buku

Ketamakan dan EGP

Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak
Volume II Edisi Nomor 57 Tanggal 24 November 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

EGP di sini artinya Ekonomi Gelembung, Pembaca! Alias bubble economy.

EGP terjadi ketika sektor tertentu dalam perekonomian, yang oleh sebab faktor tertentu, mendadak atau sekonyong-konyong berubah menjadi sektor favorit, sehingga sumber daya masyarakat, yang selalu terbatas di manapun di dunia, mengarah, diarahkan atau terarahkan ke sana. EGP menyebabkan semacam penyimpangan perilaku para pelaku ekonomi.

Saya teringat ketika beberapa tahun silam Prof. Djisman Simandjuntak mengatakan di hadapan kami para mahasiswa, bahwa krisis ekonomi adalah fakta yang “normal” dan akan selalu bersama kita. Pada kesempatan itu, Prof. Jisman tidak mengatakan mengapa krisis itu fakta normal. Kami mahasiswa cuma merasakan sepertinya adanya kebenaran di dalam pernyataannya yang, pada saat itu, cukup mengagetkan saya tapi secara bersamaan juga lumayan menenangkan–kebenaran yang seakan menyangkut fenomena hukum alam, semisal kita pada hari-hari November sering kedatangan hujan.

Sekarang saya punya cukup dasar untuk mengatakan dengan tingkat keyakinan tinggi, bahwa krisis ekonomi bukan sesuatu yang normal dalam pengertian barusan. Krisis ekonomi bukan fenomena alam. Saya bahkan berpendapat tidaklah legitimate bagi ekonom atau pengamat ekonomi untuk mempersamakannya demikian.

Fluktuasi ekonomi (mis. fluktuasi harga, nilai uang) adalah perkara normal, atau tepatnya harus dikatakan, dalam keadaan normal, harga/nilai uang itu sendiri pasti berfluktuasi.  Tapi tidak demikian halnya krisis ekonomi.  Dia bukan perkara normal. Dia muncul akibat kesalahan kebijakan yang, sengaja atau tidak, berulang karena cara pengelolaan perekonomian yang keliru, terus diulang.

Di beberapa artikel sebelumnya Jurnal ini telah menyinggung teori mendasar yang menjelaskan akar krisis ekonomi/finansial, yang nasional maupun global. Teori ini satu-satunya teori yang andal, meyakinkan, tidak skizofrenik, dan tidak tercerai dari teori-teori umum ekonomi (hukum-hukum dasar ekonomi).

Singkatnya, orang yang ingin memahami akar permasalahan munculnya krisis ekonomi yang sistemik, yang menyebabkan perilaku harga  semua barang berubah edan secara relatif bersamaan, maka perhatiannya perlu difokuskan langsung ke sektor keuangan; sebab krisis sistemik yang inflasif/deflasif selalu melibatkan proses-proses pemanipulasian jumlah, kepemilikan, dan/atau produksi alat tukar itu sendiri–uang.   Proses-proses tersebutlah yang dalam waktu relatif singkat menimbulkan EGP, yang dapat terjadi di sektor apa saja.

EGP menimbulkan boom dan bust, gelembung dan letusan, melalui berbagai malinvestasi oleh para pengusaha yang mendapat kemudahan tertentu dalam memanfaatkan sumber daya yang murah secara mudah. Malinvestasi ini perlu dibaca ulang (min. 3x) ;-p, sebab inilah kata kuncinya. Malinvestasi dalam hemat saya terjadi duluan di sektor-sektor yang sering dianggap dalam teori ekonomi arusutama sebagai leading indicators perekonomian (ini boleh dianggap definisi baru buat istilah tersebut). Contoh sektor-sektor ini, antara lain keuangan, perbankan, properti, dan industri-industri besar.

EGP itu sendiri, hemat saya lagi, tidaklah terlalu membahayakan. Gelembung akan diikuti letusan; aksi akan menimbukan reaksi, dan hukum sebab-akibat bekerja sempurna di sini, secara proporsional.  Yang berpotensi menimbulkan bahaya dahsyat adalah justru bagaimana hal tersebut disikapi ketika tiba, dan saat itu percayalah niscaya datang.

Dunia saat ini sedang kedatangan bust.  Posisi pemerintahan di seluruh dunia saat ini adalah mencoba membantali perekonomian masing-masing agar bust tidak meletus, atau kalau harus dor tidak terlalu nyaring bunyinya atau dampak reperkusinya.  Niatnya memang cukup mulia.  Namun, si sisi lain, solusi-solusi yang ditempuh seringkali berupa myopia, parsial, selektif, dan paling banter hanya akan menunda bust hingga bubble semakin membesar atau hingga persoalan lain berupa “seretnya” perguliran roda ekonomi, terjadi dan memperparah bust.

Solusi-solusi yang sedang ditempuh pemerintah saat ini-bailout, nasionalisasi, subsidi, penggelontoran uang segar demi likuiditas, dll.–seringkali berarti, dilihat kritis dari sudut pandang berbeda, bahwa bisnis-bisnis yang sudah selayaknya rugi, tidak boleh merugi;  perusahaan-perusahaan yang selayaknya bangkrut, tidak diijinkan bangkrut.  Profit and loss adalah dua sisi pada mata uang yang sama; mengisolasi satu dari lainnya adalah hal yang mustahil–tidak ada teori ekonomi untuk itu; persistensi sia-sia terhadap usaha ini adalah bentuk kepandiran tersendiri.

Ketika menyangkut hajat hidup begitu banyak individu, niat mulia akan ternyata tidak cukup; apalagi jika dilandasi pada pemahaman yang keliru.

alt text

Dan hingga saat ini banyak orang di dalam dan luar negeri masih memahami EGP secara keliru. Mereka berpendapat ekonomi gelembung terjadi akibat ketamakan.  Juga masih banyak yang percaya bahwa ketamakan konon menjadi liar di alam kapitalisme atau perekonomian pasar.  Ujung-ujungnya, kembali ke penghujatan terhadap kapitalisme.

Tidak ada yang lebih keliru lagi daripada ini. Dan begitu pula, sebagai akibatnya, solusi-solusi yang diambil.  Kekeliruan-kekeliruan pandangan semacam ini sudah begitu dipercaya masyarakat, wartawan, pebisnis, pejabat, bahkan ekonom, sehingga hampir-hampir tidak perlu lagi dipertanyakan kebenarannya.  Tetapi kekeliruan tetap kekeliruan. Sampai dia berhasil disingkapkan, dia selamanya berupa kekeliruan berbulu kebenaran.  Ibarat musang berbulu domba. Atau semangka berdaun sirih?

Belum lama berselang seorang saudara tercinta mencoba mencontohkan apa itu ekonomi gelembung melalui fenomena penikmatan kopi Starbucks. Di pagi hari yang dingin sewaktu berada di Washington DC, katanya, ia melihat pemuda Amerika berjalan tergesa, dengan backpack trendi, sambil menyeruput segelas kertas Starbucks.

Eh, kamu pernah ke Amerika, Nad?  Tanyanya. Belum, jawab saya. Tahu berapa harga Starbucks?, lanjutnya. Ngg, ya; eh, tidak juga; tapi saya pernah beli, sekali dua kali.

Nah, itu yang saya maksud dengan perekonomian gelembung! teriaknya. Bagaimana mungkin kok secangkir kopi bisa berharga lebih dari Rp.50.000?  Ketika harga riil secangkir kopi kurang dari lima ribu perak, kenapa orang mau merogoh kocek lebih dalam untuk itu? Kalau itu bukan ketamakan, maka itu akibat gaya hidup yang berlandas padanya. ….

Kekeliruan dalam hal ini berlapis dua: kekeliruan dalam memahami ekonomi gelembung, dan dalam menghakimi ketamakan.  Kebetulan saja saya penggemar kopi, meski bukan Starbucks.  Tapi jika saya punya uang cukup dan jika saya oleh sebab tertentu tenyata senang Starbucks, apa salahnya menjadi patron Starbucks?  Sama halnya, kalau Anda punya uang, dan Anda suka perumahan, apa salahnya membeli banyak rumah?  Kalau X pemain saham, apa salahnya memburu atau justru melepas saham yang ambruk?

Secangkir Sumatra Blue di Heathrow beberapa tahun lalu dijual 3 poundsterlings.  Kalau saya sempat membelinya, itu tidak ada kaitannya dengan ketamakan, atau gaya hidup yang ditudingkan. Ajakan moral untuk merasa bersalah karena telah membelanjakan uang halal hasil keringat sendiri, boleh langsung ditolak mentah-mentah.

Kata tamak bermuatan moral, dan ketamakan memang isu moral. Gaya hidup boros, gaya hidup hemat, itu pilihan masing-masing, dengan konsekuensi masing-masing.  Dua-duanya bisa buruk bagi ekonomi; dan bisa baik, tergantung melihatnya, tergantung bagaimana konsekuensinya bersedia diterima. Jika Anda penjual berlian, Anda akan menyukuri orang-orang yang gemar memborong permata.

Sah-sah saja kalau kita sekali-kali menyalahkan tingkat moralitas kita atas fenomena kehidupan.  Sejauh sistem moral yang diyakini seseorang tidak merugikan orang lain, tidak ada masalah.  Kalau tadi sudah dikatakan bahwa alasan moral tidak legitimate sebagai argumen ekonomi untuk menjelaskan fenomena ekonomi, seringkali dia “dikawinkan” secara paksa, baik oleh ekonom maupun politisi.  Koran Financial Times akhir pekan lalu (22-23/11) memuat satu berita utama dengan judul: Gandhi attacks business greed. Pernyataannya merangkum dukungan Sonia Gandhi terhadap keputusan nasionalisasi perbankan di negerinya.

Persoalan moralitas seperti ketamakan tersebut (greed), sudah muncul sejak Abel dan Kain. Dia akan selalu ada di diri manusia terlepas ada atau tidaknya krisis atau ekonomi gelembung.  Ketamakan mungkin kecelaan (vice), tapi bukan kriminalitas, dan semua orang memiliki kecelaannya masing-masing.  Kalau problem moralitas tertentu mau dijadikan isu ekonomi dan mau dihilangkan melalui sistem penyelenggaraan ekonomi, sebagaimana institusi-institusi tertentu terilusi ingin meniadakan fluktuasi ekonomi atau mau menstabilkan harga, maka harus dikatakan bahwa tidak ada dan tidak akan ada sistem yang sanggup melakukannya.

Starbucks bukan contoh tepat untuk pelajaran tentang EGP ataupun moral, setidaknya dalam konteks di atas. Tapi dia tetap contoh bagus tentang pelajaran ekonomi–tentang penciptaan nilai, persisnya.  Tidak ada yang moral atau immoral dengan membeli ratusan Starbucks setiap pagi atau setiap saat, asalkan cara perolehan alat tukarnya tidak bermasalah dan transaksinya berlangsung sukarela.  Kalaupun ada yang immoral di sini, dia tidak bisa dilepaskan dari sesuatu yang moral di sana. Contoh dari saudara saya di atas murni snapshot transaksi ekonomi. Tidak ada yang memaksa si Amrik untuk menyeruput kopinya pagi itu. Tidak ada yang memaksa sang penjual berjualan di sana.

Dalam transaksi ekonomi sukarela, kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.  Transaksi ekonomi yang sukarela adalah perkara win-win alias positive sum!  Ini terdengar sederhana, dan bukan pertama kali saya mengatakannya. Saya tidak ragu mengulanginya sebab saya terus ragu bahwa kebanyakan kita betul-betul sudah paham maknanya,  yang AMAT penting dan mendasar bagi pemahaman kita, yang pada giliran masing-masing dipengaruhi oleh konstelasi pandangan kita sebelumnya dan ikut menentukan sikap selanjutnya.

Kali selanjutnya kita mendengar ketamakan dijadikan dasar pengambilan kebijakan, kita mungkin dapat lebih berhati-hati menyikapinya. [ ]

25/11/08 UPDATE:

Ini kutipan dari artikel Rob Murphy yang baru saya baca tadi pagi:

” [ …] Ludwig von Mises and subsequent Austrians developed the theory that the business cycle is an unintended consequence of government intervention in the monetary and banking system. Specifically, the central bank … pushes the interest rate down below its “natural” level by injecting new money into the banking system. This artificial stimulus sets in motion an unsustainable boom period of illusory prosperity.”

” If the Austrians are right in their diagnosis of the boom-bust cycle, then the typical policy prescriptions offered by most economists are harmful. These “countercyclical” measures try to prevent the recession from unfolding, by stamping down on unemployment and propping up insolvent businesses. Yet these actions simply prolong the agony, and ensure that even more resources are squandered while the economy tries to adjust to a sustainable configuration. To adopt a biological metaphor: Of course nobody likes vomiting. But if someone has ingested poison, throwing it up is a good thing.” (Cetak tebal saya.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

9 comments for “Ketamakan dan EGP”

  1. Ada “perusahaan” yang tidak perlu di bail-out, disuapin, disubsidi, dilindungi, tapi tidak akan bangkrut. Dia ialah NEGARA!
    Ada “manajer” yang tidak perlu takut dipecat Karena “perusahaannya” tidak akan bangkrut. Dia adalah BIROKRAT!
    Ada “pedagang” yang tidak usah membeli barang untuk dijual lagi tapi punya duit. Dia adalah pedagang uang, alias BANKIR!
    ada ‘perampok’ yang tidak usah beli pistol, tapi bisa merampok. Dia adalah POLITISI!

    SELAMAT!!! PROFESI TERSEBUT DI NEGERI KITA SEKARANG MAKIN BANYAK DAN MAKIN DIKAGUMI. SEMOGA ALAM MEMBERKAHI MEREKA SEMUA…. AMIN.

    Posted by Giyanto | 24 November 2008, 9:24 pm
  2. Komentar ini sangat painful!  Meski akurasinya masih bisa ditingkatkan, mis. negara bisa bangkrut dan hancur, bagi saya itu  truthful dan beautifulBrilliant malah; sebab dalam 4 kalimat saja Anda telah merangkum persoalan-persoalan terpenting kemanusiaan yang selama ini menjadi sumber kegalauan sebagian orang, termasuk saya. Trims!

    Posted by Nad | 25 November 2008, 5:57 am
  3. Saya juga punya komen menarik di sini

    Posted by Giyanto | 25 November 2008, 6:13 am
  4. Trims.  Sudah sempat saya tengok.  Tulisannya mengonfirmasi banyak, tentang banyak hal.

    Posted by Nad | 25 November 2008, 3:07 pm
  5. <!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
    @ Pak IS
    “Sejak kapan anda menjadi sinis dan tajam”
    Sejak mengenal bahwa dunia nyata itu indah…Semenjak meninggalkan semua ‘teori-teori’ yang ada di kelas…semenjak saya menyadari dengan jelas makna keadilan, semenjak merasakan bahwa rasa ingin tahu ternyata begitu menggairahkan, semenjak mengetahui bahwa manusia diberkahi akal untuk berfikir, semenjak saya mengenal orang-orang hebat di dunia yang tidak pernah aku jajaki, semenjak saya sadar bahwa di dunia ini prinsip benar-benar ada, semenjak saya tahu bahwa di sekililing kita banyak ahli propaganda, semenjak ‘mengetahui’ bahwa ‘masa depan’ memiliki dua sisi wajah, semenjak merunungkan bahwa kata-kata Bapakku ternyata tepat—katanya: jangan ikut-ikutan di dunia yang sedang gila…
    Dengan alasan tersebut, saya melihat masa depan diri dengan optimis, tapi melirik kehidupan sosial yang terasa ‘miris’ dan ‘tragis’, yang barangkali akan cukup ‘menghabiskan energi’ Bung Nad, Pak IS, dan saya sendiri…Sekali lagi mengutip kata-kata orang bijak: “kata-kata yang jujur itu tidak enak di dengar, kata-kata yang enak didengar itu tidak jujur”, dan resiko ketika kita sinis adalah: TIDAK DI SUKAI! Itu adalah pilihan yang harus kita ambil…jadi menurut saya kan tida ada salahnya menjadi sinis,ha2…
     

    Posted by Giyanto | 25 November 2008, 4:44 pm
  6. @Giy,

    Sejak kapan anda menjadi sinis dan tajam 😀

    Posted by imam semar | 25 November 2008, 8:35 pm
  7. Bravo Nad!!! Jurnal ini kelihatannya cukup 'memerahkan telinga' intelektual negeri kita. Hari ini ada opini di "Kompas" yang mengecam 'fundamentalisme pasar' sebagai bentuk 'totalitarianisme' (judul artikelnya: fundamentalisme pasar adalah segalanya).

    Kelihatannya orang tersebut belum memahami falsafah 'masyarakat bebas' yang berbeda dengan 'logika pasar'.

    Kelihatannya kapan-kapan menarik untuk diulas…

    Posted by Giyanto | 29 November 2008, 4:32 pm
  8. Salam, saya org Indonesia skrg sdg bkrj di singapore. saya bukan ahli ekonomi jd maaf kalau bnyk tdk tahu. tp saya sering baca The New York Times jd ckp ter-expose dng info seputar economic crisis di US.
    saya agak heran mengapa Anda menolak greed sbg salah 1 penyebab crisis skrg. sejauh yg saya tahu, justru itu salah 1 mslhnya. greed dr para pengusaha yg mengharapkan profit dr kredit rmh. transaksi ekonomi memang sukarela. tp tdk berdasarkan perhitungan yg rasional krn bnyk calon peminjam yg tdk memenuhi syarat utk layak dpt pinjaman. bukankah demikian yg tjd? atau saya keliru?
    saya suka dengar pandangan alternatif. skrg di US, majority berharap government akan turun tangan, mengatur ekonomi, creating jobs, bailing out companies, financing public works. tp nampaknya Anda tdk setuju dng hal itu. saya ingin tahu lbh dlm ttg pandangan Anda.
    thank you very much

    Posted by yonathan | 26 December 2008, 5:27 pm
  9. Trims atas tanggapan Anda, Yonathan. Silakan simak tulisan di http://akaldankehendak.com/?p=400 dan 1-2 artikel lain yang diacunya.  Saya yakin Anda akan dapat membuat simpulan (tentatif) tentang apakah demikian yang terjadi, atau apakah Anda keliru.  Tanggapan selanjutnya mungkin bisa jadi bahan diskusi.  Salam!

    Posted by Nad | 27 December 2008, 7:09 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: