Uncategorized

Maksim Nad #3

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi No. 56 Tanggal 17 November 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Si maksim (“maxim”) gampang-gampang susah atau susah-susah gampang didefinisikan.

Menurut definisi dari Answer.com, dia berarti:

“A usually pithy and familiar statement expressing an observation or principle generally accepted as wise or true. (Kamus umum)

“… a short and memorable statement of a general principle; thus an aphorism or apophthegm, especially one that imparts advice or guidance. The French writer La Rochefoucauld published his aphorisms as Maximes (1665), while Benjamin Franklin included several celebrated examples in his Poor Richard’s Almanack (1733-58), including the maxim ‘Three may keep a secret, if two of them are dead.” (Kamus filsafat)

“Generally, any simple and memorable rule or guide for living: neither a borrower nor a lender be, etc. Tennyson speaks of ‘a little hoard of maxims preaching down a daughter’s heart’ (Locksley Hall), and maxims have generally been associated with a ‘folksy’ or ‘copy-book’ approach to morality. (Kamus kesusastraan).

alt text Yang ini Maksim Mrca, pianis Kroasia.

Terlepas dari definisinya yang masih belum sreg, mengenal maksim hasil formulasi seorang penulis atau pemikir, kadang bisa mengasyikkan. Ini juga berlaku bagi saya. Bisa jadi, maksim lebih dari sekadar memberi keasyikan, melainkan ikut membantu merawat passion seseorang terhadap gagasan atau pandangan dari tokoh tertentu.

Satu hal tentang maksim, dia tidak melulu dan tidak harus mencerminkan teori/pandangan penciptanya  secara utuh. Dengan kata lain, maksim cuma potongan kebenaran yang terlepas atau bisa dicopot dari konteksnya.

Contohnya Lord Keynes. Teori umumnya tentang perekonomian, gagal saya setujui.  Tapi ini tidak mengurangi kenikmatan saya dalam membaca beberapa penggalan pikirannya yang, kalau dapat disebut maksim,  harus diakui menarik.

“In the long run we are all dead,” katanya.  Atau:”The thoughts of economists, even when they are wrong, are very powerful. Indeed the world is governed by little else.” (Atau begitulah intinya kurang-lebih, sebab saya tidak hapal luar kepala).

Milton Friedman pun selain ekonom juga penulis dan pembicara yang hebat. Di satu seminar di Mont Perins ia pernah bermaksim:“There is no Austrian economics; there is only good or bad economics.”

Dalam wawancara dengan Time, dia menciptakan satu lagi: “We are all Keynesians now.”

Ekonom Harvard Greg Mankiew nyaris sekaliber dengan Friedman (dalam hal bertutur). Saya tidak ingat maksim darinya, kecuali bahwa ia punya anjing bernama Keynes dan bahwa ia di blognya bilang bahwa belum pernah mendengar makhluk apa itu Austrian economics.  Tapi tunggu dulu, di Macroeconomics dia pernah mengatakan, “There is nothing inherently bad about budget deficit.” Barangkali kalimat itu maksim Mankiew.

Sejak mengasuh Jurnal ini sejak tahun lalu saya sendiri baru berhasil meracik beberapa potong maksim;-p

Maksim #1, yang dulu (kurang tepat) saya sebut aksioma,  sempat saya postingkan sebagai komentar kecil di sebuah blog yang menarik, Ayo Merdeka.  Waktu itu Bung Robert Manurung, empunya blog tsb., mengutip artikel Nirwan Dewanto tentang pertanyaan retorik kenapa kita tidak bisa menerima perbedaan secara damai.

Bunyi maksimnya:   Kebenaran tidak bisa hadir sekaligus dalam dua hal yang kontradiktif. (Berlaku bagi hukum alam ibarat air tidak bisa menyatu dengan minyak, dan hukum sosial intramanusia ibarat seorang pembunuh tidak bisa mengatakan secara maknawi bahwa dia penyayang manusia.)

Di blog yang sama saya menambahkan Maksim #2: “Apa yang terjadi dalam realitas, berlangsung lebih dulu di dalam pikiran.”  Atau begitulah ekuivalennya dalam bahasa ibu kita.  Tidak 100% orisinil memang, kecuali mungkin penyampaiannya.

Kali ini saya mau memperkenalkan Maksim #3 :-p  Ini satu buah kesimpulan selama mengurusi Jurnal ini, terutama setelah menulis opini saya tentang opini.  Maksim ini juga formulasi sintal dari berbagai aftertaste diskusi/pertukaran pendapat/perdebatan yang selama ini berlangsung,  baik yang melibatkan saya secara langsung maupun tidak, yang berlangsung cukup seru baik di Jurnal ini maupun di media lain, misalnya dalam artikel ini atau di sini.

Bunyi maksim terbaru ini begini: Kita tidak akan pernah benar-benar dapat mengubah pandangan orang lain, sebagaimana kita tidak akan pernah mampu menjalani hidup seseorang, kecuali hidup kita sendiri.  Pandangan, pemahaman, pendapat atau opini seseorang hanya dapat berubah atau diubah oleh si orang yang bersangkutan atas perkenannya sendiri.

Nah, setujukah Anda?

*

Jika tujuan ultimat kehidupan manusia di dunia kita supersederhanakan dan namakan sebagai End (E) dan cara manusia dalam mewujudkannya disebut Means (M), maka ternyatalah betapa dahsyatnya perkara M dan E ini, sebab dia melibatkan kehidupan semua orang di muka bumi.

Bagi setiap orang, E itu lebih dari sekadar totalitas himpunan e1, e2 en. Demikian pula, M lebih dari sekadar jumlah total himpunan m1, m2, … mn, yang tersedia bagi setiap individu dalam pencapaian e1 atau beberapa e sekaligus.

M dan E, jelas, dua hal yang berbeda dan hubungan kausalitas keduanya tampaknya sudah jelas.

Tapi apa betul demikian?  Seberapa jelaskah?  Dapatkah M menjadi E atau E menjadi M? Kalau dapat, kapan M menjadi E atau sebaliknya?

Katakanlah A menetapkan X sebagai tujuan hidupnya dalam kurun periode tertentu. Misalkan X di sini, lulus kuliah.  Untuk itu A bertekad menyisihkan berbagai pilihan tindakan yang dinilainya tidak akan membawanya lulus kuliah (tujuannya).  Tapi, mengapa ia mementingkan lulus kuliah?

A mungkin membayangkan diri bisa dapat kerja selesai kuliah nanti. Dari sini X ternyata hanya e1 yang sementara, bagian atau lanjutan atau awal dari e lain, sebut saja e0 atau e2, yaitu bahwa ia perlu melanjutkan kuliah, atau mencari pekerjaan kelak, yang mungkin akan membawanya kepada e,e,e selanjutnya….

Ilustrasi barusan menjelaskan, bahwa meski sepertinya sudah jelas, ternyata kalau kita lihat lagi hubungan e dan m,  hal itu jauh dari kejelasan. Hubungan ini begitu cair, bahkan tanpa sambungan sama sekali! Sehingga boleh jelas-jelas kita jelaskan sekarang bahwa momen-momen ketika e menjadi m atau sebaliknya adalah sesuatu yang tidak jelas dan tidak bakal sepenuhnya jelas.

Jelaslah bahwa hubungan keduanya tidak jelas.

Lalu, apa E ultimat bagi individu manusia? Apa pula E ultimat bagi kolektivitas individu yang disebut masyarakat?

Kalau E pertama kita sebut E1 dan E kedua, E2 ; mana yang lebih penting—E1 atau E2?

Manakah yang patut kita perjuangkan? Mana yang harus kita dahulukan?

Sekali lagi, mengingat hidup selalu diliputi kelangkaan (scarcities) yang memengaruhi tidak saja pilihan setiap orang akan E tetapi juga M, manakah yang lebih patut diperjuangkan oleh seorang individu dalam kehidupannya yang fana?

Ketika tujuan sains konon mendekatkan manusia kepada kebenaran, maka misi ultimat ilmu pengetahuan sosial adalah mendekatkan manusia pada jawaban ilmiah seputar M dan E. Tetapi karena E ultimat masih menjadi soal yang belum terjawab tunai–apa ada orang yang mampu memastikannya?–maka sains, apalagi yang empiris, dapat dipastikan tidak dapat memecahkan persoalan ini.

Kita cuma bisa bersepakat ini tentang persoalan terpenting kemanusiaan.

Pandangan kita tentang cara terbaik untuk memajukan kemanusiaan, mengelola masyarakat, termasuk juga keyakinan kita terhadap pasar bebas atau intervensi terhadapnya, tentang kapitalisme atau sosialisme, pada akhirnya semuanya bermuara kepada E, tujuan ultimat.

Jadi, hingga kita tiba pada jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi (Mana yang harus kita perjuangkan/dahulukan?), dan mengingat maksim yang baru diperkenalkan di atas, kita lupakan atau tunda saja hasrat untuk mengubah atau “menguasai” opini orang lain.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Maksim Nad #3”

  1. Posted by Jotbiaria | 4 January 2010, 10:02 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: