Epistemologi

Research Day 2008 FEUI dan Masa Depan Praksiologi

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi No. 56 Tanggal 17 November 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Research Day 2008 di FEUI Depok kemarin (17/11/08) mengatasi rasa penasaran saya terhadap seorang profesor ekonomi made in Indonesia yang telah lama, hingga sekarang, mengajar di Universitas Cornell, AS: Prof. Iwan Jaya Azis.  Namanya memang tidak asing lagi, sudah sering dijumpai di banyak jurnal dan artikel ekonomi. Tapi seperti apa sih orangnya, bagaimana pandangannya?

Ternyata Prof. Azis masih cukup muda.  Usianya saya taksir, 51~54 tahun.  Di aula FEUI, di depan sejumlah pengajar dan ratusan calon ekonom Indonesia masa depan yang bakal diproduksi UI dan Unila (yang terhubung online),  Prof. Azis menyinggung tiga-generasi teori ekonomi yang telah dipakai selama ini untuk menjelaskan krisis yang berulang.

Caranya bertutur, santun, sistematis dan jelas-tipikal dosen. Teori-teorinya sebaik (atau seburuk ; tergantung bagaimana melihatnya) yang selama ini beredar dalam pemikiran ekonomi mainstream. Makalah tertulisnya, yang dibagikan kepada hadirin, penuh model-model yang meringkas teori ekonomi, dari teori generasi pertama hingga ketiga,  yang selama ini dipakai para ekonom untuk menjelaskan krisis.

Saya mau menggarisbawahi satu poin penting dari ceramah lisannya.  Ini tentang pernyataannya tentang counterfactual dalam penjelasan krisis 2008.

Kata Prof. Azis, “Seandainya perbankan tidak ikut bermain, maka keparahan krisis tidak mungkin sedalam ini.”  Bravo, Prof! teriak saya dalam hati. Ini mengimplisitkan “kontribusi” sektor perbankan terhadap krisis. Prof. Azis tidak menjelaskan lebih jauh. Ini dapat dimaklumi, sebab jika Anda ekonom/pengamat ekonomi, penjelasan tentang krisis juga tergantung seberapa dalam Anda bersedia mengusutnya. (Aturan mainnya adalah Anda bisa fokus pada sisi mana saja, tapi jangan mempertanyakan pemerintah atau sistem perbankan, sebab itu tabu.)

*

Sedikit banyak saya mendapat gambaran tentang pandangan umum Prof. Azis terhadap ilmu ekonomi atau teori-teori ekonomi.  Prof. Azis memandang teori sebagai seperangkat tool yang harus dicampakkan ketika usang. Landasan teori yang menjelaskan krisis Amerika Latin 1970, ujarnya, ternyata tidak bisa dipakai untuk menjelaskan krisis Asia 1997 apalagi kepanikan 2008.  Pandangan sang profesor mungkin terkesan dinamis (atau justru statis-pragmatis, tergantung bagaimana kita melihatnya), tapi apa implikasinya ?

Kalau pernyataan yang diwakilinya diasumsikan sebagai satu-satunya penjelasan yang masuk akal, maka bukankah begitu mengecewakannya kemampuan sains kita ini dalam memahami apa yang dicoba dipahaminya?

Kiranya inilah sumber satu kegalauan terbesar yang dialami banyak ekonom tentang sains dan persoalan ekonomi yang mereka geluti.

Hemat saya, kegalauan akan impotensi teori ekonomi yang sering mencuat tersebut tidak bersumber pada hasil pemikiran seorang ekonom manapun, melainkan lebih bersifat problem intrinsik epistemologis ilmu pengetahuan, yaitu tentang bagaimana sains ini memandang fenomena yang ditelitinya untuk kemudian diformulasi sebagai teori, (bagaimana sains ini menjerang teorinya).

Seperti kita pahami, dewasa ini matematika dan ekonometrika adalah andalan mayoritas ekonom dalam menilik keberekonomian kita.  Momen-momen semacam seminar di atas ketika profesor-profesor ternama dan tokoh-tokoh kondang menyampaikan pandangan mereka tidak jarang berisi ironi besar dalam praktik pengajaran/penelitian ekonomi selama ini, yang menekankan penggunaan formula, model matematis dan statistis dalam menjelaskan fenomena ekonomi, namun berujung pada konklusi yang amat relatif harus siap untuk disanggah; apalagi ketika dicoba diaplikasikan secara gegabah.

Kalau sistem perbankan dan moneter selama ini rawan akan dan rentan dari sentimen, maka metodologi sains ekonomi pada akhirnya, dan mau tidak mau, membuatnya rentan akan inflasi; bukan inflasi moneter, melainkan inflasi teori ekonomi. Ini kritik terhadap berbagai varian empirisme, yang memungkinkan kita berteori apa saja tentang apa saja.

Dalam konteks ini, kontrafaktualitas mungkin berguna.  Kontrafaktual kita terhadap pendekatan dan metodologi ekonomi arusutama akan membawa kita ke praxeology, atau sains tentang tindakan manusia. (Cat: Yang saya maksud dengan kontrafaktual dalam konteks ini adalah bahwa pemahaman kita terhadap fenomena ekonomi akan lebih baik, lebih dalam, seandainya kita mengenal praksiologi.) Jurnal ini telah mulai mencobanya melalui beberapa artikel praksiologis.

Anda yang tertarik dianjurkan membaca hasil wawancara Akaldankehendak.com dengan dengan Profesor Hoppe.  Terjemahan sebuah bab dari buku Ludwig von Mises tentang Problem Epistemologi, yang terus bertahan sebagai tulisan paling populer di Akal & Kehendak dan sudah diklik ribuan kali, juga teramat berharga untuk dilewatkan.

Begitulah catatan singkat dari Research Day FEUI.  Pandangan Prof. Iwan Jaya Azis telah menimbulkan optimisme tersendiri tentang masa depan praksiologi.

(Diposting 18/11/08)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

5 comments for “Research Day 2008 FEUI dan Masa Depan Praksiologi”

  1. Trims Nad atas informasinya…

    Bagaimana menurut anda tentang peluang praksiologi 'jalanan'? yang tidak terikat dengan kepentingan kenaikan jabatan ataupun gelar kampungan ijazah palsu?ha2….

    Maaf belum bisa koment yang serius…hmmm…. maklum lagi overdosis…

    Posted by Giyanto | 19 November 2008, 12:35 am
  2. He, he …. bagi saya sama cerahnya.   Praksiologi selalu tumbuh di "jalanan", tepatnya sekarang di Jalan Raya Jagad Maya alias Internet, yang semakin deras dan terbukti melucuti  batas-batas artifisial bernama "negara" dan "pemerintah" ciptaan demagog yang terus mencoba meninabobo rakyatnya.  (Sorry juga nih; belum bisa tukar kabar.)

    Posted by Nad | 19 November 2008, 9:33 pm
  3. Saya sangat terkesan ketika Prof Iwan Jaya Aziz ternyata masalah ekonomi ternyata seringkali tidak bisa dipecahkan oleh para ekonom. Malahan ada pengetahuan dari dokter yang menurut Prof Iwan yang sangat berharga yaitu adanya bagian kecil (seperti titik) di kepala kita yang dinamakan Nucleus Accumbent yang sangat mempengaruhi manusi auntuk membeli/mengkonsumsi, yang ini sangat berkaitan dengan teor konsumsi / consumption behavior.

    Posted by INFO LOWONGAN KERJA | 21 November 2008, 12:55 am
  4. @ Nad…

    "maka metodologi sains ekonomi pada akhirnya, dan mau tidak mau, membuatnya rentan akan inflasi….. Ini kritik terhadap berbagai varian empirisme, yang memungkinkan kita berteori apa saja tentang apa saja"

    Giyanto

    Kok saya baru dengar istilah inflasi teori—bukan teori inflasi kan? (semoga saya tidak salah baca). Dalam benak saya kemudian muncul perkiraaan, berarti di masa depan  'nilai riil teori-teori ekonomi' akan segera menurun. Wah bahaya dunk…

    Posted by Giyanto | 21 November 2008, 2:58 am
  5. Giy, anda tidak salah baca: inflasi teori.  Dugaan Anda, itu sudah terjadi: murahnya dan mudahnya satu "teori" diganti dengan yang lain, yang kalau kita tanya kenapa demikian, jawabnya kurang lebih  adalah: sudah terjadi perubahan data.

    Sebagai addendum bagi artikel di atas, pandangan Prof. Azis mengasumsikan tidak adanya economic truths apapun di sepanjang perkembangan ilmu sosial ini. Jika asumsinya memang benar, saya kira itu tidak benar. Praksiologi membuktikan bahwa hukum-hukum ekonomi adalah economic truths yang tidak lekang oleh jaman.

    Posted by Nad | 28 November 2008, 6:30 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory