Uncategorized

Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 1)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi no. 62 Tanggal 29 Desember 2998
Oleh: Sukasah Syahdan

Isu sentral sosialisme, komunisme, kapitalisme, anarkisme, libertarianisme, etatisme, dirigisme, dan isme-isme lainnya berpusar pada konsep satu ini.  Kemajuan peradaban bangsa-bangsa di dunia bermula dari sini; dan sebaliknya,  hampir semua krisis berdarah yang menghancurkan capaian peradaban manusia, dari jaman prasejarah hingga pasca-kolonialisme, juga berawal persis dari persoalan tentangnya. Di Indonesia, berbagai konflik yang telah dan akan terus meletus di sepanjang eksistensi bangsa ini, yang kadang tampil dan dimaknai secara artifisial atau mewujud dalam konfik-konflik berparas SARA, isu-isu demokrasi/demokratisasi, atau dikotomi nasionalisme/internasionalisme, kebanyakan beranjak tepat dari isu fundamental ini. Dengan kata lain, jika kita berhasil membenahi urusan satu ini, maka beribu bahkan berjuta konflik yang mengiringinya dapat terpecahkan dengan mudah, bahkan mungkin dengan sendirinya.

Dan isu genting kali ini adalah: property. Persoalan kemanusiaan yang secara sempit dikerucutkan menjadi persoalan kebangsaan terbesar sepanjang masa di seluruh dunia dan di setiap bangsa adalah property rights arrangement.  Pertanyaan intinya boleh kita simplifikasi sebagai berikut: siapa yang berhak menguasai apa dalam proporsi seperti apa?

Property, apakah itu dan seberapa jauh dia sudah kita pahami?  Sebagian besar kita masih merasa asing, dan ini tidak terlalu mengherankan; bahasa ibu kita tidak memiliki konsep yang jelas selain bermanuver pada kata dasar “milik”, seperti dalam “hak milik” atau “kepemilikan”.  Kita perlu memiliki konsep yang sepadan, atau mentranslitrasikannya saja agar lebih mudah.  Biar praktis, di sini kita akan menggunakan saja kata ini-“properti”-dan mendefiniskannya secara sederhana, tapi jelas. Tulisan ini mungkin tidak akan menjawab pertanyaan BESAR di alinea pertama, tetapi saya yakin dia dapat meningkatkan pemahaman kita akan, dan membangkitkan kesadaran kita atas, makna dan arti pentingnya properti bagi kemanusiaan kita. (Pada saat ini saya tidak tahu persis sejauh mana saya ingin membawa tulisan ini;-p.  O ya, tulisan ini saya persembahkan buat  Giyanto, Imam Semar dan Holmes.)  Anggap saja ini penjelajahan perdana kita terhadap konsep-konsep dasar mengenainya, yang meskipun rudimenter, saya harapkan ada gunanya.

Properti vs. Kepemilikan

“Properti” (“property”) adalah sesuatu, apapun itu, yang bisa dimiliki manusia. Dia bisa barang berwujud, maupun tidak berwujud.  Tidaklah sulit, membedakan properti dari kepemilikan; dan amatlah penting, berpegang terus pada pembedaan ini.  Pada suatu ketika, umat manusia sebelum kita pernah mengacaukan properti dengan “kepemilikan” (ownership); mereka mendefinisikan “kepemilikan” sebagai “sesuatu yang bisa dimiliki”  dengan “keadaan/tindakan  memilikinya.”   Ekonom-ekonom klasik pun mencampuradukkan keduanya.   Karl Marx pun dalam Manifesto Komunis, meminjam konseptuasi David Ricardo, mengatakan bahwa tujuan gerakannya adalah menghapuskan “private property” alih-alih yang lebih tepat, menghapuskan “private ownership of property” atau kepemilikan pribadi atas properti.

Kecampuradukan seperti itu tidak perlu terjadi lagi sekarang, sebab status properti jelas. Dia bisa hadir dalam salah satu status kepemilikan sebagai berikut:

a) properti dalam keadaan dimiliki seseorang;
b) properti yang tidak dimiliki siapapun;
c) properti yang dalam status sengketa.

Sebelum kita soroti apa saja yang dapat digolongkan sebagai properti (klasifikasinya) ada hal yang jauh lebih mendesak dan amat penting (kalau ada kata lain yang lebih keras dari sekadar “penting”, kita sedang menggunakannya sekarang juga).  Hal itu adalah refleksi terhadap kodrat kita sebagai manusia, dan mengaitkan kondisi kemanusiaan kita tersebut dengan signifikansi properti.  Janji, ini akan singkat saja:

Properti dan Makhluk Hidup

Setiap makhluk hidup hanya akan dapat hidup dan terus bertahan hidup dengan memanfaatkan/menundukkan lingkungan terdekat di sekitarnya. Ini berlaku bagi tumbuhan, hewan dan juga manusia.  Pada aras yang paling dasar, soalnya pertama-tama bukan soal moral ataupun etis; dia semata kondisi faktual yang tidak bisa diargumentasikan.

Seperti juga tumbuhan dan hewan lain, manusia adalah juga makhluk jasadi. Sebagai makhluk jasadi, untuk dapat hidup, kita harus melakukan sesuatu dengan dan terhadap jasad tersebut.  Kita harus makan; harus tidur; kita harus menjaga diri dari penyakit; kita terikat pada hukum-hukum alam.  Ini kodrat kita yang tidak dapat diargumentasikan.  Tentu kita dihadapkan pada berbagai pilihan, tetapi pilihan dasarnya adalah tuntutan alam.

Singkatnya, kita semua sangat tergantung kepadanya.   Semua yang kita butuhkan untuk bertahan hidup, dapat diklasifikasikan sebagai properti.  Jadi, kita semua berurusan dengan properti dari bayi hingga mati, sepanjang hayat. Semua yang ingin hidup, harus mendominasi properti berupa lingkungan sekitarnya dalam satu atau lain cara. Keberlangsungan dan kesejateraan hidup semua makhluk hidup berasal dari penguasaan, dalam kadar yang berbeda tentunya, terhadap properti.

Manusia sebagai konsumen vs. produsen

Diskusi tentang signifikansi properti bagi manusia perlu membahas kedudukan kita selaku manusia sebagai konsumen dan produsen.  Kita, manusia, adalah kedua-duanya.  Sebagai konsumen, kita tidak berbeda jauh dari organisme hidup lainnya, dalam arti bahwa dari bayi hingga renta kita perlu mengonsumsi. Kalau kita tidak mengonsumsi, kita akan berhenti sebagai makhluk hidup.

Ketika kita memandang diri sebagai pengonsumsi, kita masing-masing amat egosentris. Semuanya berpusat kepada aku.  Ini juga bagian kodrat kita. Dorongan mengonsumsi sungguh begitu kuatnya!  Sebagai satu keterampilan, mengonsumsi tidak perlu diajarkan.  Dapat dikatakan, dalam hal mengonsumsi, satu individu tidak memerlukan bantuan individu lain.

Tapi ketika kita memandang diri sebagai produsen, segalanya berubah total. Produksi adalah sebuah keterampilan yang kita peroleh dengan belajar. Ketika semua orang terlahir lapar, tidak semua orang terlahir dengan kemampuan menciptakan sesuatu.  Yang tidak dapat dilupakan, konsep produksi secara fundamental tidak dapat dilepaskan dari konsep produksi. Kenapa kita harus menjadi produsen, itu karena kita adalah konsumen. Dalam hidup yang diliputi kelangkaan, kita perlu menjadi produsen dalam satu atau lain cara.

Berbeda dari posisi sebagai konsumen, kita sebagai individu produsen cenderung membutuhkan keberadaan individu lain untuk bekerja sama.  Seorang dosen membutuhkan mahasiswa; seorang penulis jurnal membutuhkan pembaca jurnal. Dapat dikatakan dengan aman di sini, semakin berbeda keterampilan seseorang, semakin bernilai dia bagi orang lain, terutama bagi orang yang tidak memiliki tetapi membutuhkan keterampilan orang lain tersebut untuk dipertukarkan dengan hasil dari keterampilan yang dimilikinya.   Di sini tersirat pentingnya adanya kebebasan dalam konteks produksi.  Orang perlu berbeda, memiliki keterampilan yang berbeda, untuk dapat bekerjasama dan menjadi lebih produktif.  Perlunya menjadi spesialis dan bekerjasama dalam hal produksi bukan cuma tuntutan kontemporer, melainkan sudah dirasakan bagi umat manusia ketika masih menghuni gua-gua dan berspesialiasi sebagai pemburu, pembuat anak panah, sebagai petukang, dan sebagainya. Secara tidak langsung, ini menunjukkan keandalan dan keunggulan sistem pembagian kerja–division of labor.

(Bersambung Senin depan)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

7 comments for “Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 1)”

  1. “Pada saat ini saya tidak tahu persis sejauh mana saya ingin membawa tulisan ini;-p.  O ya, tulisan ini saya persembahkan buat  Giyanto, Imam Semar dan Holmes”

    Giy:
    Nad maaf saya baru nongol! Saya terharu dengan kalimat diatas, dan maaf juga karena salah satu tanggung jawab saya untuk jurnal ini belum bisa saya rampungkan. Tiga minggu ini (kemarin) saya putuskan jadi “gelandangan”. Bepergian tanpa Hp, uang ataupun cadangan pakaian. Kadang saya jenuh belajar, berfikir, bekerja dan berharap. Intinya sekarang saya lagi “disorientasi”. Tapi sekarang saya putuskan untuk memilih, saya sadar sesuatu tidak dapat dilakukan semuanya dengan berbarengan! kadang saya juga bertanya-tanya, apakah saya sedang berlari menghindar dari masalah, atau sedang memerangi masalah tersebut? saya tidak yakin yang pertama maupun yang kedua. Barangkali saya memang lagi terhimpit. Ini barangkali bukan pernyataan untuk umum, tapi itulah yang sekarang saya rasakan.
    ——————————————————
    ngomong2 tentang properti, hal ini memang sederhana tapi sering dijlimetkan. Anarkisme yang saya yakini pun berawal dari sini. Bertahun-tahun saya melihat dan bergulat dengan orang-orang yang bekerja keras menciptakan nilai, tapi sering juga saya melihat orang merampas nilai orang lain atas nama kepentingan orang lain. Dan menurut saya, kebodohan ini berawal dari gagasan abstrak kita yang sering disebut sebagai NEGARA! opini akademik tentang alasan ‘stabilitas’ dan ‘keamanan’ saya kira terlalu dibesar-besarkan!

    Dan beberapa minggu lalu saya pun mendapat kesempatan untuk menjelaskan masalah ini ( ‘ANARKISME’ ) ke anak2 KEP. Saya kira persoalan ini mereka sudah mulai memahaminya. Namun tantangan selanjutnya jelas lebih besar, yaitu kemunafikan intelektual! intinya kita tidak akan tahu pasti, berapa banyak intelektual yang menyerukan ‘pengentasan kemiskinan’ tapi dirinya berpesta di atas lembaga publik yang menyedot sumber daya orang banyak! dan masalah ini saya kira selalu akan berputar-putar.

    Tentang diskusi dengan Bung Irianto, sangat menarik sekali! dan jelas disitu belum bisa saya jangkau. Tentang proyek menelaah epsitemologi Kant, Aristoteles, Comte, Locke, Hume barangkali akan menjadi ‘proyek seumur hidup” saya. Dan sekarang saya hanya baru bisa meraba sambil melihat anda berdua berdiskusi.he2…salam

    Posted by Giyanto | 5 January 2009, 3:59 pm
  2. Giy, trims! Tapi memang sampeyan salah apa pakai minta maaf? No worries, man.  Anda dan saya tidak punya kewajiban apa-apa dengan Jurnal ini.  Lagi pula–serius nih, mengingat situasi dan kondisi yang sedang saya alami, Edisi 63 adalah edisi terakhir Jurnal ini …

    Posted by Nad | 6 January 2009, 8:52 am
  3. wah bisa libur panjang nih!

    Seperti kata2 filsuf favorit saya, Lao Tzu yang mengatakan "kadang kita harus mundur ke belakang agar dapat melihat ke depan dengan jelas"….he2…

    Posted by Giyanto | 6 January 2009, 9:10 am
  4. [He, he… ini lanjutannya.]

    … yang saya buat dari Ciputat, sebab mulai besok kami sekeluarga akan pindah ke kota lain untuk memulai hidup baru.  Edisi-edisi berikutnya akan saya buat dari habitat baru, yang pasti bukan di tanah Jawa.

    Posted by Nad | 6 January 2009, 3:51 pm
  5. wow…kalau boleh, bisa donk dikasih bocoran,he2…

    ya, ak juga rencana akhir tahun ini—setelah urusan di Semarang selesai—akan mencoba "bertapa" juga di luar jawa…yang jelas tidak dengan anak, istri ataupun pacar…

    Posted by Giyanto | 7 January 2009, 6:32 am
  6. pacar? ha2…

    Posted by Giyanto | 7 January 2009, 6:34 am
  7. Giy, apa kabar?  Re habitat baru saya sekarang, nanti saya infokan sekalian di Tentang.

    Posted by Nad | 19 January 2009, 4:00 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: