Austrian economics

Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (3)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi no. 62 Tanggal 29 Desember 2008
Judul Asli: Economic Science and the Austrian Method
Penerbit: Mises Institute
Pengarang: Prof. Hans-Hermann Hoppe
Draft Terjemahan: Nad

(Bagian 3)

TENTANG PRAKSIOLOGI DAN LANDASAN PRAKSIOLOGIS EPISTEMOLOGI

(Kembali ke Bagian 1)

I

Sebagaimana kebanyakan ekonom besar dan inovatif lainnya, Ludwig von Mises secara intensif berulang kali menganalisis persoalan seputar status logis proposisi ekonomi, misanya tentang bagaimana kita dapat mengetahuinya dan bagaimana kita menentukan kesahihannya. Mises jelas termasuk tokoh utama yang percaya bahwa kepedulian semacam ini tidak terpisahkan dalam upaya mencapai kemajuan sistematis di bidang ilmu ekonomi. Sebab miskonsepsi apapun sehubungan dengan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai upaya intelektual seseorang akan secara alamiah membawanya kepada malapetaka intelektual, sebagaimana doktrin ekonomi yang salah. Oleh karena itu, tiga buah buku didedikasikan oleh Mises secara khusus sepenuhnya untuk mengklarifikasi dasar-dasar logis ekonomi: yaitu karya awalnya dalam bahasa Jerman, Epistemological Problems of Economics, pada tahun 1933; Theory and History, 1957; dan Ultimate Foundations of Economic Science, 1962, yang juga merupakan buku terakhir Mises, yang terbit saat ia melewati ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Karya-karya lainnya di bidang ekonomi proper juga senantiasa memperlihatkan betapa Mises menganggap penting analisis terhadap persoalan-persoalan epistemologis. Di lebih dari seratus halaman pertama adikaryanya yang berjudul Human Action Mises secara eksklusif membahas persoalan-persoalan tersebut, sementara hampir 800 halaman selanjutnya sarat berisi pertimbangan-pertimbangan epistemologis.

Maka, sejalan dengan tradisi Mises, landasan ekonomi juga menjadi subyek dari bab ini. Di sini saya telah menetapkan dua tujuan. Pertama, saya ingin menjelaskan solusi yang diajukan Mises sehubungan dengan problem tentang landasan ultimat dari ilmu pengetahuan ekonomi, antara lain gagasannya tettang teori murni tentang tindakan, atau praksiologi, sebagaimana ia mengistilahkannya sendiri. Kedua, saya ingin mendemonstrasikan mengapa solusi Mises ini lebih daripada sekadar tilikan yang tidak tertandingi terhadap sifat-sifat ekonomi dan proposisi-proposisi ekonomi.

Hal ini memberi kita tilikan yang juga akan memampukan kita dalam memahami landasan hakiki dari epistemologi. Pada kenyataannya, sebagaimana disiratkan oleh judul bab ini, saya ingin menunjukkan bahwa praksiologilah yang harus dianggap sebagai landasan epistemologi, dan bahwa Mises, terlepas dari pencapaian besarnya sebagai seorang ekonom, juga memberikan sumbangsih berupa tilikan pembuka-jalan yang memberi justifikasi bagi keseluruhan upaya filsafat rasionalis.[1]

II

Ijinkan saya kembali kepada solusi Mises. Apakah status logis dari proposisi-proposisi khas ekonomi, misalnya hukum tentang faedah marjinal (bahwa bilamana persediaan barang–yang unit-unitnya dianggap memiliki manfaat yang setara oleh seseorang–bertambah sebanyak satu unit, maka nilai yang melekat pada unit tersebut pasti berkurang oleh karena unit tersebut hanya dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan yang bernilai lebih rendah daripada tujuan yang nilainya paling rendah dan yang telah dipuaskan ileh satu unit barang tersebut); atau tentang teori kuantitas uang (yang menyatakan bahwa bilamana kuantitas uang meningkat sementara permintaan akan uang sebagai cadangan kontan di tangan tidak berubah, maka daya beli uang tersebut akan jatuh)?

Dalam memformulasikan jawabannya, Mises menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, terdapat jawaban yang ditawarkan oleh empirisme modern.  Kota Vienna sebagaimana dikenal Ludwig von Mises dalam kenyataannya merupakan salah satu pusat pergerakan kelompok empiris: sebuah gerakan yang di masa itu tengah menjadikan empirisme sebagai filsafat akademis yang dominan di dunia barat selama beberapa dekade, dan yang hingga saat ini membentuk citra yang diyakini oleh mayoritas hampir semua ekonom terhadap disiplin mereka.[2]

Empirisme mengambil alam serta ilmu-ilmu alam sebagai modelnya. Menurut empirisme, contoh-contoh seputar proposisi-proposisi ekonomi seperti dikemukan di atas memiliki status logis yang sama dengan hukum-hukum alam: Sebagaimana halnya hukum-hukum alam proposisi-proposisi ini menyatakan hubungan-hubungan hipotetis antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, yang pada esensinya mengambil bentuk pernyataan-pernyataan jika-maka. Dan sebagaimana juga hipotesis dalam ilmu alam, proposisi ekonomi membutuhkan pengujian terus menerus terhadap pengalaman. Sebuah proposisi mengenai hubungan antarperistiwa ekonomi tidak pernah dapat dianggap sahih secara final dan pasti. Alih-alih, dia selamanya bergantung kepada hasil pengalaman tak terduga di masa mendatang. Pengalaman mungkin akan mengonfirmasi hipotesis tersebut. Tetapi hal tersebut tidak membuktikan kebenaran hipotesis tersebut oleh sebab proposisi ekonomi tentunya sudah akan dinyatakan dalam istilah-istilah yang umum (dalam istilah filsafat: universal-universal) ketika mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang berkaitan; oleh karena hipotesis tidak terbukti sebagai benar, maka hipotesis tersebut berlaku untuk kasus atau keadaan yang jumlahnya tak terhingga, sehingga selalu meninggalkan ruang kemungkinan bagi pengalaman yang memfalsifikasikannya di masa depan. Sebuah konfirmasi hanya akan membuktikan bahwa hipotesis yang dipakai belum terbuktikan salah. Di sisi lain, pengalaman mungkin saja memfalsifikasikan hipotesis tersebut. Ini tentunya akan membuktikan bahwa hipotesis yang dipakai selama ini, salah. Tetapi hal ini tetap tidak membuktikan bahwa hubungan yang sedang dihipotetiskan antarperistiwa yang dispeksifikasikan tersebut tidak pernah benar-benar bisa diamati. Ini hanya akan menunjukkan bahwa pertimbangan dan pengontrolan dalam observasi seseorang hanya pada apa yang hingga saat ini sudah benar-benar termasuk dalam pertimbangan dan telah terkontrol, [sementara itu] hubungannya sendiri belum tampak. Namun demikian, tidak dapat dicampakkan, bahwa hubungan tersebut mungkin akan muncul begitu keadaan-keadaan lain telah terkontrol.

Sikap yang tersulut oleh filsafat ini dan yang jelas telah menjadi ciri khas dari kebanyakan ekonom kontemporer serta cara mereka dalam melaksanakan pekerjaannya adalah berupa skeptisme: motonya adalah “dalam ranah fenomena ekonomi, tidak ada yang bisa dipastikan sebagai hal yang mustahil.” Dan yang lebih persis lagi, oleh karena empirisme memandang fenomena ekonomi sebagai data obyektif, yang menjulur di dalam ruang dan menjadi subyek bagi pengukuran yang dapat dikuantifikasikan-yang beranalogi secara ketat dengan fenomena ilmu alam-skeptisme khas ekonom yang empiris dapat didesktripsikan seperti seorang insinyur yang tidak akan memberi garansi apa-apa.[3]

Tantangan lainnya berasal dari sisi kelompok historisis. Memang, semasa Mises hidup di Austria dan Swiss, filsafat historis adalah ideologi yang tengah mengemuka di universitas-universitas berbahasa Jerman dan institusi-institusi mereka.  Dengan kebangkitan empirisme, prominensi historisisme menurun secara telak. Namun, secara kasarnya dalam dekade terakhir historisme telah mendapatkan momentumnya kembali di antara akademia dunia barat. Kini pemikiran ini terserak di mana-mana dengan nama hermenetika, dekonstruksionisme, dan anarkisme epistemologis.[4]

Bagi historisisme, dan terutama paling jelas bagi versi kontemporernya, modelnya bukanlah alam melainkan teks sastra. Fenomena ekonomi, menurut doktrin kelompok historisis, bukanlah besaran obyektif yang dapat diukur. Alih-alih, fenomena ekonomi adalah ekspresi dan interpretasi subyektif yang terkuak dalam sejarah untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh ekonom, sebagaimana halnya sebuah teks sastra unfolds dirinya di hadapan pembacanya dan ditafsirkan oleh pembaca tersebut. Sebagai ciptaan subyektif, urut-urutan peristiwa yang terjadi tidak mengikuti hukum obyektif. Tiada satupun di dalam teks sastra, dan tak ada satupun di dalam urutan ekspresi dan penafsiran historis tersebut yang diatur oleh relasi-relasi yang konstan. Tentu saja, teks sastra tertentu benar-benar ada, dan begitu pula urutan peristiwa-peristiwa historis tertentu. Namun, hal ini tidak berarti mengimplikasikan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut harus terjadi sesuai dengan urutan kejadian sebenarnya. Dia semata-mata terjadi. Akan tetapi, dengan cara yang sama, sebagaimana orang selalu dapat menciptakan kisah-kisah sastra yang berbeda, sejarah dan urutan peristiwa sejarah juga mungkin saja terjadi dalam cara yang sama sekali berbeda. Selain itu, menurut historisisme, dan terutama jelas terlihat dalam versi hermenetik modernnya, formasi dari ekspresi-ekspresi manusia yang selalu terkait secara tidak terduga serta interpretasi-interpretasi terhadap mereka juga tidak terkendala oleh hukum obyektif apapun. Dalam produksi kesastraan apa saja dapat diekspresikan atau ditafsirkan mengenai segala hal; dan, pada garis yang sama, peristiwa-peristiwa historis dan ekonomi adalah berupa apapun sebagaimana ekspresi atau interpretasi seseorang terhadapnya, dan deskripsi hal-hal tersebut oleh sejarawan dan ekonom dengan demikian menjadi tergantung pada apapun yang ia ekspresikan atau interpretasikan terhadap peristiwa-peristiwa subyektif di masa lalu.

Sikap yang dihasilkan oleh fisafat historisis adalah berupa relativisme. Motonya adalah “segalanya mungkin.” Tanpa terkendala hukum obyektif apapun, bagi seorang historisis-hermenetis, sejarah dan ekonomi, sejalan dengan kritik sastra, adalah perkara estetika. Dan, dengan demikian, output yang dihasilkan orang tersebut mengambil bentuk berupa bentangan wacana panjang terhadap apa yang dirasakan seseorang tentang perasaannya sebagaimana dirasakan oleh orang lain-sebuah bentuk sastra yang sudah amat kita kenal, terutama di bidang sosiologi dan ilmu politik.[5]

Saya percaya orang secara intuitif akan menangkap adanya kekeliruan serius di sini, baik pada filsafat empiris dan historis.  Pernyataan-pernyataan epistemologis mereka bahkan tampak tidak sesuai dengan model-model yang telah mereka tentukan sendiri, yaitu alam di satu sisi dan teks sastra di sisi lain. Dalam kasus manapun, menyangkut proposisi-proposisi ekonomi seperti hukum faedah marjinal atau teori kuantitas uang, pernyataan-pernyataan mereka tersebut jelas salah.  Hukum faedah marjinal tidak does not strike sebagai kaidah hipotetis yang kesahihannya tergantung pada konfirmasi atau falsifikasi sesuai pengalaman yang mungkin mencuat di sana sini. Dan menganggap fenomena yang disinggung dalam hukum tersebut sebagai besaran-besaran yang dapat dikuantifikasikan tidak lain merupakan hal yang menggelikan. Interpretasi kelompok historisis tidak lebih baik. Menganggap bahwa hubungan antarperistiwa yang diacu dalam teori kuantitas uang tersebut dapat dibatalkan jika ada orang yang ingin melakukannya secara demikian tampak [sebagai sesuatu yang] musykil. Dan sebuah gagasan tampak tidak kalah musykilnya yang menyatakan bahwa konsep-konsep seperti uang, permintaan akan uang, dan daya beli uang adalah hal-hal yang terbentuk tanpa kendala obyekti apapun dan semata-mata mengacu kepada proses kreasi subyektif yang ganjil. Alih-alih, berlawanan dari doktrin empiris, kedua contoh proposisi ekonomi tersebut tampak benar secara logis dan mengacu kepada peristiwa-peristiwa yang bersifat subyektif.  Dan bertentangan dengan historisime, maka akan terlihat bahwa apa yang mereka nyatakan tidak mungkin ditarik kembali dari semua sejarah dan akan mengandung perbedaan-perbedaan konseptual yang, meski mengacu kepada peristiwa-peristiwa subyektif, tetap terkendala secara obyektif, dan akan menginkorporasikan pengetahuan yang secara universal sahih.

Sebagaimana halnya dengan kebanyakan ekonom lain yang jauh lebih dikenal sebelum dirinya, Mises juga shares intuisi-intuisi ini.[6] Namun dalam pencariannya terhadap pondasi ilmu ekonomi, Mises melangkah jauh melampaui intuisi. Ia menerima tantangan yang diberikan oleh empirisisme dan historisisme agar dapat merekonstruksikan secara sistematis basis di mana intuisi-intuisi tersebut dapat dipahami sebagai hal yang tepat dan terjustifikasi.  Ia dengan demikian tidak ingin mencoba membangun sebuah disiplin baru ekonomi. Tetapi dengan menjelaskan apa yang sebelumnya hanya ditangkap secara intuitif belaka, Mises melangkah jauh melampaui apapun yang pernah dilakukan sebelumnya.  Dalam merekonstruksikan pondasi rasional intuisi-intuisi para ekonom, ia memastikan bagi kita jalan yang tepat bagi perkembangan ke depan dalam ilmu ini dan rambu yang menjaga kita dari kekeliruan intelektual yang sistematis.

Sejak di awal rekonstruksinya Mises telah memberi catatan bahwa empirisme dan historisme adalah doktrin-doktrin yang mengontradiksikan dirinya sendiri.[7] Pandangan kelompok empiris, bahwa segala peristiwa–baik peristiwa alamiah maupun peristiwa ekonomi–berkaitan secara hipotetis belaka, justru dikontradiksikan oleh makna proposisi dasar mereka: sebab jika proposisi ini sendiri harus dianggap benar secara hipotetis belaka, atau berupa proposisi yang benar secara hipotetis mengenai proposisi yang juga hanya benar secara hipotetis, maka pernyataan ini tidak berkualifikasi sebagai sebuah pernyataan epistemologis. Sebab dia [pernyataan tersebut] dengan demikian tidak memberi justifikasi apapun bagi klaim yang menyatakan bahwa proposisi-proposisi ekonomi bukan, dan tidak mungkin berupa, kebenaran baik secara kategoris maupun apriori, sebab intuisi memberitahu kepada kita bahwa demikianlah adanya. Akan tetapi, seandainya premis dasar empiris itu sendiri diasumsikan sebagai pernyataan yang benar secara kategoris, misalnya jika kita asumsikan bahwa seseorang dapat mengatakan sesuatu yang benar secara apriori tentang keterkaitan sejumlah peristiwa, maka hal ini akan menampik tesisnya sendiri, yang menyatakan bahwa pengetahuan empiris selalu merupakan pengetahuan hipotetis, dengan demikian memberi ruang bagi bagi ilmu pengetahuan semacam ekonomi untuk mengklaim diri telah menghasilkan pengetahuan empiris yang sahih secara apriori. Lebih jauh, tesis kelompok empiris bahwa fenomena ekonomi harus dipandang sebagai besaran yang dapat diamati dan diukur-dikatakan juga sebagai inkonklusif atas dasar dirinya sendiri.  Sebab, jelas, empirisme ingin memberi kita pengetahuan empiris yang bermakna ketika ia menginformasikan kita bahwa konsep-konsep ekonomi kita hanya terbatas pada hasil observasi. Akan tetapi konsep-konsep tentang observasi dan pengukuran sendiri, yang harus dipakai oleh empirisme dalam menyatakan klaimnya tersebut, jelas tidak diturunkan dari pengalaman observasional dalam pengertian sebagaimana konsep-konsep semacam ayam dan telur atau apel dan buah pear diturunkan.  Orang tidak dapat mengobservasi seseorang yang sedang membuat observasi atau melakukan pengukuran. Melainkan, orang tersebut harus pertama-tama memahami apa itu pengamatan dan pengukuran agar dapat kemudian menginterpretasikan fenomena tertentu yang dapat diobservasi sebagai sebagai peristiwa obeservasi atau pengambilan ukuran. Jadi, berlawanan dengan doktrinnya sendiri, empirisme terpaksa harus mengakui bahwa ada pengalaman empiris yang didasari pada pemahaman-sebagaimana halnya sesuai intuisi kita dengan proposisi ekonomi yang diklaim berdasarkan pada pemahaman-bukannya pada observasi.[8]

Sedangkan mengenai historisisme, kontradiksi-kontradiksinya tidak kalah mencoloknya. Sebab, jika, sebagaimana klaim historisisme, peristiwa-peristiwa historis atau ekonomi-yang dianggapnya sebagai urutan perisitwa yang dipahami secara subyektif saja ketimbang peristiwa yang dapat diamati-tidak diatur oleh hubungan-hubungan yang konstan dan tidak terkendala waktu, maka proposisi ini sendiri tidak dapat mengkaim apapun yang secara konstan benar tetang sejarah dan ekonomi. Alih-alih, proposisinya hanya akan menjadi proposisi dengan, katakanlah, nilai kebenaran yang amat sementara: dia mungkin benar sekarang, jika kita ingin menganggapnya demikian, tetapi barangkali akan salah sebentar lagi, jika kita tidak menginginkannya demikian, dan tidak ada seoranpun yang pernah mengetahui apa-apa tentang apakah kita menginginkannya demikian atau tidakmenginginkannya demikian. Jika demikian status premis dasar kaum historis, maka dia pun jelas tidak memenuhi syarat sebagai sebuah epistemologi. Historisisme tidak akan memberi kita alasan apapun mengapa kita harus mempercayainya. Akan tetapi, jika proposisi dasar historisisme diasumsikan sebagai selalu benar, maka proposisi tentang sifat konstan dari fenomena historis dan ekonomi akan mengontradiksikan doktrinnya sendiri yang menolak keberadaan konstanta semacam itu. Lebih jauh, klaim kaum historisis-dan apalagi yang oleh kelompok hermenetik sebagai keturunan modernnya, bahwa peristiwa ekonomi semata-mata merupakan hasil ciptaan subyektif saja yang tidak terkendala oleh faktor-faktor obyektif apapun, justru terbuktikan keliru oleh pernyataan yang menyatakan demikian. Sebab seorang historisis harus mengasumsikan pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang bermakna dan benar; ia harus terlebih dahulu mengasumsikan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu yang spesifik mengenai satu hal, ketimbang hanya membuat ujaran tak bermakna apapun seperti halnya bunyi ujaran abrakadabra. Akan tetapi kalau begitu keadaannya, maka pernyataannya ini jelas harus diasumsikan sebagai terkendala oleh sesuatu yang berada di luar cakupan tentang penciptaan/kreasi subyektif yang abritrer. Saya tentu saja dapat mengatakan apa yang dikatakan kelompok historis tersebut dalam bahasa Inggris, Jerman, atau Cina, atau bahasa lain yang saya kehendaki, apabila ekspresi dan interpretasi terhadap [peristiwa-peristiwa] historus dan ekonomi boleh dipandang sebagai kreasi subyektif semata. Tetapi segala yang saya katakan dalam bahasa apapun yang saya pilih harus diasumsikan sebagai hal yang terkendalam oleh sejumlah makna proposisional yang mendasari pernyataan saya, yang tetap sama dalam bahasa apapun, dan yang sepenuhnya eksis dan tidak tergantung kepada bentuk linguistik khas apapun ia diekspresikan. Dan berlawanan dengan keyakinan para historisis, keberadaan kendala semacam itu bukanlah sesuatu yang boleh ditentukan semaunya. Kendala ini bersifat obyektif dalam arti kita dapat memahaminya sebagai pras-anggapan logis yang perlu ada sebelum kita dapat membuat pernyataan yang bermakna, sebagai lawan dari proses menghasilkan bunyi-bunyian yang tidak karuan. Kelompok historisis tidak dapat mengklaim apapun tanpa kenyataan bahwa ekspresi dan interpretasinya sebenarnya terkendala oleh kaidah-kaidah logis sebagai prasuposisi terhadap penyataan-pernyataan yang bermakna seperti itu.[9]

Dengan penolakan terhadap empirisme dan historisisme semacam di atas, dalam catatan Mises, klaim-klaim filsafat rasionalis pun berhasil dibangun kembali, dan tersedialah dukungan untuk kemungkingan diterimanya pernyataan-pernyataan yang secara apriori benar, dan pernyataan-pernyataan ekonomi di atas tampaknya tergolong di dalamnya. Memang, Mises secara eksplisit menganggap penyelidikan epistemologi yang dilakukannya sebagai kelanjutan karya filsafat rasionalis. Dengan Leibniz dan Kant ia berdiri berlawanan dengan tradisi Locke dan Hume.[10] Ia berpihak dengan Leibniz saat menjawab diktum Locke yang terkenal tidak satupun hal berada di dalam intelek yang belum pernah berada di dalam indra (nothing is in the intellect that has not previously been in the senses)” dengan diktumnya sendiri yang sama terkenalnya “kecuali intelek itu sendiri (except the intellect itself)“.  Dan ia menyadari tugasnya sebagai seorang filsuf ekonomi sebagai hal yang beranalogi dengan tugas Kant sebagai seorang filsuf terhadap kekuatan murni akal, antara lain tentang epistemologi. Sebagaimana Kant, Mises ingin menunjukkan adanya proposisi-proposisi sintetis apriori, atau proposisi-proposisi yang nilai kebenarannya dapat ditentukan secara definit, meskipun untuk melakukan hal ini perangkat logika formal tidak memadai dan observasi tidak diperlukan.

Kritik saya terhadap empirisme dan historisisme telah menjadi bukti bagi klaim umum kelompok rasionalis. Kritik ini membuktikan bahwa kita memang memiliki pengetahuan yang tidak diturunkan dari observasi dan tetap terkendala oleh hukum-hukum obyektif. Dalam kenyataannya, penolakan kita terhadap empirisme dan historisisme berisikan pengetahuan sintetik apriori seperti itu. Namun, bagaimana tugas konstruktif untuk menunjukkan bahwa proposisi ekonomi itu-misalnya kaidah tentang faedah marjinal dan teori kuantitas uang-memenuhi syarat sebagai pengetahuan seperti ini?  Untuk memperlihatkan hal ini, Mises berpendapat bahwa sesuai dengan aturan-aturan yang telah diformulasikan secara tradisional oleh para filsuf rasionalis, proposisi ekonomi harus memenuhi dua syarat. Pertama, dia harus dapat mendemonstrasikan bahwa dia tidak diturunkan sebagai hasil pembuktian observasional, sebab bukti yang berasal dari pengamatan hanya menujukkan hal sebagaimana hal tersebut terjadi; tidak ada di dalamnya yang dapat mengindikasikan mengapa segala sesuatu harus terjadi sebagaimana hal tersebut terjadi. Alih-alih, proposisi ekonomi harus diperlihatkan sebagai sesuatu yang tertanam dalam kognisi reflektif, dalam pemahaman kita terhadap diri sendiri sebagai subyek yang mengetahui. Kedua, pemahaman reflektif ini harus menghasilkan proposisi-proposisi tertentu sebagai aksioma-aksioma material yang terbukti dengan sendirinya. Bukan berarti bahwa aksioma-aksioma semacam itu harus terbukti dengan sendirinya (self-evident) dalam pengertian psikologis, maksudnya, bahwa orang secara seketika akan menyadari demikian atau bahwa kebenarannya tergantung kepada perasaan psikologis berupa keyakinan. Sebaliknya, seperti halnya Kant sebagai tokoh pendahulunya, Mises sangat menekankan fakta bahwa menemukan aksioma tersebut biasanya justru lebih menyulitkan daripada menemukan sejumlah kebenaran observasional seperti misalnya bahwa dedaunan berwarna hijau atau tinggi badan saya adalah 6 kaki dan 2 inci.[11] Hal yang membuat proposisi-proposisi tersebut sebagai aksioma material yang terbukti dengan sendirinya adalah fakta bahwa tidak seorangpun dapat menyangkal kesahihannya tanpa memungkiri dirinya sendiri, oleh karena dalam upaya menyangkalnya seseorang sudah mem-prasuposisikan kesahihan proposisi tersebut.

Mises menunjukkan bahwa kedua syarat di atas terpenuhi oleh apa yang ia namakan aksioma tindakan, yakni proposisi yang menyatakan bahwa manusia itu bertindak, bahwa ia memperlihatkan perilaku yang bertujuan.[12] Aksioma ini jelas tidak diturunkan dari observasi-yang dapat diobservasi hanya pergerakan anggota badan teteoi tidak pada tindakannya sendiri-melainkan berasal dari pemahaman reflektif. Dan pemahaman ini tentunya adalah proposisi yang self-evident. Sebab kebenarannya tidak dapat disangkal, sebab penyangkalan akan dengan sendirinya termasuk dalam kategori tindakan. Tetapi bukan hal ini hanya hal biasa yang remeh? Apa kaitannya dengan ekonomi? Sebagaimana halnya dengan harga, biaya, produksi, uang, kredit, dan lainnya, konsep- konsep ini dikenali keterkaitannya dengan fakta bahwa manusia-manusia itu bertindak.  Tetapi bahwa semua hal tentang ekonomi mungkin tertanam dalam dan terbangun di atas proposisi remeh semacam itu dan bagaimana hal itu terjadi, tentunya merupakan bukan hal yang langsung jelas. Justru inilah salah satu pencapaian terbesar Mises: bahwa terdapat tilikan yang terimplikasi dalam aksioma tindakan, yang secara psikologis dipandang remeh ini, yang tidak terbukti dengan sendirinya secara psikologis; dan bahwa tilikan-tilikannya inilah yang memberi landasan bagi teorema-teorema ekonomi sebagai proposisi-proposisi sintetis yang apriori.

Tentunya secara psikologis memang tidak terjelaskan bahwa dengan setiap tindakan seorang pelaku mengejar suatu tujuan; dan bahwa apapun tujuan tersebut, kenyataan bahwa tujuan tersebut dikejar oleh sang aktor mengungkapkan bahwa ia harus telah terlebih dahulu menetapkan nilai yang secara relatif lebih tinggi terhadapnya daripada terhadap tujuan tindakan lain yang terpikir olehnya di awal tindakannya.  Adalah hal tidak terjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan yang bernilai tinggi seorang pelaku harus harus memutuskan untuk melakukan interferensi atau tidak-yang, tentunya, juga merupakan interferensi sengaja-pada suatu titik waktu sebelumnya untuk dapat memberikan sebuah hasil kelak; tidak juga terjelaskan bahwa interferensi semacam itu selalu mengimplikasikan pengerahaan sejumlah cara yang terbatas-setidaknya anggota tubuh sang pelaku tersebut, ruang tempatnya berada, dan waktu yang terserap oleh tindakannya.  Juga tidak terjelaskan apakah cara tersebut, dengan demikian, harus memiliki nilai bagi sang pelaku-nilai yang diturunkan dari tujuan yang ingin dicapai-sebab sang pelaku harus menganggap pengerahannya perlu dilakukan agar dapat mencapai tujuannya secara efektif; dan bahwa tindakan-tindakan hanya bisa dilakukan secara berurutan, selalu melibatkan suatu pilihan, misalnya menempuh suatu tindakan yang pada suatu waktu tertentu menjanjikan suatu hasil dengan nilai tertinggi bagi sang pelaku dan mengecualikan pada saat yang sama pengejaran terhadap tujuan-tujuan lain yang nilainya lebih rendah. Tidaklah secara otomatis jelas bahwa konsekuensi dari keharusan memilih dan memberi preferensi terhadap satu tujuan di atas tujuan lain-dari ketidakmungkinan merealisasikan semua tujuan secara simultan-setiap dan masing-masing tindakan mengimplikasikan terjadinya biaya, antara lain dengan meninggalkan nilai yang diberikan kepada tujuan alternatif dengan peringkat tertinggi yang tidak dapat diwujudkan atau yang realisasinya harus ditunda, oleh karena cara yang diperlukan bagi pencapaiannya sedang terpakai dalam proses pencapaian/produksi tujuan lain yang bernilai lebih tinggi. Dan terakhir, tidaklah terjelaskan bahwa pada suatu titik awal setiap tujuan tindakan harus dipandang lebih bernilai bagi sang aktor daripada biaya yang dibutuhkan dan mampu menghasilkan keuntungan, mis. sebuah hasil yang nilainya dianggap berperingkat lebih tinggi daripada peluang yang dilepaskan, dan bahwa setiap tindakan juga senantiasa terancam oleh kemungkinan kerugian jika sang pelaku mendapati, dalam retrosepksinya, bahwa berlawanan dari harapan-harapannya hasil yang ternyata dicapainya bernilai lebih rendah daripada alternatif lain yang seandainya ia memilihnya.

Semua kategori-kategori ini yang kita ketahui sebagai jantung ilmu ekonomi-nilai, tujuan, cara, pilihan, preferensi, biaya, keuntungan dan kerugian-diimplikasikan dalam aksioma tindakan. Sebagaimana aksioma itu sendiri, kategori-kategori tersebut tidak berasal dari observasi. Bahwa seseorang mampu menafsirkan berbagai observasi dalam hal kategori semacam itu mengharuskan orang tersebut untuk lebih dulu mengetahui apa artinya bertindak. Tak seorangpun yang bukan pelaku akan pernah memahami observasi-observasi tersebut, sebab mereka bukan sesuatu yang “sudah ditentukan”, atau yang siap untuk diamati, tetapi pengalaman observasional dinyatakan dalam istilah-istilah tersebut sebagaimana dia dijelaskan oleh seorang pelaku tindakan. Dan meskipun mereka dan keterkaitan mereka tidak diimplikasikan dengan jelas dalam aksioma tindakan, begitu ia dijadikan eksplisit bahwa mereka terimplikasikan, dan bagaiaman hal tersebut demikian, maka orang tidak lagi memiliki kesulitan dalam mengenai mereka sebagai hal yang tepat/benar secara apriori dalam pengertian sebagaimana aksioma itu sendiri. Sebab upaya apapun untuk membantah kesahihan dari apa yang telah direkonstruksi Mises sebagaimana terimplikasikan di dalam konsep tindakan akan harus mengarahkan dirinya sendiri kepada sebuah tujuan, yang membutuhkan cara, yang mengecualikan jalannya tindakan lain, menimbulkan biaya, memaparkan sang pelakunya kepada kemungkinan berhasil mencapai atau gagal dalam menacapai tujuan yang diinginkannya dan dengan juga terhadap peluang kepada profit atau kerugian. Dengan demikian, adalah nyata-nyata mustahil untuk pernah dapat menolak atau menyangkal kesahihan tilikan Mises ini. Dalam kenyataannya, sebuah situasi di mana kategori-kategori tindakan tidak lagi memiliki eksistensinya secara nyata dengan sendirinya tidak dapat diobservasi atau dibicarakan, sebab untuk membuat pengamatan dan membicarakannya adalah sudah termasuk tindakan.

Semua proposisi ekonomi sejati, dan ini akan menjelaskan apa itu praksilogi dan apa saja tilikan Mises tentang kandungan praksiologi, dapat dideduksi melalui logika formal dari pengetahuan material sejati yang tidak terbantahkan mengenai makna tindakan dan kategori-kategori tindakan. Lebih tepat lagi, semua teorema ekonomi sejati terdiri atas (a) pemahman terhadap makna tindakan ; (b) situasi atau perubahan situasional-yang diasumsikan secara tertentu atau diidentifikasikan demikian-dan dideskripsikan berdasarkan kategori-kategori tindakan, and; (c) deduksi logis dari konsekuensi-konsekuensinya-juga berdasarkan kategori-kategori semacam itu-yang timbul bagi sang pelaku tindakan dari situasi atau perubahan situasional tersebut. Hukum faedah marjinal, misalnya,[13] diperoleh dari pengetahuan kita yang tak terbantahkan atas fakta bahwa setiap pelaku selalu memilih apa yang akan lebih dapat memuaskannya terhadap apa yang lebih sedikit memuaskannya, ditambah dengan asumsi bahwa ia menghadapi kenaikan pasokan barang (means atau cara yang terbatas) yang unit-unitnya memiliki manfaat yang sama dalam pandangannya, dengan kenaikan satu unit tambahan. Dari sini keharusan logis yang muncul adalah bahwa unit tambahan ini hanya dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk menghilangkan kekurangnyamanan yang dianggap less urgent daripada tujuan yang paling sedikit nilainya yang dipuaskan oleh satu unit barang tersebut. Sejauh proses deduksinya tidak keliru, kesimpulan yang dihasilkan teorisasi ekonomi, tidak berbeda halnya dengan proposisi ekonomi dari kasus tentang hukum faedah marjinal, pasti sahih pula secara apriori. Kesahihan proposisi-proposisi ini pada akhirnya tidak lain kembali kepada aksioma tindakan yang tak terbantahkan. Menganggap, sebagaimana diyakini paham empirisisme, bahwa proposisi-proposisi ini membutuhkan pengujian empiris bagi kesahihannya adalah musykil, dan menandakan kekacauan intelektual yang gamblang. Dan tidak kalah musykil dan kacaunya jika diyakini, sebagaimana dalam pandangan historisisme, bahwa ekonomi tidak bisa mengatakan apa-apa tentang hubungan-hubungan yang konstan dan tetap melainkan cuma berurusan dengan peristiwa-peristiwa yang secara historis bersifat kebetulan saja. Mengatakan seperti itu berarti membuktikan kekeliruan pernyataan tersebut, sebab mengatakan apa saja yang bermakna sudah mempra-andaikan tindakan dan pengetahuan tentang makna dari kategori tindakan.

(Bersambung ke Bagian 4)

(Kembali ke Bagian 1)


Esei ini berasal dari Hans-Hermann Hoppe, The Economics and Ethics of Private Property (Kluwer Academic Publishers, 1993), hal. 141-64 dan dicetak ulang atas ijin dari Kluwer Academic Publishers.

[1] Terkait hal ini lihat juga buah karya saya, Kritik der kausalwissenschaftlichen Sozialforschung. Untersuchungen zur Grundlegung von Soziologic und Ökonomie; idem, “Is Research Based on Causal Scientific Principles Possible in the Sosial Sciences?,” bab 7); idem, “In Defense of Extreme Rationalism,” Review of Austrian Economics 3 (1988)

[2] Tentang Lingkaran Vienna lihat V. Kraft, Der Wiener Kreis (Vienna: Springer, 1968); untuk interpretasi empiris-positivis  tentang ekonomi lihat karya-karya representatif dari Terence W Hutchison, The Significance and Basic Postulates of Economic Theory [Hutchison, pemeluk empirisme varian Popperian, sejak saat itu menjadi semakin kurang antusias dengan prospek ekonomi yang dilanda Popperian-lihat, misalnya, bukunya Knowledge and Ignorance in Economics -tetapi ia masih tidak melihat alternatif lain selain bergelayut pada falsifikasionisme Poper]; Milton Friedman, “The Methodology of Positive Economics,” dalam idem, Essays in Positive Economics; Mark Blaug, The Methodology of Economics; narasi positivis dari seorang peserta Privat Seminar yang diselenggarakan Mises di Vienna adalah karya E. Kaufmann, Methodology of the Sosial Sciences; dominasi empirisme dalam ilmu ekonomi didokumentasikan oleh fakta bahwa barangkali tidak ada satu buku teks yang tidak secara eksplisit menggolongkan disiplin ini sebagai-apa lagi kecuali-sains empiris (a posteriori).

[3] Mengenai konsekuensi relativistik dari empirisme-positivisme, lihat juga Hoppe, A Theory of Sosialism and Capitalism (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1989), bab 6; idem, “The Intellectual Cover for Sosialism.”

[4] Lihat Ludwig von Mises, The Historical Setting of the Austrian School of Economics (Auburn, Ala.:Ludwig von Mises Institute, 1984); idem, Erinnerungen (Stuttgart: Gustav Fischer, 1978); idem Theory and History, bab 10; Murray N. Rothbard, Ludwig von Mises: Scholar, Creator Hero (Auburn, Ala.: Ludwig von Mises Institute, 1988); untuk survei kritis tetang gagasan historisis, lihat juga Karl Popper, The Poverty of Historicism; untuk representatif versi lama dari interpretasi historisis terhadap ekonomi, lihat Werner Sombart, Die drei Nationalökonomien (Munich: Duncker & Humblot, 1930); sedangkan untuk pintalan modern hermentik, lihat Donald McCloskey, The Rhetoric of Economics (Madison: University of Wisconsin Press, 1985); Ludwig Lachmann, “From Mises to Shackle: An Essay on Austrian Economics and the Kaleidic Socicty,” Journal of Economic Literature (1976).

[5] Mengenai relatitivisme ekstrim dari historicisme-hermenetika lihat Hoppe “In Defense of Extreme Rationalism,” Review of Austrian Economics 3 (1988); Murray N. Rothbard, “The Hermeneutical Invasion of Philosophy and Economics” Review of Austrian Economics (1988); Henry Veatch, “Deconstruction in Philosophy: Has Rorty Made it the Denouement of Contemporary Analytical Philosophy,” Review of Metaphysics (1985); Jonathan Barnes, “A Kind of Integrity,” Austrian Economics Newsletter (Summer 1987); David Gordon, Hermeneutics vs. Austrian Economics (Auburn, Ala.: Ludwig von Mises Institute, Occasional Paper Series, 1987); untuk kritik cemerlang terhadap sosiologi kontemporer baca St. Andreski, Sosial Science as Sorcery (New York: St. Martin’s Press, 1973).

[6] Mengenai pandangan epistemologis tokoh terdahulu seperti J. B. Say, Nassau W. Senior, J. E. Caimes, John Stuart Mill, Carl Menger, dan Friedrich von Wieser lihat Ludwig von Mises, Epistemological Problems of Economics, hal. 17-23; juga Murray N. Rothbard, “Praxeology: The Methodology of Austrian Economics,” dalam Edwin Dolan, peny., The Foundations of Modern Austrian Economics (Kansas City: Sheed and Ward, 1976).

[7] Selain karya-karya Mises yang dikutip di awal bab ini dan literatur yang disebutkan di catatan [kaki] 40, lihat Murray N. Rothbard, Individualism and the Philosophy of the Sosial Sciences (San Francisco: Cato Institute, 1979); untuk kritik filosofis yang mengagumkan terhadap ekonomi kaum empiris, lihat Hollis dan Nell, Rational Economic Man; sebagai pembelaan umum rasionalisme yang amat berharga terhadap empirisme dan relativisme-meski tidak mengacu ke ekonomi-lihat Blanshard, Reason and Analysis ; Kambartel, Erfahrung und Struktur.

[8] Untuk pembelaan terperinci terhadap dualisme epistemologis lihat juga Apel, Transformation der Philosophie, 2 vol. dan Habermas, Zur Logik der Sozialwissenschaften.

[9] Tentang hal ini baca Hoppe, “In Defense of Extreme Rationalism,” Review of Austrian Economics 3 (1988).

[10] Lihat Mises, The Ultimate Foundation of Economic Science, hal. 12.

[11] Lihat Kant, Kritik der reinen Vernunft, hal. 45; Mises Human Action., hal. 38.

[12] Mengenai hal berikut lihat terutama Mises, Human Action, bab 4; Murray N. Rothbard, Man, Economy, and State (Los Angeles: Nash, 1962), bab 1.

[13] Mengenai kaidah faedah marjinal lihat Mises, Human Action., hal. 119-27 dan Rothbard, Man, Economy, and State, hal. 268-71.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Ilmu Ekonomi dan Metode Austria (3)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory