Uncategorized

Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 2)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi no. 63 Tanggal 5 Januari 2009
Oleh: Sukasah Syahdan

Kondisi dan Tipologi Properti

Kalau kata class dipadankan sebagai kelas, kenapa classification berpadan dengan klasifikasi dan bukan kelasifikasi? Tapi ini sih tidak nyambung. Berhubung kita maunya nyambung, properti di sini harus kita golongkan ke dalam klasifikasi, meskipun penggolongan di bawah ini hanya bersifat longgar dan umum saja.

Salah satu alasan penulisan esei ini terkait masih langkanya uraian tentang properti. Jika Anda google kata property, hampir-hampir tidak ada tulisan populer dalam bahasa ibu kita yang menjelaskan gerangan apa sebenarnya properti itu! Literatur dalam bahasa Inggris terhitung lumayan, meski jumlahnya pun amat terbatastas.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, properti bisa berada dalam kondisi atau status: dimiliki, tidak dimiliki, atau dalam konflik kepemilikan; sekarang kita mulai bisa menggolongkan properti.  Properti jenis pertama adalah properti dasar atau basic property.

Properti dasar atau properti jenis pertama yang memungkinkan manusia dan semua makhluk hidup untuk bertahan hidup adalah diri atau tubuhnya sendiri, termasuk unsur-unsur yang berasal atau terkait langsung dari/dengan tubuhnya, misalnya: energinya, waktunya, kemampuan fisiknya.  Di luar properti dasar ini, properti lainnya pada hakikatnya merupakan bentuk perpanjangan/ekstensinya, sebagaimana akan ditunjukkan kelak dalam sub-topik Kepemilikan Properti.

Properti kedua adalah properti yang terdapat di alam selain diri kita, seperti misalnya udara, bumi dan seluruh isinya, yang jika seseorang memenuhi persyaratan tertentu, orang tersebut akan bisa memilikinya

Properti ketiga adalah properti hasil olahan atau buatan manusia: kendaraan, peralatan, gedung, rumah, pokoknya segala apa yang diubah oleh manusia, baik yang kasat mata maupun yang tidak.

Di samping tiga kelas dalam klasifikasi yang agak longgar di atas, orang kadang menggunakan istilah-istilah lain untuk menggolongkan properti. Misalnya ‘real property’ dan ‘real estate’, atau properti yang sudah disediakan alam berupa tanah, lahan dan apapun yang melekat padanya, dan berkombinasi dengan upaya manusia.  Istilah tersebut disandingkan dengan istilah properti pribadi (personal property atau personality), seperti barang-barang sehari-hari, yang bisa dipindah-pindah, furnitur, kendaraan, makanan, baju, dan lainnya.

Selain itu ada juga jenis properti yang khas dan menarik, yang kita sebut saja properti kontraktual, atau properti yang muncul berdasarkan pada kesepakatan. Ciri properti tersebut adalah bahwa dia tidak dimiliki oleh satu orang saja, melainkan sedikitnya oleh dua pihak.  Ciri lainnya adalah bahwa satu pihak tidak memiliki pihak lainnya ataupun sebaliknya.  Yang menjadi properti dalam properti yang kontraktual adalah persis kontrak itu sendiri, atau sesuatu yang disepakati oleh kedua pihak (atau lebih) tersebut itu sendiri.

Dalam kontrak pernikahan, umpamanya, seorang suami tidak memiliki istrinya; seorang istri pula tidak memiliki pasangannya.  Properti mereka adalah kontrak pernikahan itu sendiri.  Kalau konsep ini diterima dan diteruskan, maka bung Imam Semar tidaklah memiliki anak-anaknya, sebab anak-anaknya adalah pemilik bagi diri mereka masing-masing. Anak dalam pengertian yang rada-rada zakelijk ini bukan properti milik kedua atau salah seorang orangtuanya. Demikian pula halnya status istri rekan ini.

Properti jenis nir-wujud memiliki keunikan tersendiri. Tentang udara (oksigen), seorang Giyanto bisa bersepakat bahwa benda ini tidak termasuk properti real estate, mungkin karena indivisibilitasnya-jangankan mau dibagi-bagi atau ditandai, sebab terlihat saja tidak.  Tetapi ia dapat memiliki udara dan mengakuinya sebagai properti ketika, misalnya, Giy menyimpannya dalam tabung-tabung gas, dan dibeli oleh seorang Holmes, yang mungkin hobi menyelam, atau kolektor tabung.  Dengan kata lain, mereka harus melakukan sesuatu terhadapnya agar menjadi properti.  Ini berlaku juga bagi benda-benda nir-wujud lainnya semacam bau-bauan (parfum), bunyi-bunyian (musik),  ide-idean (gagasan; cerita; esei tentang properti, dll.), yang perlu sedikit banyak diobok kalau mereka mau memilikinya.

Kepemilikan properti

Tulisan ini mulai merangsek ke wilayah yang agak genting.  Pertanyaan-pertanyaan umum namun cukup fundamental tentang properti misalnya adalah: siapa yang dapat/atau berhak memiliki properti?

Berhak-kah, misalnya, para pebisnis Amerika atas tanah dan seisi bumi Timika? Tidakkah sebaiknya properti tersebut dimiliki penduduk asli di sana?  Dalam forum diskusi di Jurnal ini, Giyanto dan Holmes telah “duduk semeja” dalam upaya menjawabnya. Tulisan kali ini, yang agak abstrak, ingin menengarai pertanyaan semacam ini: bagaimana kita bisa menjadi pemilik yang sah atas sesuatu?

Siapa sajakah yang berhak memiliki properti?

Dari uraian tentang properti dasar, kita melihat bahwa semua orang, setiap manusia, berhak atas properti, paling tidak terkait dengan diri, tubuh atau badannya sendiri, dari bayi meski ia belum mengerti, hingga dewasa.  Anak yang diwarisi warisan oleh orangtuanya adalah pemilik sah dan moral atas properti warisan tersebut, sekalipun anak tersebut belum mengerti apa-apa tentang properti itutersebut.

Sebagian besar pemikir klasik menerima pandangan tentang adanya hak dasar tentang properti, bahwa setiap orang memiliki dirinya sendiri. Sesuai dengan tradisi pemikiran klasik ini, hanya manusialah yang memiliki hak; dan semua dan segala hak manusia pada dasarnya tidak lain adalah hak atas properti (dalam pengertian luas).

Terkait hak dasar ini, tidak seorang pun memiliki seorang lainnya.  Ini konsekuensi logis yang konsisten dengan tipologi properti di atas; dan landasan pemikiran ini mendasari penolakan atas perbudakan ataupun pembudakan seorang manusia atas manusia lainnya, sebab properti yang bersifat dasar dan primer, baik diakui atau tidak, baik diargumentasikan ataupun tidak, merupakan kondisi keberadaan yang harus terpenuhi bagi setiap makhluk yang bernyawa.

Dewasa ini, ketika sebagian besar properti telah dimiliki manusia, kecuali sebagian besar wilayah samudra, tanah di bawah lautan, udara dan ruang angkasa, hanya ada dua cara kita dapat menjadi pemilik properti, yaitu cara sukarela melalui proses produksi termasuk invensi (penemuan) dan pewarisan, dan cara-cara paksa seperti predasi, termasuk pencurian dan penjarahan.

Di masa lalu, manusia percaya bahwa hak atas properti adalah hak suci yang hanya dimiliki oleh para raja dan keturunannya. Ini termasuk teori awal tentang properti, yang ikut didukung oleh doktrin-doktrin teologis tentang kepemilikan monarkis ini.  Oleh karena raja-raja dianggap pemilik sah dan suci atas properti tanah termasuk segenap isinya, maka apapun yang mereka lakukan terhadap subyeknya tidak mengenal salah atau benar.

Sebagaimana akan disinggung kelak, memang menguasai properti apapun sejak dulu hingga sekarang selalu mengandungi hak untuk mengontrol dan menggunakan ataupun melepaskan properti tersebut. Para raja pada perkembangan kemudian dapat memberkahi seseorang dengan hak atas kepemilikan terhadap properti tertentu, terutama atas lahan-lahan garapan.

(Bersambung)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 2)”

  1. Terimakasih buat penyedia blok ini!! Saya ingin bertanya, Pemerintah, Badan Hukum dapatkah menjadi pemilik suatu properti?? Terimakasih…

    Posted by Rikardo Nababan | 11 December 2010, 3:19 pm
  2. Mohon Informasi buku-buku yang memuat tentang teori-teori Properti!!
    Terimakasih dan Salam….

    Posted by Rikardo Nababan | 11 December 2010, 3:22 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: