Austrian economics

Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (1)

STOP PRESS:  Mulai edisi ini dan seterusnya, setiap Senin Akaldankehendak.com akan menurunkan tulisan serial dari draft terjemahan buku yang sangat menarik dan penting tentang metodologi Ekonomi Austria. Ini adalah bagian pertama dari 5 4 tulisan bersambung [Pemutakhiran: 5/01/09]. Selamat menikmati!

Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak
Volume II Edisi no. 60 Tanggal 15 Desember 2008
Judul Asli: Economic Science and the Austrian Method
Penerbit: Mises Institute
Pengarang: Prof. Hans-Hermann Hoppe
Draft Terjemahan: Nad

PENGANTAR

Hari yang tragis terjadi ketika ilmu ekonomi, ratunya ilmu pengetahuan sosial, mengadopsi dua metode yang terkait erat dengan ilmu pengetahuan alam: yaitu metode empirisme dan metode positivisme.

Dalam perkembangan pemikiran ekonomi yang semakin penting di segala bidang kehidupan, kiranya tragedi ini tidak terjadi secara kebetulan belaka. Peristiwa tersebut terjadi kurang-lebih secara bersamaan ketika kaum intelektual dan para politisi semakin mementingkan perencanaan pemerintah. Terlepas dari kegagalan demi kegagalannya, doktrin empirisme dan positivisme terus bertahan dan tetap dijadikan agama tanpa tuhan di jaman kita.

Melalui eseinya yang luar biasa ini, Hans-Hermann Hoppe mengembangkan argumen Ludwig von Mises yang mengatakan bahwa metode yang terkait ilmu alam tidak akan dapat diterapkan secara sukses untuk teori ekonomi. Dalam pemaparannya Professor Hoppe mendukung keberadaan pengetahuan yang apriori, kesahihan teori murni, penerapan logika deduktif, dan keniscayaan hukum ekonomi. Ia juga mengatakan bahwa ilmu ekonomi adalah bagian dari satu disiplin yang lebih besar, yaitu praksiologi: ilmu pengetahuan tentang tindakan manusia.

Apabila para ekonom ingin terbebaskan dari asumsi-asumsi yang keliru serta dari klaim-klaim yang mengatakan bahwa mereka dapat memprediksikan masa depan dengan tepat dan bahwa negara dapat merencanakan perekonomian secara lebih baik daripada pasar, maka yang perlu mereka lakukan adalah meninjau kembali kekeliruan-kekeliruan mendasar dalam metodologinya. Bila semua ini terjadi, maka hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari peran penting yang dimainkan Professor Hoppe,  seorang praksiolog terkemuka saat ini.

Llewellyn H. Rockwell, Jr.
Ludwig von Mises Institute

 

Bagian I: PRAKSIOLOGI DAN EKONOMI

Adalah kenyataan yang telah dikenal secara luas bahwa ekonom-ekonom dalam tradisi pemikiran Austria berbeda pandangan dengan para ekonom yang berhaluan lain–seperti kelompok-kelompok pengikut Keynes, Monetaris, Public Choicers, Historicists, Institutionalists, dan Marxis[1]. Ketidaksepahaman tersebut terlihat jelas dari kebijakan-kebijakan ekonomi yang mereka usulkan. Kendati demikian, sering juga terjadi aliansi antara para pemikir Austria dan pemikir lainnya, terutama dengan ekonom-ekonom Chicago dan Public Choicers.  Ludwig von Mises, Murray N. Rothbard, Milton Friedman, dan James Buchanan, untuk menyebutkan beberapa nama saja, tidak jarang berkolaborasi dalam upaya membela perekonomian pasar bebas dari para pembelot “liberal” dan kelompok sosialis.

Namun, sepenting apapun kesepakatan semacam itu dari sudut pandang taktis atau strategis, hal tersebut hanya bersifat superfisial, sebab kerjasama demikian cenderung menutup perbedaan fundamental sejati antara tradisi Austria–sebagaimana diwakili oleh Mises dan Rothbard–dan sejawat ekonom lain. Perbedaan hakiki ini telah menghasilkan sejumlah perbedaan di tingkat teori dan kebijakan ekonomi (misalnya yang menyangkut ketidaksepahaman seputar manfaat baku emas versus uang fiat, perbankan bebas vs. perbankan sentral, implikasi negara kesejahteraan terhadap pasar vs. tindakan pemerintah, kapitalisme vs. sosialisme, teori bunga dan siklus bisnis, dan lain sebagainya) dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan terpenting yang harus dikemukakan oleh setiap ekonom: Apa itu bidang kajian ilmu ekonomi? Seperti apakah proposisi teorema ekonomi itu?

Jawaban Mises: ekonomi adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan manusia. Pernyataan ini sendiri sepertinya tidak terdengar kontroversial.  Namun, kemudian ia mengutarakan lebih lanjut tentang ilmu ekonomi:

Pernyataan-pernyataan dan proposisi-proposisinya tidak berasal dari pengalaman. Seperti halnya logika dan matematika, semua pernyataan dan proposi ilmu ekonomi bersifat apriori, yang tidak tunduk terhadap verifikasi dan falsifikasi atas dasar pengalaman dan fakta. Keberadaan mereka bersifat mendahului, baik secara logis maupun temporal, setiap pemahaman terhadap fakta-fakta historis. Mereka merupakan kondisi yang harus tersedia bagi pemahaman intelektual terhadap peristiwa-peristiwa historis.[2]

Untuk meneguhkan status ekonomi sebagai ilmu pengetahuan murni, atau disiplin yang lebih memiliki banyak kesamaan dengan logika terapan ketimbang, misalnya, dengan ilmu pengetahuan alam yang empiris, Mises kemudian mengusulkan istilah “praksiologi” (logika tindakan) untuk menyebut cabang-cabang ilmu pengetahuan semacam ekonomi.[3]

Penilaian bahwa ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang apriori, atau yang proposisi-proposisinya dapat dijustifikasikan melalui logika yang ketat, inilah yang membedakan para ekonom dalam tradisi Austria, atau tepatnya para Misesian, dari kelompok ekonom berhaluan lain saat ini.  Kebanyakan ekonom memandang ekonomi sebagai sains empiris sebagaimana fisika. Mereka mengembangkan berbagai hipotesis untuk diuji terus-menerus secara empiris. Dan mereka menganggap dogmatik dan non-ilmiah pandangan Mises yang meyakini bahwa teorema-teorema ekonomi-seperti kaidah faedah marjinal, atau kaidah imbal (the law of returns), atau teori preferensi-waktu tentang bunga dan teori siklus bisnis-dapat dibuktikan secara pasti sedemikian rupa sehingga terlihat secara gamblang bahwa penolakan terhadap validitas teori-teori tersebut akan menjadi kontradiktif.

Mark Blaug, seorang wakil penting dalam pemikiran metodologis arus-utama, menunjukkan penentangannya yang nyaris universal terhadap Austrianisme. Mengenai Mises ia berkomentar, “Tulisan-tulisannya tentang landasan ilmu ekonomi begitu lemah dan idiosinkratik sehingga patut dipertanyakan apakah ada orang yang mengganggap serius.”[4]

Blaug tidak memberikan argumen sedikitpun untuk mensubstansikan kemurkaannya. Bab yang ditulisnya tentang Austrianisme semata berakhir dengan pernyataan tadi. Mungkinkah penolakan Blaug atau ekonom lain terhadap apriorisme Mises lebih terkait pada kenyataan bahwa standar ketat argumentatif, yang dituntut dalam metodologi aprioris, terlalu sulit bagi mereka?[5]

Apa yang telah membimbing Mises sehingga mencirikan ekonomi sebagai ilmu pengetahuan yang apriori?  Dilihat dari perspektif saat ini, barangkali cukup mengejutkan kita saat mendengar bahwa Mises ternyata tidak menganggap konsepsinya tidak sejalan dengan pandangan arus utama yang dominan di awal abad 20. Mises tidak bermaksud mempreskripsikan apa yang seharusnya dilakukan para ekonom ketimbang apa yang benar-benar mereka lakukan. Alih-alih, ia memandang pencapaiannya selaku seorang filsuf ekonomi dalam melakukan sistematisasi dan mengeksplisitkan apa ekonomi itu sesungguhnya, dan bagaimana sains ini secara implisit telah dipandang oleh hampir semua orang yang menyebut diri sebagai ekonom.

Dan begitulah sesungguhnya yang terjadi.  Saat menjelaskan secara sistematis apa yang sebelumnya hanya berupa pengetahuan implisit dan tak-terkatakan, Mises memperkenalkan beberapa istilah konseptual dan terminologis pembeda yang sebelumnya tidak jelas atau tidak dikenal, setidaknya di dunia berbahasa Inggris. Namun demikian, posisinya tentang status ekonomi pada esensinya bersepakat sepenuhnya dengan pandangan yang dulu tergolong ortodoks terhadap perkara tersebut. Meskipun istilah “apriori” memang tidak mereka pergunakan, sejumlah ekonom arusutama seperti Jean Baptiste Say, Nassau Senior, dan John E. Cairnes, misalnya, telah menggambarkan ekonomi dengan cara sangat serupa.

Tulis Say: “Risalah tentang political economy* akan … terbatas pada penyapaian sejumlah prinsip umum yang tidak memerlukan dukungan berupa bukti atau ilustrasi; karena semuanya hanya akan berupa ekspresi tentang apa yang semua orang ketahui, yang diatur dalam bentuk yang sesuai sehingga dapat dipahami, juga dalam keseluruhan cakupan mereka sebagaimana dalam hubungan mereka satu sama lain.” Dan “political economy . . . bila prinsip-prinsip yang membangun fondasinya berasal dari deduksi ketat terhadap fakta-fakta umum yang tidak tersanggah, berdiri pada landasan yang tak tergoyahkan”[6] .

Menurut Nassau Senior, “premis-premis” ilmu ekonomi “terdiri atas sejumlah proposisi umum yang diturunkan dari observasi, atau kesadaran, dan tidak memerlukan bukti, atau bahkan pernyataan formal, dan yang oleh hampir semua orang, begitu mendengar tentangnya, akan diakui sebagai sesuatu yang tidak asing bagi pikirannya, atau setidaknya telah tercakup dalam pengetahuannya terdahulu; dan inferensi-inferensi yang ditariknya hampir-hampir bersifat umum, dan, sejauh ia telah berpikir dengan benar, sama pastinya dengan premis-premisnya.” Dan para ekonom harus “menyadari bahwa sains ini lebih bergantung pada cara-berpikir daripada pada pengamatan, dan bahwa kesulitan utamanya bukan terletak pada pemastian fakta-faktanya, melainkan pada penggunaan istilah-istilahnya”[7].

John E. Cairnes mengatakan bahwa jika “manusia tidak memiliki pengetahuan langsung tentang prinsip-prinsip ultimat dalam ilmu fisika” . . . maka “ekonom memulai dengan sebuah pengetahuan tentang sebab-sebab ultimatnya.” . . . “Dengan demikian dapat dianggap seorang ekonom sejak di awal penelitiannya telah memiliki prinsip-prinsip ultimat yang mengatur fenomena [ekonomi] yang membentuk subyek bahasannya, yang penemuan terhadapnya di dalam hal penelitian fisikal bagi penelitinya merupakan tugas yang terberat.”

“Perkara tebak-menebak [dalam ilmu ekonomi] jelas tidak memiliki tempatnya, oleh sebab kita telah memiliki dalam kesadaran kita dan dalam testimoni semua indera kita. . . bukti langsung dan mudah terhadap apa yang ingin kita ketahui. Oleh karena itu, di dalam Political Economy, hipotesis tidak pernah dipakai sebagai bantuan terhadap penemuan terhadap sebab-musabab dan kaidah-kaidah ultimat.”[8] (Tanda kurung siku dari naskah asli-peny.)

Tokoh-tokoh pendahulu Mises, seperti Menger, Böhm-Bawerk dan Wieser, juga berpandangan serupa: mereka menggambarkan ekonomi sebagai disiplin yang proposisi-proposisinya-berbeda dari proposisi-proposisi dalam ilmu alam-dapat diberikan beberapa justifikasi ultimat. Sekali lagi, para tokoh tersebut menyatakannya tanpa menggunakan terminologi yang dipakai oleh Mises.[9]

Dan, akhirnya, karakterisasi epistemologis terhadap ekonomi yang dilakukan Mises juga dianggap cukup ortodoks-dan tentunya tidak idiosinkratik, sebagaimana telah disinyalir oleh Blaug-setelah Mises memformulasikannya secara eksplisit.  Buku Lionel Robbins, The Nature and Significance of Economic Science, yang terbit pertama kali pada tahun 1932, tidak lain merupakan semacam versi lunak deskripsi Mises terhadap ekonomi sebagai praksiologi. Dan hal ini dihormati oleh profesi ekonomi sebagai ‘bintang kejora’ dalam hal metodologi selama hampir dua puluh tahun.

Kenyataannya, Robbins justru di bagian Prakata secara eksplisit menyebut Mises sebagai sumber tunggal terpenting bagi posisi metodologis yang ia yakini. Mises serta Richard von Strigl-yang posisinya tidak berbeda secara esensial dari posisi Mises[10]-di dalam teks tersebut dikutip lebih sering daripada tokoh-tokoh lainnya.[11]

Kendati semua ini cukup mencerahkan untuk menilai situasi saat ini, hal-hal tersebut tinggal sejarah saja. Lalu alasan apa yang dipakai para ekonom klasik ketika menganggap sains mereka berbeda dari ilmu alam? Dan ada apa di balik rekonstruksi eksplisit Mises terhadap perbedaan tersebut yang disebutnya sebagai sains yang apriori dan yang aposteriori? Itu adalah pengenalan (recognition) bahwa proses validasi-proses yang menentukan apakah proposisi itu benar atau tidak-untuk satu satu lahan penyelidikan berbeda dari yang diterapkan di lahan yang lain.

Pertama, mari kita telaah ilmu alam secara singkat. Bagaimana kita dapat mengetahui konsekuensi-konsekuensi yang terjadi jika terhadap sejumlah materi alam kita ujikan, misalnya, dengan mencampurkan campur satu zat dengan zat lain? Tentunya kita tidak dapat mengetahui sebelum benar-benar melakukannya dan mengamati apa yang terjadi. Kita tentu dapat membuat prediksi, tetapi prediksi ini hanya hipotesis saja. Diperlukan pengamatan untuk mengetahui apakah kita benar atau salah.

Selain itu, bahkan seandainya kita telah mengamati sejumlah hasil yang definit, katakanlah bahwa penggabungan kedua unsur tersebut akan menimbulkan ledakan, akan dapatkah kita lalu teryakinkan bahwa hasil semacam itu akan selalu terjadi jika kedua zat tersebut kita campurkan? Lagi, jawabannya adalah tidak. Prediksi kita akan masih dan secara permanen bersifat hipotetis. Ledakan mungkin saja hanya akan terjadi jika kondisi-kondisi lainnya-A, B, dan C-terpenuhi. Kita hanya dapat menemukan benar-tidaknya hal ini dan apa saja kondisi-kondisi tersebut melalui proses coba-coba yang tidak pernah berakhir. Ini memungkinkan kita meningkatkan pengetahuan secara progresif tentang kisaran aplikasi bagi prediksi hipotetis awal kita.

Sekarang mari beralih ke beberapa proposisi ekonomi yang khas. Pertimbangkan proses validasi untuk proposisi sebagai berikut: Ketika dua orang A dan B saling melakukan pertukaran secara sukarela, keduanya pasti berharap mendapatkan keuntungan (profit) dari kegiatan tersebut. Dan mereka pasti memiliki peringkat preferensi yang terbalik untuk barang dan jasa yang dipertukarkan sehingga A akan menilai apa yang diterimanya dari B bernilai lebih tinggi daripada yang ia berikan kepadanya, dan B mengevaluasi hal yang sama secara terbalik pula.

Atau pertimbangkan ini: Ketika pertukaran tidak terjadi secara sukarela melainkan karena paksaan, maka salah satu pihak akan mendapat keuntungan di atas kerugian pihak lainnya.

Atau tentang kaidah faedah marjinal sebagai berikut: Ketika persediaan barang meningkat sebanyak satu unit tambahan, sejauh manfaat setiap unit tersebut dinilai setara oleh seseorang, maka nilai yang diberikan orang itu kepada unit tersebut pasti akan menurun. Sebab unit tambahan tersebut hanya dapat dipakai sebagai satu cara mencapai satu tujuan yang dianggap kurang bernilai [jika] dibandingkan dengan tujuan yang paling bernilai sedikit yang dipuaskan oleh sebuah unit barang tersebut jika suplainya berjumlah satu-unit lebih sedikit.

Atau ambil hukum asosiasi Ricardian: Dalam hal terdapat dua produsen, jika A lebih produktif dalam memproduksi dua macam barang daripada B, mereka masih dapat terlibat dalam pembagian kerja yang sama-sama menguntungkan. Sebabnya, produktivitas fisik secara keseluruhan akan menjadi lebih tinggi jika A berspesialisasi untuk memproduksi satu barang yang dapat ia lakukan secara paling efisien, daripada seandainya A dan B memproduksi kedua macam barang tersebut secara terpisah dan secara otonom.

Atau satu contoh lain: Ketika hukum upah minimum diberlakukan yang mengharuskan pembayaran upah lebih tinggi daripada upah yang berlaku saat ini di pasar, maka pengangguran non-sukarela akan terjadi.

Dan satu contoh terakhir: Ketika kuantitas uang bertambah sementara permintaan akan uang untuk pegangan uang tunai tidak berubah, maka daya beli uang tersebut akan jatuh.

Apakah, dalam mempertimbangkan proposisi-proposisi tersebut, proses validasi untuk memastikan kebenaran atau kesalahannya akan memakai jenis yang sama dengan yang dipakai dalam ilmu alam? Apakah proposisi-proposisi ini bersifat hipotetis dalam pengertian yang sama dengan sebuah proposisi tentang efek-efek pencampuran dua zat alamiah? Apakah kita harus menguji proposisi-proposisi ekonomi tersebut secara terus menerus melalui observasi? Dan apakah diperlukan proses coba-coba tanpa akhir guna menemukan kisaran aplikasi bagi proposisi-proposisi tersebut untuk secara gradual meningkatkan pengetahuan kita, semacam yang telah kita lihat dalam kasus-kasus ilmu alam?

Tampaknya cukup jelas-kecuali bagi kebanyakan ekonom selama empat puluh tahun terakhir-bahwa jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini lugas dan tidak taksa lagi: Tidak. Bahwa A dan B pasti berharap mendapat keuntungan dan memiliki tatanan preferensi terbalik, berasal dari pemahaman kita terhadap pertukaran. Dan hal yang sama berlaku dengan konsekuensi-konsekuensi dari pertukaran yang dipaksakan. Tidak terbayangkan bahwa hasilnya akan pernah berbeda: hasilnya sama sejuta tahun lalu dan akan sama sejuta tahun mendatang. Dan kisaran aplikasi bagi proposisi-proposisi ini juga sudah gamblang sekali dan untuk selamanya: Mereka berlaku ketika sebuah pertukaran berlangsung secara sukarela atau secara terpaksa, dan memang begitulah adanya dengan hal-hal tersebut.

Tidak berbeda halnya dengan suguhan contoh-contoh di atas, faedah marjinal per unit tambahan barang yang homogen pasti akan menurun, dan hal ini berasal dari pernyataan yang tidak terbantahkan bahwa setiap manusia yang bertindak selalu lebih menyukai apa yang memberinya lebih banyak kepuasan daripada yang lebih sedikit. Musykil (absurd) jika kita menganggap perlu pengujian terus-menerus untuk memastikan kebenaran proposisi semacam itu.

Hukum asosiasi Ricardian, sejalan dengan deliniasi kisaran aplikasinya yang berlaku sekali untuk selamanya, juga secara logis berasal dari keberadaan situasi yang dideskripsikan. Jika A dan B memang berbeda sebagaimana di atas dan oleh karenanya berarti terdapat nisbah substitusi teknologis bagi barang-barang produksi yang dihasilkan (satu tingkat nisbah bagi A dan satu lagi bagi B), maka jika keduanya bekerjasama dalam sistem pembagian kerja sebagaimana yang dicirikan oleh hukum tersebut, mana output fisik yang dihasilkan pasti akan lebih besar daripada yang terjadi seandainya mereka tidak bekerjasama. Simpulan selain ini berarti kesalahan logis.

Hal yang sama berlaku juga bagi akibat-akibat dari kaidah upah minimum atau peningkatan jumlah uang. Naiknya tingkat pengangguran dan turunnya daya beli uang adalah konsekuensi-konsekuensi yang secara logis diimplikasikan di dalam deskripsi kondisi awal sebagaimana dinyatakan dalam proposisi-proposisi yang diberikan di atas. Dalam kenyataannya, musykil kalau dianggap bahwa prediksi-prediksi ini hipotetis sifatnya dan bahwa kesahihannya tidak dapat ditarik tanpa melalui pengamatan, atau dengan cara berbeda selain benar-benar mencoba menerapkan hukum upah minimum atau mencetak lebih banyak uang dan mengamati akibatnya.

Jika dianalogikan, ini ibarat seseorang yang ingin memastikan kebenaran teori Pitagoras dengan benar-benar mengukur setiap sisi dan sudut pada segitiga. Sebagaimana orang akan harus memberikan komentarnya terhadap upaya semacam itu, bukankah harus kita katakan pula bahwa anggapan menganggap proposisi-proposisi ekonomi itu harus diuji secara empiris merupakan tanda kekacauan intelektual yang keterlaluan?

Tetapi Mises tidak semata menangkap perbedaan yang cukup jelas antara ekonomi dan sains-sains empiris. Ia membuat kita menyadari sifat perbedaan tersebut dan menjelaskan bagaimana dan mengapa sebuah disiplin yang unik seperti ekonomi, yang mengajarkan sesuatu tentang realitas tanpa memerlukan observasi, dapat mungkin terjadi.  Pencapaian Mises dalam hal ini tidak dapat dipandang remeh.

Agar dapat memahami penjelasannya secara lebih baik, kita harus melakukan ekskursi ke alam filsafat, atau lebih tepatnya ke bidang filsafat ilmu pengetahuan atau epistemologi. Secara khusus, kita harus memeriksa epistemologi Immanuel Kant sebagaimana telah dikembangkannya secara hampir lengkap di dalam tulisannya, Critique of Pure Reason. Gagasan Mises tentang praksiologi jelas terpengaruh Kant. Ini tidak berarti Mises seorang Kantian biasa yang sederhana. Sebenarnya, seperti akan diperlihatkan kelak, Mises membawa epistemologi Kantian melampaui titik yang telah ditinggalkan Kant. Mises memperbaiki filsafat Kantian dengan cara yang hingga saat ini benar-benar masih terabaikan dan tidak mendapat penghargaan oleh filsuf-filsuf Kantian ortodoks. Kendati demikian, Mises mengambil dari Kant fitur-fitur yang sentral, konseptual dan terminologis, dan sejumlah tilikan mendasar Kantian ke dalam ciri pengetahuan manusia. Maka, mari kita beralih ke Kant.

Kant, di sepanjang kritiknya terhadap empirisme klasik, terutama terhadap pandangan David Hume, mengembangkan gagasan bahwa semua proposisi kita dapat diklasifikasikan ke dalam dua lipatan: di satu sisi, jika tidak analitik, sebuah proposisi dikatakan bersifat sintetik; dan di sisi lain jika tidak apriori, maka ia disebut sebagai aposteriori. Arti singkat masing-masing adalah sebagai berikut. Sebuah proposisi disebut analitik ketika cara berupa logika formal (means of formal logic) sudah memadai untuk menentukan apakah ia benar atau salah; jika tidak memadai, maka proposisi tersebut dikatakan sintentik. Dan proposisi disebut aposteriori ketika observasi diperlukan untuk menentukan kebenarannya atau setidaknya untuk mengonfirmasikan hal tersebut. Jika observasi tidak diperlukan, maka proposisi tersebut apriori.

Ciri khas filsafat Kantian adalah klaim yang mengakui adanya proposisi sejati yang apriori sintetik-dan oleh karena Mises menerima klaim inilah ia dapat disebut sebagai Kantian. Proposisi apriori sintetik adalah yang nilai kebenarannya dapat diterima secara definit, meskipun untuk mengakuinya cara berupa logika formal tidak cukup (meski, tentu saja, perlu) dan observasi tidak diperlukan.

Menurut Kant, matematika dan geometri menyediakan contoh-contoh proposisi apriori sintetik sejati. Namun, ia juga berpendapat bahwa proposisi seperti prinsip umum kausalitas-misalnya, pernyataan bahwa ada penyebab yang beroperasi tanpa tergantung pada waktu, dan setiap peristiwa yang terjadi adalah bagian yang melekat dari jaringan sebab-sebab semacam itu-merupakan proposisi apriori sintetik sejati.

Di sini saya tidak dapat menjelaskan secara lebih mendetil tentang bagaimana Kant menjustifikasikan pandangan ini.[12] Kiranya, sejumlah keterangan berikut cukup memadai. Pertama, bagaimanakah kebenaran dari proposisi semacam itu diturunkan, jika logika formal tidak cukup dan observasi tidak diperlukan? Jawaban Kant adalah bahwa kebenarannya berasal dari aksioma material yang sudah jelas dengan sendirinya.

Apa yang membuat aksioma ini jelas dengan sendirinya? Jawab Kant, bukanlah karena ia jelas dalam pengertian psikologis, sebab jika demikian kita akan segera menyadari hal tersebut. Sebaliknya, Kant menekankan, biasanya jauh lebih menyulitkan untuk menemukan aksioma tersebut daripada menemukan kebenaran empiris seperti bahwa daun-daun pepohonan berwarna hijau. Aksioma tersebut jelas dengan sendirinya karena seseorang tidak dapat menyangkal [kebenarannya] tanpa mengkontradiksikan dirinya sendiri; artinya, dalam upaya seseorang untuk menyangkalnya, orang tersebut sebenarnya, secara implisit, mengakui kebenarannya.

Bagaimana kita dapat menemukan aksioma seperti itu? Jawab Kant, kita harus merefleksikannya sendiri, dengan cara memahami diri sendiri sebagai subyek yang mengetahui. Dan kenyataan ini-bahwa kebenaran proposisi sintetik yang apriori pada ultimatnya berasal dari pengalaman batin yang dihasilkan melalui refleksi juga menjelaskan mengapa proposisi semacam itu memungkinkan untuk menyandang status sebagai proposisi yang harus dipahami sebagai sesuatu yang sudah semestinya benar. Pengalaman observasional hanya dapat memperlihatkan sesuatu sebagaimana hal tersebut terjadi; tidak ada apapun di dalamnya yang mengindikasikan mengapa sesuatu harus seperti itu. Akan tetapi, berkontras dengan hal ini, tulis Kant, akal kita dapat memahami sesuatu sebagai hal yang sudah seharusnya demikian, “yang tercipta dengan sendirinya sesuai dengan rancangannya sendiri.”[13]

Di dalam semua hal tersebut Mises mengikuti Kant. Namun, sebagaimana dikatakan sebelumnya, Mises menambah satu tilikan yang amat penting terhadap apa yang oleh Kant hanya tersentuh secara samar. Satu hal yang sering diperselisihkan tentang Kantianisme adalah bahwa filsafat ini sepertinya mengimplikasikan semacam idealisme. Soalnya, jika memang betul, sebagaimana Kant melihatnya, proposisi sintentik yang apriori merupakan proposisi tentang bagaimana pikiran kita bekerja dan bagaimana sudah seharusnya bekerja, bagaimana dapat dijelaskan bahwa kategori mental semacam itu sesuai dengan realitas? Bagaimana dapat dijelaskan, misalnya, bahwa realitas memang sesuai dengan prinsip kausalitas jika prinsip ini harus dipahami sebagai prinsip yang harus dipatuhi oleh cara operasi pikiran kita? Tidakkah kita [dengan demikian] harus membuat asumsi idealistik yang musykil bahwa hal ini mungkin terjadi oleh karena realitas sebenarnya [telah] diciptakan oleh pikiran?  Agar tidak disalahmengerti, saya katakan di sini bahwa tuduhan terhadap Kantianisme tersebut tidak memiliki justifikasi.[14] Akan tetapi, memang, dalam beberapa formulasi pernyataannya, Kant jelas telah membuat tuduhan semacam itu cukup beralasan.

Sebagai contoh, perhatikan pernyataannya yang programatik: “Sejauh diasumsikan bahwa pengetahuan kita harus sesuai dengan realitas observasional “; alih-alih, seharusnya diasumsikan “bahwa realitas observasional harus sesuai dengan pengetahuan kita.”[15]

Mises memberi solusi bagi tantangan ini. Memang benar, sebagaimana dikatakan Kant, bahwa proposisi-proposisi sintetik apriori tertanam dalam sejumlah aksioma yang terbukti dengan sendirinya dan bahwa aksioma-aksioma ini harus dipahami melalui refleksi di dalam diri kita sendiri ketimbang dalam pengertian yang “dapat diobservasi”.  Namun, kita masih harus bergerak selangkah lebih jauh. Kita harus mengenali bahwa kebenaran-kebenaran yang diperlukan semacam itu tidak semata merupakan kategori pikiran kita, melainkan bahwa pikiran kita adalah pikiran dari manusia-manusia yang bertindak.  Kategori-kategori mental kita harus dipahami secara sesuatu yang secara ultimat tertanam dalam kategori-kategori tindakan (categories of action). Begitu hal ini disadari, segala pertimbangan yang idealistik pun akan lenyap. Alih-alih, epistemologi yang mengklaim adanya proposisi-proposisi yang sintetik apriori berubah menjadi epistemologi yang realistik. Oleh karena ia dipahami sebagai sesuatu yang secara ultimat tertanam dalam kategori-kategori tindakan, jurang antara dunia mental dan yang riil, luar dan jasadi pun terjembatani. Sebagai kategori-kategori tindakan, mereka haruslah berupa sesuatu yang mental sebagaimana mereka mencirikan realitas. Melalui tindakanlah pikiran dan realitas bersentuhan.

Kant telah memberi semacam petunjuk untuk solusi ini. Menurutnya, matematika, misalnya, harus berdasar pada pengetahuan kita terhadap makna pengulangan (repetisi), atau makna operasi-operasi yang berulang. Ia juga menyadari, kendati masih agak kabur, bahwa prinsip kausalitas sudah terimplikasikan dalam pemahaman kita tentang apa artinya tindakan dan apa artinya melakukan tindakan.[16]

Akan tetapi Miseslah yang mengedepankan tilikan ini. Ia menyadari bahwa kausalitas adalah kategori tindakan. Bertindak berarti melakukan interferensi pada suatu titik waktu untuk memproduksi hasilnya kelak, dan dengan demikian setiap pelaku tindakan harus sudah mengasumsikan keberadaan kausalitas yang beroperasi secara konstan. Kausalitas, sebagaimana dikatakan Mises, merupakan prasyarat tindakan.

Namun demikian, berbeda dari Kant, Mises tidak tertarik pada epistemologi semacam itu. Dengan mengenali tindakan sebagai jembatan antara pikiran dan realitas luar, ia berhasil menemukan solusi bagi problem Kantian tentang bagaimana proposisi-proposisi sejati yang sifatnya sintetik apriori menjadi dimungkinkan. Ia juga menawarkan tilikan yang amat berharga tentang landasan ultimat dari proposisi epistemologis yang sentral lainnya selain prinsip kausalitas–misalnya kaidah kontradisi sebagai basis dari logika. Dan dengan demikian Mises membuka jalan bagi penelitian filosofis masa depan yang, sepengetahuan saya, nyaris belum dilalui orang. Namun, mengingat bidang kajian Mises adalah ekonomi, saya perlu menuntaskan penjelasan masalah ini secara lebih terperinci tentang prinsip kausalitas sebagai proposisi apriori sejati.[17]

Mises tidak hanya mengenali bahwa epistemologi secara tidak langsung bergantung kepada pengetahuan reflektif kita tentang tindakan dan dapat dengan demikian mengklaim untuk menyatakan bahwa sesuatu benar secara apriori tentang realitas, tetapi bahwa ilmu ekonomi juga tergantung seperti itu dengan cara yang lebih langsung. Proposisi ekonomi mengalir langsung dari pengetahuan kita tentang tindakan; dan status proposisinya sebagai pernyataan apriori tentang sesuatu yang riil, berasal dari pemahaman kita terhadap apa yang dinamakan Mises “aksioma tindakan.”

Aksioma ini, bahwa manusia bertindak, secara persis memenuhi segala syarat sebagai proposisi sejati yang sintetik apriori.  Tidak dapat dibantah bahwa proposisi ini benar, sebab membantah juga akan terkategorikan sebagai sebuah tindakan-dan kebenaran terhadap pernyataan tersebut secara literal tidak dapat dilakukan. Aksioma tersebut juga tidak diturunkan dari observasi-yang dapat diamati hanyalah pergerakan tubuh tetapi bukan tindakannya sendiri-melainkan berasal dari pemahaman reflektif.

Lebih jauh, sebagai sesuatu yang harus dipahami ketimbang diamati, hal tersebut tetap merupakan pengetahuan tentang realitas. Ini karena perbedaan-perbedaan konseptual yang terlibat dalam proses pemahaman tersebut tidak lain merupakan kategori-kateori yang dipekerjakan dalam interaksi antara pikiran dan dunia jasadi melalui badan jasadinya sendiri. Dan aksioma tindakan dalam segenap implikasinya tentunya tidak terbukti dengan sendirinya dalam pengertian psikologis, kendati begitu dinyatakan secara eksplisit ia dapat dipahami sebagai proposisi sejati yang tak terbantahkan tentang sesuatu yang riil dan mengada (exists).[18]

Tentunya, tidaklah dapat dibuktikan secara psikologis ataupun dapat diamati bahwa dengan setiap tindakan seorang pelakunya mengejar suatu tujuan; dan bahwa apapun tujuannya, kenyataan  bahwa hal tersebut dikejar oleh pelakunya menunjukkan bahwa sang pelakunya menilai tujuan tindakannya secara relatif lebih tinggi daripada tujuan tindakan lain yang dapat dipikirkannya di awal tindakannya.

Tidaklah jelas ataupun dapat diamati apalah dalam untuk mencapai tujuan yang dinilai paling tinggi sebuah tindakan harus menginterferensi atau memutuskan tidak menginterferensi (yang, tentunya, juga merupakan sebuah interferensi) di awal suatu titik waktu agar hasilnya dapat diperoleh kelak; interferensi-interferensi semacam itu senantiasa mengimplikasikan adanya pendayagunaan suatu cara (means) yang jumlahnya terbatassetidaknya dalam bentuk tubuh sang pelaku tersebut, ruangnya berada dan waktu yang dihabiskan interferensi tersebut.

Juga, tidaklah jelas ataupun dapat diamati bahwa cara-cara yang ditempuh ini harus memiliki nilai [tertentu]-nilai yang diturunkan dari nilai tujuan yang ditujunya-bagi pelakunya karena sang pelaku pasti menganggap bahwa pendayagunaan cara-cara tersebut sebagai keharusan sebelum tujuan dapat secara efektif dicapai; dan bahwa tindakan-tindakan hanya dapat dilakukan sesuai urutan-urutannya serta selalu mengharuskan pelaku untuk memilih-misalnya: menetapkan satu tindakan yang pada suatu titik tertentu menjanjikan nilai tertinggi bagi sang pelaku dan mengecualikan, di saat yang sama, tujuan-tujuan lain yang nilainya lebih rendah.

Tidak pula secara otomatis jelas ataupun dapat diamati bahwa sebagai akibat dari keharusan memilih dan mengambil preferensi satu tujuan di atas tujuan lain-oleh sebab tidak dimungkinkannya perealisasian semua tujuan secara simultan-setiap tindakan mengimplikasikan timbulnya biaya (dalam bentuk, misalnya, sebagaimana saat seseorang harus melepaskan nilai yang diberikannya kepada tujuan alternatif yang [sebenarnya ia anggap] paling tinggi tapi tidak dapat direalisasikannya, atau yang realisasinya harus ditangguhkan oleh karena cara yang diperlukan untuk keberhasilannya sedang digunakan dalam proses produksi lainnya, yang bahkan lebih tinggi nilainya sebagai tujuan.

Dan terakhir, tidaklah terbukti atau dapat diamati bahwa di titik awal setiap tujuan tindakan  harus dianggap bernilai lebih bagi sang pelaku daripada biayanya dan bahwa tindakan tersebut akan menguntungkannya, mis., memberi hasil yang bernilai lebih tinggi daripada peluang-peluang yang hilang. Akan tetapi, setiap tindakan juga senantiasa terancam oleh kemungkinan kehilangan (pelepasan peluang) jika pelaku tindakan tersebut mendapati, di kemudian hari, bahwa hasil akhir yang dicapainya-berlawanan dari harapannya sebelumnya-bernilai lebih rendah daripada nilai alternatif yang tidak dipilihnya.

Semua kategori ini-yakni nilai, tujuan, cara, pilihan, preferensi, biaya, keuntungan dan kerugian, juga waktu dan kausalitas-terimplikasikan di dalam aksioma tindakan. Meskipun demikian, sebelum seseorang dapat menafsirkan pengamatan-pengamatan dalam kategori-kategori tersebut, ia harus sudah memiliki pengetahuan tentang artinya bertindak. Tidak seorangpun akan pernah memahami hal ini, jika ia bukan seorang pelaku tindakan. Kategori-kategori tersebut tidak tersedia begitu saja atau siap untuk diamati; pengalaman observasional terformulasikan dalam istilah-istilah tersebut sebagaimana dia dimaknai oleh seorang pelaku tindakan. Rekonstruksi reflektif terhadap kategori-kategori tersebut juga bukan tugas intelektual sederhana yang secara psikologis terbukti dengan sendirinya, sebagaimana terbukti oleh panjangnya rentang usaha-usaha abortif di sepanjang jalan terhadap tilikan-tilikan yang barusan digarisbesari sebagai sifat-sifat tindakan.

Memerlukan upaya intelektual yang meletihkan untuk mengenali secara eksplisit apa yang, begitu dinyatakan secara eksplisit oleh semua orang dikenali sebagai sesuatu yang langsung benar dan dapat dipahami sebagai pernyataan sintetik apriori, yakni proposisi yang dapat divalidasi tanpa memerlukan observasi dan dengan demikian tidak dapat difalsifikasi melalui observasi apapun.

Upaya untuk menolak aksioma-waktu dengan sendirinya akan merupakan sebuah tindakan yang memiliki tujuan, memerlukan cara, dan mengecualikan tindakan-tindakan lain, menimbulkan biaya, dan memaparkan sang pelaku kepada kemungkinan bahwa ia akan berhasil atau gagal dalam mencapai tujuan yang dikehendakinya dan dengan demikian membawanya pada sebuah keuntungan ataupun kerugian.

Dan pemilikan pengetahuan yang seperti itu dengan demikian tidak akan pernah dapat disangkal, serta kesahihan konsep-konsep ini tidak akan pernah bisa difalsifikasi oleh pengalaman tak terduga (contingent) apapun, sebab upaya penyangkalan atau falsifikasi apapun akan harus memprasuposisikan keberadaan mereka. Sesungguhnya, situasi di mana kategori-kategori dari tindakan ini terhenti memiliki keberadaannya yang riil dengan sendirinya tidak akan pernah dapat diobservasi, sebab melakukan observasi juga merupakan sebuah tindakan.

Tilikan Mises yang sangat berharga adalah bahwa pemikiran ekonomi memiliki pondasinya persis sesuai dengan pemahaman terhadap tindakan; dan bahwa status ilmu ekonomi sebagai semacam logika terapan diturunkan dari status aksioma-tindakan sebagai sebuah proposisi sintetik yang secara apriori, benar. Kaidah-kaidah pertukaran, kaidah tentang penurunan faedah marjinal, kaidah asosiasi Ricardian, kaidah tentang kontrol harga, dan tentang teori kuantitas uang, semuanya merupakan contoh-contoh proposisi ekonomi yang sebagaimana disebutkan di atas-dapat diturunkan secara logis dari aksioma ini. Dan itulah sebabnya konyol jika proposisi-proposisi semacam itu dianggap memiliki epistemologi yang berjenis sama dengan proposisi-proposisi ilmu alam. Jika dianggap demikian, dan dengan demikian kesahihan mereka memerlukan pengujian, hal tersebut ibarat beranggapan bahwa kita harus melakukan semacam proses pencarian fakta tanpa mengetahui hasil yang dimungkinkan untuk membangun fakta bahwa manusia adalah pelaku tindakan. Dengan kata lain, ini musykil.

Praksiologi mengatakan bahwa semua proposisi ekonomi yang mengklaim dirinya  benar, harus diperlihatkan dapat dideduksi melalui logika formal dari pengetahuan material yang benar tak terbantahkan mengenai sehubungan dengan makna dari tindakan. Secara spesifik, semua pemikiran ekonomi terdiri atas hal-hal sebagai berikut:

(1) pemahaman tentang kategori-kategori tindakan dan makna dari sebuah perubahan yang terjadi pada hal-hal seperti nilai, preferensi, pengetahuan, cara, biaya, dll.;

(2) gambaran tentang sebuah dunia di mana kategori-kategori tindakan mengasumsikan makna yang konkret, di mana orang-orang yang definit teridentifikasi sebagai para pelaku tindakan yang memiliki obyek-obyek definit tertentu sebagai cara yang mereka pakai dalam bertindak, dengan tujuan definit sebagaimana teridentifikasi sebagai nilai dan hal-hal definit yang dispesifikasikan sebagai biaya. Deskripsi semacam itu dapat berupa sebuah dunia Robinson Crusoe, atau sebuah dunia dengan lebih dari satu pelaku tindakan di mana hubungan interpersonal dimungkinkan; sebuah dunia di mana pertukaran dilakukan secara barter;  atau tentang uang dan pertukaran yang menggunakan uang sebagai medium pertukaran umum; tentang dunia yang hanya berupa tanah, tenaga kerja, dan waktu sebagai factor-faktor produksi, atau dunia dengan produk-produk capital; tentang dunia dengan factor-faktor produksi yang spesifik atau non-spesifik, yang dapat dibagi-bagi secara sempurna atau sebaliknya secara sempurna tidak dapat dibagi-bagi; atau dunia dengan aneka ragam institusi sosial, yang memperlakukan berbagai tindakan sebagai agresi dan mengancam tindakan-tindakan tersebut dengan hukuman fisik, dan lain-lain, dan;

(3) deduksi logis terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan dari kinerja sebuah tindakan tertentu di dunia, atau sebagai konsekuensi yang terjadi bagi seorang pelaku tindakan jika situasi ini berubah secara spesifik.

Asalkan tidak terjadi kesalahan dalam proses deduksinya, kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari pemikiran yang seperti itu musti menghasilkan sesuatu yang secara apriori sahih sebab kesahihannya pada akhirnya tidak lain berasal dari aksioma-tindakan yang tidak terbantahkan. Jika situasi dan perubahan-perubahan yang diperkenalkan di dalamnya bersifat fiktif atau asumsional belaka (sebagaimana dunia Robinson Crusoe, atau dunia yang hanya berisikan faktor-faktor produksi yang tidak dapat dipecah, atau yang benar-benar spesifik), maka kesimpulan-kesimpulan yang ditarik tentunya merupakan kebenaran apriori tentang dunia “yang mungkin terjadi”  Jika, sebaliknya, situasi dan perubahan-perubahan di dalamnya dapat didentifikasi sebagai hal-hal yang riil, dapat ditangkap dan dikonseptualisasikan oleh pelaku-tindakan yang riil, maka kesimpulan-keseimpulan yang ditarik darinya merupakan proposisi-proposisi yang benar secara apriori tentang dunia sebagaimanya nyatanya.[19]

Demikianlah gambaran ilmu ekonomi sebagai praksiologi. Dan demikian pulalah puncak ketidaksepahaman  para ekonom Austria dengan kolega-kolega mereka: bahwa pernyataan  formal mereka tidak dapat dideduksi dari aksioma tindakan atau bahkan berada dalam kontradiksi yang amat jelas dengan proposisi yang dapat dideduksi dari aksioma tindakan.

Dan bahkan jika terdapat kesepakatan dalam pengidentifikasian fakta dan penilaian peristiwa tertentu sebagai hal yang saling berkaitan satu sama lain sebagaimana halnya sebab dan akibat, kesepakatan semacam ini hanya superfisial saja sifatnya. Sebab para ekonom lain meyakini secara keliru bahwa pernyataan mereka  adalah proposisi yang sudah teruji secara empiris, meski sebenarnya merupakan kebenaran apriori.

(Bersambung ke Bagian 2)


[1] Dua esei pertama diambil dari dua bahan seminar di Institut Ludwig von Mises “Advanced Instructional Conference on Austrian Economics,” 21-27 Juni, 1987. Esei ketiga dicetak-ulang dari buku:The Economics and Ethics of Private Property (Kluwer Academic Publishers in 1993), hal. 141-64.

[2] Ludwig von Mises, Human Action, (Chicago: Henry Regnery, 1966), hal. 32.

[3] Buku-buku Mises tentang metodologi dapat dilihat terutama dalam Epistemological Problems of Economics (New York: New York University Press, 1981); Theory and History (Washington, D.C.: Ludwig von Mises Institute, 1985); The Ultimate Foundation of Economic Science (Kansas City, Kans.: Sheed Andrews and McMeel, 1978); Human Action, Bagian I.

[4] Mark Blaug, The Methodology of Economics (Cambridge: Cambridge University Press, 1980), hal. 93; untuk pernyataan of outrage serupa, lihat Paul Samuelson, Collected Scientific Papers, Vol. 3 (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1972,  hal. 761.

[5] Tokoh utama lainnya yang mengritik praksiologi adalah Terence W. Hutchison, The Significance and Basic Postulates of Economic Theory (London: Macmillan, 1938). Hutchison, seperti Blaug, pengikut varian empirisme Poperian, sejak itu menjadi kurang antusias tentang prospek memajukan ekonomi dalam garis empiris (lihat, misalnya, tulisannya: Knowledge and Ignorance in Economics [Chicago: University of Chicago Press, 1977; dan The Politics and Philosophy of Economics [New York: New York University Press 1981]), namun ia masih belum melihat alternatif lain terhadap falsifikasionisme Popper. Posisi dan perkembangan yang cukup serupa dengan Hutchison dapat dijumpai dalam H. Albert (lihat tulisan-tulisan awalnya, Marktsoziologie und Entscheidungslogik (Neuwied: 1967). Untuk kritik terhadap posisi kelompok empiris, lihat Hans-Hermann Hoppe, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung. Unterschungen zur Grundlegung von Soziologie und Ökonomie (Opladen: 1983); “Is Research Based on Causal Scientific Principles Possible in the Sosial Sciences?” Ratio 25, no. 1 (1983; “In Defense of Extreme Rationalism,” Review of Austrian Economics 3 (1988); “On Praxeology and the Praxeological Foundation of Epistemology and Ethics,” dalam Llewellyn H. rockwell, Jr., peny., The Meaning of Ludwig von Mises (Auburn, Ala.: Ludwig von Mises Institute, 1989).

* Istilah “Political economy” adalah cikal bakal istilah “Ekonomi” sebagai ilmu pengetahuan ilmiah–penerj.

[6] Jean-Baptiste Say, Treatise on Political Economy (New York: Augustus Kelley, [1880] 1964, hal. xx, xxvi.

[7] Nassau Senior, An Outline of the Science of Political Economy (New York: Augustus Kelley, [1836] 1965), hal. 2-3,5.

[8] John E. Cairnes, The Character and Logical Method of Political Economy (New York: Augustus Kelley, 1965), hal. 83,87,89-90,95-96.

[9] Lihat Carl Menger, Untersuchungen über die Methoden der Sozialwissenschaften (Leipzig: 1883); idem, Die Irrtümer des Historismus in der Deutschen Nationalökonomie (Wien: 1884); Eugen von Böhm-Bawerk, Schriften, F.X. Weiss, peny. (Vienna: 1924); Friedrich von Wieser, Theorie der gesellschaftlichen Wirtschaft (Tübingen: 1914); idem, Gesammelte Abhandlungen (Tübingen: 1929). Untuk evaluasi Mises terhadap para pendahulunya, lihat karyanya Epistemological Problems of Economics, hal. 17-22. Istilah “apriori” dalam kaitannya dengan teorema-teorema ekonomi juga dipakai oleh Frank H. Knight; tapi karya-karya metodologisnya, kurang sistematis. Lihat “What Is Truth in Economics,” dalam Knight, On the History and Method of Economics (Chicago: University of Chicago Press, 1956); dan karyanya “The Limitations of Scientific Method in Economics,” dalam Knight, The Ethics of Competition (Chicago: University of Chicago Press, 1935).

[10] Richard von Strigl, Die ökonomischen Kategorien und die Organisation der Wirtschaft (Jena: 1923).

[11] Mungkin penting disebutkan disini, posisi metodologis Robin, seperti juga posisi Friedrich A. Hayek, semakin menjauhi posisi Misesian berseama waktu terutama akibat pengaruh Karl R. Popper, kolega mereka di London School of Economics. Mengenai hal ini lihat Lionel Robbins, An Autobiography of an Economist (London: Macmillan, 1976); Ketidaksepahaman Hayek dengan gagasan Mises tentang praksiologi belum lama ini dinyatakan kembali dalam karyanya “Einleitung” terhadap Ludwig von Mises’s Erinnerungen (Stuttgart: 1978). Pandangan Mises sendiri yang sepenuhnya negatif terhadap Popper dapat ditemukan dalam bukunya The Ultimate Foundation of Economic Science, hal. 70. Untuk dukungan terhadap pandangan Mises, lihat juga Hans H. Hoppe, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung (Opladen: Westdeutscher Verlag, 1983), hal. 48-49

[12] Interpretasi dan justifikasi yang cemerlang dari epistemologi aprioristik Kant dapat ditemukan dalam F. Kambartel, Erfahrung und Struktur. Bausteine zu einer Kritik des Empirismus und Formalismus (Frankfurt/M.: 1968, terutama bab 3; lihat juga Hans-Hermann Hoppe, Handeln und Erkennen (Bern: 1976).

[13] Immanuel Kant, Kritik der reinen Vernunft, in Kant, Werke, vol. 2, W. Weischedel, ed. (Wiesbaden: 1956), p. 23.

[14] Lihat khususnya tulisan F. Kambartel yang dikutip di catatan [kaki] no. 12; yang juga instruktif interpretasi Kant oleh seorang biologis-etologis D. Lorenz, Vom Weltbild des Verhaltensforschers (Munich: 1964); idem, Die Rückseite des Spiegels, Versuch einer Naturgeschite menschlichen Erkennens (Munich: 1973). Di antara para pengikut Austrianisme, interpretasi Kant oleh Ayn Rand sangat digemari (lihat, misalnya, tulisannya: Introduction to Objectivist Epistemology (New York: New American Library, 1979); atau For the New Intellectual (New York: Random House, 1961). Namun, intepretasi Rand, yang sarat dengan penolakan, tidak berisi satupun dokumentasi yang interpretatif. Lihat, seputar arogansi ketidaktahuan Rand terhadap Kant, dalam B. Goldberg, “Ayn Rand’s ‘For the New Intellectual’,” New Individualist Review 1, no. 3 (1961).

[15] [Secara tidak sengaja tidak tercantum dalam edisi ini.]

[16] Untuk interpretasi Kantian terhadap matematika lihat H. Dingler, Philosophie der Logik und Mathematik (Munich: 1931); Paul Lorenzen, Einführungin die operative Logik und Mathematik (Frankfurt/M.: 1970); Ludwig Wittgenstein, Remarks on the Foundations of Mathematics (Cambridge, Mass.: M.I.T. Press, 1978); juga Kambartel, Erfahrung und Struktur, hal. 118-22; untuk interpretasi yang sangat hati-hati dan saksama dari Kantianisme dari sudut pandang ilmu fisika modern, lihat P. Mittelstaedt, Philosophische Probleme der modernen Physik (Nannheim: 1967).

[17] Untuk pertimbangan-pertimbangan lebih lanjut tentang perihal ini, lihat Hoppe “In Defense of Extreme Rationalism,” Review of Austrian Economics 3 (1988).

[18] Tentang hal ini dan selanjutnya, lihat Mises, Human Action, Bab IV dan V.

[19] Lihat juga Hoppe, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung, Bab 4.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

20 comments for “Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (1)”

  1. Sebelumnya saya ingin mengucapkan SELAMAT atas diterbitkannya essay ini. Semoga dapat memberi sumbangan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan—khususnya Ilmu Ekonomi.

    Ada sedikit catatan setelah saya membaca essay ini.
    1. Mempelajari bidang ilmu pengetahuan tanpa mempelajari landasan filsafat bidang ilmu tersebut, ibarat ingin membangun rumah tanpa merancang pondasi. Jadi posisi pemahaman filsafat dan sejarah filsafat ataupun minimal tentang sejarah ide-ide adalah sangat mutlak diperlukan dalam usaha  mempelajari pemahaman dalam bidang ilmu sosial.
    2. Implikasi dari prasyarat di atas ialah, pentingnya membongkar kembali mitos-mitos yang sering ditancapkan terhadap karya-karya klasik—yang dianggap ketinggap ketinggalan zaman. Dengan demikian, jika akademisi sekarang banyak mengabaikan karya klasik, menurut saya, itu adalah tindakan yang fatal dan sangat berbahaya.
    3. Selama metodologi empirisme dan positivisme masih menjadi acuan sebagian besar ilmuwan sosial kita, bukan tidak mungkin, perkembangan ilmu sosial akan jalan ditempat atau bahkan lenyap dari jagad raya ilmu pengetahuan. Atau dalam bahasa saya, kita ibarat melakukan parodi dan kebohongan intelektual yang dilakukan berulang-ulang dan bahkan bertahun-tahun. Dampaknya ialah mengajari ketidakjujuran/kebohongan kepada mahasiswa untuk melakukan permainan konyol yang sering disebut sebagai ‘analisis data statistik’ yang bisa diubah-ubah setiap saat menurut kehendak hati si peneliti. Dampak lebih jauh ialah menghasilkan beribu-ribu rekomendasi penelitian yang hasilnya enak didengar sang penguasa/birokrat/pengambil kebijakan untuk menginvasi kebebasan masyarakat.
    4. Mengabaikan praksiologi dalam usaha meneliti fenomena sosial ibarat mengabaikan prinsip-prinsip dasar epistemologi ilmu sosial: kebenaran, non-kotradiksi, kausalitas dsb…Bagaimana kita mendapat kesimpulan yang sahih apabila mengabaikan prinsip2 tersebut?

    Dugaan saya, pengabaian hal-hal di ataslah yang sebenarnya menyebabkan ilmu sosial sekarang seolah-olah mati suri. Adakah yang memberi komentar lain?

    Posted by Giyanto | 16 December 2008, 1:05 am
  2. Sebagai info, sdr. Giyanto termasuk 1 dari 3 orang yang saya kirimi draft naskah ini, di samping Prof. Hoppe dan seorang sosiolog muda Indonesia yang sedang bermukim di AS.  Saya ucapkan terima kasih kepada Giy atas apresiasi dan tanggapannya di atas, yang dalam hemat saya amat menghunjam tajam ke jantung persoalan.

    Posted by Nad | 16 December 2008, 3:00 pm
  3. perkenankan saya mengelaborasi poin 1 dr sdr. Giyanto, yaknii bagian refleksi filosofisnya, khususnya epistemologi.

    Problem mendasar dengan pendekatan aprioristik Mises berpangkal pada notion “a priori” itu sendiri. 

    pertama-tama, harus dipertanyakan apakah memang ada pengetahuan yang validitasnya berkarakter “a priori”, yaitu mendahului segala pengalaman dan tidak terpengaruh oleh pengalaman apapun? Kita biasanya akan menunjuk logika dan matematika, tetapi kita juga harus ingat bahwa sistem logic and math umat manusia telah mengalami berbagai revisi…sepintas tampaknya revisi itu memang tidaklah menyangkal sifat a priori dr logic n math, karena, mengingat keduanya tidak perna bicr langsung ttg dunia pengalaman kita, maka dapat diklaim bahwa revisi itu tidaklah didasarkan oleh pengalaman kita. Namun, W. V. Quine telah mengingatkan bahwa hipotesis2 teoritis dlm ilmu empiris, misalnya ttg gerak partikel dlm fisika, yg kita semua akui tidaklah bersifat “a priori” jg tidak perna bicara langsung ttg dunia pengalaman kita, sehg revisi atasnya jg tidak dpt dideterminasi dr pengalaman tertentu. Mengapa kita tidak melihat logic and math sebagaimana kita melihat hipotetis teoritis itu, yaitu sbg proposisi yg benar-salahnya tidakla lepas dr pengaruh fakta, hanya saja “nasibnya” tidaklah terlalu “terikat” dengan fakta-fakta itu (Quine menamakan hal ini “germaneness”)? 

    Posted by Irianto | 27 December 2008, 6:42 pm
  4. yg kedua, andaikanla notion “a priori” itu bs tetap dipertahankan….yaitu dengan gigih mempertahankan separasi yg rigid antara “proposisi analitik” dan “sintetik.” Proposisi analitik di sini dipahami sebagai tempat bersemayam bg kebenaran a priori. Hal ini sendiri dimungkinkan krn proposisi analitik itu tidaklah berurusan sama sekali, baik langsung maupun tidak langsung, dengan fakta kehidupan kita….proposisi analitik hanya berurusan dengan apa yg disebut william james sebagai “a relation directly perceived to obtain between two artificial mental things…
    inilah harga yg harus rela kita bayar untuk memiliki proposisi yg validitasnya bersifat a priori.

    masalahnya kemudian adalah, jika ilmu ekonomi mau dipaksakan menjadi ilmu yg aprioristik, yg otomatis berarti ia hanyalah kumpulan “proposisi analitik”…proposisi yg sama sekali tidak relevan dgn dunia kehidupan kita, maka buat apa ada ilmu ekonomi?

    saya kira beberapa poin ini relevan untuk merangsang diskusi yg mendalam perihal aspek epistemologis dr ilmu ekonomi

    Posted by Irianto | 27 December 2008, 7:00 pm
  5. Terima kasih atas input Bung Irianto yang berharga ini.  Pembahasan secara tuntas pasti akan menjadi diskusi yang amat menarik dan cukup panjang. 

    Langkah-langkah yang dapat saya tawarkan adalah sbb.:

    Pertama, kita harus menyelesaikan paparan Hoppe secara lengkap; saya tidak dapat berasumsi Anda atau pembaca lain telah selesai membacanya.

    Kedua, kita harus memahami pandangan Quine dan meletakkan posisi kita apakah kontensinya terhadap 2 dogma empiris telah resolved.  Kalau kebetulan Anda punya semacam paper ekstrak ttg-nya, itu pasti akan membantu; jika tidak, saya terpaksa akan mengaisnya. 

    Ketiga, kita perlu menelaah pragmatisme James dan konsekuensi-konsekuensi pemikirannya tentang makna kebenaran dan proposisi analitis.  Terutama ketika orang menyimpulkan proposisi analitis sebagai tidak relevan bagi/dengan dunia kehidupan nyata, apakah itu cukup dapat kita terima dengan nyaman (misalnya jika 2+2 itu 4; apa itu tidak cukup riil; seberapa tidak bersentuhannyakah ini dengan fakta, dsb. ). Seberapa jauh perbedaannya dengan pandangan Lockean  bahwa proposisi semacam itu memang tidak berkait dengan “immediate” realities/facts vis-a-vis tidak berkait sama sekali dengan realitas.

    Juga perlu ditekankan di sini bahwa, di satu sisi, kita sedang mempertanyakan penggunaan  “mikroskop” empiris sebagai metodologi sekaligus pendekatan tunggal yang hegemonis dalam sains; di sisi lain, kita mencoba memperkenalkan satu “mikroskop” epistemologis lain/tandingan yang praksiologis.

    Saya dapat menerima bahwa ekonomi adalah memang ilmu aprioristik, sekumpulan “proposisi analitik.”  Namun, saya sulit menerima pandangan  yang mencampakkan keberadaan ini atas dasar tiadanya relevansi dengan kehidupan [nyata]. 

    Dalam pandangan yang saya yakini, seperti dinyatakan dalam proposisi Misesian/Hoppean yang sedang saya terjemahkan ini, pengalaman/kehidupan nyata kita mustahil akan menyimpang dari kebenaran-kebenaran teoretis praksiologis. (Anda   mungkin dapat langsung melihat perbedaan makna “teori” secara praksiologis (yang aprioris) dari yang empiris. Teori aprioris tidak berarti mutlak; dia tetap falsifiable karena ada ruang bagi kesalahan dalam bernalar.)

    Tentang tugas ilmu ekonomi: tugas dan kemampuan ekonom memang tidaklah sepenting dan sedahsyat yang dipercaya kebanyakan orang, namun pemahaman fundamental terhadap hukum-hukum ekonomi  akan menentukan nasib peradaban.  Tugas-tugas seorang ekonom akan sangat terbatas; mungkin tidak akan jauh beranjak dari fungsi edukatif semata. 

    Posted by Nad | 28 December 2008, 11:54 am
  6. thanks atas responnya bung Nad
    Problem yang saya ajukan di atas sebenarnya tidaklah perlu diikatkan dengan pikiran Quine ataupun James. Saya hanya mengutip mereka hanya karena konsep2 yg terkait dgn problem itu sudah pernah mereka utarakan dan paparan mereka saya kira berguna untuk menerangkan problem yg saya acu. Dengan demikian, sebetulnya problem itu dapat diperiksa tanpa perlu kita menguasai seluruh teks Quine ataupun James, namun cukup dengan mengandalkan akal sehat kita secara maksimal.

    Mari kita mulai dr poin ketiga anda, di mana anda keberatan dgn klaim saya bahwa “proposisi analitis,” satu2nya proposisi di mana validitas apriori itu dimungkinkan, tidaklah punya relevansi apapun dengan realitas sesungguhnya.
    Saya lihat masalah dgn keberatan anda adalah kecampuradukkan, kecampuradukkan yg memang punya basis historis, antara “proposisi analitik” dan “proposisi matematis.” Saya tidak mengatakan bahwa proposisi2 matematis itu adala proposisi analitik…..yg saya ajukan dalah cara pandang baru untuk melihat proposisi2 matematis itu sbg proposisi sintetik, di mana validitasnya pun otomatis tidaklah a priori. Relasi antara proposisi dan realitas itu resiprokal, yakni kalau suatu proposisi memang relevan dgn realitas, maka realitas hidup kita pun punya relevansi terhadap validitas proposisi itu.

    Anda mungkin akan keberatan dgn mengatakan bahwa bukankah tidak ada pengalaman tertentu yg dapat memastikan kesalahan dr suatu proposisi logis ataupun matematis? memang benar demikian, tetapi kita jg harus ingat bahwa hal yg sama pun terjadi pada hukum2 teoritis dalam ilmu fisika, misalnya hukum ttg atom; ini adalah hukum yg sama sekali tidak bicara ttg pengalaman empiris tertentu, di mana relasinya dgn hukum empiris harus selalu dimediasi oleh apa yg dinamakan Carnap sebagai “aturan korespondensi.” Sebagaimana dunia pengalaman “mendorong” kita, meski secara tidak langsung, untuk pergi dr Newton ke Einstein dan dari Aristoteles ke Darwin, maka fakta bahwa sistem logic and math kita tela mengalami berbagai revisi jg dpt dipahami scr demikian.

    (sedikit catatan historis, para empirisis pra Quine, yang kita sebut saja empirisis klasik, memang melihat proposisi math and logic sebagai “proposisi analitik”, dan mengakui bahwa mereka bisa punya relevansi bagi kehidupan kita, tidak seperti yg dituduhkan oleh Hoppe di bagian dua esainya, namun, poin para empirisis klasik ini adalah bahwa dunia pengalaman kita hanya dpt menentukan berguna-tidaknya logic and math, bukan benar-salahnya. Poin ini tertuang pd kata2 Carnap berikut, “the acceptance of a new kind of entities is represented in the language by the introduction of a framework of new forms of expressions to be used according to a new set of rules…the acceptance cannot be judged as being either true or false because it is not an assertion. It can only be judged as being more or less expedient, fruitful, conducive to the aim for which the language is intended.”
    Tetapi, karena, dalam seluruh bangunan pengetahuan kita, sangatlah sedikit, kalaupun ada, pengetahuan yang memang benar-salahnya dpt ditentukan secara definitif oleh suatu pengalaman, maka separasi antara “benar/salah oleh pengalaman” dan “berguna/tidak oleh pengalaman” pun jadi tidak berguna untuk ditarik.)

    Kalau begitu, apa sekiranya yg bisa disebut “proposisi analitik”? Sesungguhnya apa saja bisa, gak harus math and logic, selama kita dengan gigih dan dogmatis membuat suatu proposisi itu true come what may…jadi, pengalaman apapun gak akan punya pengaruh terhadap validitasnya, sehingga kita bisa katakan validitasnya bersifat “a priori. namun, konsekuensinya, proposisi itu pun jadinya tidak punya nilai apapun bagi dunia pengalaman kita.

    Singkatnya, kalau kita mau ilmu ekonomi punya relevansi, ia tidak dapat menjadi kumpulan “proposisi analitik,” dan dengan demikian status validitasnya tidaklah bisa dikatakan apriori. 

    Kesimpulan ini hanya bisa dihindari dengan menunjukkan bahwa “proposisi yg sintetik namun apriori” itu memang mungkin untuk eksis.

    Hoppe, di satau sisi, saya lihat menyadari poin ini, di mana ia berusaha menyajikan praksiologi sebagai kumpulan proposisi sintetik-apriori. Namun, adalah satu hal untuk mengklaim bahwa suatu proposisi itu sintetik-apriori, dan hal lain untuk membuktikannya. Sekedar mengklaim tentu mudah. pembuktiannya yg sulit.

    Posted by Irianto | 28 December 2008, 7:59 pm
  7. Saya sendiri melihat klaim sintetik-apriori itu sia-sia dipertahankan. untuk melihat alasannya, coba kita periksa apa yg diklaim oleh Hoppe sbg sintetik-apriori itu:
    “Aksioma ini, bahwa manusia bertindak, secara persis memenuhi segala syarat sebagai proposisi sejati yang sintetik apriori.”

     apakah “manusia itu bertindak” itu memang proposisi sintetik-apriori? Pertama2 kita harus pegang dulu bahwa “bertindak” bukanlah bagian dari definisi kita tentang “manusia”, sebab kalau sedari awal kita mendefinisikan yg namanya manusia itu adala makhluk yg bertindak, maka memang kebenaran dr proposisi itu apriori (tidak akan ada manusia yg tidak bertindak sebab melanggar definisi kita), namun proposisi itu sendiri bukanlah proposisi sintetik. Ia hanya dapat disebut “analitik.”
    Sebagai analogi, kalau dalam definisi kita akan “gagak” terkandung konsep warna “hitam”, maka proposisi “semua gagak itu hitam” memang pasti akan selalu benar, sebab kalaupun ada seekor burung dgn ciri2 fisik yg sama persis dgn gagak, kecuali warnanya putih, tetap, sesuai dgn definisi kita, burung itu bukanlah gagak.

    Jadi, bertindak haruslah bukan dr bagian yg terkandung konseptualisasi kita akan manusia.
    “Tindakan” adalah konsep yg kita lekatkan pada konsep “manusia”. supaya apriori,
    “pelekatan” itu harus bersifat niscaya, yaitu ia harus selalu kita lekatkan. Apakah hal itu berlaku pada tindakan dan manusia?
     Memang benar kita selama ini umumnya menjelaskan gerak-gerik manusia dengan melihatnya sebagai suatu “tindakan,” sehingga manusiawi jika terkesan bahwa relasi antara tindakan dan manusia itu bersifat niscaya, tetapi dua poin harus diperhatika:

    1. perlu diingat bahwa fakta historis di atas tidakla membuktikan keniscayaan tersebut (sebagaimana proposisi universal, seperti semua gagak itu hitam, tidak dpt dibuktikan benar oleh kebenaran dr proposisi partikular ttg gagak yg hitam dalam konteks ruang-waktu tertentu).

    2. Dewasa ini, sksplanasi berdasarkan “tindakan” bukanlah satu-satunya jenis eksplanasi yg dimungkinkan terhdp gerak-gerik manusia, khususnya dalam ranah ilmiah. Pat dan Paul Churchland bahkan melihat bahwa eksplanasi yg lebih akurat akan gerak gerik manusia hanya akan kita peroleh jika kita mengeliminir entitas-entitas mental (keyakinan, kehendak/tujuan) dr eksplanasi kita.

    Posted by Irianto | 28 December 2008, 8:59 pm
  8. saya harap komentar saya di atas sudah dapat menanggapi ketiga poin anda. mengenai poin yg terakhir:
    ” Juga perlu ditekankan di sini bahwa, di satu sisi, kita sedang mempertanyakan penggunaan  “mikroskop” empiris sebagai metodologi sekaligus pendekatan tunggal yang hegemonis dalam sains; di sisi lain, kita mencoba memperkenalkan satu “mikroskop” epistemologis lain/tandingan yang praksiologis.”

    saya sangat mendukung usaha bung, dan saya jg sangat mendukung usaha bung memperkenalkan ide2 Austrian School, di mana saya yakin hal itu akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas diskursus intelektual kita (yg masih terlalu didominasi dengan jalan pikiran sosialis, entah sosialis merah ataupun hijau hehehe). Tetapi, ide itu akan kehilangan nilainya kalau ia hanya dikonsumsi, bukannya diskrutinisasi. Inila mengapa kritisisme saya ajukan 

    Posted by Irianto | 28 December 2008, 9:18 pm
  9. btw, sedikit klarifikasi untuk mengantisipasi kebingungan pd bagian kritik saya akan sintetik-apriori:
    akan lebih akurat untuk mengatakan bahwa yg pertama2 kita harus pegang adalah bahwa “bertindak” bukanlah bagian yg “niscaya” atau “mutlak harus” terkandung di dalam konsep kita ttg manusia….kalau tidak begitu, proposisi “manusia itu bertindak” itu pun merupakan “proposisi analitik” dalam pengertian yg dimaksud pada separasi klasik antara sintetik-analitik, di mana sifat apriori dr validitasnya pun obvious.

    sekedar definisi saja memang belum menjamin status apriori, karena ketika kita menolak separasi klasik yg rigid itu, seperti yg saya lakukan, definisi itu dapat diterima sebagai sejenis hipotesis teoritis belaka. 

    sori kalau komen2 saya terlalu banyak mengisi space.

    Posted by Irianto | 29 December 2008, 8:20 am
  10. Bung Irianto, terima kasih sekali atas tilikan-tilikan Anda yang kritis.

    Sesuai kata Anda, ide memperkenalkan pemikiran Austria ini akan berkurang nilainya jika dia cuma dikonsumsi semata, tanpa diperiksa.  Itu sebabnya saya pandang perlu diposting di forum interaktif ini.

    Poin-poin yang Anda sajikan sangat mengesankan dan saya merasa nyaman.  Buat saya, tanggapan-tanggapan Anda yang dalam masih terlalu singkat, mengingat begitu banyak hal yang dapat digali.

    Berikut tanggapan saya:  Sebagaimana mungkin Anda sendiri rasakan, filsafat modern ilmu pengetahuan berisikan berbagai label yang kadang menjadi beban bagi pemahaman, seperti kecenderungan labelisasi biner mis. analitik/sintetis, a priori/empiris, rasionalis/empirisis, imposisionis/refleksionis, atau formalis/hermenetis.  Sebagai tambahan, saya juga menyimpan sejumlah keberatan umum terhadap tilikan Hoppe, yang selama ini tidak saya ungkapkan karena tidak yakin nilai gunanya bagi pembaca pada umumnya.

    Untuk menyikapi tulisan Prof. Hoppe seperti ini secara jernih perlu adanya tinjauan terhadap perkembangan historis gagasan empirik.  Saya pandang perlu memeriksa apakah telah terjadi pergeseran/pelebaran konseptual dalam atau definisional terhadap “empirisme klasik” dan “modern”. 

    Tanpa memeriksa perubahan tersebut, sama saja kita mengubah perbandingan “apel-tomat” menjadi “apel-apel”.  Ketika konsep-konsep pemarkah sudah berubah atau diubah, akal sehat tidak akan memadai, bahkan dapat menyesatkan, sebab dengan cara yang demikian, tidak ada lagi yang bisa diperbandingkan.  

    Instances semacam ini cukup tampak dalam beberapa poin dalam tanggapan Anda:   

    “Kalau begitu, apa sekiranya yg bisa disebut “proposisi analitik”?  Sesungguhnya apa saja bisa, gak harus math and logic, selama kita dengan gigih dan dogmatis membuat suatu proposisi itu true come what may …  jadi, pengalaman apapun gak akan punya pengaruh terhadap validitasnya, sehingga kita bisa katakan validitasnya bersifat “a priori. namun, konsekuensinya, proposisi itu pun jadinya tidak punya nilai apapun bagi dunia pengalaman kita.”

    Dalam menentukan kemaknawian proposisi Anda mengacu kepada Carnap. Tapi penyataan paradigmatis ini juga perlu diperiksa.   Kutipan tersebut selain mengarahkan empirisme ke relativisme—hal yang secara menarik akan diungkap oleh Prof. Hoppe dalam bagian selanjutnya, juga memberi semacam konvensi definisional baru bagi empirisme untuk menyikapi proposisi empiris yang tidak dapat diverifikasi oleh pengalaman.  Poin saya di sini adalah, kalau kita definisi-ulang komunisme a la Orwellian doubletalks sebagai sistem yang ingin menyejahterakan masyarakat, maka dia akan menjadi tidak berbeda dari kapitalisme.  

    Selanjutnya Anda mengatakan:

    “Saya tidak mengatakan bahwa proposisi2 matematis itu adala proposisi analitik….. yg saya ajukan dalah cara pandang baru untuk melihat proposisi2 matematis itu sbg proposisi sintetik, di mana validitasnya pun otomatis tidaklah a priori. Relasi antara proposisi dan realitas itu resiprokal, yakni kalau suatu proposisi memang relevan dgn realitas, maka realitas hidup kita pun punya relevansi terhadap validitas proposisi itu.”  

    Sedangkan tilikan praksiologis mengatakan: relasi antara proposisi dan realitas itu tidak resiprokal, melainkan hanya satu arah. Tilikan praksiologis di sini bahkan bukan lagi menyangkut pernyataan yang matematis, melainkan proposisi ekonomis.  Dalam hemat saya, justru praksiologi yang menawarkan cara pandang baru, apalagi terhadap pengerahan means untuk suatu end dalam tindakan manusia.

    “Proposisi yg sintetik namun apriori” itu sendiri bukan tilikan orisinil Hoppe, melainkan Kant, yang kelak dijustifikasi dan dikembangkan oleh Ludwig von Mises, melalui kategori tindakan. Tapi konsep tersebut juga ternyata tidak orisinil eksklusif dari Kant semata, melainkan dapat ditelusuri ke belakang hingga ke Aristoteles.  Dan Murray Rothbard termasuk salah seorang yang mencoba membangun dan mengeksplisitkan kerangka praksiologis dari sudut pandang Aristotelian, seperti terlihat dalam beberapa makalahnya tentang praksiologi.

    Menurut Ludwig von Mises, yang memformalkan praksiologi:

    Praxeology is a priori. All its theorems are products of deductive reasoning that starts from the category of action. The questions whether the judgments of praxeology are to be called analytic or synthetic and whether or not its procedure is to be qualified as “merely” tautological are of verbal interest only. (Mises, Ultimate Foundation of Economic Science, 2002: hal. 45)

    Tanpa dapat terlepas dari semua ini, kunci bagi pemahaman praksiologi dan mazhab Austria berawal pada penerimaan batasan konsep tindakan dalam pengertian Misesian.  Konsep ini dibatasi secara spesifik untuk membedakannya dari tindakan yang otomatis atau robotik, jadi tidak sesederhana pernyataan atributif semacam “hitam” pada burung gagak.  Keberatan-keberatan tertentu atas konsep pandangan telah dan masih disampaikan oleh ekonom dan pemikir penerus Mises, antara lain oleh Rothbard dan Hayek dan generasi baru pemikir Austrian, namun dapat disimpulkan secara meyakinkan bahwa konsep tersebut diterima, termasuk oleh saya sendiri.

    Konsep tindakan sebagai dasar konstruksi pemikiran Mises terutama paling mengagumkan bagi saya. Sulit menampik keniscayaan bahwa, konsep tindakanlah yang paling hakiki membedakan manusia dari makhluk animate maupun inanimate lainnya.  Tetapi mengonsumsi konsep tindakan tanpa memeriksa definisi dan penjabaran Misesian-nya, dapat membawa kita kepada pemahaman yang terbatas atau bahkan cenderung menolaknya, mengingat “tindakan”  sepertinya memang hal yang remeh karena mungkin sudah terlalu akrab dengan kita.  

    Lebih dari itu, Mises menurunkan sejumlah kategori  universal yang harus ada di dalam konsep tindakan manusia, antara lain kategori kausalitas, pengetahuan, waktu, preferensi, biaya, dan lain-lain.  Dalam hal kategori kausalitas, menjelaskan sebab ultimat yang sifatnya aprioris, sebab akal tidak dapat lagi mengacu ke penyebab ultimat. Ini yang mendasari praksiologi Misesian.  

    Pembuktian proposisi sintetik-apriori dijabarkan paling lengkap dalam tubuh ekonomi Austria, sebagai cabang praksiologi yang paling berhasil dikembangkan.  Eksposisi dan terminologi yang dipakai Mises dalam hal ilmu ekonomi memberi kita penjelasan yang paling berterima (dan tidak skizofrenik) tentang metodologi dan sifat-sifat ilmu ekonomi sebagaimana ditekuni oleh para ekonom besar sebelumnya, yang disebut-sebut dan dikutip dalam buku terjemahan saya ini.

    Bagaimana definisi yang tepat tentang manusia?  Kita tentu dapat mendefinisikannya sesuai dengan tujuan pendefinisian kita lewat bahasa—sesuai perkataan Carnap. Namun dalam hemat saya, akan kelirulah ilmuwan/pemikir sosial yang menyepelekan apalagi tidak menganggap tindakan manusia sebagai bagian hakiki dari konsepnya tentang manusia.  

    Sebab tindakanlah, jembatan antara apa yang berlangsung di pikiran dan apa yang terjadi di realitas fisik.  Kalau ini melibatkan realitas yang berbeda, di sini pulalah ada ruang kontemplasi/refleksi yang konkret bagi setiap manusia yang berakal untuk memverifikasi kesahihannya.  Ini akan menggugurkan argumen Anda no.1. Jangankan fakta historis, fakta ke depan pun tidak akan melepaskan keniscayaan tindakan manusia. 

    Penjelasan terhadap tindakan dengan mengeliminasi “entitas-entitas” mental adalah persis yang dicoba dilakukan oleh para ilmuwan sosial dengan mengkopi ilmu alam dan menjadikan manusia sebagai makluk robotik dan menjadikannya sebagai data.  Penjelasan seperti itulah yang persisnya ingin dicegah oleh praksiologi, terutama dalam cabangnya ilmu ekonominya., Kita tentu akan dapat memerikan segala gerak gerik, tapi akan luput dengan motifnya.  Seperti pernah dicontohkan Mises, ilmuwan tersebut paling banter akan dapat mencatat pergerakan random orang-orang di sebuah statiun tanpa memahami mengapa mereka bertindak demikian di sana.

    Praksiologi adalah sains eksak tentang hukum-hukum yang niscaya dan abadi dari tindakan manusia, tetapi sekaligus fallibalistis oleh sebab proses penalaran yang induktif/deduktif.

    Nah, sekian dulu Bung Irianto. Komentar-komentar Anda selanjutnya saya tunggu.

    Posted by Nad | 29 December 2008, 1:02 pm
  11. Terima kasih bung Nad atas keseriusan responnya. Saya jadi makin bersemangat; sudah lama saya berharap ada rekan diskusi di luar kolega atau mahasw saya di departemen filsafat ttg problem kita yg sangat urgen sebenarnya; problem yg dinamakan Hayek sebagai “pretensi berpengetahuan” dr para ekonom. saya meng-share kecemasan bung, hanya saja saya lihat alasannya akan terlalu lemah jika didasarkan pada teori aprioristik Mises.

    ada poin yg ingin saya klarifikasi ataupun pertanyakan kepada bung sebelumnya. Pertama adalah, masalah statement saya ttg “proposisi apapun bisa dibuat analitik yaitu dibuat come what may”, saya tidak sedang mengacu ke Carnap…jika anda perhatikan, saya hanya menjadikan Carnap sebagai contoh dr pandangan umum empirisis pra Quine, di mana mereka semua umumnya mengakui “garpu Hume,” yakni distingsi rigid antara yg analitik dan sintetik itu. Empiris klasik tidak akan mau mengakui statement saya itu….hanya empirisis Quinean yg mau. (well, saya harus fair juga sebenarnya, yaitu setelah Quine bukan berarti pengikut empirisis klasik itu sudah mati….tetap ada yg berusaha menunjukkan bahwa distingsi itu masi dapat dipertahankan…masalah mana yg benar, kita harus memutuskan sendiri dengan akal sehat kita.)
    Akan tetapi, saya terus trang belum paham benar mengapa anda menyimpulkan bahwa statement saya itu akan mengarahkan empirisisme ke relativisme? apa karena kita jadinya dapat merumuskan berbagai sistem analitik, menegaskan postulat tertentu dan menarik semua implikasinya, kemudian mengatakan itu semua valid secara apriori? Ya, memang…cuman anda harus ingat bahwa itu hanya berlaku pd “proposisi analitik” ,yg dlm cara pandang Quinean yg saya ajukan, tidaklah bernilai sama-sekali bagi kehidupan kita dan, oleh karenanya, pantas untuk disingkirkan saja dr konstruksi pengetahuan kita.  Dengan demikian, justru bagi empirisisme Quinean, bagian relativistik itu dapat kita singkirkan dgn tenang…karena itu bagian yg gak ada relevansinya.

    sekarang, kembali ke masalah “sintetik-apriori”…di sini saya kira saya dpt menunjukkan mengapa fokus yg berlebih pada historisitas problem sesungguhnya tidak berguna. Benar bahwa Kant adalah yg pertama kali fokus dengan tema itu…Aristotle mungkin jg, saya tak berani memastikan, namun, kalopun benar, saya yakin itu bukan tema utama filsafatnya. Benar pula bahwa Mises kemudian mencoba melanjutkannya…sebagaimana dpt disimak pada karya utamanya, Human Action….namun, singkatnya, so what? problemnya ada pada pembuktian bahwa proposisi yg sintetik apriori itu memang dimungkinkan; bahwa relasi antara proposisi dan realitas yg hanya satu arah itu memang bisa ada.

    Kant dulu optimis bahwa buktinya sudah ada, dan kita tinggal menjelaskannya…bukti yg ia maksud adalah geometri Euclid dan matematika……namun, ternyata geometri euclid terbukti salah sebagai teori ttg ruang dr realitas dan matematika pun mengalami berbagai revisi yg mendasar, misalnya yg diakibatkan oleh lahirnya set theory di abad 20. Singkat kata, “bukti” Kant ternyata tidaklah apriori valid. 

    Dari klaim anda ini, “Praksiologi adalah sains eksak tentang hukum-hukum yang niscaya dan abadi dari tindakan manusia, tetapi sekaligus fallibalistis oleh sebab proses penalaran yang induktif/deduktif,” tampaknya anda yakin bahwa proposisi “manusia itu bertindak” lah yg menjadi bukti yg kokoh bagi eksistensi proposisi sintetik-apriori.  Namun, apakah anda sungguh2 telah menunjukkan kekeliruan dari dua poin kritik yg saya ajukan di atas?

    anda mengatakan bahwa “i)Sulit menampik keniscayaan bahwa, konsep tindakanlah yang paling hakiki membedakan manusia dari makhluk animate maupun inanimate lainnya…
    ii) Jangankan fakta historis, fakta ke depan pun tidak akan melepaskan keniscayaan tindakan manusia. ”
     
    Poin pertama anda hanya mengeskpresikan apa yg saya sebut “fakta historis”; bahwa kita pada saat ini memang menggunakan konsep itu dengan cara demikian (kita harus ingat bahwa di masa lalu konsep tindakan justru sempat dipakai pada semua hal, yaitu pada era animisme, namun apakah itu berarti org dulu tidak dpt membedakan manusia dr yg nonhuman? kalau jawabannya dipaksakan “ya, memang orang dulu tidak bisa”, akan terlalu dogmatis rasanya. Belum lagi, di masa sekarang, sebenarnya ilmu biologi evolusioner dan ilmu komputer juga telah mengadopsi konsep tindakan sebagai basis eksplanasinya) .
    Sedangkan, poin kedua anda itulah yg sedang saya tuntut pembuktiannya. apalagi mengingat perkembangan studi neuroscience semakin menunjukkan bagaimana usulan Pat dan Paul Churchland itu dapat dilakukan dengan reliable.

    Bukan berarti saya mengatakan bahwa eksplanasi berdasarkan tindakan itu harus kita tinggalkan karena ia ternyata tidak niscaya dilakukan….bahwa gerak-geriknya bisa saja dijelaskan dgn pendekatan lain, meski mungkin kita skrg belum bisa mempraktekkannya dgn bertanggung jwb…bagi saya eksplanasi itu tetap bernilai,  namun nilainya itu sama sekali tidaklah perlu digantungkan pada notion “a priori”.  Hal ini sama seperti teori einstein tetap bernilai tanpa perlu fisikawan atau filsuf mengklaim bahwa teori itu adalah suatu teori ttg realitas yg valid secara apriori.

    Posted by Irianto | 29 December 2008, 7:59 pm
  12. Terima kasih atas kesempatan diskusi yang makin “menggairahkan” ini, Bung Ir!  Berikut sebagian tanggapan saya. Selebihnya akan saya susulkan seperlunya.

    @Bung Irianto (BI): “saya meng-share kecemasan bung, hanya saja saya lihat alasannya akan terlalu lemah jika didasarkan pada teori aprioristik Mises.”

    Selain atas urusan pribadi lain, ternyata saya butuh banyak waktu merenungi kalimat Anda ini sebelum bisa kasih tanggapan.  Agak heran juga, kenapa kalimat sederhana ini ‘memaksa’ saya untuk membaca ulang beberapa makalah dan buku-buku terkait yang pernah saya baca. (Barangkali karena Human Action telah mengubah seluruh outlook saya sejak beberapa tahun terakhir.)  Klaim saya: lebih tepat lagi, bagi saya, kalau buntut kalimat Anda diubah sedikit menjadi begini: “… akan terlalu lemah jika epistemologi teori aprioristik Mises diletakkan pada fondasi epistemologis Kantian.”

    @ BI: ada poin yg ingin saya klarifikasi ataupun pertanyakan kepada bung sebelumnya. Pertama adalah, masalah statement saya ttg “proposisi apapun bisa dibuat analitik yaitu dibuat come what may”, saya tidak sedang mengacu ke Carnap…. “

    Terima kasih! Dan saya harus minta maaf, sebab klarifikasi ini memang seharusnya tidak perlu andai saja saya lebih jelas.  Sebab, dalam tanggapan saya sebelumnya, saya tidak sedang salah tangkap; kalimat tersebut memang kalimat Anda yang saya kutip untuk menekankan paragraf saya sebelumnya (ttg. Sulitnya/sia-sianya perbandingan analitik-sintetik kalau salah satu definisinya sudah berubah.)  Ketika di paragraf selanjutnya saya mengatakan “kutipan Carnap,” maksud saya adalah kalimat Carnap yang Anda kutip, yang tadinya saya tampilkan dalam tanggapan saya tapi kemudian saya hapus atas alasan ruang, dan ternyata merusak acuannya. Jadi, sorry.  

    @ BI: Akan tetapi, saya terus trang belum paham benar mengapa anda menyimpulkan bahwa statement saya itu akan mengarahkan empirisisme ke relativisme? apa karena kita jadinya dapat merumuskan berbagai sistem analitik, menegaskan postulat tertentu dan menarik semua implikasinya, kemudian mengatakan itu semua valid secara apriori?

    Terima kasih; Anda sudah menjawab sendiri pertanyaan ini.  Dan, terus terang, pandangan Quinean masukan berharga buat saya.  Tapi saya mau kutip lagi pernyataan Carnap yang cukup menggugah ini:

    “The acceptance of a new kind of entities is represented in the language by the introduction of a framework of new forms of expressions to be used according to a new set of rules…the acceptance cannot be judged as being either true or false because it is not an assertion. It can only be judged as being more or less expedient, fruitful, conducive to the aim for which the language is intended.”

    Sepintas lalu terdengar bijak, tapi di sini saya menyinyalir adanya jejak relativisme.  Kenapa? Karena dalam sains, kecuali dalam fiksi, no new kind of entities dapat muncul sekonyong-konyong, terlepas sepenuhnya dari entitas yang telah ada sebelumnya, maupun konsekuensinya bagi entitas selanjutnya ke depan. In a sense, the trueness or falseness dari entitas-baru tersebut dapat dilacak dari relasinya dengan entitas sebelumnya. Relasi dengan entitassebelumnya adalah constraint bagi keberadaannya, yang harus logis/praksiologis.  Saya menyinyalir ini berlaku baik bagi obyek maupun bagi peristiwa. Jadi, pernyataan Carnap ini hanya cocok buat entitas ultimat, sesuatu yang given, harus kita terima, dan yang harus kita coba jelaskan.  Bagaimana komentar Anda?  

    @ BI: Kant dulu optimis bahwa buktinya sudah ada, dan kita tinggal menjelaskannya…bukti yg ia maksud adalah geometri Euclid dan matematika……namun, ternyata geometri euclid terbukti salah sebagai teori ttg ruang dr realitas dan matematika pun mengalami berbagai revisi yg mendasar, misalnya yg diakibatkan oleh lahirnya set theory di abad 20. Singkat kata, “bukti” Kant ternyata tidaklah apriori valid.”

    Seperti tersirat dalam kutipan Mises di tanggapan saya sebelumnya, saya dapat setuju dengan argumen Anda ttg kesiaan dalam mempertahankan klaim lemah ttg sintetik-apriori. Tapi sekarang kita sedang membahas posisi Hoppe, yang dalam buku ini mau meletakkan pondasi epistemologis bagi pemikiran Mises. 

    Pada titik ini saya memutuskan akan mengirimkan seluruh naskah kepada Anda; sebab tentang Euclidean geometry Prof. Hoppe sendiri sudah menanggapinya (di bagian IV).  Jadi, mohon tunggu email saya (saya asumsikan Anda bersedia, he,he).  Pada titik ini juga, sehabis membaca tilikan Wittgenstein dari sebuah paper, saya merasa perlu sedikit oto-kritik tentang pernyataan seputar “relasi yang satu arah.”  Sebagian ekonom Austrian memaknainya seperti itu—mis. Rothbard dan muridnya; saya juga percaya begitu. Tetapi apa memang demikian?  Bukankah: what our minds cannot grasp, we cannot say.

    @ BI: Poin pertama anda hanya mengeskpresikan apa yg saya sebut “fakta historis”; bahwa kita pada saat ini memang menggunakan konsep itu dengan cara demikian (kita harus ingat bahwa di masa lalu konsep tindakan justru sempat dipakai pada semua hal, yaitu pada era animisme, namun apakah itu berarti org dulu tidak dpt membedakan manusia dr yg nonhuman? kalau jawabannya dipaksakan “ya, memang orang dulu tidak bisa”, akan terlalu dogmatis rasanya.

    Dalam pemahaman Misesian yang juga saya terima, tidak ada polilogisme. Dalam praksiologi, tidak soal apakah di era animisme orang dapat atau tidak dapat membedakan manusia dari yang non-manusia. Yang ditelisik secara formal dalam kaitannya dengan  ilmu ekonomi sebagai cabang praksiologi: apakah tindakan yang mereka lakukan lewat cara dalam upaya mencapai tujuan mereka (apapun itu; a.l. dengan memperlakukan obyek sebagai makhluk animate) akan membawa ke hasil atau efek yang diharapkan.  Ekonomi tidak mempersoalkan, misalnya, mengapa orang memilih tindakan tersebut—sebab itu dianggap termasuk ke ranah psikologi), atau apakah mereka seharusnya melakukan tindakan tersebut—sebab itu sudah masuk ke ranah etis.  Dengan kata lain, konsep tindakan dalam definisi Misesian ini tetap sahih, incontestible, dapat diterapkan bagi tindakan orang di masa lalu maupun di masa depan. 

    Tentang neurosains ataupun ilmu komputer, saya tidak bisa berkomentar. Saya malah kepingin tahu konsep tindakan dari Pat dan Paul Churchland dan apa usulan mereka. Pernah sekali waktu saya membaca artikel neurosains tentang cinta, di National Geographic; tapi tilikannya terlalu superfisial sehingga sulit saya apresiasi. (Ini tautannya).

    Nah, sekian dulu; semoga waktu luang Anda masih banyak.

    Posted by Nad | 31 December 2008, 2:46 am
  13. thanks untuk tanggapannya bung Nad dan terima kasih sekali lagi untuk naskah terjemahan esai Hoppe-nya. Jadi tercetus gagasan pada diri saya untuk membuat review kritis-komprehensif terhadap esai itu, di mana berbagai poin bung Nad ttg praksiologi saya kira akan dapat saya tanggapi secara lebih memuaskan di dalamnya. Saya akan usahakan untuk membuatnya (tidak berani janji, sebab saya sebetulnya masih terikat janji dgn org lain untuk membuat beberapa paper hehehe), di mana, nantinya, kalau review itu dilihat oleh bung cukup bermutu dan berguna, bisa saja dimuat dalam jurnal online ini. Akan tetapi, kalau memang dirasa kurang bernilai, yah tentunya tidak apa2 jika diacuhkan saja (no hard feeling kok hehe).

    Beberapa poin yg saya bisa berikan untuk memberikan tanggapan yg rada cepat2 dlm kesempatan ini adalah sbb:
    ttg poin saya soal bagaimana konsep “tindakan” (belief-desire) itu, di masa lalu, dipakai orang baik terhadap manusia maupun terhadap benda2 lainnya (era animisme) itu dimaksudkan untuk menjawab apa yg saya tangkap sebagai kecemasan bung di balik pernyataan anda ini, “Sulit menampik keniscayaan bahwa, konsep tindakanlah yang paling hakiki membedakan manusia dari makhluk animate maupun inanimate lainnya,” yaitu kecemasan bahwa kalau kita tidak memakai konsep “tindakan” untuk menjelaskan gerak gerik manusia, maka kita pun akan kehilangan ciri distingtif dari manusia.
    Kecemasan ini saya kira jg dipegang oleh byk orang lain. namun, fakta historis bahwa dulu orang ternyata menggunakan konsep “tindakan” (belief-desire) untuk semua hal menunjukkan bahwa ciri yg membedakan manusia dr makhluk lain tetaplah dapat ditemukan di luar konsep tindakan. Orang masa lalu membuktikannya.
    Dengan kata lain, kecemasan itu sebetulnya tidak berdasar; hanya disebabkan oleh ketakutan kita akan perubahan sebenarnya. 

    Mengenai bagaimana ilmu komputer dan ilmu biologi evolusioner skrg jg menggunakan konsep “tindakan” (belief-desire) itu dlm eksplanasinya dpt dilihat, secara sederhana, pd eksplanasi yg umumnya diberikan pada gerak-gerik “virus komputer” dan “gen” (lih, misalnya, tesis selfish gene yg terkemuka dr Dawkins). Ini sekedar contoh bahwa konsep “tindakan” bukanlah suatu hal yg “eksklusif” manusia, dan, dengan sendirinya, menguatkan klaim bahwa distingsi antara human dan nonhuman tidak bisa didasarkan pada aplikasi konsep “tindakan” belaka

    usulan pasangan suami-istri Churchland adala meninggalkan konsep “tindakan” itu, atau, dgn kata lain, basis dr eksplanasi kita akan gerak-gerik dan, bahkan, pengalaman, manusia bukan lagi konsep “belief” dan “desire”. jd, anda tidak dapat meminta konsep tindakan dr pat dan paul karena mereka justru ingin meninggalkannya. Hal itu dilakukan karena penjelasan yg lebih memuaskan terhadap perilaku dan pengalaman (bahkan pengalaman internal) kita, baik dr segi prediktabilitas, presisi, dan progresivitas teoritis, telah dimungkinkan berkat kemajuan pesat dari neurobiologi. Pandangan mereka dpt dirujuk pada paper Paul misalnya, “Eliminative Materialism and Propositional Attitude” dan paper Patricia Smith Churchland di http://patchurchland.net/papers/neuroscience82mindbrainreductionphilsci.pdf
    memang pendekatan alternatif itu sekarang ini masih belum dapat dibangun dengan komprehensivitas yg memadai….namun, yg ditekankan oleh Pat dan Paul adalah bahwa kita seharusnya tidak menutup diri dari kemungkinan tersebut.

    mengenai apakah Hoppe memang dapat mengatasi kelemahan mises (yg anda sinyalir berpangkal pada epistemologi Kantian Mises)…..saya kira uraian yg lengkap lebih baik saya berikan dlm review nanti…namun, satu hal yg perlu diingat adalah “berbeda belum tentu berarti lebih baik” 🙂

    mengenai poin anda soal relativisme…maaf , tapi saya masih belum merasa paham benar akan alasan anda, sehingga saya tidak sepenuhnya yakin komentar apa yg harus saya berikan. apaka jejak relativisme terdapat pd kenyataan bahwa “set of rules” itu, yg menentukan apa saja entitas yg dapat dinyatakan dan tidak, bagi Carnap, tidak dapat ditentukan benar-salahnya oleh realitas? kalo ini maksudnya, jawabannya memang “ya”…ia memang punya nuansa relativistik…namun, ini tidaklah mengimplikasikan bahwa set of rules itu “ultimate”, dlm arti sudah final, sebab set of rules yg kita terima itu, bagi Carnap, tetap bisa berubah, hanya saja perubahan itu tidak didasarkan oleh kebenaran melainkan oleh kegunaan.

    Posted by Irianto | 4 January 2009, 12:14 am
  14. ohya, sori, tp sedikit oto-koreksi bung…

    dlm statement saya:

    "…menguatkan klaim bahwa distingsi antara human dan nonhuman tidak bisa didasarkan pada aplikasi konsep “tindakan” belaka"

    akan lebih tepat, untuk menyatakan poin saya, jika…"tidak bisa didasarkan pd aplikasi konsep tindakan belaka"

    diganti dengan "tidak perlu didasarkan pada aplikasi konsep tindakan"

    trims

    Posted by Irianto | 4 January 2009, 7:19 am
  15. Terima kasih, bung Iri!  Semoga Anda punya waktu untuk review tersebut.  Di sini ada yang perlu sedikit saya luruskan tentang pandangan saya tentang konsep “tindakan” a la Mises. Keliatannya penerimaan kita berbeda.  Sama sekali saya tidak dirundung kecemasan; yang ada hanya kekaguman atas kejenialan Mises.
    Menurut saya aneh sekali kalau ada orang yang membantah bahwa tindakan yang dipilih manusia secara sengaja untuk suatu tujuan tertentu disamakan dengan “tindakan” makhluk non-manusia. (Tindakan manusia dalam pengertian ini bukan seperti gerak-gerik semacam knee-jerks; atau gerakan refleks atau instingtif, bung Iri!)

    Saya tidak terlalu memedulikan bagaimana orang di masa lalu bertindak; atau konsepsi orang sekarang terhadap tindakan mereka. Tidak peduli apakah orang-dulu menganggap benda mati sebagai makhluk hidup yang bertindak; atau bahwa sebagian hewan juga memiliki kemampuan underdeveloped dalam hal melakukan tindakan (dalam pengertian Misesian). Yang perlu diingat adalah subjek kajian kita adalah manusianya.   Yang Mises tekankan adalah adanya free will dan kebersengajaan tindakan dan hukum-hukum logika tindakan sesuai dengan struktur logis (“format”) benak manusia, yang dianggapnya apriori sudah ada sebagai given.  Semua ini musykil diperbandingkan dengan gerak-gerik virus; apalagi virus komputer. 

    Anyways, trims juga atas tautan ke artikel Churchland; akan saya unduh dan pelajari isinya.  Dugaan kuat saya, Churchlands membawa kita kepada arah yang berbeda tentang apa yang ingin kita ketahui tentang manusia. Juga, walau mereka dan Mises sama-sama berangkat dari konsep tindakan, pandangan dan fokus mereka sama sekali berbeda.  Saya akan tahu sendiri kelak, apakah dugaan awal ini keliru.

    Posted by Nad | 5 January 2009, 2:44 am
  16. Saya kutipkan perkataan Mises yang cukup relevan dengan maksud saya:

    “Kesimpulan terbaik yang harus dipetik dari kajian-kajian Levy-Bruhl justru berasal dari kata-katanya sendiri: “Pikiran primitif, sebagaimana halnya pikiran kita, sama gelisahnya dalam mencari alasan di balik kejadian; hanya saja ia tidak mencarinya di arah yang sama dengan arah kita.”

    Ada kerancuan berpikir di mana tulisan-tulisan Lucien Levy-Bruhl secara umum dipercayai sebagai dukungan terhadap doktrin yang menyatakan bahwa struktur logis manusa primitif itu berbeda secara kategoris dari struktur manusia beradab. Justru sebaliknya, apa yang Levy-Bruhl laporkan, atas dasar penelitian saksama terhadap seluruh bahan etnologis yang ada mengenai fungsi-fungsi mental manusia primitif membuktikan dengan jelas bahwa hubungan-hubungan logis-fundamental serta kategori-kategori pikiran dan tindakan ternyata memainkan peran yang sama baik dalam aktivitas intelektual manusia liar maupun dalam aktivitas intelektual yang dilakukan di masa kehidupan kita. Kandungan pikiran manusia primitif memang berbeda dari kandungan pikiran kita, tetapi struktur formal dan logisnya sama bagi keduanya.

    “Seorang petani yang mendambakan hasil panen yang melimpah mungkin akan memilih berbagai cara-sesuai dengan isi gagasannya. Ia mungkin akan melaksakan ritual magis; memulainya dengan cara berjiarah; menyalakan lilin untuk santo pelindungnya; atau mungkin memakai pupuk lebih banyak atau jenis yang lebih baik. Apapun yang dilakukannya, hal tersebut selalu berupa tindakan, yaitu pemanfaatan suatu cara untuk mencapai suatu tujuan. Sihir dalam makna luasnya merupakan sejenis teknologi. Eksorsisme merupakan tindakan sengaja atas dasar pandangan terhadap dunia yang oleh sebagian besar dari sejawat kita akan dihujat sebagai sesuatu yang takhayul dan oleh karenanya tidak pantas dilakukan. Namun konsep tindakan tidak mengimplikasikan bahwa tindakan tersebut dibimbing oleh teori yang benar dan teknologi yang menjanjikan keberhasilan dan bahwa hal tersebut akan mencapai tujuannya. Ia hanya mengimplikasikan pelaku tindakan tersebut percaya bahwa cara yang ditempuh akan menghasilkan efek yang diinginkan.”

    (Sumber: http://akaldankehendak.com/?p=47)

    Posted by Nad | 5 January 2009, 2:55 am
  17. thanks untuk tanggapannya bung Nad

    perkenankanlah saya sedikit mengklarifikasi lagi maksud saya…

    saya tidak menyangkal bahwa konsep “tindakan” (action) dapat diberlakukan untuk menjelaskan gerak-gerik/perilaku (behavior) manusia di masa lalu (tidak untuk semua gerak tentunya, sebab, seperti yg bung telah terangkan, ada gerak yg sifatnya refleks/unconscuous…namun secara umum, memang konsep itu tetap dapat diberlakukan dgn cukup berguna). Saya setuju dengan Mises bahwa yg ditunjukkan oleh levy bruhl hanyalah bahwa manusia di masa lalu memiliki content belief dan desire yg berbeda dari kita (misalnya, mereka yakin kalau melakukan ritual tertentu akan menghasilkan cuaca baik; keyakinan yg memang sulit ditemukan lagi di antara kita saat ini).

    Poin saya adalah bahwa konsep tindakan itu bukanlah suatu hal yg eksklusf “milik” manusia, dengan menunjukkan contoh2, baik pada masa lalu maupun pd masa sekarang.

    Saya menekankan poin ini sekedar untuk mengingatkan bahwa distingsi antara human dan nonhuman sebenarnya dapat ditarik tanpa perlu didasarkan pada eksistensi entitas mental berupa “belief” dan “desire” (seolah2 hanya manusia yg boleh memilikinya).

    anda mungkin mengira bahwa jelas salah jika kita mengatribusikan belief-desire itu pada benda-benda yg selama ini kita anggap sebagai “benda mati” atau “benda tak berkesadaran”, berbeda dengan manusia. Namun, apakah alasan yg dapat mendukung klaim benar-salah itu? tolak ukur yg saya lihat paling masuk akal untuk diambil adalah dengan melihat apakah gerak-gerik benda itu memang dapat diprediksi dengan, setidaknya, relatif akurat, berdasarkan atribusi kita akan belief dan desire tertentu pada benda tersebut.
     
    Berdasarkan tolak ukur instrumentalistik inilah ilmu biologi evolusioner dan komputer mengaplikasikan konsep tindakan pada subject matternya. Memang mungkin akan terasa aneh…namun, kita jg tidak bole lupa bahwa semua teori ilmiah yg revolusioner selalu dilihat sebagai keanehan pd awalnya hehehe 

    Posted by irianto | 5 January 2009, 2:38 pm
  18. sori bung…sedikit oto-koreksi lagi (maaf saya sering melakukan ini, sebab saya tidak menemukan fitur edit comment hehehe)

    akan lebih lengkap jika poin saya tentang tolak ukur instrumentalistik itu dirumuskan sbb: "tolak ukur yg saya lihat paling masuk akal untuk diambil adalah dengan melihat apakah gerak-gerik benda itu memang dapat diprediksi dengan, setidaknya, relatif akurat, berdasarkan atribusi kita akan belief, desire, dan 'level rasionalitas' tertentu pada benda tersebut."

    thanks

    Posted by irianto | 5 January 2009, 9:43 pm
  19. @ BI: “tolak ukur yg saya lihat paling masuk akal untuk diambil adalah dengan melihat apakah gerak-gerik benda itu memang dapat diprediksi dengan, setidaknya, relatif akurat, berdasarkan atribusi kita akan belief, desire, dan ‘level rasionalitas’ tertentu pada benda tersebut.”

    Thanks.  Ini komentar saya: kalau belief dan desire sudah ‘berhasil’ Anda pakai tanpa tanda petik, apa yang mengekang bung untuk menghilangkan pemarkah tersebut bagi  “rasionalitas”?  Saya tidak kuasa berkomentar lebih panjang sekarang, sebab di sekeliling saya saat ini ada banyak nyamuk yang entah “percaya” bahwa mereka harus mengigiti saya, atau semata sedang “berkehendak” demikian, lantaran mungkin menurut pemikiran mereka, mereka berpeluang besar menghisap darah seorang yang sedang insomniak dan yang lagi asyik menikmati komentar dari kawan barunya…. He, he.

    Posted by Nad | 6 January 2009, 1:35 am
  20. […] (Kembali ke Bagian 1) […]

    Posted by Akal & Kehendak | Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (2) | 26 October 2016, 5:36 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory