para peminjamlalu kepada faktor-faktor produksi dalam bentuk upah, harga sewa dan tingkat bunga.

Bagaimana halnya dengan masyarakat konsumen itu sendiri? Terlepas dari daya tarik “boom” yang meningkatkan pasokan barang-barang higher order tersebut, tidak terdapat alasan ekstra bagi masyarakat untuk mengubah preferensi-waktu mereka, apalagi ketika efek inflasif dari peredaran uang baru tersebut mulai mencemari daya beli uang.  Uang baru yang mereka pegang, dengan daya belinya yang menjalar turun dengan proporsi yang tidak bisa diprediksi atau dikuantifikasi oleh siapapun, akan dikonsumsi dengan pola konsumsi-investasi konvensional mereka.

Propensiti masyarakat terhadap barang-barang higher order tentu terpengaruh; namun pada akhirnya, mereka harus kembali kepada proporsi “konsumsi-investasi” sejati mereka. D sejati mereka akan bergeser kembali dari barang-barang berkategori “higher” menjadi “lower” orders. Pada titik ini industri-industri yang bergerak di bidang barang modal mulai mendapati bahwa investasi mereka selama ini ternyata berupa malinvestasi.  Produksi barang-barang higher orders akan ternyata mubazir. Dan malinvestasi semacam ini mau tidak mau harus mengalami likuidasi.

Teori ABC secara konsisten menjelaskan fenomena BB sesuai hukum dasar ekonomi berupa S dan D. Ini menepis tudingan bahwa fenomena siklus bisnis adalah hal yang melekat dalam kapitalisme, atau pasar bebas, sebab hukum ini akan terus bekerja dalam sistem penyelenggaraan ekonomi apapun.

Teori tersebut juga menggugurkan penjelasan favorit Keynesian bahwa krisis berakar dari kurangnya “konsumsi”-kurangnya permintaan konsumen akan barang pada harga yang menguntungkan bagi pengusaha. Pandangan ini bertolak belakang dengan kenyataan konsisten di setiap kala depresi bahwa krisis justru melanda barang-barang modal, bukan komoditas konsumen. Kekeliruan yang terjadi adalah pada D pengusaha akan barang-barang higher order, dan hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan masyarakat kepada proporsi kemampuan “sejati” mereka.

Dengan kata lain, para pengusaha terkecoh oleh proses inflasif lewat ekspansi kredit sehingga mereka berinvestasi terlalu banyak dalam produksi barang-barang modal, yang hanya bisa sinambung kalau preferensi-waktu masyarakat mendukungnya lewat tabungan. Para pebisnis terpicu untuk melakukan kekeliruan secara bersama-sama akibat ekspansi kredit perbankan dan pengotak-atikan tingkat bunga pinjaman yang semakin menjauhi tingkat bunga “alamiah” yang ditentukan pasar.

Periode boom, dengan demikian, adalah periode malinvestasi barang-barang modal yang mubazir. Periode inilah adalah momen ketika gugus kesalahan sedang terjadi. Krisis yang hinggap belakangan adalah ketika konsumen yang kembali “ngeh”, berekonomi sesuai dengan kapasitas mereka.

Periode “bust” atau depresi yang terjadi dewasa ini sebenarnya sebuah proses pemulihan ekonomi dari semua kemubaziran dan kekeliruan di periode boom, untuk mengarah kembali kepada keseimbangan dan efisiensi pasar. Proses penyesuaian ini pada dasarnya berupa proses likuidasi semua investasi yang terbukti sia-sia. Ada investasi yang harus ditinggalkan sepenuhnya; ada pula yang harus dialihkan untuk tujuan lain.  Perusahaan-perusahaan yang tidak efisien, yang melambung akibat boom buatan ini, harus terlikuidasi. Harga-harga komoditas higher order pasti akan turun-ini termasuk harga-harga barang modal, tanah, dan tingkat upah.

Krisis adalah sinyal bagi berakhirnya distorsi inflasif.  Depresi adalah proses kembalinya efisiensi.  Yang terpenting untuk diingat, depresi adalah proses penyembuhan dan akhir depresi adalah situasi normal dengan efisiensi optimum.  Depresi bukanlah suatu hal evil. Dia proses yang niscaya terjadi dan sebenarnya “baik” untuk menyembuhkan distorsi akibat boom.  Setiap boom, kata Rothbard,  niscaya membutuhkan bust.

Penutup

Kalau uang baru relatif tidak membutuhkan waktu yang lama sebelum memasuki faktor-faktor produksi, mengapa  periode boom tidak berlangsung cepat?

Alasannya berpulang sekali lagi ke sektor perbankan. Semakin dalam sistem perbankan meneruskan ekspansi kreditnya, semakin lama pulalah para mal-investor dapat “menyambung nyawa.” Dengan kata lain, jelas, semakin besar ekspansi kredit, semakin lama periode boom.  Akhir dari boom adalah ketika ekspansi kredit terhenti, karena pengekang sistem perbankan dalam penciptaan uang baru dalam sistem fiat adalah sistem cek inflasi. Makin lama boom bertahan, makin banyak pula kesia-siaan terjadi; makin lama dan serius pula periode pemulihan yang dibutuhkan terhadap depresi (“bust”) yang mengikutinya.

Jadi menurut Teori ABC, ekspansi kredit perbankan menggerakkan siklus bisnis di semua fasenya: sejak fase inflasif, fase krisis, dan fase depresi.  Jika periode boom ditandai oleh turunnya tingkat bunga dan tingkat pinjaman, maka periode depresi dikuti oleh kenaikan tingkat diferensial bunga.  Dalam praktiknya, hal ini berarti kejatuhan harga barang-barang high orders secara relatif terhadap barang-barang konsumen.  Harga mesin-mesin tertentu juga pasti jatuh. Tidak cuma itu saja, harga-harga agregat modal (harga stok dan nilai real estate) juta harus jatuh.  Kenyataannya, semua nilai tersebut harus jatuh lebih dalam daripada nilai earning dari asset, dengan merefleksikannya naiknya tuntutan akan imbal (return) bisnis.

Oleh karena pergeseran faktor produksi dari barang-barang higher orders ke lower orders, maka dalam periode depresi tingkat pengangguran  “friksional” tidak terhindarkan. Tapi proporsinya tidak akan lebih besar daripada pengangguran di saat terjadinya pergeseran pola produksi. Namun, dalam praktiknya, persoalan pengangguran cenderung semakin diperburuk oleh banyaknya bisnis-bisnis yang mengalami kebangkrutan dan solusi-solusi  yang ditempuh, meski semua ini tetap bersifat sementara. Semakin cepat pemulihan terjadi, akan semakin singkat pula durasi periode pengangguran. Masalahnya, ketika tingkat upah tidak bebas naik-turun, seperti misalnya lewat UMR atau restriksi oleh serikat pekerja, hal ini akan memukul balik sektor tenaga kerja, sehingga akan memperberat dan memperpanjang proses.

*

Begitulah artikel ini, melanjutkan artikel sebelumnya, telah mencoba menjelaskan krisis yang sedang dialami dunia.  Semoga tulisan ini cukup mencerahkan, bukan “buih verbal’ semata.  Banyak memang aspek krisis yang belum tergali dan saya harap dapat menguranginya kelak lewat tulisan-tulisan selanjutnya.

Mengenai teman saya sendiri, Chris terkejut akan pandangan saya, yang menurutnya pesimistik.  Tapi dia seorang dokter, bukan ekonom; dan ekonomi sejak awal perkembangan ilmu tersebut-hingga munculnya Lord Keynes-dijuluki, mula-mula oleh Thomas Carlyle, sebagai dismal science–sains murung yang gemar mewartakan kecemasan.

Bagaimana daya tilik teori ABC menurut Anda?

Apakah saya pesimis dengan mengatakan bahwa seorang Obama saja tidak cukup?  Silakan kirim tanggapan/komentar Anda.   Sambil menunggu, saya mau introspeksi: dalam hal apa Obama telah “meniru-niru” saya.;-p  [ ]

[F] Direvisi pada: 11/11/08 at 12:11]


[1] Murray N. Rothbard, America’s Great Depression, Edisi 5, © 2000 The Ludwig von Mises Institute.

[2] F.A. Hayek, Prices and Production (edisi 2., London: Routledge and Kegan Paul, 1935); Mises, Human Action; dan Eugen von Böhm-Bawerk, “Positive Theory of Capital,” dalam Capital and Interest (South Holland, Ill.: Libertarian Press, 1959), vol. 2.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Tweet about this on TwitterDigg thisShare on RedditPin on PinterestShare on StumbleUponShare on Tumblr

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

4 comments for “Depresi, Keberanian untuk Berharap dan Teori ABC”

  1. Nad…Komentarnya entar kalau sempat, coz tulisannya panjang banget. Saya akan print dulu baru bisa komentar. Selamat ya anda dikatakan mirip Obama…he2.

    Posted by Giyanto | 12 November 2008, 1:19 am
  2. Sampai saat ini baru dua kemiripan berhasil saya deteksi: cara dia melinting lengan baju dan menyimpan ponsel di pinggang kiri, hehe.

    Posted by Nad | 12 November 2008, 6:40 am
  3. Thanks utk reply sblmnya. Saya sdh membaca artikel ini tp terus terang, saya blm mendapat penjelasan yg memadai ttg krisis yg skrg tjd di US. misalnya, saya tahu bhw salah 1 yg bermasalah adalah kredit perumahan. tp di artikel Anda, tidak tercantum ttg kategori barang dari rmh. mgkn akan lbh menarik kalo analisis Anda disertai juga data2 historis yg mendukung. misalnya, intervensi moneter apa yg menyebabkan housing bubble. memang Anda menyebut ttg uang fiat di artikel yg lain, tp saya tdk mengerti hubungannya dng housing bubble yg skrg sdh mjd bust. mgkn menarik jg kalau ada analisis ttg mengapa perusahaan kredit terkemuka sprt Lehman Brothers yg sdh jaya bertahun2 bisa akhirnya bangkrut. nama Lehman sendiri sdh sprt nama yg terpercaya tp bisa jg mrk salah perhitungan (dng demikian buruknya) hingga bangkrut & rugi besar. GM yg adalah raksasa automotive juga hampir bangkrut. ini sering membuat saya bertanya: how come? thanks utk reply-nya & utk pandangan alternatif Anda.

    Posted by yonathan | 27 December 2008, 4:29 pm
  4. Terima kasih atas masukannya!  Saya setuju bahwa dengan dukungan data, artikel-artikel ini akan lebih tajam dan meyakinkan. Masukan Anda amat berharga.  Tentunya ada banyak data historis pendukung di luar sana yg meneguhkan pola intervensi moneter oleh the Fed, misalnya kebijakan Greenspan yg menekan tingkat bunga selama bertahun-tahun sedemikian rendah, bahkan secara riil negatif, dan grafik2 yg memperlihatkan pertumbuhan malinvestasi perumahan dpt dilihat paling baik dalam data-data yg dikompilasi ekonom-ekonom spt Mark Thonton & Frank Shostak.  Di situs-situs lokal, data-data semacam ini (juga ttg Lehman Brothers, dll.) tdk banyak diungkap, tapi dapat ditemukan di “sister website” jurnal ini–Ekonomi Orang Waras dan Investasi (EOWI).

    Di jurnal ini saya mencoba memperkenalkan teori ekonomi ‘alternatif’ yang aprioris dan bukan empiris, berdasarkan ‘economic laws’ yang akan membuktikan bahwa data-data hasil pengalaman di luar sana hanya akan “tunduk” pada, dan tidak bisa menyimpang dari, kebenaran teoretis  dari sudut pandang praksiologi. Secara fundamental, ini tentu amat berseberangan dengan, dan sulit diterima bahkan secara prosedural oleh, pendekatan yang empiris.

    Komentar2 selanjutnya ditunggu!

    Posted by Nad | 28 December 2008, 11:06 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory