Uncategorized

Tentang “Paradoks” Hidup Hemat

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak

Volume II, Edisi No. 66, Tanggal 26 Januari 2009
Oleh: Sukasah Syahdan

Sebuah tabloid yang terbit di Sydney, Indomedia, edisi nasional No. 124, Januari 2009 lalu menurunkan tulisan menarik tentang hidup hemat (hal. 14-15).  Judulnya, The “Paradox” of Thrift. Judul artikel kali ini kurang lebih saya turunkan dari situ.

Isu ekonomi ini relevan sepanjang masa. Terutama saat ini, saat pemerintahan di dunia sedang giat-giatnya mencoba menggairahkan perekonomian masing-masing lewat melalui berbagai kebijakan untuk mendongkrak likuiditas dan merangsang konsumsi.

Apa sebenarnya “paradox” of thrift yang telah dijadikan justifikasi berbagai kebijaksanaan pemerintahan itu?

“Paradoks” hidup hemat bermakna, kurang lebih, begini: kita tahu bahwa berhemat atau menabung itu baik.  Tetapi kalau sebagian besar orang terlalu hemat dan mengurangi belanja, maka dia berhenti sebagai hal yang baik; bahkan berubah menjadi amat merugikan.

Sesuai pandangan arusutama terhadap “paradoks” tersebut, kalau semua orang terlalu berhemat dan mengurangi belanja, maka hal itu akan menimbulkan efek domino.  Pemilik bisnis akan kekurangan pembeli;  ini lalu akan menggerus keuntungan, sehingga perusahaan pun terpaksa harus mengurangi pekerja.  Dengan berkurangnya pekerja, akan bertambahlah pengangguran. Daya beli pun akan semakin berkurang dan keuntungan perusahaan semakin merosot. Akhirnya, perusahaan terpaksa harus menekan  jumlah pekerjanya lagi dan lagi, dan demikian seterusnya, sehingga efek makronya akan besar sekali, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.  Pertumbuhan ekonomi akan tersendat; pengangguran meningkat; dan ekonomi memburuk.

Cukup masuk akal?

Sebagian besar kita mungkin setuju. Bukankah sebagian besar kita cenderung setuju bahwa hampir semua hal yang baik kalau disandingkan dengan kata “terlalu”, maka dia cenderung dianggap berhenti menjadi baik–misalnya: terlalu baik, terlalu rajin, terlalu kaya, terlalu … apa lagi?

Namun, artikel ini ingin menunjukkan bahwa “paradox” of thrift adalah mitos yang menyesatkan; kesimpulan maupun implikasi apapun yang berdasar pada mitos ini, tidak dapat diterima.

Secara langsung maupun tidak langsung, “paradox”of thrift adalah serangan terhadap hidup hemat; serangan terhadap tabungan. Inilah tipikal pemikiran ekonomi Keynesian. Meski Keynes memang bukan orang pertama yang berpandangan demikian, pandangan ini menjadi amat populer lewat bukunya yang terbit di tahun 1930-an, The General Theory.  Dalam buku tersebut Keynes berpandangan bahwa tabungan atau uang simpanan yang tidak memasuki pasar simpan-pinjam (sebagai contoh, uang yang sering disimpan di bawah kasur) sebagai investasi adalah sebuah bentuk kebocoran (‘leakage’) dalam proses produksi-konsumsi.

Inti permasalahannya adalah: benarkah thrift dapat menjadi negatif? Benarkah bahwa sikap seperti itu secara kolektif/agregat akan merugikan perekonomian?  Inilah yang harus, tetapi nyaris tidak pernah diselidiki.  Setahu saya, tidak satupun ekonom di Indonesia yang pernah menulis atau mengomentari hal ini. Kalau yang mendukung atau sering mengutip hal tersebut, itu cukup banyak.

Tapi terus terang saya sendiri kurang yakin, di sini, lewat artikel singkat di Jurnal ini, bahwa saya bakal mampu menjelaskan secara runtun mengapa pandangan-pandangan di atas merupakan mitos yang keliru.  Untuk mengkritisi hal ini, ada beberapa hal mendasar dan terkait yang perlu dipahami terlebih dahulu. Sebagian hal ini agak terlalu teknis untuk pembaca umum.  Namun, saya akan mencobanya, meski dengan risiko terlalu menyederhanakannya.

Satu hal yang perlu dipahami adalah peran uang dalam perekonomian.

Nilai satu komoditas dengan komoditas lain tercermin dari nilai uang; dan nilai ini pada dasarnya bergerak seiring dengan supply/demand.  Dalam sistem perekonomian di mana uang tidak dapat diciptakan seenak hati, dan di mana savings atau tabungan, yang diawali oleh preferensi-waktu individual, bebas menentukan tingkat originary interest rates (suku bunga asali) secara alamiah, maka kecenderungan harga-harga adalah turun.

Dalam sistem perekonomian yang tidak terkendala secara signifikan (mis. oleh penentuan tingkat bunga oleh bank sentral atau kebijakan moneter lainnya) Dengan demikian, tidak masalah berapa jumlah uang yang ada. Atau dengan kata lain, secara teoritis, satu ons emas pun akan cukup dipakai sebagai cadangan seluruh mata uang yang ada di suatu negara. Yang akan berubah adalah nisbah per ons emas tersebut terhadap mata uang itu sendiri.

Yang kedua adalah bahwa nisbah perubahan relasi antar-harga niscaya terjadi dan fluktuatif, namun membutuhkan waktu, tidak secara serempak, dan tanpa seorang pun yang dapat menentukan besarannya.

Yang ketiga, uang tidak pernah bersirkulasi atau beredar dalam perekonomian.  Ini bertentangan dengan identitas Fischerian yang mengatakan bahwa kecepatan uang beredar akan memengaruhi perekonomian. Uang yang ditabung atau ditimbun seseorang juga tidak pernah keluar dari proses perekonomian sebagai kebocoran sebagaimana pandangan Keynesian.

Yang tepat adalah bahwa uang selalu berada dalam kepemilikan seseorang, yang dapat dipakainya secara langsung untuk kepentingan konsumsi saat-sekarang, atau untuk kepentingan masa depan.  Uang juga adalah komoditas yang tunduk pada kaidah supply dan demand.  Kebutuhan (demand) seorang individu akan uang kontan (sebagai tabungan atau investasi) berfluktuasi tergantung pada kebutuhan dan ekspektasi pribadi dan tidak dapat dihilangkan karena ini langsung terkait dengan ketidakpastian (uncertainties), yang tidak dapat diukur atau dikuantifikasikan, dan yang berbeda dari risiko (risks), yang dapat dikuantifikasikan.

Yang keempat, kita perlu memahami proses produksi-konsumsi serta proses enterpreneurial, terutama yang menyangkut pembentukan laba-rugi.  Produksi selalu berlangsung memerlukan waktu;  demikian pula konsumsi.  Konsumsi tidak hanya terjadi saat ini, melainkan juga di masa depan.  Proses menabung bukan proses mengurangi konsumsi per se, melainkan mengurangi konsumi saat-ini guna dapat mengonsumsi lebih banyak di masa depan.

Kalau Anda memproduksi barang senilai Rp 100 dan lalu berhasil menjualnya senilai bersih (atas pajak) Rp 110, apakah otomatis Anda memeroleh laba?  Ya, tapi itu laba akuntasi (accounting profit); bukan laba dalam pengertian ekonomis (economic profit), sebab dalam pengertian ekonomis Anda harus memperhitungkan suku bunga yang berlaku, tingkat inflasi, dan nilai ekonomis peluang lain yang hilang atau harus dilepaskan karena Anda memilih means tertentu (mis. memproduksi dan menjual barang tersebut) dan melepas means yang lain.

Makna apa yang tersirat dalam penyataan di atas?  Maksudnya adalah: keuntungan bukan sesuatu yang alamiah terjadi dalam proses produksi; kerugian juga bagian yang amat mungkin terjadi.  Ini tentang proses dan risiko kewirausahaan, di mana baik orang awam, ekonom, maupun politisi cenderung hanya bicara tingkat keuntungan, seolah itu hal normal yang terjadi dengan berwirausaha, padahal pada dasarnya kita juga harus bicara tingkat kerugian sebagai hal yang juga normal.

Bahwa harga jual niscaya lebih tinggi dari harga produksi, penambah utama diferensiasi harga jual bukanlah langsung laba (profit), melainkan tambahan yang pertama-tama berasal dari sewa (rent) dari faktor-faktor produksi dan suku bunga asali yang alamiah (originary/natural interest rate), yang muncul akibat adanya kategori preferensi-waktu yang berlaku pada setiap individu (misalnya bahwa semua orang cenderung ingin memuaskan keinginannya sekarang ketimbang nanti, dsb.).  Tingkat laba, atau tingkat rugi, sebagai komponen lain penentu harga, baru dapat diimbuhkan kemudian, yang sebagian besar tergantung pada valuasi subyektif masyarakat terhadap nilai tambah yang berhasil diciptakan para enterpreneur atas dasar visi bisnis mereka, melalui proses produksi dengan tahapan atau jenjang yang berbeda-beda.

Dalam cara yang sama, yang akan bereaksi duluan ketika konstelasi supply/demand terhadap komoditas secara agregat mengalami fluktuasi secara signifikan adalah juga pergerakan nilai suku bunga asali tersebut, bukan langsung tingkat keuntungan atau kerugian di pihak produsen.

Selain itu, ketika seorang produsen menunda proses produksi, ia memiliki ekses kapital yang dapat bebas dinvenstasikannya untuk menciptakan nilai baru dan atau memperpanjang proses produksinya agar dapat menciptakan nilai yang lebih besar. Bahwa proses produksi selalu berlangsung secara bertahap dan selalu melibatkan elemen waktu adalah kontribusi yang krusial dari tradisi pemikiran Austrian, yang kelak dielaborasi secara fundamental oleh seorang eksponennya (seperti dirujuk kelak, di alinea terakhir).

Di satu sisi, mungkin Anda pernah mendengar ekonom yang mengatakan bahwa: in the long run, we are all dead? Ajaran ini adalah buah dari pemikiran yang menyerang thrift“Paradox” of thrift, dari sudut pandang ekonomi yang correct, adalah mitos yang hampa justifikasi.

Namun demikian, dari sudut pandang politik, pandangan ini sayangnya amat “klop” sekali!

Sulit disangkal bahwa pergantian rejim pemerintahan lewat sistem elektoral setiap empat-lima tahun sekali lewat proses yang paling demokrasis sekalipun, cenderung akan membawa masyarakat luas dan para “pemimpinnya” pada rabun dekat (myopia).  Ketika rakyat tergiring atau menggiring diri sendiri pada ekspektasi tertentu terhadap pemerintah dan demokrasi,

“Paradox” of thrift tidak akan terjelaskan oleh siapa saja yang melupakan dimensi waktu dalam proses produksi maupun proses konsumsi.  Padahal, kata paradox setiap kali disandingkan dengan kata thrift, seyogyanya dimarkahi dengan sepasang tanda kutip. Pandangan yang mengajarkan orang sesuatu tentang tindakan yang anakronis adalah mitos dengan segala bahaya laten yang dikandungnya.

Di akhir esei singkat yang tergesa ini harus saya katakan sekali lagi bahwa saya tidak sepenuhnya percaya diri kalau tulisan ini dapat dipahami dengan baik.  Jika ya, syukurlah.  Jika tidak, dan pembaca serius ingin menyelidikinya lebih lanjut, saya sarankan membaca makalah F.A. Hayek, yang berjudul The “Paradox” of Thrift.  Dialah pemikir Austrian sejaman Keynes yang pernah mengulas tuntas tentang perkembangan mitos ini.

[Pemutakhiran/revisi minor: 3 Feb. 09]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

4 comments for “Tentang “Paradoks” Hidup Hemat”

  1. “penabung hidup untuk masa kini dan masa datang, dengan mengharagai masa depan. Pemboros hidup untuk masa kini dan sekarang, yang tak pernah menghargai masa depan”
    Pemerintah yang mengajarkan pemborosan, melalui berbagai macam stimulus fiskal dan moneter, ialah pemerintah yang menyayangi pemboros dan menghukum penabung. Mereka ialah ‘pemimpin’ yang mengajarkan bahwa masa kini tidak ada hubungannya dengan masa depan!

    Nad, sekarang intuisi saya mengatakan bahwa banyak orang sedang mengalami ‘puasa’ massal. Benarkah demikian? apakah anda memiliki penjelasan praksiologis untuk masalah yang saya hadapi ini?

    Salam

    Posted by Giyanto | 2 February 2009, 11:41 pm
  2. Halo, Giy! Apa kabar? Tanggapan Anda bagus sekali!  Puasa massal, analogi yang jelas menarik dan sulit disangkal! Penjelasan praksiologisnya banyak banget, tinggal yang mana yang mau diangkat, mis.  time-preference masyarakat yang berubah/diubah secara paksa akibat/oleh pihak eksternal; bahwa orang tidak bisa tetap memiliki kue yang sudah disantapnya; bahwa hanya ada dua cara produksi–cara ekonomis dan cara politis, serta dampak cara kedua thd masyarakat; bahwa superioritas hukum kausalitas dalam tindakan  manusia tidak akan lekang, baik dulu atau sekarang; kondisi faktual vis-a-vis ekspektasi masyarakat terhadap apa yang dapat dilakukan pemerintah, dll.

    Posted by Nad | 4 February 2009, 6:58 am
  3. Kabar baik. Sekarang saya baru berjuang melawan 'otoritarianisme pengetahuan', alias skripsi.

    Ya saya sepaham dengan penjelasan tersebut. Maksud kongkret pertanyaan saya barangkali seperti ini. Dalam kondisi deflasi, alias puasa massal seperti sekarang, apakah orang cenderung 'menunggu' untuk membelanjakan tabungannya, atau apakah karena tidak ada tabungan yang dapat dibelanjakan?

    Posted by Giyanto | 4 February 2009, 8:15 pm
  4. sering berbuat hemat dengan menahan uang jajan tapi kenapa ada aja sering ada kebutuhan yang tak dibayangkan yang tidak direncanakan. dalam kebutuhan kita juga dapat      seing membutuhkan.

    dan bagaimana agar kita dapat hidup hemat?

    Posted by ANDIN | 11 August 2009, 1:54 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: