Ideologi

Pentingnya Ideologi

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 10, Tanggal 8 September 2007

(Pemutakhiran: 13 Maret 2008. Lihat catatan kaki di bawah.)

“Mengapa tidak semua pengusaha suka kapitalisme?

Bayangkan seorang wanita muda yang berani hidup. Ia tinggal di lokasi yang jauh dari hingar-bingar dan kemacetan. Di Perancis yang indah letaknya; di kota kecil Antibes yang cantik, tepatnya. Setahun lebih yang lalu, ia memutuskan untuk ‘menjinakkan’ pasar Eropa. Ia membuka toko kecil yang menjual berbagai pernik kerajinan asli Indonesia. Segala hal yang ia perlukan untuk membangun toko kecilnya, telah diperhitungkan dan dipersiapkannya masak-masak. Tokoh kita ini, tentu, mengharapkan kesuksesan. Dan harapannya bersemi manakala Saya ramai dikunjungi orang—oleh turis lokal, pelancong asing, penduduk setempat. Waktu cepat berlalu; dan ternyata keadaan yang dihadapinya kurang membuatnya puas atau tenang. Bisnis tak selalu seindah bayangan. Apalagi ketika sang wanita mengetahui, banyak dari pengunjung toko tak lebih cuma orang-orang yang ingin mencuri jurus dagangnya belaka. Ada yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi, tidak sedikit yang terang-terangan. Senyatanya, sang wanita merasakan sendiri kerasnya persaingan. Pasar ternyata tidak melulu menyenangkan. Satu tahun lebih berlalu, dan ia dilanda kenyataan. Mau kemana setelah ini? Haruskah bertahan?

Kisah nyata ini kurang lebih menggambarkan perjuangan seorang teman yang sampai kini hanya saya temui di dunia maya. Namanya Maya; ia pemilik toko bernama Saya yang hingga sekarang mencoba bertahan di kota tersebut. Sempat saya menduga-duga, apa jawabannya seandainya pertanyaan di awal tulisan ini diajukan kepadanya. Tapi hingga detik ini, tidak tertanyakan. Mengapa?

Sebab bertahun yang silam, pertanyaan serupa sempat ditanyakan oleh salah seorang peserta seminar kepada seorang ekonom ternama, Ludwig von Mises. (Bagi yang jarang mengunjungi jurnal ini, namanya mungkin masih terdengar asing.) Dan apa jawabannya?

”Pertanyaan tersebut,” kata Mises, ”Marxist sekali!”

Alasannya: pertanyaan itu mengasumsikan bahwa setiap pengusaha memiliki kepentingan khusus terhadap kapitalisme. Kepentingan kelas, kata Karl Marx, yang memang meyakini demikian.

alt textRichard Karl Marx

Jika Marx mengatakan bahwa di dalam kapitalisme kaum pemegang modal mengeksploitasi kaum buruh, Mises berpandangan sebaliknya: kapitalisme justru menguntungkan semua orang, konsumen, dan massa–tidak cuma pengusaha. Bahkan sesungguhnya, lanjut Mises, dalam sistem kapitalisme banyak pengusaha yang justru menderita kerugian. Sebab, memang posisi pengusaha di pasar yang bebas memang tidak pernah aman. Sebab pintu senantiasa terbuka untuk persaingan, dan setiap pesaing siap menantang posisi seorang pengusaha dan menjauhkannya dari keuntungan. Justru kompetisi di dalam sistem kapitalisme itulah yang pada gilirannya dapat memastikan setiap konsumen, bahwa pengusaha akan memberi layanan terbaik melalui barang atau jasa yang diinginkan konsumen.

Jadi, pembelaan terhadap ekonomi pasar bukanlah pembelaan bagi kaum pengusaha. Seorang ekonom akan tertarik meneliti sistem perekonomian mana yang paling baik, yang paling dapat meningkatkan kesejahteraan individu dan kondisi hidup orang banyak. Menurut Mises, sistem tersebut tidak dapat dilepaskan dari adanya kebebasan. Hanya dalam iklim kebebasan berekonomi, manusia dapat berkreasi dan memproduksi berbagai barang dan jasa dalam jumlah yang lebih banyak dan kualitas yang lebih baik. Hanya di bawah ekonomi pasar upah dan standar hidup masyarakat dapat meningkat.

Sebab, di pasar bebas konsumenlah yang berdaulat. Posisi konsumen sedemikian rupa sehingga memberi sinyal kepada para pengusaha tentang apa-apa yang mereka inginkan, melalui keuntungan kepada para pebisnis yang mampu memuaskan keinginan, dan melalui kerugian bagi siapa saja yang gagal melakukannya. Sistem cambuk dan wortel alami pasar memandu keputusan dan proses produksi; memastikan bahwa barang dan jasa akan terus dihasilkan, sehingga meningkatkan upah dan standar hidup.

*

Perlu disadari, tulisan ini mengandung bias yang cukup tinggi, karena mengasumsikan pemahaman umum pembaca terhadap pandangan Marx. Akan lebih adil seandainya pandangan Marxis yang anti-pasar diulas juga secara setara agar pembaca dapat menyimpulkannya sendiri. Namun terus terang, bukan itu tujuan penulisannya. Tulisan ini tidak mengajak siapa-siapa untuk setuju atau tidak setuju dengan pandangan tokoh-tokoh besar di atas. Toh pada akhirnya, kita dapat dengan bebas menganggap pasar bebas tidak sempurna. Kita dapat juga mengartikan bahwa sistem tersebut sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Semuanya membawa sejumlah konsekuensi tertentu, tentunya. (Kita boleh juga mendambakan sejenis lobster yang sempurna, yang tidak menimbulkan reaksi alergi bagi semua orang.)

Tulisan singkat ini sekadar menimpali dan menandaskan sebuah artikel di harian nasional beberapa hari lalu, yang berjudul “Pentingnya Ideologi” tetapi tampaknya tidak sempat menjelaskan mengapa, bagaimana dan sejauh mana pentingnya ideologi, sehingga artikel tersebut mungkin lebih tepat diberi judul “Pentingnya Intervensi“.

Dari pemaparan di atas, pentingnya ideologi terletak pada kenyataan bahwa dia melandasi dan mempengaruhi cara pandang kita terhadap segala hal, dan bahwa dia selalu hadir dalam benak kita, terlepas apakah kita menyadarinya atau tidak, atau apakah kita meyakininya dengan benar/dalam ataupun secara keliru/dangkal. Ideologi sangat menentukan cara kita berpikir, menilai dan bertindak meskipun kita tidak pernah sekalipun benar-benar memikirkan ideologi itu sendiri.

Maka, baik dalam kaitannya dengan pasar bebas maupun tulisan ini, mau tidak mau setiap pembaca—termasuk Maya, niscaya harus mengambil sikap tertentu.

NB:

i·de·ol·o·gy (?’d?-?l?-j?, ?d’?-) pronunciation
n., pl. -gies.

  1. The body of ideas reflecting the social needs and aspirations of an individual, group, class, or culture.
  2. A set of doctrines or beliefs that form the basis of a political, economic, or other system.

PEMUTAKHIRAN (13 Maret ’08)

Kutipan artikel Kompas hari ini (13/3/08), yang berjudul: Google Apps, “Hosting E-mail” Gratis, menyiratkan ideologisme tertentu yang dianut penulisnya, baik sadar maupun tidak. Menurut sang penulis, sistem kapitalis adalah sistem yang rakus dan mahal; sedangkan sistem sosialis (merakyat) atau tak kapitalis, adalah yang sebaliknya. Berikut petikannya, dengan cetak tebal dari saya:

”Kedigdayaan Google semakin sulit ditandingi oleh siapa pun. Hebatnya, raksasa mesin pencari ini tak tamak dengan dollar dan tak kapitalis menguasai aset dunia maya. Maka, atas nama kredibilitas Google, dia pun memberi banyak fasilitas gratis. …

Hingga kini beberapa perusahaan penyedia jasa hosting e-mail masih membanderol harga ”kapitalis” hingga Rp 1,5 juta per tahun hanya untuk hosting e-mail sebesar 100 MB. Dengan hadirnya Google Apps, perusahaan semacam ini harus berkaca karena lambat laun akan tergerus oleh revolusi di bidang per-server-an.

Di tengah mahalnya harga server untuk e-mail, Google Apps dalam beberapa tahun ini menawarkan hosting e-mail yang gratis. Hosting e-mail gratis beda dengan e-mail gratis seperti Gmail dari Google atau Yahoo.”

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. Hello there 🙂
    Yes, first I'm so glad that you finally started this very blog. Thank you for the highlight here. I'm late to write a comment for it because I've been busy also for other things…like writing many "self-Reviews" which will answer some of your questions probably 😉

    Best of luck for this important and informative writing. I hope many people take advantage of this opportunity to learn and to express themselves more.

    Cheers.

    Posted by Maya | 19 October 2007, 12:03 am
  2. ideologi mungkin adalah suatu batasan dari "apa yang anda dapat, dan apa yang saya dapat ".

    Posted by tony | 17 December 2007, 10:09 pm

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory