Austrian economics

Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (2)

Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak
Volume II Edisi no. 61 Tanggal 22 Desember 2008
Judul Asli: Economic Science and the Austrian Method
Penerbit: Mises Institute
Pengarang: Prof. Hans-Hermann Hoppe
Draft Terjemahan: Nad

Bagian II: PRAKSIOLOGI DAN EKONOMI

(Kembali ke Bagian 1)

Mazhab-mazhab pemikiran non-praksiologis secara keliru meyakini bahwa hubungan-hubungan antaraperistiwa tertentu adalah kaidah-kaidah yang empiris, padahal sudah semestinya mereka bersifat praksiologis-logis. Dan dengan demikian mereka berperilaku seolah pernyataan bahwa “sebuah bola tidak dapat berwarna merah dan tidak merah seluruhnya pada saat yang sama” harus diuji di Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia (tentu saja riset ngawur semacam itu membutuhkan dana yang besar). Lebih jauh, para [ekonom] non-praksiologis juga percaya bahwa hubungan-hubungan antara peristiwa-peristiwa tertentu merupakan kaidah-kaidah empiris yang mapan padahal pemikiran apriori dapat memperlihatkan bahwa mereka tidak lebih dari sekadar informasi tentang hubungan-hubungan historis yang tak terduga antar-peristiwa, yang tidak memberikan kita pengetahuan apapun tentang peristiwa yang akan berlangsung di masa depan.

Ini mengilustrasikan kebingungan mendasar yang dialami mazhab-mazhab non-Austria: kebingungan terhadap perbedaan kategoris antara teori dan sejarah serta implikasi-implikasi yang ditimbulkan perbedaan tersebut bagi persoalan prediksi sosial ekonomi.

Saya harus memulai kembali dengan mendeskripsikan empirisme, filsafat yang memandang bahwa ekonomi dan disiplin sosial pada umumnya mengikuti logika penelitian yang sama dengan, misalnya, ilmu fisika. Saya akan menjelaskan alasannya.  Menurut empirisme-pandangan yang paling umum dipegang orang tentang ekonomi-tidak ada perbedaan kategoris antara penelitian teoritis dan historis. Dan akan saya jelaskan apa implikasinya terhadap gagasan untuk membuat prediksi sosial. Pandangan Austria yang sangat berbeda akan kita kembangkan dari kritik dan penyangkalan terhadap posisi golongan empiris.

Empirisme dicirikan oleh fakta bahwa dia menerima dua proposisi dasar yang saling terkait secara intim.[1] Yang pertama dan yang terutama adalah bahwa: Pengetahuan tentang realitas, yang disebut juga pengetahuan empiris, harus dapat diverifikasi atau setidaknya dipatahkan oleh pengalaman observasional. Pengalaman hasil pengamatan hanya dapat membawa kepada pengetahuan yang tidak terduga–sebagai lawan dari pengetahuan yang pasti terjadi, oleh karena dia selalu berbentuk sedemikian rupa sehingga, pada prinsipnya, dia bisa saja berbeda dari yang sebenarnya. Artinya, orang tidak dapat mengetahui terlebih dahulu sebelum di depan pengalaman-sebelum betul-betul melakukan semacam pengalaman observasional secara khusus-jika konsekuensi dari peristiwa yang riil akan berupa satu hal atau lainnya. Sebaliknya, jika pengetahuan tidak bisa diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman observasional, maka hal itu bukan pengetahuan tentang apapun yang riil. Ia semata pengetahuan tentang kata-kata, tentang pemakaian istilah-istilah, tentang tanda-tanda dan aturan-aturan transformasional atas tanda-tanda tersebut. Dengan kata lain, ia merupakan pengetahuan analitis, bukan empiris. Dan sangatlah meragukan, menurut pandangan ini, bahwa pengetahuan analitis harus dianggap pengetahuan sama sekali.

Asumsi kedua dari empirisme memformulasikan perpanjangan dan pengaplikasian asumsi pertama tadi terhadap persoalan-persoalan kausalitas, penjelasan kausal, dan prediksi. Menurut empirisme, menjelaskan secara kausal atau memprediksikan fenomena riil adalah memformulasikannya dalam bentuk pernyataan sejenis “jika A, maka B” atau, jika variabel-variabel memungkinkan pengukuran kuantitatif, “jika A mengalami kenaikan (penurunan), maka terjadi kenaikan (penurunan) pada B.”

Sebagai pernyataaan yang mengacu kepada realitas (sebut saja A dan B, sebagai fenomena riil), kesahihannya tidak pernah dapat dicapai secara pasti, maksudnya, dengan cara memeriksa proposisi itu sendiri, atau proposisi lainnya yang darinya proposisi yang diteliti dapat dideduksi secara logis. Pernyataan tersebut akan selalu dan senantiasa bersifat hipotetis, kebenarannya tergantung pada hasil pengalaman observasional di masa depan yang tidak dapat diketahui di depan. Jika pengalaman mengonfirmasikan penjelasan kausal yang hipotetis, itu tidak membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Seandainya pengamatan seseorang membuktikan bahwa peristiwa B mengikuti A sesuai prediksi, hal ini tetap tidak membuktikan apa-apa. A dan B adalah istilah-istilah yang umum, abstrak, atau dalam terminologi filsafat, merupakan universal-universal, yang mengacu kepada peristiwa dan proses di mana terdapat (atau mungkin terdapat, secara prinsip) peristiwa-peristiwa lain dalam jumlah tak-terhingga. Pengalaman di masa depan masih mungkin menggugurkannya.

Dan jika pengalaman menggugurkan hipotesis, ini tidak juga dianggap sesuatu menentukan. Sebab jika diamati bahwa A tidak diikuti oleh B, fenomena yang secara hipotetis dianggap terkait masih mungkin berhubungan kausal. Dapat saja terjadi bahwa dalam keadaan atau dengan variabel lain, yang sejauh ini terabaikan atau tidak terkendalikan, telah membuat mustahil pengamatan terhadap hubungan yang dihipotetiskan. Paling maksimum, falsifikasi hanya membuktikan bahwa hipotesis tertentu yang tengah diselidiki tidak sepenuhnya benar sebagaimana adanya. Ia memerlukan penghalusan, sejumlah spesifikasi variabel-variabel tambahan yang harus dikendalikan sebelum kita dimungkinkan mengamati hubungan yang dihipotetiskan antara A dan B. Tetapi, untuk jelasnya, sebuah falsifikasi tidak akan pernah membuktikan, sekali dan selamanya, ketiadaan hubungan antara sejumlah fenomena, sebagaimana sebuah konfirmasi tidak akan pernah membuktikan bahwa hubungan tersebut benar-benar ada.[2]

Jika kita pertimbangkan posisi ini, kita melihat bahwa ia sekali lagi mengimplikasikan semacam penolakan terhadap pengetahuan yang sifatnya apriori yang di saat yang sama juga merupakan pengetahuan tentang apa-apa yang riil. Setiap proposisi yang mengklaim diri sebagai apriori dapat, menurut empirisme, menjadi tidak lebih daripada tanda di kertas yang berhubungan satu sama lain per definisinya atau per stipulasinya, arbitrer; dan dengan demikian sama sekali tidak bermakna apa-apa: ia tidak memiliki kaitan dengan dunia riil apapun. Sistem tanda semacam itu hanya menjadi teori yang secara empiris bermakna begitu sebuah penafsiran empiris diberikan kepada simbol-simbolnya. Namun, begitu penafsiran diberikan terhadap simbol-simbol tersebut, teori itu tidak lagi bersifat benar secara apriori melainkan menjadi dan tetap selamanya bersifat hipotetis.

Selain itu, menurut empirisme, kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah satu hal merupakan penyebab hal lain. Jika kita ingin menjelaskan suatu fenomena, hipotesis kita tentang penyebab-penyebab yang memungkinkan, tidak terkendala dalam cara apapun oleh pertimbangan-pertimbangan apriori. Segala hal dapat memiliki pengaruh terhadap hal apa pun.  Kita harus menemukan melalui pengalaman apakah hal tersebut memang benar demikian atau sebaliknya; akan tetapi pengalaman tidak akan pernah memberi kita jawaban yang pasti terhadap pertanyaan ini.

Butir selanjutnya membawa kita ke topik sentral di bagian ini, yakni hubungan antara sejarah dan teori. Kita mencatat bahwa menurut empirisme tidak ada perbedaan prinsipil antara penjelasan historis dengan yang teoritis. Setiap penjelasan bertipe sama. Untuk menjelaskan sebuah fenomena kita menghipotetiskan fenomena lain sebagai penyebabnya, dan kemudia menelisik apakah sebab yang kita hipotetiskan benar-benar mendahului efeknya bersama waktu. Perbedaan antara penjelasan historis dan penjelasan teoritis hanya muncul sejauh penjelasan historis mengacu kepada peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu, sedangkan penjelasan teoritis dianggap sebagai penjelasan, atau prediksi, terntang efek yang belum terjadi. Akan tetapi, secara struktural, tidak ada perbedaan antara penjelasan historis dan prediksi teoritis. Namun demikian, terdapat perbedaan pragmatis yang menjelaskan mengapa kelompok empiris secara khusus menekankan pentingnya daya prediktif teori dan merasa tidak puas dengan mengujinya saja vis-à-vis dengan data historis.[3] Alasan untuk ini cukup jelas bagi orang yang pernah terlibat dalam permainan dungu berupa analisis data. Jika fenomena yang ingin dijelaskan sudah terjadi, maka amat mudah mencari segala macam peristiwa yang terjadi sebelumnya bersama waktu dan yang dapat dianggap sebagai penyebabnya. Selain itu, jika kita tidak ingin memperpanjang daftar penyebab yang mungkin diperoleh dengan mencari lebih banyak variabel yang mendahului, kita dapat melakukan hal berikut (dan di era komputerisasi, semua ini bahkan lebih mudah dilakukan): kita dapat mengambil salah satu variabel yang mendahului dan mengujikan hubungan-hubungan  fungsional yang berbeda antara hal tersebut dan variabel yang ingin dijelaskan-hubungan-hubungan yang linear atau kurva-linear, fungsi rekursif atau non-rekursif, relasi penambahan (aditif) atau multiplikatif, dan sebagainya. Kemudian satu, dua, tiga, kita akan menemukan apa yang kita cari: hubungan fungsional yang sesuai dengan data. Dan Anda akan menemukan tidak cuma satu melainkan sejumlah apapun yang mungkin Anda inginkan.

Tetapi yang mana,  dari semua peristiwa pendahulu atau dari segala macam hubungan yang timbul tersebut, yang merupakan penyebab atau memiliki hubungan yang efektif secara kausal? Di sini,  menurut empirisme, tidak ada pertimbangan apriori yang dapat membantu kita. Inilah  alasan mengapa para empiris menekankan pentingnya prediksi. Dari sejumlah besar penjelasan historis tersebut, untuk mengetahui mana yang benar-atau setidaknya mana yang tidak salah-kita diminta mengujinya dengan menggunakannya dalam memprediksikan peristiwa-peristiwa yang belum terjadi, melihat sebagus apa mereka, dan dengan demikian membuang penjelasan-penjelasan yang salah.

Begitulah empirisme dan gagasan-gagasannya tentang teori, sejarah, dan peramalan. Saya tidak akan menganalisis secara mendetil seputar pertanyaan apakah penekanan terhadap keberhasilan daya prediksinya banyak mengalami perubahan atau tidak, jika memang berubah sama sekali, dalam hubungannya dengan implikasi-implikasi empirisme yang jelas agak relativistik. Cukup diingat saja bahwa menurut doktrinnya sendiri, konfirmasi prediktif ataupun falsifikasi prediktif tidak akan menolong kita memutuskan ada-tidaknya hubungan kausal antara sepasang variabel.  Ini akan membuatnya tampak agak meragukan bahwa akan ada sesuatu yang dapat diperoleh dengan menjadikan prediksi sebagai titik tujuan inti filsafat seseorang.

Saya ingin membantah titik awal filsafat para empiris. Ada sejumlah bantahan konklusif terhadap empirisme. Saya akan menunjukkan bahwa pembedaan yang dilakukan oleh kelompok empiris antara pengetahuan empiris dan pengetahuan analitis sebagai suatu kesalahan dan mengontradiksikan dirinya sendiri.[4] Ini akan mengarahkan kita untuk mengembangkan posisi Austria terhadap teori, sejarah, dan peramalan.

Klaim sentral empirisme adalah sebagai berikut: pengetahuan empiris harus dapat diverifikasi atau falsifikasi melalui pengalaman; sedangkan pengetahuan analitis, yang tidak begitu dapat diverifikasi atau falsifikasi, dengan demikian tidak dapat berisi pengetahuan empiris apapun. Jika ini benar, maka cukup fair untuk ditanyakan: Kalau begitu apa status pernyataan fundamental ini mengenai empirisme? Jelas, dia harus bersifat analitis atau empiris.

Pertama, mari asumsikan proposisi tersebut sebagai proposisi analitis. Menurut doktrin empiris, proposisi analitis tidak lain semacam coretan di atas kertas, atau udara panas, yang tidak bermakna sama sekali. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang sesuatu yang riil. Dengan demikian harus disimpulkan, empirisme bahkan tidak mampu mengatakan dan memaksudkan apa yang tampaknya dikatakan atau dimaksudkannya. Akan tetapi jika, di sisi lain, proposisi tersebut benar-benar mengatakan atau memiliki mengandung maksud sebagaimana apa yang kita pikirkan sejauh ini, maka dengan demikian dia menginformasikan kita tentang sesuatu yang riil. Sesungguhnya, proposisi tersebut menginformasikan kita tentang struktur fundamental dari realitas. Dia mengatakan bahwa di dalam realitas tidak ada yang dapat diketahui sebagai satu hal atau lainnya, sebelum hipotesis kita dikonfirmasikan atau dipatahkan oleh pengalaman di masa depan.

Seandainya proposisi yang bermakna ini dianggap sebagai pernyataan analitis, atau  pernyataan yang tidak mengijinkan falsifikasi apapun dan yang kebenarannya dapat dibangun dengan menganalisis istilah-istilahnya sendiri, maka di sini kita mendapati kontradiksi yang menganga lebar. Empirisime membuktikan diri sebagai omong kosong yang membantah dirinya sendiri.[5]

Jika demikian halnya, mungkin kita harus memilih opsi lain dan mendeklarasikan pembedaan fundamental yang dilakukan oleh kaum empiris antara pengetahuan yang empiris dan pengetahuan analitis sebagai pernyataan empiris. Namun, jika demikian, posisi kaum empiris tidak lagi bermakna. Sebab jika ini dilakukan, harus diakui bahwa proposisi tersebut-sebagai proposisi empiris-mungkin saja salah dan orang berhak mendengarkan atas dasar kriteria apa ia musti memutuskan apakah halnya memang demikian. Yang lebih menentukan lagi, sebagai proposisi empiris, baik benar maupun salah, ia hanya dapat menyatakan fakta historis, atau sesuatu yang seperti ini: “Semua proposisi yang diteliti di sini tentu saja jatuh ke dalam dua kategori, yakni analitis dan empiris.” Pernyataan tersebut akan menjadi tidak relevan sepenuhnya untuk menentukan apakah memungkinkan menghasilkan proposisi-proposisi yang benar secara apriori dan masih tetap empiris. Tentu, jika klaim sentral empirisme dinyatakan sebagai proposisi yang empiris, empirisme akan berhenti menjadi sebuah epistemologi, sebuah logika sains, dan akan menjadi tidak lebih dari sekadar konvensi verbal arbitrer untuk menyebut sebuah cara arbitrer tertentu untuk berurusan dengan with pernyataan tertentu nama arbitrer tertentu. Empirisme akan menjadi posisi yang tidak memiliki justifikasi apapun.

Apakah yang dibuktikan oleh langkah pertama kritik kita terhadap empirisme? Langkah ini membuktikan dengan jelas kesalahan gagasan kaum empiris tentang pengetahuan, dan ini dibuktikan melalui argumen apriori yang bermakna. Dan dengan melakukan hal ini, ia menunjukkan kebenaran gagasan Kantian dan Misesian tentang proposisi sintetik apriori sejati. Secara lebih khusus, terbukti bahwa hubungan antara teori dan sejarah tidaklah sebagaimana yang digambarkan oleh empirisme. Pasti ada pula sebuah ranah teori-teori yang bermakna secara empiris-yang secara kategoris berbeda dari satu-satunya gagasan tentang teori yang keberadaannya diakui oleh empirisme. Pasti ada pula teori yang apriori, dan hubungan atnara teori dan sejarah dengan demikian pasti berbeda dan lebih rumit daripada yang menurut empirisme harus kita percaya. Seberapa jauh perbedaan ini akan menjadi jelas saat saya kemukakan argumen lain yang menolak empirisme, yakni sebuah argumen apriori lain, dan sebuah argumen apriori lain yang menolak tesis  yang diimplikasikan dalam empirisme bahwa relasi antara teori dan riset empiris, sama di setiap bidang pengetahuan.

Secocok apapun penerapan gagasan kaum empiris dalam ilmu-ilmu alam metode empiris, mustahil dia dapat diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial (menurut pendapat saya, bahkan dalam ilmu alam pun empirisme tetap tidak sesuai; tetapi saya tidak akan memasuki wilayah ini di sini)[6].

Tindakan adalah bidang fenomena yang membentuk apa yang kita anggap sebagai kajian ilmu-ilmu sosial. Empirisme mengklaim bahwa tindakan dapat dan mesti dijelaskan, sebagaimana halnya segala fenomena lain, melalui cara hipotetis kausal yang dapat dikonfirmasi atau difalsifikasi oleh pengalaman.[7]

Seandainya ini benar, maka empirisme harus terlebih dulu dipaksa untuk mengasumsikan keberadaan sebab yang beroperasi tanpa tergantung pada waktu dalam kaitannya dengan tindakan.  Ini bertentangan dengan doktrin empirisme itu sendiri, yang menolak keberadaan pengetahuan apriori tentang sesuatu yang riil.

Orang tidak akan mengetahui secara apriori peristiwa khusus mana yang mungkin menjadi penyebab terjadinya satu tindakan tertentu. Tetapi empirisme menginginkan kita untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman yang berbeda sehubungan dengan serangkaian peristiwa sebagai hal yang mengonfirmasi atau memfalsifikasi satu sama lain. Dan jika mereka memfalsifikasi satu sama lain, maka kita harus menanggapinya dengan memformulasi ulang hipotesis awalnya. Namun untuk itu, kita harus mengasumsikan adanya konstansi dengan berselangnya waktu dalam operasi sebab-sebab semacam itu-dan mengetahui adanya penyebab-penyebab suatu tindakan, tentu saja, merupakan pengetahuan tentang realitas tindakan. Tanpa mengasumsikan keberadaan faktor penyebab semacam itu, pengalaman-pengalaman yang berbeda tidak akan pernah dapat dikaitkan satu sama lain sebagai hal yang mengonfirmasi atau memfalsifikasi satu sama lain. Mereka semata-mata serangkaian observasi yang tidak berhubungan dan tidak dapat diperbandingkan. Ini satu observasi; dan ini satu lagi; mereka bisa sama, serupa, atau berbeda. Tidak ada lagi yang dapat dikatakan selain itu.[8]

Selain itu, masih ada satu kontradiksi lain. Dengan memperjelas kontradiksi ini kita akan tiba pada tilikan sentral Mises bahwa hubungan antara teori dan sejarah di bidang ilmu-ilmu sosial memiliki sifat yang berbeda daripada yang dikenal dalam ilmu alam.

Kontradiksi apakah itu? Jika benar bahwa tindakan dapat dianggap sebagai sesuatu yang diatur oleh sebab-sebab yang beroperasi tanpa tergantung waktu, maka tentunya patut ditanyakan: lantas bagaimana menjelaskan tentang mereka yang memberi penjelasan? Bagaimana memprediksikan tindakan-tindakan mereka secara kausal? Mereka, toh, juga orang-orang yang melaksanakan proses penyusunan hipotesis dan proses-proses verifikasi serta falsifikasi.

Agar dapat mengasimilasikan pengalaman-pengalaman yang memberikan konfirmasi atau falsifikasi-untuk mengganti hipotesis-hipotesis lama dengan yang baru-seseorang harus dianggap mampu belajar dari pengalaman. Setiap orang yang empiris, tentu, harus mengakui hal ini. Jika tidak, untuk apa ia melakukan riset empiris?

Tetapi jika seseorang dapat belajar dari pengalaman dalam cara-cara yang belum diketahui, maka ia [harus] diakui tidak akan dapat mengetahui di suatu titik waktu manapun apa yang akan diketahuinya kelak dan, oleh karena itu, bagaimana ia akan bertindak atas dasar pengetahuan ini. Orang hanya dapat merekonstruksi sebab-sebab tindakannya setelah peristiwanya terjadi, sebagaimana orang dapat menjelaskan pengetahuannya hanya setelah ia memiliki pengetahuan tersebut. Tentu, kemajuan ilmiah apapun tak akan dapat mengubah kenyataan bahwa orang harus menganggap pengetahuan dan tindakan-tindakannya sebagai hal yang tidak dapat diprediksikan atas dasar sebab-sebab yang beroperasi secara konstan. Orang mungkin akan menganggap konsepsi kebebasan ini sebagai ilusi. Dan seseorang mungkin benar dari sudut pandang seorang ilmuan yang memiliki daya kognitif yang secara substansial lebih superior daripada intelejensia manusia manapun, atau dari sudut pandang Tuhan. Tetapi kita bukan Tuhan, dan bahkan seandainya kebebasan kita hanya ilusi dari sudut pandangNya, dan tindakan-tindakan kita mengikuti jalan yang dapat diprediksi, bagi kita ilusi itu perlu ada dan tidak dapat dihindari. Kita tidak dapat memprediksikan di depan, berdasarkan keadaan kita sebelumnya, keadaan-keadaan di masa mendatang atas dasar pengetahuan kita atau tindakan-tindakan yang memanifestasikan pengetahuan tersebut. Kita hanya dapat merekonstruksikannya setelah peristiwanya berlangsung.[9]

Jadi, metodologi kaum empiris semata-mata kontradiktif ketika diterapkan ke bidang pengetahuan dan tindakan-yang berisi pengetahuan sebagai bahan dasarnya yang perlu ada. Ilmuan sosial yang berhaluan empiris dan yang memformulasikan persamaan-persamaan prediksi terhadap fenomena sosial semata-mata mengerjakan sesuatu yang omong kosong belaka. Aktivitas mereka saat terlibat dalam kegiatan yang hasilnya, harus mereka akui, belum mereka ketahui, membuktikan bahwa kepura-puraan yang sedang mereka lakukan, tidak dapat dilakukan. Sebagaimana berulang kali dikatakan dan ditekankan oleh Mises: tindakan manusia tidak mengenal konstanta kausal empiris.[10]

Maka, melalui pemikiran apriori, terbangunlah tilikan berikut: sejarah sosial, berbeda dari sejarah alam, tidak menghasilkan pengetahuan apapun yang dapat dikerahkan untuk tujuan-tujuan prediktif. Sejarah sosial dan ekonomi mengacu secara ekslusif pada masa lalu. Hasil penelitian tentang bagaimana dan mengapa orang-orang bertindak di masa lalu tidak berdampak sistematik bahwa mereka akan melakukan tindakan yang sama di masa depan. Manusia dapat belajar. Musykil untuk diasumsikan bahwa orang dapat memprediksi di masa kini apa yang akan ia ketahui esok hari dan dalam cara apa pengetahuan masa depan akan sama atau berbeda dari pengetahuan masa kini.

Orang tidak dapat memprediksikan hari ini kebutuhannya akan gula selama setahun ke depan sebagaimana Einsten pun tidak dapat memprediksikan teori relativitas sebelum ia benar-benar mengembangkannya. Orang tidak bisa mengetahui hari ini apa yang akan ia ketahui tentang gula satu tahun dari sekarang. Dan ia tidak dapat mengetahui semua barang yang akan berkompetisi dengan gula untuk uangnya dalam satu tahun tersebut. Ia dapat menerka, tentu. Tetapi oleh karena harus diakui bahwa kondisi pengetahuan di masa depan tidak dapat diprediksi atas dasar sebab-sebab yang bekerja secara konstan, orang tidak dapat berpura-pura sanggup memprediksikan dalam jenis epistemologis yang sama dengan, misalnya, hal-hal yang terkait dengan perilaku bulan, cuaca atau air pasang di masa mendatang. Hal-hal tersebut adalah prediksi yang dapat secara sah memanfaatkan asumsi tentang sebab-sebab yang beroperasi tanpa tergantung waktu. Tetapi prediksi tentang kebutuhan gula merupakan hal yang berbeda sama sekali.

Sejauh sejarah sosial dan ekonomi hanya dapat menghasilkan penjelasan rekonstruktif dan tidak pernah berupa penjelasan lain yang memiliki relevansi prediktif apapun secara sistematik, maka kita memperoleh satu lagi tilikan yang amat penting mengenai logika penelitian sosial empiris. Dan ini berarti satu kritik yang menentukan lainnya terhadap empirisme, setidaknya mengenai klaim empirisme sebagai metodologi yang pantas bagi penelitian ilmu sosial.

Ingat perkataan saya sebelumnya tentang mengapa empirisme begitu kuat menekankan fungsi prediktif dari teori yang bersifat menjelaskan (explanatory). Bagi setiap fenomena yang dicoba dijelaskan terdapat begitu banyak peristiwa pendahulunya dan hubungan fungsional dengan peristiwa-peristiwa yang dapat menjelaskan fenomena yang sedang dikaji tersebut. Tetapi yang mana dari penjelasan-penjelasan yang saling bersaing ini yang benar, dan mana yang salah? Jawaban empirisnya adalah: prediksikan saja; keberhasilan atau kegagalan dalam menjelaskan peristiwa masa depan akan memberi tahu Anda penjelasan mana yang benar dan mana yang tidak. Jelas saja, nasehat ini tidak memadai jika tidak terdapat penyebab-penyebab yang beroperasi tanpa tergantung waktu dalam hubungannya dengan tindakan. Lalu apa? Empirisme tentu tidak memiliki jawaban bagi pertanyaan ini.

Akan tetapi bahkan kalaupun tindakan tidak dapat diprediksi melalui cara ilmiah apapun, ini tidak berimplikasi bahwa sebuah penjelasan historis yang rekonstruktif sama baiknya dengan penjelasan lainnya.  Akan musykil jika seseorang menjelaskan fakta kepindahan saya dari Jerman ke Amerika dengan menunjukkan, misalnya, bahwa jagung di Michigan, sebelum saya memutuskan untuk pindah, sedang mulai tumbuh dari bijinya dan hal tersebut telah menjadi penyebab keputusan saya. Tetapi mengapa tidak, jika di sini peristiwa seputar jagung Michigan tersebut diasumsikan benar-benar terjadi menjelang keputusan saya? Alasannya, tentu saja, adalah bahwa jagung Michigan tidak memiliki relevansi dengan keputusan saya. Dan sejauh ada hal tentang saya yang diketahui, memang bisa dikenali bahwa demikianlah kenyataannya.

Namun, bagaimana Anda dapat mengenalinya? Jawabannya adalah dengan memahami motif dan minat, keyakinan serta orientasi saya, juga persepsi konkret saya yang menimbulkan tindakan tersebut–yaitu kepindahan saya. Bagaimana kita dapat memahami orang lain dan, lebih jauh, bagaimana kita memverifikasi bahwa pemahaman kita tersebut benar? Terkait dengan bagian pertama pertanyaan barusan-kita memahami orang lain dengan melakukan komunikasi-pseudo dan berinteraksi dengannya. Saya katakan pseudo karena kita, sudah tentu, tidak dapat berkomunikasi secara aktual dengan Kaisar untuk mengetahui mengapa ia menyeberangi Rubicon. Namun kita dapat mempelajari tulisan-tulisannya dan membandingkan keyakinan-keyakinannya yang diekspresikan di dalamnya dengan tindakan-tindakan aktualnya; kita dapat mempelari tulisan-tulisan dan tindakan-tindakan sejawatnya dan dengan demikian mencoba memahami kepribadian sang Kaisar, jamannya hidup, dan peran serta posisi khususnya di jamannya sendiri.[11]

Sehubungan dengan bagian kedua dari pertanyaan tadi-yaitu problem tentang verifikasi penjelasan historis-harus kita akui di muka bahwa tidak ada kriteria absolut yang sudah jelas untuk memungkinkan kita memutuskan yang mana dari dua penjelasan yang saling bersaing, yang keduanya berdasar pada pemahaman, yang betul-betul benar dan yang mana yang tidak benar. Sejarah bukan ilmu eksakta dalam pengertian yang sama dengan ilmu pengetahuan alam atau dalam pengertian berbeda di mana ekonomi disebut sebagai ilmu yang eksak.

Bahkan seandainya dua orang sejarawan dapat bersepakat dalam mengurai fakta dan menilai faktor-faktor yang mempengaruhi suatu tindakan yang sedang dicoba dijelaskan, mereka masih mungkin berbeda pendapat dalam menentukan bobot kontribusi masing-masing faktor terhadap tindakan tersebut. Dan tidak ada cara untuk memutuskan perkara ini secara benar-benar mantap tanpa ketaksaan.[12]

Semoga saya tidak disalahmengerti di sini. Semacam kriteria kebenaran terhadap penjelasan-penjelasan historis, tetap ada.  Kriteria tersebut memang tetap tidak menghilangkan segala perbedaan yang mungkin terjadi antarsesama sejarawan, tetapi setidak-tidaknya hal tersebut mampu mengecualikan dan mendiskualifikasikan sejumlah besar penjelasan. Kriteria ini adalah bahwasanya setiap penjelasan historis sejati haruslah sedemikian rupa sehingga sang pelaku yang tindakannya sedang dicoba jelaskan harus, pada prinsipnya, dapat memverifikasi penjelasan dan faktor-faktor penjelas sebagai hal-hal yang memberi kontribusi terhadap tindakan sebagaimana yang telah dilakukannya.[13] Kata-kata kunci di sini adalah: pada prinsipnya. Sudah barang tentu, sang Kaisar tidak mungkin dapat memverifikasi penjelasan kita mengapa ia menyeberangi sungai Rubikon. Selain itu, ia mungkin saja mempunyai alasan tertentu untuk tidak memverifikasi penjelasan tersebut seandainya hal tersebut dapat dilakukannya, sebab verifikasi semacam itu mungkin saja berkonflik dengan tujuan lain tertentu yang mungkin ia miliki.

Demikian pula, mengatakan bahwa suatu penjelasan sejati harus dapat diverifikasi oleh sang pelaku yang tindakannya sedang dijelaskan tidak berarti bahwa setiap pelaku selalu merupakan pihak terbaik untuk menjadi orang yang menjelaskan perilakunya. Einstein mungkin dapat menjelaskan lebih baik dari siapapun mengapa dan bagaimana ia berhasil menelurkan teori relativitas pada saat ia melakukan hal tersebut. Tapi mungkin saja tidak demikian halnya. Sesungguhnya, mungkin saja terjadi bahwa seorang sejarawan sains dapat memahami Einstein dan menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi temuannya tersebut secara lebih baik ketimbang jika Einstein sendiri yang menjelaskannya. Hal ini dimungkinkan karena faktor-faktor atau aturan-aturan yang menentukan tindakan-tindakan seseorang hanya bersifat bawah-sadar.[14] Atau faktor-faktor atau aturan-aturan tersebut mungkin begitu gamblang sehingga orang justru tidak memperhatikannya oleh karena alasan tersebut.

Analogi berikut mungkin dapat membantu kita dalam memahami fakta yang menarik bahwa orang dapat memahami orang lain dengan lebih baik daripada orang tersebut mengenal dirinya sendiri. Ambil misalnya, pidato terbuka. Tentunya, dalam tingkat tertentu sang pemberi pidato memiliki alasannya untuk mengatakan apa yang ia katakan dan memformulasikan faktor-faktor yang membuatnya melihat hal sebagaimana orang tersbut melihatnya. Ia mungkin dapat melakukan hal tersebut secara lebih baik dari siapapun. Akan tetapi, dalam mengatakan apa yang ia katakan, ia mengikuti aturan-autran yang secara habitual dan tak-sadar yang mungkin tidak dapat ia eksplisitkan atau hanya dapat ia nyatakan dengan penuh kesulitan besar. Ia juga mengikuti kaidah-kaidah tertentu dari tata bahasa ketika ia mengatakan apa-apa yang ia katakan. Tetapi sering kali ia benar-benar tidak mampu memformulasikan aturan-aturan ini meskipun aturan-aturan tersebut jelas-jelas mempengaruhi tindakan-tindakannya.  Sejarawan yang memahami tindakan seseorang secara lebih baik daripada yang bersangkutan ini sifatnya analogus dengan seorang pakar tata bahasa dalam menganalisis struktur kalimat dari sang pembicara/orator. Keduanya merekonstruksikan dan memformulasikan secara eksplisit aturan-aturan yang benar-benar diikuti, tetapi yang tidak dapat, atau yang hanya dapat dipahami dengan kesulitan, diformulasikan oleh sang pembicara sendiri. [15]

Sang orator mungkin tidak dapat memformulasikan semua aturan yang ia ikuti dan barangkali memerlukan bantuan seorang sejarawan atau pakar bahasa profesional. Tetapi penting untuk disadari bahwa kriteria kebenaran bagi penjelasan sang pakar bahasa tetap saja berarti bahwa pembicara tersebut harus dapat-pada prinsipnya-memverifivasi kebenaran penjelasan setelah apa yang tadinya diketahui secara implisit dijadikan eksplisit. Agar penjelasan dari pakar bahasa atau sejarawan benar, sang aktor perlu dapat mengenali aturan-aturan tersebut sebagai aturan-aturan yang memang benar-benar mempengaruhi tindakan-tindakannya. Dengan demikian logika riset historis akan berupa riset rekonstruktif yang berdasar pada pemahaman.[16]

Argumen yang meneguhkan kemustahilan prediksi sebab-akibat di bidang pengetahuan dan tindakan manusia kini mungkin masih menyisakan kesan bahwa jika hal ini memang benar adanya, maka upaya peramalan tidak lain adalah perkara tebak-tebakan yang sukses atau gagal belaka. Namun demikian, kesan ini sama kelirunya dengan anggapan bahwa orang dapat memprediksi tindakan manusia dengan cara yang sama orang memprediksikan tahap-tahap pertumbuhan apel. Di sinilah letak di mana tilikan Misesian terhadap teori ekonomi dan sejarah memasuki gambarannya.[17]

Pada kenyataannya, alasan mengapa masa depan sosial dan ekonomi tidak dapat dipandang [sebagai sesuatu yang] sepenuhnya atau secara mutlak tidak tentu, tidaklah terlalu sulit untuk dipahami: Kemustahilan prediksi kausal di bidang tindakan sudah dibuktikan melalui argumen apriori. Dan argumen ini menginkorporasikan pengetahuan apriori sejati tentang tindakan sebagai berikut: bahwa tindakan tidak dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang diatur oleh sebab-sebab yang beroperasi tanpa tergantung pada waktu.

Jadi, sementara peramalan di bidang ekonomi tentunya akan selalu menjadi seni yang tidak dapat diajarkan secara sistematis, dia pada saat yang sama juga benar bahwa semua ramalan ekonomi harus dianggap sebagai sesuatu yang terkendala oleh keberadaan pengetahuan apriori tentang tindakan semacam itu.[18]

Sebagai contoh, mari kita lihat teori kuantitas uang. Proposisi praksiologis menyatakan bahwa jika Anda meningkatkan kuantitas uang sementara permintaan terhadapnya tetap sama, maka daya beli uang tersebut akan jatuh. Pengetahuan apriori tentang tindakan demikian memberi tahu kita bahwa mustahil memprediksikan secara ilmiah apakah kuantitas uang akan bertambah, menurun atau tidak tidak berubah. Kita juga tidak mungkin memprediksikannya secara ilmiah, terlepas dari apa yang terjadi dengan kuantitas uang tersebut, apakah permintaan akan uang sebagai saldo uang kontan akan naik atau turun. Kita tidak dapat mengklaim mampu memprediksi hal-hal demikian oleh karena kita tidak bisa memprediksikan keadaan masa depan dari pengetahuan masyarakat. Namun keadaan tersebut jelas mempengaruhi apa yang terjadi dalam kaitannya dengan kuantitas uang dan permintaan akan uang. Dengan demikian, teori kita, atau pengetahuan praksiologis kita yang terterinkorporasikan di dalam teori kuantitas, memiliki manfaat yang agak terbatas bagi orang yang berusaha memprediksikan masa depan perekonomian.

Teori tersebut tidak memungkinkan seseorang untuk memprediksikan peristiwa ekonomi masa-depan sekalipun, katakanlah, tersedia fakta yang jelas bahwa kuantitas uang benar-benar sudah meningkat. Orang tersebut masih tetap tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan permintaan terhadap uang.  Dan meskipun, tentu saja, peristiwa-peristiwa yang terjadi secara bersamaan sehubungan dengan permintaan uang memang mempengaruhi keadaan di masa depan (dan membatalkan, meningkatkan, menurunkan, mengakselerasikan, atau memperlambat dampak-dampak yang berawal dari satu sumber berupa kenaikan suplai uang), perubahan-perubahan serentak tersebut pada prinsipnya tidak bisa diprediksikan atau secara eksperimentil dijadikan konstan.  Memandang suatu pengetahuan subyektif, di mana setiap perubahan akan berdampak pada tindakan, sebagai hal yang dapat diprediksi berdasarkan variabel-variabel pendahulunya yang dapat dianggap konstan, jelas merupakan suatu kemusykilan. Pelaku eksperimen yang menganggap pengetahuan sebagai hal konstan pada kenyataannya harus mempra-suposisikan bahwa pengetahuannya, terutama pengetahuannya tentang hasil percobaan tersebut, tidak dapat diasumsikan sebagai konstan bersama waktu.

Teori kuantitas uang, dengan demikian, tidak dapat menerangkan peristiwa ekonomi apa pun secara khusus, baik secara pasti atau berupa peluang kejadiannya, atas dasar formula yang menggunakan konstanta-konstanta prakiraan. Namun demikian, teori ini tetap akan memberi batasan terhadap kisaran prediksi yang mungkin dianggap tepat. Dan hal ini tidak menjadikannya sebuah teori yang empiris, melainkan teori yang praksiologis, yang bertindak sebagai pengendala logis terhadap upaya prediksi kita.[19] Prediksi-prediksi yang tidak sejalan dengan pengetahuan tersebut (dalam kasus ini: teori kuantitas) berarti secara sistematis keliru dan jika tetap dipakai akan mengarahkan kita kepada semakin banyak kekeliruan prediksi yang sistematis. Ini tidak berarti bahwa orang yang mendasari prediksinya pada pemikiran praksiologis yang benar pasti akan menjadi seorang peramal peristiwa-peristiwa ekonomi di masa depan yang lebih baik daripada orang yang membuat prediksinya melalui pertimbangan-pertimbangan dan rantai pemikiran yang keliru secara logis. Ini hanya berarti bahwa dalam jangka panjang, juru ramal yang tercerahkan secara praksiologis secara rata-rata akan lebih baik daripada yang tidak memiliki tilikan praksiologis.

Prediksi yang keliru mungkin saja terjadi meskipun seseorang telah berhasil mengidentifikasikan peristiwa “kenaikan jumlah uang” dan meskipun ia pemikiran praksiologisnya benar bahwa peristiwa tersebut atas dasar keharusan logis terkait dengan peristiwa terjadinya “penurunan daya beli uang”.  Alasannya, orang tersbut mungkin keliru dalam memprediksikan apa yang akan terjadi terkait dengan peristiwa “permintaan akan uang”.  Ia bisa saja memprediksikan permintaan tersebut akan konstan, sementara kenyataannya meningkat.  Dengan demikian inflasi mungkin tidak terjadi sebagaimana prediksinya. Di sisi lain, orang mungkin pula membuat prediksi yang tepat, misalnya bahwa tidak akan terjadi penurunan daya beli uang, meskipun faktanya ia telah meyakini secara keloru bahwa peningkatan jumlah uang tidak memiliki huungan dengan daya beli uang. Sebabnya, mungkin saja perubahan lain terjadi secara bersamaan (mis. Permintaan akan uang meningkat) yang meng-counter penilaiannya yang keliru tentang sebab dan akibat dan secara kebetulan membuat prediksinya tepat.

Akan tetapi–dan hal ini membawa saya kembali untuk menyatakan bahwa praksiologi secara logis membatasi prediksi kita tentang peristiwa ekonomi–bagaimana jika kita asumsikan saja bahwa semua peramal, termasuk mereka yang memiliki dan yang tidak memiliki pengetahuan praksiologis yang memadai, per rata-rata adalah sama-sama cakap dalam mengantisipasikan perubahan-perubahan lain yang terjadi pada waktu yang bersamaan? Bagaimana jika mereka secara rata-rata sama-sama beruntung dalam menebak peristiwa-peristiwa sosial dan ekonomi yang bakal terjadi? Tentunya, dengan demikian harus kita simpulkan bahwa para penebak yang memprediksi dengan memahami hukum-hukum praksiologis dan selaras dengan hukum-hukum tersebut seperti teori kuantitas uang, akan lebih berhasil daripada sekelompok ekonom yang tidak mengenal praksiologi.

Formula peramalan yang asumsi-asumsinya bekerja tanpa tergantung waktu dan yang memampukan kita memprediksi secara ilmiah perubahan permintaan akan uang, mustahil dibuat. Permintaan akan uang tergantung secara pasti pada kondisi pengetahuan orang, dan pengetahuan masa depan tidak dapat diramalkan. Dengan demikian, manfaat prediktif pengetahuan praksiologis sangat terbatas.[20]

Kendati demikian, ketika sejumlah peramal berhasil memprediksikan suatu perubahan dengat tepat, misalnya kenaikan permintaan akan uang, serta peningkatan kuantitas uang, maka hanya peramal yang memahami teori kuantitas uang sajalah yang akan berhasil memprediksi secara tepat sementara peramal yang keyakinannya bertentangan dengan praksiologi niscaya akan salah.

Memahami logika peramalan ekonomi dan fungsi praktis pemikiran praksiologis, dengan demikian, berarti memandang teorema-teorema apriori ekonomi sebagai pengendala logis terhadap prediksi-prediksi empiris dan sebagai pemberi batasan logis terhadap apa yang dapat dan tidak dapat terjadi di masa depan.

(Bersambung ke Bagian 3)

(Ke Bagian 1)


[1] Untuk berbagai ulasan representatif tentang empirisme-yang bersatu dalam menentang segala bentuk apriorisme-lihat R. Carnap, Der logische Aufbau der Welt (Hamburg: 1966); idem, Testability and Meaning (New Haven, Conn.: Yale University Press, 1950; Alfred J. Ayer, Logic, Truth, and Language (New York: Dover, 1952); Karl R. Popper, Logic of Scientific Discovery (New York: Harper and Row, 1959); idem, Conjectures and Refutations (London: Routledge and Kegan Paul, 1969; C.G.Hempel, Aspects of Scientific Explanation (New York: Free Press, 1970); untuk ulasan yang memberi perhatian kepada ekonomi, lihat terutama Ernest Nagel, The Structure of Science (New York: Harcourt, Brace and World, 1961); Felix Kaufmann, Methodology of the Sosial Sciences (Atlantic Highlands, N.J.: Humanities Press, 1944).

[2] Tentang implikasi intervensionis relativistis dan, di bidang politik, implikasi empirisme, lihat Hans-Hermann Hoppe, “The Intellectual Cover for Sosialism,” The Free Market (Februari 1988).

[3] Untuk penekanan pada prediksi oleh kelompok empiris-positivis, lihat terutama Milton Friedman, “The Methodology of Positive Economics” in Friedman, Essays in Positive Economics (Chicago: University of Chicago Press, 1953).

[4] Tentang kritik rasionalis terhadap empirisme, lihat Kambartel, Erfahrung und Struktur; Brand Blanshard, Reason and Analysis (LaSalle, Ill.: Open Court, 1964); A. Pap, Semantics and Necessary Truth (New Haven, Conn.: Yale University Press, 1958); Martin Hollis and Edward Nell, Rational Economic Man (Cambridge: Cambridge University Press, 1975).

[5] Mises menulis dalam The Ultimate Foundation of Economic Science: Esensi dari positivisme logis adalah menolak nilai kognitif pengetahuan apriori dengan menunjukkan bahwa semua proposisi apriori tidak lain merupakan proposisi analitik. Mereka tidak memberi informasi baru, selain pernyataan-pernyataan verbal atau tautologis yang mengutarakan apa-apa yang sudah diimplikasikan di dalam definisi-definisi dan premis-premisnya. Hanya pengalaman yang dapat membawa kepada proposisi sintetik. Jelas terdapat keberatan terhadap doktrin ini, mis., proposisi bahwa proposisi sintetik apriori itu tidak ada, maka dengan sendirinya-sebagaimana juga diyakini penulis ini sebagai suatu kesalahan-hal tersebut merupakan propisisi sintetik apriori, sebab ia tidak dapat dibuktikan oleh pengalaman. (hal. 5)

[6] Tentang hal ini, selain karya yang telah dikutip di catatan kaki 23, lihat juga khususnya H. Dingler, Die Ergreifung des Wirklichen (Munich: 1955); idem, Aufbau der exakten Fundamentalwissenschaft (Münich: 1964; Paul Lorenzen, Methodisches Denken (Frankfurt/M.: 1968); F. Kambartel dan J. Mittelstrass, peny., Zum normativen Fundament der Wissenschaft (Frankfurt/M.: 1973); juga artikel saya “In Defense of Extreme Rationalism.”

[7] Sebagai tambahan bagi literatur yang disebutkan di catatan kaki 20 lihat juga produk ilmuwan empiris, Arthur goldberger dan Otis D. Duncan, peny., Structural Equation Models in the Sosial Sciences (San Diego, Calif.: Academic Press, 1973); H.B. Blalock, peny., Causal Inferences in Non-Experimental Research (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1964); Arthur L. Stinchcombe, Constructing Sosial Theories (New York: Harcourt, Brace & World, 1968).

[8] [27] Tentang hal ini dan selanjutnya, lihat Hoppe, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung, Bab 2, dan “Is Research Based on Causal Scientific Principles Possible in the Sosial Sciences?”

[9] Yang menarik, argumen ini pertama kali disampaikan oleh Karl R. Popper di bagian Prakata dalam bukunya The Poverty of Historicism (London: Routledge & Kegan Paul, 1957). Akan tetapi, Popper sama sekali gagal menangkap bahwa argumen semacam itu sebenarnya menggugurkan gagasannya sendiri tentang sebuah monisme yang metodologis (Einheitswissenschaft) dan menunjukkan ketidakmungkinan penerapan falsifikasionismenya di bidang tindakan dan pengetahuan manusia. Lihat tentang hal ini kritik saya, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung, hal. 44-49; K. 0. Apel, Die Erklären: Verstchen Kontroverse in transzendental-pragmatischer Sicht (Frankfurt/M.: 1979), hal. 44-46, catatan kaki 19.

[10] Mises, Human Action, hal. 55-56.

[11] Mengenai logika sejarah, lihat Mises, Theory and History, bab 14; The Ultimate Foundation of Economic Science, hal. 45-51; Human Action, hal. 47-51, 59-64.

[12] Mises, Human Action, hal. 57-58.

[13] Tentang logika dalam rekontrusi dan verisifikasi secara historis dan sosiologis, lihat juga Hoppe, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung, hal. 33-38.

[14] Tentang logika penjelasan dan verifikasi psikoanalitis, lihat A. MacIntyre, The Unconscious (London: Duckworth, 1958); Jürgen Habermas, Erkenntnis und Interesse (Frankfurt/M.: 1968), bab 2; tentang relevansi psikoanalisis lihat juga Mises, Human Action, hal. 12.

[15] Tentang logika penjelasan linguistik yang melibatkan rekonstruksi aturan yang membutuhkan konfirmasi melalui “pengetahuan intuitif” dari “pembicara yang kompeten” lihat Noam Chomsky, Aspects of the Theory of Syntax (Cambridge: M.I.T Press , 1965); juga K. 0. Apel, “Noam Chomskys Sprachtheorie und die Philosophie der Gegenwart” dalam Apel, Transformation der Philosophic, vol. 2 (Frankfurt/M.: 1973).

[16] Untuk kritik penting terhadap filsafat empiris-positivis tentang sains sosial empiris, dan penjelasan riset sosial yang berdasar pada pemahaman rekonstruktif, lihat juga K. 0. Apel, Transformation der Philosophie; idem, Die Erklären: Verstehen Kontroverse in transzendental-pragmatischcr Sicht ; Peter Winch, The Idea of a Sosial Science and Its Relation to Philosophy (Atlantic Highlands, N.J.: Humanities Press, 1970); idem, Ethics and Action (London: Routledge and Kegan Paul, 1972); Jürgen Habermas, Zur Logik der Sozialwissenschaften (Frankfurt/M.: 1970); G. H. von Wright, Explanation and Understanding (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1971).

[17] Khusus tentang hubungan antara teori dan sejarah, lihat Mises, Human Action, hal. 51-59; dan Epistemological Problems of Economics, bab 2-3.

[18] Seorang mantan pemikir Austria yang neo-historisis, hermeneutis dan nihilis, Ludwig Lachmann, yang terus mengulangi tiada henti kemustahilan dalam memprediksikan kondisi pengetahuan di masa depan (lihat “From Mises to Shackle: An Essay on Austrian Economics and the Kaleidic Society,” Journal of Economic Litcrature 54 (1976); The Market as an Economic Process (New York: Basil Blackwell, 1986), sama sekali gagal mengenali butir yang disebutkan terakhir ini. Pada kenyataannya, argumennya semata-mata menggugurkan dirinya sendiri. Jelas sekali ia mengklaim mengetahui secara pasti akan kemustahilan-untuk-mengetahui pengetahuan masa depan dan, melalui perpanjangan logis, juga tindakan. Kalau begitu ia jelas mengetahui sesuatu tentang pengetahuan dan tindakan masa depan.  Dan inilah, persisnya, apa yang diklaim oleh praksiologi: pengetahuan mengenai tindakan sebagaimana adanya, dan (sebagaimana sudah saya uraikan di bagian “Tentang Praksiologi dan Landasan Praksiologis Epistemologi dan Etika,” hal. 49 (??) di bawah) pengetahuan tentang struktur yang pasti dimiliki pengetahuan masa depan atas dasar kenyataan bahwa dia pastilah pengetahuan tentang para pelaku tindakan.

[19] Mengenai logika dalam prediksi sosial dan ekonomi, lihat juga Hoppe “In Defense of Extreme Rationalism,” Review of Austrian Economics 3 (1988), bagian 3 dan 4.

[20] Lihat juga Murray N. Rothbard, Power and Market (Kansas City, Kans.: Sheed Andrews and McMeel, 1977), hal. 256-58, tentang fungsi lain teorisasi ekonomi dalam kondisi pasar bebas vs. dalam kondisi yang terkendala intervensi pemerintah.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (2)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory