Praksiologi

Homo Oeconomicus dan Ketercerabutan Ekonomi sebagai Takhayul

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi Nomor 59 Tanggal 8 Desember 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

alt text

Berikut tanggapan atas dua artikel yang pernah dimuat di harian Kompas dan dijadikan kliping di sini, yaitu Ekonomi yang Tercerabut (ET) dan Fundamentalisme Pasar adalah Segalanya (FPS).  Kedua tulisan terpisah oleh dua penulis berbeda ini kiranya berkelindan erat, seolah terlukiskan dalam gerakan tunggal dengan sebuah kuas besar yang sama.  Meski keduanya berisi dua topik ekonomi berbeda, keterkaitan keduanya tidak dapat disangsikan; keduanya pelebaran dari konsep: homo oeconomicus.  Tanggapan ini mengasumsikan pemahaman terhadap konsep sederhana bernama ekonomi pasar.  Jika hal-hal dalam artikel ini sahih bagi tulisan pertama, maka ia juga sahih bagi yang kedua; dan sebaliknya.

Dalam ET, penulis Herry B Priyono mengatakan bahwa soalnya bukan perekonomian pasar tetapi bagaimana perekonomian pasar itu digagas dan dijalankan, dan bahwa soal intinya adalah bahwa perekonomian yang kita jalankan sekarang ini sudah tercerabut dari akarnya.  Apa yang dimaksudkannya dengan ketercerabutan ekonomi masih agak samar, tapi di sinilah kontribusi dari artikel kedua PBS, yang ditulis oleh Salomo Simanungkalit.

Sekilas FPS berisi dukungannya terhadap perekonomian pasar, namun isinya dengan jelas mengatakan hal sebaliknya (jadi akan lebih baik jika judulnya diakhiri dengan sebuah “?”).  Sebagaimana mayoritas pemikir lain di Indonesia, kedua penulis ini adalah pendukung kondisional perekonomian pasar, dan satu syarat saja tersisa sebelum keduanya bersedia menjadi free marketers.  Dan satu syarat itu adalah bahwa aturan main perekonomian pasar harus diganti sama sekali!

Istilah kontroversial homo oeconomicus sudah lama terbukti lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya; ia lebih sering didirikan sebagai argumen straw man dalam argumentasi, yang kemudian akan dirubuhkan sendiri oleh pendirinya. Jika konsep dan strategi ini dipakai oleh Simanungkalit, ia bukan yang pertama.  Mazhab historis Wirtschaftliche Staatswissenshaften di Jerman dan Institutionalisme di Amerika bertanggungjawab terhadap penggunaan konsep tersebut.  Para pemikir dalam gerakan ini telah melakukan kesalahan fundamental dengan menafsirkan ilmu ekonomi sebagai karakterisasi dari perilaku bagi sebuah tipe ideal homo oeconomicus, yang biasa dikontraskan dengan homo moyen (manusia awam pada umumnya).

Kenyataan yang dapat dipahami secara intuitif dan akurat adalah bahwa membedakan tindakan manusia sebagai tindakan ekonomis dan non-ekonomis adalah sebuah kekeliruan berpikir tersendiri.  Masing-masing dan semua kita yang berada di pasar tidak melulu dan semata termotivasi oleh hasrat untuk memeroleh makanan, perlindungan, kenikmatan seks (katakanlah, material), tetapi juga oleh aneka dorongan yang bersifat ideal.

Ekonom dan filsuf besar Ludwig von Mises mengatakan bahwa manusia yang bertindak selalu melibatkan hal-hal tersebut, yang material dan yang ideal.  Manusia selalu memilih antara berbagai alternatif, terlepas dari apakah alternatif itu material atau ideal.  Dalam skala nilai yang aktual, semua ini terlebur atau terbaur bersama.   Kalaupun kita tidak selalu bisa menarik garis yang jelas antara perkara material dan perkara ideal, kita harus selalu menyadari bahwa setiap tindakan konkret itu selalu ditujukan pada suatu tujuan, baik itu pada tujuan yang material dan ideal sekaligus,  atau semata hasil dari pilihan antara sesuatu yang material dan yang ideal.

Mungkinkah kita memisahkan tindakan-tindakan secara eksklusif (misalnya sebagai sesuatu yang secara  eksklusif  dikondisikan oleh konstitusi fisiologis semata, dari yang dikondisikan oleh kebutuhan yang lebih tinggi atau “higher needs”)? Itu tidak terlalu penting dan dapat kita tinggalkan dengan aman tanpa kejelasan. Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah fakta bahwa dalam kenyataannya: tidak ada uang yang dinilai semata atas daya belinya; tidak ada pangan yang dinilai cuma atas daya nutrisinya; tidak ada sandang atau papan hanya untuk nilai perlindungan yang diberikannya terhadap cuaca dan hujan.

Mustahil menyangkal bahwa kebutuhan manusia akan semua hal di atas dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan yang metafisik, relijius, etis, estetik, juga oleh kebiasaan, adat, prasangka, tradisi, tren, dan banyak lainnya.  Ekonom yang mau membatasi penyelidikannya hanya pada aspek yang material saja, akan mendapati subyek kajinnya menguap di udara.  Demikian Mises menutup bagian ini di buku yang sama, Human Action, bab II, yang terjemahannya dapat kita baca di Jurnal ini.

Dalam PBS Simanungkalit dengan baik menjelaskan bahwa perekonomian yang tidak tercabut adalah perekonomian pasar yang adil; dan yang tercerabut adalah yang tidak adil.  Jelaslah sekarang apa yang menjadi pusat kontensi sebagian pemikir kita: sistem keadilan dalam penyelenggaraan perekonomian.  Konsep keadilan ini pulalah kiranya sumber keberatan utama bagi banyak orang terhadap pasar bebas.

Masalahnya,  bagaimana menerapkan keadilan ekonomi?  Jangankan menerapkannya: bagaimana menggagasnya?  Seperti apa konsep “pasar bebas yang adil”?  Konsep keadilan sama sekali tidak dengan sendirinya terjelaskan dengan pencantumannya ke dalam sila; dia bahkan tidak akan dapat dijabarkan secara memuaskan melalui penjabaran sila ke-5 dalam Pancasila.  Mengapa?  Tanpa kita menyadari konsep tindakan manusia, hal tersebut tidak akan dapat dipahami dengan baik.

Manusia sebagai makluk yang bertindak akan selalu memilih means yang tersedia dan diketahuinya untuk mencapai suatu tujuan (end).  Manusia tidak pernah memilih antara kebajikan dan kebatilan, melainkan hanya antara dua modus tindakan yang kita lihat dari titik pandang yang bajik atau batil.  Manusia tidak pernah memilih antara “emas: dan “besi” secara umum, melainkan selalu hanya antara suatu kuantitas tertentu emas dan besi dalam konteks tertentu (mis. latar geografis, kondisi psikologis).  Di masa kecil dulu kita kadang disodorkan pertanyaan, apa warna favoritmu, nak?  Ketika kehidupan menuntut jawaban yang riil, pertanyaan semacam itu perlu dipertegas dulu dengan pertanyaan juga, Warna favoritku untuk apa, Pak? Untuk gigi, baju, mobil, cat kamar? Setelah itu, jawaban-jawaban kita amat mungkin akan bervariasi.

Setiap tindakan selalu dibatasi secara ketat dalam konsekuensi-konsekunsi seketikanya.  Jika kita ingin mencapai kesimpulan yang benar, kita harus mengindahkan semua konteks dan batasan tersebut. Meski terkesan sederhana, kesadaran yang membawa ke pemikiran kontekstual dan subyektif di atas adalah hasil revolusi pergulatan pemikiran ekonomi selama ratusan tahun, yang mencakupi perkembangan hingga ribuan tahun sebelumnya-yang antara lain mengoreksi pandangan Aristotelian yang sudah terlanjur diyakini secara keliru tentang konsep keadilan dalam bertransaksi–yang umum dikenal oleh sejawat ekonom sebagai The Marginal Revolution.

Seseorang pemikir muda pernah memberi saya ilustrasi menarik tentang betapa tidak adilnya proses pasar berupa penjualan celana boxer.  Ketika buruh hanya dibayar sebesar $1 dolar dan celana tersebut dijual oleh kapitalis seharga katakanlah $10 dolar, bukankah ini contoh ketidakadilan? Begitu katanya.

Kita tidak perlu terburu-buru mengatakan bahwa ini contoh ketidakadilan, apalagi tanpa mampu menggagas ideal alternatif yang adil dalam konteks semacam itu.  Sebaiknya fokuskan saja kepada contoh nyata sebuah transaksi yang adil, dengan sebanyak mungkin konsekuensi dilibatkan. Pertanyaannya menjadi: seperti apa konsep keadilan dalam sebuah proses transaksi? Seperti apa kiranya cara produksi celana boxer agar adil dan mendekati kebenaran dalam bentuk konvensi nilai universal?  Keadilan bagi siapa yang harus diutamakan di sini?  Dalam harga berapa sih celana boxer yang diproduksi $1 ituharus kita jual?

Sekali lagi, kalau kita tidak dapat menjelaskan secara memuaskan hal yang sederhana ini, sebaiknya kita tidak usah berharap dapat meramu sistem penyelenggaraan perekonomian yang berazas keadilan.  Pasar bebas, dengan penekanannya pada kesukarelaan transaksi dan produksi,  sudah mengandungi itu semua! Dengan kata lain, memisahkan pasar bebas yang adil dari yang tidak adil, adalah pula sebuah kekeliruan.

Baik ET dan FPS tulisan dua pemikir di atas menyiratkan dua hal genting dalam pemahaman ekonomi kita. Yang pertama adalah takhayul keterpisahan ilmu ekonomi dari ilmu-ilmu sosial lainnya.  (Dimensi ekonomi dalam pendidikan lebih subtil dari perkara manajemen semata.)

Yang kedua adalah asumsi bahwa ekonomi sebagai ilmu adalah konstruksi monolitik dalam melihat persoalan yang dikajinya.  Tulisan praksiologis ini sedikit banyak mencerminkan betapa tidak monolitiknya pemahaman ekonomis suatu mazhab ekonomi tertentu dari pandangan lainnya (mainstream). Sebagai konsekuensinya, mungkin kita tidak dapat mempelajari ilmu ini hanya dari satu mazhab tertentu atau hanya dengan membaca satu buku teks tertentu.  Selebihnya, inti ataupun detil sampingan dari tulisan ini mungkin dapat menjadi bahan pemikiran.

Sebagai penutup dapat disimpulkan dengan aman bahwa homo oeconomicus adalah konsep mudarat yang abortif; bahwa ketercerabutan ekonomi tidak pernah dapat terjadi dalam tindakan manusia yang konkret (kecuali manusia yang tidur, pingsan, atau mati); bahwa perbedaan antara motif ekonomi dan motif non-ekonomi dari tindakan manusia, yang merupakan misrepresentasi serius terhadap ajaran ekonomi klasik, tidak dapat dipertahankan dan harus dilupakan.  [ ]

(Pemutakhiran: 19 Desember 2008, 10:22)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

5 comments for “Homo Oeconomicus dan Ketercerabutan Ekonomi sebagai Takhayul”

  1. Nad, bagaiamana pendapat anda mengenai golongan mayoritas intelektual penentang neoliberalisme? apakah mereka cocok disebut disebut komunisme ataupun sosialisme?

    Posted by Giyanto | 9 December 2008, 6:30 pm
  2. giy, supaya jelas perlu dicermati dulu apa pandangan mereka tentang neoliberalisme, dan lalu seperti apa tentangan mereka terhadapnya; akan lebih baik kalau dikontraskan dengan liberalisme dalam pengertian klasik.  dugaan saya beberapa kritik mereka yang anda maksudkan sudah tercakup dalam buku yang baru selesai saya garap (yang versi pdfnya akan dapat saya email asap) walaupun tanpa melabel kedua isme tersebut sama sekali. dalam kaitannya dengan komunisme, kecil sekali peluang mereka dapat dimasukkan ke dalam kelompok ini, kecuali kalau kita memakai kuas besar yang menyamakan keduanya  (mis. para komunis yang menggunakan nama resmi sebagai negara sosialis).

    Posted by Nad | 15 December 2008, 11:48 am

  3. Seseorang pemikir muda pernah memberi saya ilustrasi menarik tentang betapa tidak adilnya proses pasar berupa penjualan celana
    boxer.  Ketika buruh hanya dibayar sebesar $1 dolar dan celana tersebut dijual oleh kapitalis seharga katakanlah $10 dolar, bukankah ini contoh ketidakadilan? Begitu katanya.

    saya jadi teringat sama video dokumenter di youtube tentang pekerja indonesia, yang diwawancara adalah aktivis buruh, argumennya kurang lebih sama, yang mereka tak kunjung mengerti konsep kapitalisme justru membuat smua jadi lebih masuk akal dan adil, sepintas memang kapitalis kaya dapet 9 kali dari yang miskin, jadi gak adil,padahal justru selisih 9x ini yang mendorong si miskin jadi kapitalis suatu hari, argumen sosialis tentang keadilan adalah diskriminasi terhadap perubahan, si miskin mesti tetap diberi uang, karena dia miskin, konsep sosialis sepertinya terpaku pada satu status sosial saja tidak mendorong maupun mengakomodir  pergerakan dinamis status sosial.

    Posted by rajawalimuda | 19 January 2009, 9:28 pm
  4. Sayang rujukanny tidak dicantumkan. Padahal banyak hal menarik yang perlu ditellusuri..

    Posted by nextrevolt | 20 October 2009, 4:56 am
  5. internet nya kurang lengkap!!!!!!!

    Posted by hhhanidya | 30 November 2010, 6:01 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: