Epistemologi

Persoalan-Persoalan Epistemologis dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan yang Mengkaji Tindakan Manusia (Bag.2)

| Ludwig von Mises |

( Bagian 2 – Tamat; diformat ulang 25 Maret 2008 )

8. Konsepsi dan Pemahaman

Tugas ilmu-ilmu kajian tentang tindakan manusia adalah memahami makna dan relevansi tindakan manusia. Untuk tugas ini, disiplin-disiplin tersebut menerapkan dua prosedur epistemologis yang berbeda, yaitu konsepsi dan pemahaman. Konsepsi adalah peralatan mental dari praksiologi; sedangkan pemahaman adalah peralatan mental khusus dari sejarah.

Kognisi praksiologi merupakan pemahaman konseptual. Ia mengacu pada apa yang perlu ada dalam tindakan manusia. Ia merupakan kognisi terhadap hal-hal yang universal dan kategoris.

Sementara itu, kognisi sejarah mengacu pada apa yang unik dan individual dalam setiap peristiwa atau kelas peristiwa. Ia menganalisis terlebih dahulu masing-masing obyek kajiannya dengan bantuan peralatan mental yang disediakan oleh semua disiplin ilmu lain. Setelah mencapai tugas awal ini, kognisi sejarah menghadapi persoalan khususnya: [yaitu bagaimana] menjelaskan ciri-ciri yang unik dan individual dari kasus tersebut melalui pemahaman.

Sebagaimana disebutkan di atas, sejarah dikatakan tidak pernah menjadi ilmiah karena pengertian historis tergantung pada penilaian subyektif sejarawan. Pemahaman, dikatakan, hanyalah istilah eufimistis untuk sesuatu yang arbitrer. Tulisan sejarawan selalu berpihak dan bersifat satu sisi. Tulisannya tidak melaporkan fakta, melainkan mendistorsinya.

Bahwa kita memiliki buku-buku sejarah yang ditulis dari berbagai sudut pandang, tentu saja ini adalah fakta. Ada sejarah Reformasi yang ditulis dari sudut pandang Katolik dan ada pula yang Protestan. Ada sejarah tentang kaum proletar dan ada juga sejarah a la borjuis; ada sejarawan beraliran Tory dan ada juga yang berhaluan Whig. Setiap bangsa, partai dan kelompok linguistik memilki sejarawannya sendiri dan ide-idenya sendiri tentang sejarah.

Tetapi masalah perbedaan interpretasi yang ditawarkan ini tidak boleh dikacaukan dengan upaya pendistorsian fakta-fakta secara sengaja oleh juru propaganda dan apologis yang berlagak sebagai sejarawan. Fakta-fakta yang dapat dibangun secara meyakinkan berdasarkan sumber materi yang ada harus diterima sebagai pekerjaan awal sejarawan. Hal ini belum merupakan lahan bagi pemahaman, melainkan tugas yang harus dicapai dengan memanfaatkan alat-alat yang disediakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Segala fenomena dikumpulkan melalui pengamatan yang kritis dan hati-hati terhadap catatan-catatan yang ada. Sejauh teori-teori yang dipakai oleh sains non-historis yang dijadikan dasar bagi pemeriksaan kritis oleh sejarawan terhadap sumber-sumber tersebut cukup andal dan pasti, tidak akan muncul ketidaksepahaman yang arbitrer mengenai penerimaan fenomena secara demikian. Apa yang dinyatakan oleh sejarawan dapat sesuai atau bertentangan dengan fakta, dapat atau tidak dapat dibuktikan melalui dokumen-dokumen yang tersedia, atau bersifat samar apabila sumber-sumbernya tidak memberi cukup informasi. Pakar-pakar sejarah [yang terlibat] dapat saling berbeda pendapat, tapi hanya melalui interpretasi yang masuk akal terhadap bukti-bukti yang ada. Pembahasan mereka tidak mengijinkan pernyataan-pernyataan yang arbitrer.

Kendati demikian, para sejarawan amat sering berbeda pendapat dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran-ajaran sains non-historis. Maka, tentu saja, ketidaksepakatan seputar penyelidikan yang kritis terhadap catatan-catatan serta kesimpulan-kesimpulan ditarik dari sana juga dapat terjadi. Konflik-konflik yang tak terjembatani pun bermunculan–bukan oleh sebab kearbitreran fenomena historis yang konkret, melainkan oleh sebab tidak bertemunya pandangan mereka saat mengacu kepada sains non-sejarah.

Seorang pakar sejarah Cina kuno bisa saja mencatat bahwa dosa sang kaisar telah menyebabkan petaka kekeringan dan hujan pun kembali turun setelah sang penguasa bertobat. Oleh sejarawan modern, laporan semacam itu tentu akan ditolak. Doktrin meteorologis yang mendasari pandangannya bertentangan dengan dasar-dasar ilmu-ilmu pengetahuan alam masa kini yang tidak terbantahkan. Namun kesepakatan dalam cara pandang tersebut tidak tercapai dalam sejumlah besar permasalahan teologis, biologis dan ekonomis. Oleh karena itulah para sejarawan bersilang pendapat.

Pendukung doktrin rasis Nordic-Aria akan meremehkan dan menyangkal laporan tentang pencapaian intelektual dan moral dari bangsa-bangsa lain yang “inferior”. Ia akan memperlakukan laporan-laporan semacam itu sebagaimana halnya sejarawan modern akan menampik laporan sejarawan Cina kuno di atas. Kesepakatan mengenai fenomena sejarah Kristen mungkin tidak akan dicapai di antara mereka yang meyakiki gospel sebagai Kitab suci dengan mereka yang menganggapnya hanya dokumen ciptaan manusia. Sejarawan Katolik dan sejarawan Protestan dapat bersilang pendapat tentang pertanyaan-pertanyaan seputar suatu fakta, sebab masing-masing berangkat dari gagasan teologis yang berlainan. Pandangan seorang Mercantilis atau Neo-Mercantilis tentunya berbeda dari pandangan seorang ekonom. Tulisan tentang sejarah moneter Jerman di tahun-tahun 1914 hingga 1923 dikondisikan oleh doktrin moneter yang dianut masing-masing penulisnya. Fakta tentang Revolusi Perancis disajikan dengan cara yang berbeda-beda oleh mereka yang percaya pada hak suci dari anointed king dan oleh mereka yang berpandangan sebaliknya.

Para sejarawan tidak bersepakat dalam isu-isu tersebut dan bukan dalam kapasitas mereka sebagai sejarawan, melainkan dalam aplikasi sains non-historis yang mereka lakukan terhadap subyek kajian sejarah mereka. Mereka tidak percaya sebagaimana para dokter yang agnostik juga menyangkal mukjizat Loureds dengan para anggota komite medis pengumpul bukti mukjizat tersebut. Hanya mereka yang percaya bahwa fakta menuliskan sendiri ceritanya ke dalam tabula rasa benak manusia yang akan menyalahkan sejarawan atas perbedaan pendapat semacam itu. Mereka tidak menyadari bahwa sejarah tidak pernah dapat dikaji tanpa adanya sejumlah presuposisi, dan bahwa penolakan terhadap presuposisi tersebut, yakni seluruh kandungan cabang-cabang ilmu pengetahuan non-historis, pasti menentukan pembentukan fakta-fakta historis.

Presuposisi ini juga menentukan pemilihan dan pemilahan fakta–antara mana yang akan diangkat dan yang mana yang harus dibuang karena dianggap tidak relevan. Dalam mencari penyebab mengapa seekor sapi tidak menghasilkan susu, misalnya, seorang dokter hewan modern mungkin akan sama sekali mengesampingkan semua masukan mengenai mata setan tukang sihir. Cara pandangnya mungkin akan berbeda dengan yang apa diyakini tiga ratus tahun lalu. Dengan cara yang sama sejarawan akan memilih dari sekian peristiwa yang tak terhitung banyaknya, yang melatari fakta yang tengah digarapnya, yang diduga telah berkontribusi terhadap terjadinya atau tertundanya fakta tersebut-dan mengabaikan apa-apa yang dalam menurut pemahamannya terhadap disiplin di luar sejarah mungkin tidak berkontribusi terhadap fakta tersebut.

Perubahan dalam ajaran-aharan pengetahuan non-sejarah, sebagai akibatnya, pasti terlibat dalam penulisan ulang sejarah. Setiap generasi harus memperlakukan persoalan historis yang sama sebagaimana persoalan baru, sebab persoalan tersebut muncul dalam dalam cahaya yang berbeda. Pandangan teologis di masa silam mengarahkan perlakuan terhadap sejarah berbeda daripada perlakuan [modern] melalui teorema-teorema ilmu alam modern. Disiplin ekonomi subyektif menghasilkan karya-karya historis yang amat berbeda dari karya-karya yang dihasilkan doktrin merkantilis. Sejauh divergensi dalam buku-buku sejarah berasal dari ketidaksepahaman-ketidaksepahaman yang semacam ini, mereka bukanlah hasil dari kekaburan atau kegamangan kajian historis. Sebaliknya, divergensi ini merupakan hasil atau akibat dari ketidakseragaman di dalam ranah disiplin-disiplin lain yang secara populer disebut sebagai ilmu-ilmu pasti atau eksak.

Untuk menghindari kemungkinan kesalahpahaman, ada baiknya ditekankan di sini beberapa butir tambahan. Segala divergensi yang disebutkan di atas tidak boleh disamakan:

1. Dengan pendistorsian fakta yang dilakukan secara sengaja;

2. Dengan upaya untuk menjustifikasikan atau mengecam tindakan-tindakan dari sudut pandang hukum atau moral;

3. Dengan pencantuman insidentil komentar-komentar yang berupa ekspresi penilaian dalam [proses] representasi obyektif secara ketat terhadap keadaan (the state of affairs). Sebuah risalah tentang bakteriologi tidak kehilangan obyektivitasnya jika pengarangnya, yang sejalan dengan sudut pandang manusia, menganggap preservasi kehidupan manusia sebagai tujuan utama dan, dalam hal mengaplikasikan standar ini, menandai metode-metode efektif apa saja yang dianggap baik untuk melawan kuman dan sebaliknya, yang mana yang dianggap buruk dan tidak membawa hasil. Jika buku semacam itu ditulis oleh seekor kuman, maka ia akan membalik penilaian-penilaian tadi, tetapi kandungan materi bukunya tidak akan berbeda dari yang titulis oleh seorang seorang bakteriologis. Dengan cara yang sama, sebuah versi sejarah Eropa tentang invasi bangsa Mongol di abad ketiga belas mungkin akan berisi tentang peristiwa-peristiwa yang “menguntungkan” dan “tidak menguntungkan” karena sejarawannya mengambil sudut pandang sebagai pembela kebudayaan Eropa (Barat). Tetapi menyetujui standar nilai suatu partai tidak harus mengganggu kandungan isi kajiannya. Hal ini dapat saja-dari sudut pandang pengetahuan kontemporer-bersifat obyektif secara absolut. Seorang sejarawan Mongolia dapat menyetujuinya secara penuh, kecuali bagian-bagian yang berisi komentar-komentar yang kasual tersebut.

4. Dengan representasi tindakan salah satu partai saat berlangsungnya antagonisme diplomatik atau militer. Bentrokan di antara kelompok-kelompok yang bertikai dapat diatasi dengan menggunakan sudut pandang gagasan, motivasi dan tujuan yang memicu masing-masing pihak. Untuk memahami secara utuh apa yang terjadi, segala hal yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak perlu menjadi bahan pertimbangan. Fakta yang terjadi merupakan hasil interaksi kedua pihak tersebut. Tetapi untuk memahami tindakan kedua pihak tersebut, sejarawan harus mempelajari hal-hal sebagaimana mereka muncul bagi manusia yang bertindak di saat genting tersebut, bukan cuma seperti kita yang memandang remeh hal tersebut dari sudut pandang pengetahuan kita saat ini. Sejarah tentang kebijakan yang ditempuh [presiden] Lincoln dalam beberapa pekan dan bulan sebelum pecahnya Perang Saudara tentu saja tidak utuh. Tetapi tidak ada kajian sejarah yang [benar-benar] lengkap. Terlepas apakah sejarawan bersimpati dengan kelompok Unionists atau dengan Confederates atau apakah ia benar-benar netral, ia dapat memperlakukan secara netral kebijakan Lincoln di musim semi tahun 1861. Investigasi semacam itu merupakan awal yang tak terpisahkan untuk menjawab secara luas pertanyaan tentang bagaimana pecahnya Perang Saudara.

Akhirnya, setelah segala persoalan ini teratasi, kita sekarang dapat menjawab pertanyaan yang murni: Apakah terdapat elemen subyektif dalam pemahaman historis, dan jika ada, bagaimana hal tersebut menentukan hasil kajian historis?

Sejauh tugas dari pemahaman adalah membangun fakta-fakta bahwa manusia dimotivasi oleh penjatuhan nilai tertentu dan bertujuan menggunakan cara tertentu, maka tidak akan muncul perbedaan pendapat apapun di antara sesama sejarawan sejati-atau orang-orang yang bermaksud memperoleh kognisi terhadap peristiwa di masa lampau. Mungkin akan hadir ketidakpastian oleh sebab kurang memadainya informasi dari sumber-sumber yang tersedia. Namun, hal ini tidak ada kaitannya dengan pemahaman, sebab hal ini mengacu kepada pekerjaan awal yang harus dipenuhi oleh sang sejarawan.

Tetapi pemahaman/mamahami juga memiliki tuntutan atau tugas lain yang harus dipenuhi. Pemahaman harus menilai efek-efek dan intensitas efek-efek yang ditimbulkan oleh tindakan; pemahaman harus berurusan dengan relevansi setiap motif dan setiap tindakan.

Di sini kita dihadapkan pada satu dari perbedaan-perbedaan utama antara fisika dan kimia di satu sisi dan ilmu pengetahuan tentang manusia di sisi lain. Dalam ranah peristiwa-peristiwa kimia dan fisika terdapat (atau, setidaknya, umumnya diasumsikan demikian) relasi-relasi yang konstan antara berbagai besaran (magnitudes), dan manusia mampu menemukan konstanra-konstanta tersebut dalam derajat presisi yang wajar melalui ujicoba laboratorium. Relasi konstan semacam itu tidak tersedia di bidang tindakan manusia–di luar teknologi dan terapetik fisika atau kimia. Selama beberapa waktu para ekonom merasa yakin telah berhasil menemukan relasi konstan semacam itu yang menjelaskan efek perubahan kuantitas uang terhadap harga-harga barang. Dinyatakan bahwa kenaikan atau penurunan kuantitas uang yang beredar akan menghasilkan perubahan-perubahan proporsional dari harga-harga barang. Ilmu ekonomi modern telah memaparkan secara gamblang dan tak terbantahkan kekeliruan dari pernyataan tersebut. Para ekonom yang ingin menggantikan apa yang mereka namakan sebagai “ekonomi kualitatif” dengan “ekonomi kuantitatif” telah keliru sama sekali. Di bidang ekonomi, tidak terdapat relasi yang konstan, dan sebagai akibatnya pengukuran terhadapnya adalah hal yang mustahil. Jika seorang juru statistik menentukan bahwa peningkatan sebesar 10 persen dalam stok kentang di Atlantis pada suatu waktu tertentu diikuti dengan kejatuhan harganya sebesar 8 persen, ia [tetap] tidak dapat membangun apapun tentang apa yang terjadi atau apa yang mungkin terjadi dengan perubahan stok kentang di luar negeri atau di waktu-waktu lain. Yang telah ia lakukan bukanlah “mengukur” “elastisitas permintaan” terhadap kentang. Yang telah ia bangun adalah sebuah fakta historis yang unik dan individual. Seorang yang cerdas tidak akan meragukan bahwa perilaku manusia dalam hubungannya dengan kentang dan komoditas-komoditas lain, sangat bervariasi. Individu-individu yang berbeda akan menilai hal yang sama secara berbeda, dan penilaian seseorang akan berbeda dengan berubahnya keadaan.

Di luar bidang sejarah ekonomi tidak seorangpun pernah mencoba mempertahankan bahwa relasi-relasi di dalam sejarah manusia bersifat konstan. Adalah kenyataan bahwa dalam konflik-konflik bersenjata di masa lalu antara bangsa-bangsa Eropa dan bangsa-bangsa yang tertinggal dari suku bangsa lain, seorang tentara Eropa biasanya setara dengan beberapa pejuang asli. Tetapi tidak seorangpun bersikap cukup bodoh untuk “mengukur” seberapa besar superioritas orang-orang Eropa.

Ketidakpraktisan pengukuran semacam ini bukan disebabkan oleh tidak adanya metode teknis untuk melakukan pengukuran demikian, melainkan karena tidak adanya relasi-relasi yang konstan. Seandainya hal tersebut disebabkan oleh kekurangan teknis, setidaknya dalam beberapa kasus, estimasi [masih] dimungkinkan. Namun, fakta utamanya adalah tidak tersedianya relasi-relasi yang konstan. Ekonomi tidaklah, sebagaimana terus diulang-ulang oleh kaum positivis yang ignoran, menjadi tertinggal oleh sebab sifatnya yang tidak “kuantitatif”. Ia memang tidak kuantitatif dan tidak melakukan pengukuran karena tidak adanya konstanta. Angka-angka statistik yang mengacu kepada peristiwa-peristiwa ekonomi adalah data historis. Data ini mengatakan kepada kita apa yang terjadi dalam kasus historis yang tidak berulang. Peristiwa-peristiwa fisikal dapat ditafsirkan berdasarkan pengetahuan kita tentang relasi-relasi konstan yang dibangun oleh pengalaman. Peristiwa-peristiwa historis tidak terbuka bagi interpretasi semacam itu.

Sejarawan dapat saja mengenumerasi semua faktor yang bekerja dan menghasilkan efek tertentu dan semua faktor yang bersifat sebaliknya, dan yang mungkin telah menunda atau memitigasi hasil finalnya. Tetapi ia tidak dapat mengkoordinasikan, kecuali melalui pemahaman, berbagai faktor kausatif di dalam cara yang kuantitatif terhadap efek-efek yang dihasilkan. Ia tidak dapat, selain melalui pemahaman, menetapkan kepada masing-masing faktor n perannya dalam menghasilakn efek P. Pemahaman dalam ranah sejarah bolehlah dianggap bersifat setara dengan analisis kuantitatif dan pengukuran.

Teknologi dapat mengatakan kepada kita berapa tebal lempengan baja agar tidak tertembus peluru yang ditembakkan dari jarak 300 yard dengan senapan Winchester. Dengan ini kita dapat menjawab apakah mengapa seseorang yang berlindung di balik lempengan baja dengan ketebalan tertentu terlukai atau tidak jika ditembak dengan senapan tersebut. Sejarah tidak mampu menerangkan dengan tingkat pemastian yang sama mengapa harga susu naik sebesar 10 persen atau mengapa Presiden Roosevelt mengalahkan Gubernur Dewey dalam pemilu tahun 1944 atau mengapa Prancis dari tahun 1870 hingga 1940 berada di bawah konstitusi republikan. Persoalan-persoalan semacam itu tidak mengijinkan perlakuan lain selain melalui pemahaman.

Bagi setiap faktor historis, pemahaman mencoba menetapkan relevansinya. Ketika pemahaman tengah diuapayakan, tidak ada ruang untuk kearbitreran dan perubahan pendirian. Kebebasan sejarawan dibatasi oleh upayanya dalam memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap realitas. Bintang penyuluhnya haruslah pencarian terhadap kebenaran. Tetapi hal ini mengharuskan penyusupan elemen subyektifitas ke dalam pemahaman. Pemahaman sejarawan selalu diwarnai tanda-tanda personalitasnya. Hal ini mencerminkan benak sang pengarang [sejarawan ybs].

Ilmu -ilmu yang a priori–logika, matematik dan prasiologi-bertujuan meraih pengetahuan yang sahih secara tanpa syarat bagi semua makhluk yang diberkahi struktur logis benak manusia. Ilmu-ilmu alam bertujuan pada sebuah kognisi yang sahih bagi seluruh makhluk yang dibekali tidak saja dengan akal manusia tetapi juga dengan indra manusia. Keseragaman logika dan sensasi manusia memberikan cabang-cabang pengetahuan ini dengan pengetahuan dengan karakternya berupa kesahihan yang universal. Hanya belakangan ini saja cabang-cabang ilmu ini mulai melihat batas-batas kemampuan, dan mulai meninggalkan pretensi yang berkelimpahan, sebagaimana yang diyakini para fisikawan tempo doeleo, saat menemukan “prinsip ketidakpastian”. Kini mereka menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diamati, dan ketidakmungkinan-untuk-diamati ini adalah persoalan prinsip epistemologis.

Pemahaman historis tidak pernah menghasilkan sesuatu yang harus diterima semua orang. Dua sejarawan yang sependapat penuh sehubungan dengan ajaran-ajaran ilmu-ilmu pengetahuan non-historis dan dengan fakta-fakta yang mapan, sejauh fakta-fakta tersebut dimapankan tanpa mengacu kepada pemahaman terhadap relevansi, mungkin akan berbeda pendapat dalam memahami relevansi fakta-fakta tersebut. Mereka dapat sepakat sepenuhnya bahwa faktor-faktor a, b, dan c bersama-sama berefek P; akan tetapi, mereka dapat berbeda pendapat secara lebar dalam hal relevansi kontribusi faktor a, b, dan c terhadap hasil akhirnya. Sejauh pemahaman diarahkan untuk menetapkan relevansi setiap faktor tersebut, maka hal ini terbuka bagi pengaruh penilaian subyektif. Tentu saja, penilaian ini bukan penilaian terhadap nilai; penilaian ini tidak mengekspresikan preferensi masing-masing sejarawan. Ini adalah penilaian terhadap relevansi.

Para sejarawan dapat berbeda pandangan karena berbagai alasan. Mereka dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang ajaran ilmu-ilmu pengetahuan non-sejarah.; mereka mungkin mendasarkan pemikiran mereka kurang lebih pada pengenalan mereka terhadap catatan-catatan.; mereka dapat berbeda pemahaman tentang motif dan tujuan manusia-manusia yang bertindak dan cara-cara yang diterapkan. Segala perbedaan ini terbuka untuk diatasi oleh pemikiran yang “obyektif”; adalah memungkinkan untuk mencapai kesepakatan yang universal mengenai hal tersebut. Tetapi sejauh para sejarawan bersilang-pendapat dalam penilaian masing-masing terhadap relevansi tersebut, mustahil menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua manusia yang waras.

Metode intelektual dari ilmu-ilmu pengetahuan tidak berbeda macamnya dari yang diaplikasikan oleh orang kebanyakan dalam penalaran sehari-hari. Ilmuwan menggunakan piranti yang sama dengan yang dipakai orang awam; ia hanya menggunakannya secara lebih terampil dan lebih hati-hati. Pemahaman bukanlah hak khusus sejarawan. Pemahaman adalah urusan semua orang. Dalam hal mengamati kondisi-kondisi lingkungan hidupnya, setiap orang adalah sejarawan. Setiap orang menggunakan pemahaman dalam berurusan dengan ketidakpastian peristiwa masa depan, yang untuk mana ia harus menyesuaikan tindakan-tindakannya. Penalaran khas seorang spekulator adalah sebuah pemahaman terhadap relevansi dari berbagai faktor yang menentukan peristiwa di masa depan. Dan-mari kita tekankan hal ini di awal penilikan kita-tindakan senantiasa mengarah ke masa depan dan dengan demikian juga terhadap kondisi-kondisi yang tidak-pasti dan dengan demikian selalu merupakan spekulasi. Manusia yang bertindak menatap masa depan dengan matanya, layaknya seorang sejarawan menatap ke masa depan.

Sejarah Alam dan Sejarah Manusia

Kosmogoni, geologi, dan sejarah perubahan biologis adalah disiplin-disiplin historis oleh karena mereka berurusan dengan peristiwa-peristiwa unik di masa lalu. Namun demikian, mereka beroperasi secara ekslusif dengan metode epistemologis ilmu alam dan tidak memerlukan pemahaman. Mereka kadang-kadang harus mengandalkan hanya kepada estimasi-estimasi besaran. Tetapi taksiran-taksiran tersebut bukan penilaian terhadap relevansi. Mereka lebih merupakan metode yang kurang sempurna untuk menentukan relasi-relasi kuantitatif daripada cara pengukuran yang “eksak”. Mereka tidak boleh dikacaukan dengan duduk perkara (the state of affairs) di bidang tindakan manusia yang dikarakterisasikan oleh absennya relasi-relasi yang konstan.

Jika kita berbicara tentang sejarah, yang muncul di benak kita hanyalah sejarah tindakan manusia, dengan perangkat mental khususnya berupa pemahaman.

Pernyataan bahwa ilmu pengetahuan alamiah modern berhutang atas segala pencapaiannya kepada metode eksperimental kadang-kadang diserang dengan mengacu kepada astronomi. Di jaman sekarang, astronomi modern secara esensial adalah aplikasi dari hukum-hukum fisika, yang ditemukan secara eksperimentil di muka bumi, kepada benda-benda angkasa. Di masa lalu, astronomi umumnya didasari pada asumsi bahwa pergerakan benda-benda langit tidak mengalami perubahan. Kopernikus dan Kepler semata-mata mencoba menerka seperti apa bentuk kurva gerakan bumi saat mengitari matahari. Begitu Kopernikus menganggap lingkaran sebagai bentuk kurva “yang paling sempurna”, ia memilihnya untuk menjelaskan teorinya. Kemudian, dengan cara terkaan serupa, Kepler mengubah lingkaran menjadi bentuk elips. Baru sejak penemuan-penemuan oleh Newton-lah astronomi menjadi ilmu pengetahuan alam dalam makna yang ketat.

9. Tentang Tipe-Tipe Ideal

Sejarah berurusan dengan peristiwa-peristiwa unik yang tidak berulang, dengan flux affairs manusia yang tidak dapat dibalik. Sebuah peristiwa historis tidak dapat dideskripsikan tanpa mengacu kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya serta kepada tempat dan tanggal kejadiannya. Jika sebuah kejadian dinarasikan tanpa referensi seperti itu, maka hal tersebut bukan peristiwa historis melainkan sebuah fakta belaka dari ilmu pengetahuan alam. Laporan yang menyatakan bahwa Profesor X pada tanggal 20 Februari 1945 melakukan sebuah eksperimen tertentu di laboratoriumnya adalah catatan peristiwa historis. Sang fisikawan percaya bahwa ia benar dalam usahanya mengabstraksikan dari orang yang melakukan eksperimen dan tempat berlangsungnya eksperimen tersebut. Ia berurusan hanya dengan keadaan-keadaan yang, menurutnya, relevan untuk memproduksi hasil yang dicapai dan, bila diulangi, akan menghasilkan hasil yang sama pula. Ia mentransformasikan peristiwa sejarah menjadi sebuah fakta ilmu alam empiris. Ia tidak memasukkan interferensi aktif dari sang pelaku percobaan dan mencoba membayangkannya sebagai pengamat yang indefferent dan relater dari realitas yang tidak tercemari. Isu-isu epistemologi dari filsafat ini bukanlah tugas praksiologi.

Meskipun unik dan tidak dapat diulang, peristiwa-peristiwa historis memiliki satu ciri umum: mereka adalah tindakan manusia. Sejarah memahami peristiwa-peristiwa tersebut sebagai tindakan-tindakan manusia; ia menangkap maknanya melalui instrumentalitas kognisi praksiologis dan memahami maknanya dalam [dengan] memandang fitur-fitur individu mereka yang unik. Apa yang penting bagi sejarah senantiasa makna dari orang-orang yang terkait: makna yang mereka berikan kepada keadaan yang ingin mereka ubah, makna yang mereka bubuhkan kepada tindakan-tindakan, serta kepada efek-efek yang ditimbulkan tindakan-tindakan tersebut.

Aspek darimana sejarah mengatur dan memilah multiplisitas yang tak-terhingga dari berbagai peristiwa adalah makna peristiwanya. Satu-satunya prinsip yang diterapkan oleh sejarah untuk melakukan sistemisasi dari obyek-obyeknya-yaitu manusia, gagasan, institusi, entitas sosial, dan artifak-adalah afinitas makna(nya). Berdasarkan afinitas makna ini sejarah mengatur elemen-elemennya ke dalam tipe-tipe ideal.

Tipe-tipe ideal adalah notions spesifik yang dipakai dalam riset sejarah dan dalam merepresentasikan hasil-hasilnya. Mereka berupa konsep-konsep pemahaman. Dengan demikian mereka sama sekali berbeda dari kategori-kategori dan konsep-konsep praksiologis dan juga dari konsep-konsep dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam. Sebuah tipe ideal bukan merupakan sebuah konsep kelas, karena deskripsinya tidak mengindikasikan tanda-tanda aygn keberadaannya secara pasti dan tidak-taksa menentukan keanggotaan kelas. Sebuah tipe ideal tidak dapat didefinisikan: ia harus dikarekterisasikan oleh sebuah enumerasi fitur-fitur tersebut yang keberadaannya secara umum menentukan apakah dalam insance yang konkret kita menghadapi (atau tidak) sebuah spesimen yang tergolong tipe ideal yang tengah dipertanyakan. Ciri khas dari tipe ideal adalah bahwa tidak semua karakteristiknya perlu hadir dalam satu contoh apapun. Apakah ketidakhadiran karakteristik tertentu mencegah pencantuman sebuah spesimen konkret ke dalam tipe ideal yang sedang diuji, hal ini tergantung pada penilaian relevansinya melalui pemahaman. Tipe ideal itu sendiri merupakan suatu hasil dari pemahaman terhadap berbagai motif, gagasan, dan tujuan dari individu-individu yang bertindak serta dari cara-cara yang mereka tempuh.

Sebuah tipe ideal tidak berhubungan sama sekali dengan rata-rata atau nilai tengah statistik. Kebanyakan karakteristiknya di sini tidak terbuka bagi penentuan numerik, dan untuk alasan ini saja mereka tidak dapat memasukai sebuah kalkulus rata-rata. Tetapi alasan utamanya dapat ditemukan pada hal lain. Nilai rerata statistik mendenotasikan perilaku anggota-anggota suatu kelas atau tipe, yang sudah terbentuk melalui definisi atau karakterisasi yang mengacu kepada tanda-tanda lain, dalam hubungannya dengan fitur-fitur yang tidak diacu/teracu di dalam definisi atau karakterisasinya. Keanggotaan kelas atau tipe harus diketahui terlebih dahulu oleh jurus statistik sebelum orang tersebut dapat memulai penyeledikan fitur-fitur khusus dan menggunakan hasil penelitiannya untuk menentukan rata-ratanya. Kita dapat menentukan rata-rata usia para senator AS atau dapat menhitung rata-rata perilaku sebuah kelas usia dalam populasi dalam kaitannya dengan persoalan tertentu. Tetapi secara logis mustahil membuat keanggotaan kelas atau tipe tersebut menjadi tergantung kepada hasil rata-ratanya.

Tidak ada persoalan historis yang dapat diperlakukan tanpa bantuan tipe-tipe ideal. Bahkan ketika sang sejarawan berurusan dengan seorang individu atau sebuah peristiwa tunggal, ia tidak dapat menghindari pengacuan kepada tipe-tipe ideal. Jika ia berbicara tentang Napoleon, ia harus mengacu kepada tipe-tipe ideal semacam seorang komander, diktator, atau pemimpin yang revolusioner; dan jika berurusan dengan Revolusi Prancis, ia harus mengacu kepada tipe-tipe ideal seperti revolusi, disintegrasi sebuah rejim yang mapan, [atau] anarki. Mungkin saja pengacuan terhadap tipe ideal dipakai hanya untuk menolak aplikasinya terhadap kasus yang sedang ditangani. Tetapi semua peristiwa historis diperikan dan ditafsirkan melalui tipe-tipe ideal. Orang awam pun, tatkala berurusan dengan peristiwa masa lalu atau masa depan, harus selalu menggunakan tipe-tipe ideal dan tanpa [harus] disadarinya selalu melakukan cara ini.

Apakah penggunaan tipe ideal terteu ekspedient atau kondusif ataupun sebaliknya bagi pemahaman fenomena tersebut hanya dapat ditentukan melalui pemahaman. Bukan tipe ideallyah yang menentukan modus pemahaman; modus pemahamanlah yang memerlukan konstruksi dan penggunaan tipe-tipe ideal yang sesuai.

Tipe-tipe ideal dibangun dnegan menggunakan gagasan serta konsep yang dikembangkan oleh semua cabang ilmu pengetahuan non-sejarah. Setiap kognisi dalam sejarah, oleh karena itu, terkondisikan oleh temuan-temuan dalam disiplin-disiplin lain, tergantung pada mereka semua, dan tidak boleh berkontradiksi dengan merek. Tetapi pengetahuan sejarah memiliki kajian lain dan metode lain selain dari yang ditawarkan ilmu-ilmu lain tersebut, dan pada gilirannya mereka tidak memandang perlu pemahaman. Dengan demikian, tipe-tipe ideal tidak boleh dikacaukan dengan konsep-konsep dari ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Hal ini juga sahih dalam hubungannya dengan kategori-kategori dan konsep-konsep praksiologis. Mereka, pastinya, tidak terlepaskan sebagai piranti mental bagi kajian sejarah. Namun demikian, mereka tidak mengacu kepada pemahaman terhadap peristiwa unik dan individual yang merupakan kajian sejarah. Sebuah tipe ideal dengan demikian tidak pernah menjadi atau merupakan adopsi sederhana dari konsep praksiologis.

Dalam banyak contoh istilah yang dipergunakan oleh praksiologi untuk menandakan kepada konsep praksiologis [dapat] menandakan sebuah tipe ideal bagi sang sejarawan. Dengan demikian sang sejarawan menggunakan satu kata untuk menyatakan dua hal yang berbeda. Ia menggunakan istilah semacam itu kadang-kadang untuk menandakan konotosi praksiologisnya, tetapi lebih sering untuk menandakan sebuah tipe ideal. Dalam kasus terakhir disebut sang sejarawan menyertakan kepada kata tersebut sebuah makna yang berbeda dari makna praksiologisnya: ia mentransformasikannya dengan mentransfernya ke lahan inquiry/penyelidikan yang berbeda. Kata “entrepreneur” sebagai konsep ekonomi termasuk kedalam stratum yang berbeda dari tipe ideal “entrepreneur” sebagaimana dipergunakan dalam sejarah ekonomi atau ekonomi deskriptif. (Dalam stratum ketiga terdapat pula “entrepreneur” sebagai istilah hukum.) Istilah ekonomi “enterpreneur” adalah konsep yang terdefinisikan secara persis di mana di dalam kerangka perekonomian pasar menandakan sebuah fungsi yang terintergrasi secara jelas. Tipe ideal historis dari “entrepreneur” tidak mencakup anggota-anggota yang sama. Tidak seorang pun yang menggunakannya yang terpikir di benaknya seorang anak penyemir sepatu, sopir taksi, pengusaha kecil-kecilan, dan petani-petani kecil. Apa yang dibangun oleh ilmu ekonomi dalam hal enterpreneus secara ketat bersifat sahih bagi semua anggota kelas tersebut tanpa mempersoalkan kondisi temporal dan geografisnya dan kepada berbagai cabang bisnis. Apa yang diartikan sejarah ekonomi bagi tipe-tipe idealnya dapat berbeda tergantung pada lingkungan-lingkungan khusus dari berbagai usia, negara, cabang-cabang bisnis, dan sejumlah besar kondisi lainnya. Sejarah tidak terlalu menganggap perlu tipe ideal umum terhadap entrepreneur. Ia lebih concerned dengan tipe-tipe semacam: entrepreneur Amerika di jaman, industri berat negara Jerman di jaman William II, manufakturing tekstil di New dalam beberapa dekade sebelum PD I, haute financ Protestant di Paris, pengusaha yang berdikari (self-made), dan sebagainya.

Apakah pemakaian tipe ideal tertentu direkomendasikan atau tidak, tergantung sepenuhnya pada modus dari pengertian. Adalah cukup umum untuk menggunakan dua tipe ideal: Partai-Partai Sayap-Kiri (kelompok Progresif) dan Partai-Partai Sayapo-Kanan (kelompok Fasis). Kelompok pertama mencakup demokrasi-demokrasi di Barat, beberapa diktator di Amerika Latin, sejumlah Bolshevisme Rusia; kelompok terakhir mencakup Fasisme Italia dan Nazisme Jerman. Pentipean ini merupakan hasil dari modus pemahaman tertentu. Modus lain dapat mengotraskan Demokrasi dan Kediktatoram. Dengan demikian, Bolsevisme Rusia, Fasisme Italia dan Nazisme Jerman tergolong seagai tipe ideal bagi pemerintahan yang diktator, sedangkan sistem-sistem Barat tergolong tipe pemerintahan yang demokratis.

Adalah sebuah kesalahan fundamental bahwa Mazhab Historis Wirtschaftliche Staatswissenshaften di Jerman dan Institusionalisme di Amerika telah menafsirkan ilmu ekonomi sebgai karakterisasi dari perilaku bagi sebuah tipe ideal, homo oeconomicus. Menurut doktrin ini ekonomi tradisional atau ortodoks tidak berurusan dengan perilaku manusia sebagaimana manusia sesungguhnya dan bagaimana ia bertindak, melainkan dengan citra fiktif dan hipotetis. Ia [ilmu ini?] menggambarkan sebuah makhluk yang secara ekslusif digerakkan oleh “motif-motif” ekonomi, mis. semata-mata oleh tujuan untuk membuat sebesar mungkin keuntungan material atau keuangan. Makhluk semacam ini, lanjut para kritikus tadi, tidak memiliki dan tidak pernah memiliki padanannya di dalam realitas; ia adalah sebuah phantom dari filsafat yang spurious dari balik sofa semata. Tidak seorangpun termotivasi secara ekslusif oleh keinginan untuk menjadi sekaya mungkin; banyak manusia yang sama sekali tidak terpengaruh oleh craving yang rendah ini. Maka, dalam berurusan dengan kehidupan dan sejarah, tak ada manfaatnya mengacu kepada ilusi homunculus semacam itu.

Bahkan seandainya ekonomi klasik memang bermakna demikian, homo oeconomicus tentunya tidak akan menjadi tipe yang ideal. Tipe yang ideal tidaklah merupakan embodiment dari sebuah sisi atau aspek dari berbagai tujuan dan hasrat manusia yang beragam. Ia selalu merupakan representasi dari fenomena yang kompleks dari realitas, baik realitas manusia, instusi, mapun ideologi.

Ekonom klasik berupaya menjelaskan pembentukan harga. Mereka sepenuhnya menyadari fakta bahwa harga bukanlah hasil dari aktivitas-aktivitas segolongan orang saja, melainkan akibat dari keterkaitan segenap anggota masyarakat pasar. Ini makna pernyataan mereka saat menyatakan bahwa permintaan dan persediaan menentukan pembentukan harga. Namun demikian, para ekonom klasik gagal dalam upaya mereka menyediakan teori yang memuaskan tentang nilai. Mereka termangu saat mencari solusi bagi paradoks nilai yang jelas terjadi. Mereka menjadi terbingungkan bahwa “emas” bernilai elbih tinggi dari “besi”, meskipun yang terakhir jelas lebih “bermanfaat” dari yang sebelumnya. Jadi mereka tidak dapat membangun sebuah teori nilai secara umum dan tidak dapat menelusuri fenomena pertukaran pasar dan menelusuri fenomena produksi hingga ke sumber-sumber ultimatnya, yakni perilaku konsumen. Kekurangan ini memaksa mereka untuk menanggalkan rencana ambisius mereka untuk mengembangkan sebuah teori umum tentang tindakan manusia. Mereka harus puas dengan sebuah teori yang hanya menjelaskan aktivitas para pebisnis, tanpa harus kembali ke pilihan-pilihan setiap orang sebagai determinan penentu. Mereka hanya berurusan dengan tindakan-tindakan para pebisnis yang siap membeli di pasar termurah dan menjual di tempat termahal. Konsumen terabaikan di luar lahan teori mereka. Kelak para epigon dalam ilmu ekonomi klasik menjelaskan dan menjustifikasikan kekurangan ini sebagai prosedur yang sengaja dan secara metodologis diperlukan. Ini, menurut pernyataan mereka, merupakan rancangan sengaja para ekonom untuk membatasi penyelidikan-penyelidikan mereka hanya kepada satu aspek upaya manusia-yakni aspek “ekonomis”nya. Adalah tujuan mereka untuk memakai pencitraan fiktif terhadap seseorang yang digerakkan semata-mata oleh motif-motif ekonomi semata dan mengabaikan lainnya meskipun mereka sepenuhnya menyadari fakta bahwa manusia sejati digerakkan oleh banyak motif “non-ekonomis”. Yang berurusan dengan motif-motif lain, menurut sekelompok penafsir tersebut, bukanlah ilmu ekonomi, melainkan cabang-cabang pengetahuan lain. Kelompok lain mengakui bahwa perlakuan terhadap motif-motif ‘non-ekonomi” ini serta pengaruhnya terhadap pembentukan harga adalah juga merupakan tugas ilmu ekonomi, tetapi orang-orang ini percaya bahwa hal tersebut harus diserahkan kepada generasi selanjutnya saja. Akan diperlihatkan di tahap lain dalam penyelidikan kita bahwa perbedaan antara motif “ekonomi dan motif “non-ekonomi” dari tindakan manusia tidak dapat dipertahankan. Pada titik ini yang penting untuk disadari adalah bahwa doktrin tentang sisi “ekonomis” dari tindakan manusia benar-benar merupakan misrepresentasi ajaran-ajaran dari para ekonom klasik. Mereka tidak pernah bertujuan melakukan hal-hal yang dituduhkan doktrin ini kepada mereka. Mereka ingin memahami pembentukan sejati harga-haraga-bukan harga-harga fiktif yang tercipta ketika manusua bertindak di bawah pengaruh kondisi-kondisi hipotetis yang berbeda dari yang benar-benar mempengaruhi mereka. Harga-harga yang mereka upayakan untuk jelaskan dan yang memang mereka jelaskan-meskipun tanpa menelusuri kembali hingga ke pilihan-pilihan yang dibuat para konsumen-adalah harga-harga riil pasar. Penawaran dan permintaan yang mereka bahas adalah faktor-faktor riil yang ditentukan oleh semua motif yang memicu manusia dalam menjual dan membeli. Apa yang keliru dengan teori mereka adalah bahwa mereka tidak menelusuri permintaan hingga ke polihan-pilihan konsumen; teori permintaan mereka menjadi kurang memuaskan. Tetapi bukanlah gagasan mereka bahwa permintaan sebagaimana mereka pergunakan dalam konsep ini di dalam disertasi-disertasi mereka secara ekslusif ditentukan oleh motif-motif “ekonomis” yang dapat dibedakan dari yang “non-ekonomis”. Dengan membatasi teoritisasi mereka pada tindakan-tindakan para pebisnis, mereka tidak berurusan dengan motif-motif konsumen yang ultimat. Namun demikian, teori mereka tentang harga dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap harga-harga riil terlepas dari motif-motif dan gagasan-gagasan yang memicu konsumen.

Ilmu ekonomi subyektif modern memulai [hal ini] dengan menjawab paradoks nilai yang jelas. Ilmu ini tidak membatasi teorinya pada tindakan para pebisnis semata dan tidak pula berurusan dengan homo oeconomicus yang fiktif. Ia mempertimbangkan semua kategori yang tidak terkecualikan dalam tindakan semua orang. Teorema-teoremanya seputar harga komoditas, tingkat upah, dan suku bunga mengacu kepada semua fenomena tanpa mempersoalkan motif-motif yang menyebabkan orang membeli atau menjual. Sudah saatnya kita membuang sepenuhnya segala referensi terhadap upaya abortif untuk menjustifikasikan kekurangan para ekonom masa lalu melalui appeal terhadap hantu di balik istilah homo oeconomicus.

10. Prosedur Dalam Ilmu Ekonomi

Cakupan praksiologi adalah untuk mengeksplikasikan kategori tindakan manusia. Yang dibutuhkan untuk mendeduksikan teorema-teorema praksiologis adalah pengetahuan kita mengenai esensi tindakan manusia. Pengetahuan ini adalah seputar diri kita sendiri karena kita adalah manusia. Tidak seorang keturunan manusia [normal] pun yang ter-reduksi oleh kondisi-kondisi patologis ke titik keberadaan vegetatif, yang tidak memiliki pengetahuan ini. Tidak diperlukan pengalaman khusus untuk memahami teorema-teorema ini, dan tidak sepotong pengalaman pun, betapapun kayanya, yang dapat menyibak teorema-teorema tersebut kepada makhluk lain yang tidak mengenal secara a priori apakah tindakan manusia itu. Satu-satunya cara kepada kognisi terhadap teorema-teorema ini adalah analisis logis terhadap pengetahuan kita yang melekat terhadap kategori tindakan. Kita harus memikirkan diri kita sendiri dan merefleksikan struktur tindakan manusia. Sebagaimana logika dan matematika, pengetahuan praksiologis berada di dalam diri kita; ia tidak berasal dari luar.

Semua konsep dan teorema praksiologi terimplikasikan di dalam kategori tindakan manusia. Tugas pertama adalah mengekstraksikan dan mendeduksikan teorema-teorema tersebut, memperinci implikasi-implikasi mereka dan mendefinisikan kondisi-kondisi universal bagi tindakan. Setelah menunjukkan kondisi-kondisi apa yang diperlukan bagi setiap tindakan, kita harus melangkah lebih lanjut dan mendefinisikan-tenunya, dalam pengertian kategoris dan formal-kondisi-kondisi yang kurang umum yang diperlukan bagi modus-modus khusus dalam bertindak. Adalah mungkin melakukan tugas kedua ini dengan men-delineasi semua kondisi-kondisi yang dapat dipikirkan dan mendeduksi darinya emua inferesi yang dapat diterima secara logis. Sistem yang menyeluruh seperti itu akan memberikan kita sebuah teori yang mengacu tidak saja bagi tindakan manusia sebagaimana adanya di bawah kondisi-kondisi tertentu di dunia nyata di mana manusia hidup dan bertindak; ia tak kurang juga akan berurusan dengan tindakan hipotetis sebagaimana yang akan terjadi di dalam kondisi-kondisi dalam dunia imajiner yang tidak mungkin terjadi.

Namun, tujuan sains adalah memahami realitas. Ia bukan semacam latihan mental atau wujud kesenangan terhadap hal-hal yang logis. Oleh karenanya praksiologi membatasi penyelidikannya kepada kajian tindakan di dalam kondisi-kondisi dan presuposisi-presuposisi yang diketahui dalam realitas. Ia mengkaji tindakan di bawah kondisi yang tidak nyata atau tidak dapat terjadi hanya dari dua titik pandang. Ia berurusan dengan keadaan yang, meskipun tidak nyata di masa kini maupun lampau, dapat menjadi nyata di masa depan. Dan ia meneliti kondisi-kondisi yang tidak riil dan tidak dapat terealisasikan jika penyelidikan tersebut dibutuhkan demi memuaskan emahaman terhadap apa yang terjadi di bawah kondisi-kondisi yang hadir di dalam realitas.

Namun demikian, pengacuan terhadap pengalaman tidak mengurangi karakter aprioristik dari praksiologi dan ekonomi. Pengalaman semata-mata mengarahkan rasa keingintahuan kita terhadap persoalan-persoalan tertentu dan men-divert nya dari persoalan-persoalan lain. Ia memberi tahu kita apa yang harus dijelajahi, tetapi tidak memberi tahu bagaimana kita dapat melanjutkan pencarian kita terhadap pengetahuan. Tambahan pula, bukanlah pengalaman melainkan pemikiran semata yang mengajarkan kita bahwa, dan dalam saat mana, perlu menyelidiki kondisi-kondisi hipotetis untuk memahami apa yang terjadi di dunia nyata.

[Sebagai contoh] Disutilitas tenaga kerja bukanlah merupakan karakter kategoris dan aprioristik. Kita dapat tanpa menimbulkan kontradiksi memikirkan dunia di mana tenaga kerja tidak menyebabkan kegalauan, dan kita dapat menggambarkan kondisi yang berlaku di dunia yang seperti itu. Namun, dunia nyata terkondisikan oleh disutilitas tenaga kerja. Hanya teorema-teorema yang berdasar ppada asumsi bahwa tenaga kerja merupakan sumber kegalauanlah yang dapat diterapkan untuk memahami apa yang terjadi di dunia ini.

Pengalaman mengajarkan adanya disutilitas tenaga kerja. Tetapi pengalaman ini tidak mengajarkannya secara langsung. Tidak ada fenomenon yang memperkenalkan dirinya sebagai disutilitas tenaga kerja. Hanya ada data pengalaman yang ditafsirkan, atas dasar pengetahuan aprioristik, untuk memaknai bahwa manusia menganggap waktu luang-mis. tidak adanya pekerjaan-ketika hal-hal lainnya tidak berubah, sebagai kondisi yang lebih disukai daripada pengeluaran tenaga (kerja). Kita mengetahui bahwa orang menolak keuntungan-keuntungan yang dapat ia peroleh dengan bekerja lebih banyak-dalam arti, bahwa orang siap mengorbankannya untuk mendapatkan waktu luang. Kita dapat menarik inferensi dari fakta ini bahwa waktu luang dinilai sebagai barang dan tenaga/kerja dianggap sebagai beban. Tetapi bagi tilikan praksiologis sebelumnya, kita tidak akan dapat berada dalam posisi untuk mencapai kesimpulan ini.

Sebuah teori tentang pertukaran tak-langsung dan semua teori selanjutnya yang dibangun di atasnya-seperti teori sirkulasi kredit-dapat diterapkan hanya bagi penafsiran peristiwa-peristiwa di dalam dunia di mana pertukaran tak-langsung dipraktikkan. Di dunia perdagangan barter, hal tersebut hanya akan menjadi permainan intelektual. Di dunia semacam itu, seandainya disiplin ekonomi dapat muncul sama sekali, amat kecil kemungkinannya ekonom akan mencurahkan pemikirannya terhadap persoalan-persoalan seputar pertukaran tak-langsung, uang, dan lainnya. Namun, di dalam dunia kita yang sebenarnya, kajian-kajian semacam itu merupakan bagian esensial dari teori ekonomie.

Kenyataan bahwa praksiologi, dalam memusatkan perhatiannya pada pemahaman realitas, berkonsentrasi untuk menyelidiki persoalan-persoalan yang bermanfaat ntuk ini, tidak mengubah karakter aprioristik dari penalarannya. Tetapi ia menandai cara di mana ekonomi, yang hingga kini merupakan bagian yang terperinci dari praksiologi, menyajikan hasil-hasil dari upaya-upayanya.

Ekonomi tidak mengikuti prosedur logika maupun matematikan. Ia tidak menyajikan sistem terpadu rasiosinasi aprioristik yang terlepas dari acuan apapun terhadap realitas. Dalam memperkenalkan asumsi-asumsinya ke dalam penalaran ekonomi, ia memuaskan In introducing assumptions into its reasoning, it satisfies itself that perlakuan terhadap asumsi-asumsi yang terlibat dapat memberi manfaat bagi pemahaman terhadap realitas. Ekonomi di dalam risalah dan monografnya tidak secara ketat memisahkan ilmu murni dari aplikasi teorema-teoremanya bagi solusi terhadap persoalan historis dan politis yang konkret. Ia mengadopsi untuk tujuan penyajian hasil-hasilnya yang terorganisir kelak, sebuah bentuk di mana teori aprioristik dan interpretasi fenomena historis saling terjalin.

Jelas bahwa modus prosedur ini tercakup dalam ilmu ekonomi oleh sebab sifat dan esensi lahan kajiannya. Hal tersebut telah memberi bukti atas keterpakaiannya (expediency). Namun demikian, orang tidak boleh mengabaikan fakta bahwa manipulasi prosedur tunggal dan yang secara logis agak aneh ini memerlukan kehati-hatian dan kesaksamaan, dan mereka yang tidak kritis dan superfisial lagi dan lagi tergerus tanpa arah oleh kebingungan akibat kekurang hati-hatian terhadap kedua metode epistemologis yang diimplikasikannya.

Metode historis dalam ilmu ekonomi atau disiplin ekonomi institusional adalah hal-hal yang tidak ada. Yang ada hanyalah disiplin ekonomi dan sejarah ekonomi. Keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Semua teorema ekonomi sudah semestinya sahih dalam setiap keadaan di mana segala asumsi yang dipresuposisikan tersedia. Tentu saja, mereka tidak memiliki signifikansi yang praktis di dalam situasi di mana kondisi-kondisi tersebut tidak hadir. Teorema-teorema yang mengacu kepada pertukaran tak-langsung tidak dapat diaplikasikan bagi kondisi-kondisi di mana tidak terdapat pertukaran yang tidak langsung. Namun, hal ini tidak mengurangi kesahihannya.

Isu tersebut/ini telah dikacaukan dengan upaya-upaya pemerintah dan kelompok penekan untuk merendahkan ilmu ekonomi dan mencela para ekonom. Despot dan mayoritas [yang] demokratis kepayang dengan kekuasaan. Mereka tentunya enggan mengakui bahwa mereka tidak dapat mengelak dari hukum-hukum alam.Tetapi mereka menolak keberadaan hukum ekonomi. [Dalam pandangan mereka] Bukankah mereka legislator tertinggi? Bukankah mereka memiliki kekuasaan untuk menghancurkan setiap lawan mereka? Tidak seorangpun panglima perang (war lord) yang rentan untuk mengakui keterbatasannya selain pembatasan yang diberikan kepadanya oleh angkatan perang yang lebih unggul. Penulis-penulis tercocok hidungnya dengan senang hati menjelaskan doktrin-doktrin yang cocok. Mereka menyebut semua pra-asumsi mereka yang kacau-balau sebagai “ekonomi historis”. Dalam kenyataannya, sejarah ekonomi adalah catatan panjang berisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang gagal, sebab kebijakan-kebijakan tersebut dirancang dengan pengabaian yang nekad terhadap kaidah-kaidah ekonomi.

Adalah mustahil [bagi kita untuk] memahami sejarah pemikiran ekonomi jika orang tidak memberi perhatian kepada fakta bahwa ilmu ekonomi yang demikian merupakan tantangan bagi keangkuhan para penguasa. Seorang ekonom tidak akan pernah menjadi favorit bagi para otokrat atau demagog. Bagi mereka, ia selalu dianggap pencipta keonaran, dan semakin hati kecil mereka merasa yakin bahwa keberatan yang diutarakan sang ekonom memiliki dasar yang kuat, semakin mereka membenci ekonom tersebut.

Dalam menghadapi semua agitasi yang heboh ini, adalah tepat untuk membangun fakta bahwa titik awal bagi penalaran praksiologis dan ekonomis, [yakni] kategori tindakan-tindakan manusia, merupakan bukti bagi segala kritik dan keberatan. Acuan terhadap pertimbangan historis ataupun empiris apapun tidak dapat menemukan kesalahan di dalam proposisi [yang menyatakan] bahwa manusia bertindak secara sengaja untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang dipilihnya. Pembicaraan mengenai irasionalitas, kedalaman yang tak-terukur dari jiwa manusia, spontanitas fenomena dalam kehidupan, automatisasi, refleks, dan tropisme, tidak menafikan pernyataan bahwa manusia memanfaatkan akalnya untuk mewujudkan segala keinginan dan hasratnya. Berdasarkan pada landasan yang tak tergoyahkan dari kategori tindakan manusia, praksiologi dan ekonomi melangkah setapak demi setapak melalui penalaran diskursif. Persis dengan mendefinisikan asumsi-asumsi dan kondisi-kondisinya, praksiologi dan ekonomi membangun sebuah sistem konsep dan menarik segala inferensi yang terimplikasikan melalui rasiosinasi (ratiocination) logis yang unassailable. Mengenai hasil-hasilnya yang diperoleh dari cara demikian, cuma dua sikap dimungkinkan: kita dapat menguak kesalahan yang terjadi dalam rantai deduksi yang telah menghasilkan hasil-hasil tersebut, atau harus mengakui kebenaran dan kesahihan mereka.

Tiada gunanya menepis bahwa kehidupan ini dan realitas adalah sesuatu yang tidak logis. Kehidupan dan realitas tidaklah logis ataupun non-logis. Mereka semata-mata terjadi. Tetapi logika adalah satu-satunya alat yang tersedia bagi manusia untuk memahami keduanya. Tiada guna kita berkeberatan bahwa kehidupan dan sejarah tidak dapat dipahami atau dijelaskan dan bahwa akal manusia tidak akan pernah dapat menembus inti pusat keduanya. Para kritikus [semacam ini] mengkontradiksikan diri sendiri saat mengatakan tentang yang tak terpahami dan membeberkan teori-teori-tentunya, teori-teori gadungan-tentang hal-hal yang tak terukur. Banyak hal berada di luar jangkauan benak manusia. Tetapi sejauh manusia mampu mencapai pengetahuan, ia hanya dapat menggunakan satu jalan raya bagi pendekatannya, yang dikuak oleh akal.

Ilusi lain adalah segala upaya untuk memenekan pemahaman terhadap teorema-teorema ekonomi. Ranah pemahaman historis merupakan pemaparan ekskusif dari persoalan-persoalan yang tidak dapat sepenuhnya diterangkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Pemahaman tidak pernah boleh bersifat kontradiktif terhadap teori-teori yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Pemahaman tidak pernah dapat melakukan apa pun, di satu sisi, selain membangun fakta bahwa manusia dimotivasi oleh gagasan-gagasan tertentu, yang diarahkan pada tujuan-tujuan tertentu, dan menerapkan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan, di sisi lain, menetapkan berbagai faktor historis relevansinya masing-masing sejauh hal ini tidak dapat dicapai oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Pemahaman tidak memberi hak kepada sejarawan modern untuk menandaskan bahwa eksorsisme pernah menjadi cara yang dianggap cocok untuk mengobati sapi. Sejarawan tersebut juga tidak diperkenankan untuk mempertahankan bahwa hukum ekonomi tidak sahih di jaman Romawi atau dalam kekaisaran bangsa Inca.

Manusia tidak luput dari kesalahan. Ia mencari kebenaran-maksudnya, demi pemahaman yang paling memadai atas realitas sejauh struktu benak dan akalnya membuatnya dapat mengakses kebenaran tersebut. Manusia tidak pernah dapat menjadi maha-mengetahui. Ia tidak akan pernah dapat merasa yakin secara absolut bahwa penyelidikannya tidak akan keliru dan bahwa apa yang ia anggap sebagai kebenaran tertentu bukan merupakan kesalahan. Paling banter yang dapat dilakukan manusia adalah menyerahkan semua teori lagi dan lagi untuk pengujian yang paling kritis. Artinya bagi ekonom adalah untuk menelusuri kembali semua teorema kepada basis ultimat yang tak dapat dipertanyakan lagi, kategori tindakan manusia, dan untuk menguji melalui pemeriksaan yang paling saksama semua asumsi dan inferensi yang berasal dari basis ini kepada teorema yang sedang diuji. Prosedur ini memang bukan garansi atas kesalahan, namun tidak diragukan lagi cara ini paling efektif untuk menghindari kesalahan.

Praksiologi-dan dengan demikian juga ekonomi-adalah sistem deduktif. Kekuatannya berasal dari titik awal penarikan deduksinya, yaitu dari kategori tindakan. Tidak satupun teorema ekonomi dapat dianggap kuat (sound) yang tidak terikat secara mantap pada landasan ini melalui rantai penaran yang tidak dapat dibantah kebenarannya.

Pernyataan yang diproklamirkan tanpa kaitan semacam itu hanya merupakan sesuatu yang arbitrer dan mengambang di udara. Mustahil berurusan dengan sebuah segmen khusus ekonomi jika seseorang tidak membungkusnya dalam sebuah sistem tindakan yang utuh. Ilmu-ilmu empiris memulai dari peristiwa-perisitwa singular dan berlanjut dari yang unik dan individual kepada yang universal. Perlakuan ilmu-ilmu tersebut tergantung pada spesialisasi. Mereka dapat berurusan dengan segmen-segmen tertentu tanpa menghiraukan bidangnya secara keseluruhan. Ekonom tidak dapat menjadi seorang spesialis. Dalam berurusan dengan setiap problem, ia harus selalu menetapkan pandangan sekilasnya ke sistem secara keseluruhan.

Para sejarawan seringkali ‘berdosa’ dalam hal ini. Mereka siap menemukan teorema-teorema secara ad hoc. Mereka kadang-kadang gagal mengenali bahwa mengabstraksikan hubungan kausal dari kajian terhadap fenomena yang kompleks, adalah perkara mustahil. Pretensi mereka untuk menyelidiki realitas tanpa referensi apapun terhadap apa yang mereka cemooh sebagai gagasan-gagasan yang sudah digagas sebelumnya (preconceived) adalah hal sia-sia. Dalam kenyataannya, mereka tanpa mereka sadari menerapkan doktrin-doktrin populer jauh sebelum akhirnya tersingkap sebagai hal yang keliru atau kontradiktif.

11. Batas-Batas Konsep Praksiologis

Segala kategori dan konsep praksiologis tersusun demi pemahaman terhadap tindakan manusia. Semuanya ini akan menjadi kontradiktif dan tidak masuk akal jika dicoba diaplikasikan di luar kondisi-kondisi kehidupan manusia. Antropomorfisme yang naif seputar agama-agama primitif tidak dapat dicerna oleh pemikiran filosofis. Namun demikian, upaya para filsuf dalam mendefinisikan, melalui konsep-konsep praksiologis, atribut-atribut Sesuatu yang absolut, yang bebas dari segala keterbatasan dan kelemahan keberadaan manusia, juga tak kalah meragukan.

Para filsuf skolastik dan teologian dan sejawat mereka–Theists dan Deists–pada Jaman Akal pernah memikirkan tentang Sesuatu yang sifatnya absolut, sempurna, tidak berubah, omnipoten, dan omnisien, tetapi masih tetap sibuk melakukan perencanaan dan bertindak, dan tetap menempuh cara untuk meraih tujuannya. Akan tetapi, tindakan hanya dapat diimputasi pada makhluk yang tidak puas terhadap keadaannya, dan tindakan yang dilakukan secara berulang hanya berlaku untuk makhluk yang tidak memiliki daya untuk menghilangkan ketidaknyamanannya sekali untuk selamanya. Makhluk yang bertindak adalah makhluk yang tidak merasa puas dan oleh karenanya tidak maha-kuasa. Jika ia merasa puas, ia tidak akan bertindak, dan jika ia maha-kuasa, maka sejak lama ia akan sudah menghilangkan segala ketidakpuasannya. Bagi sesuatu yang maha kuasa tidak ada tekanan untuk memilih antara berbagai keadaan ketidaknyamanan; ia juga tidak berada dalam keharusan untuk setuju dengan hal buruk yang lebih baik (the lesser evil). Omnipoten berarti kekuatan untuk memperoleh segalanya dan menikmati kepuasan penuh tanpa terkendala oleh keterbatasan. Tetapi hal demikian tidak berterima atau kompatibel dengan konsep tindakan itu sendiri. Bagi sesuatu yang mahakuasa, kategori-kategori tujuan dan cara tidak ada. Ia berada di atas pemahaman, konsep dan pengertian manusia.

Bagi sesuatu yang maha kuasa, setiap “cara” dapat menjadi tak terbatas kemampuannya. Ia dapat mengaplikasikan setiap “cara” untuk mencapai segala tujuan; ia dapat mencapai setiap tujuan bahkan tanpa cara apapun. Adalah di luar kemampuan manusia untuk memikirkan konsep kemahakuasaan secara konsisten hingga ke semua konsekuensi logis yang final. Paradoks-paradoks yang dihasilkan tidak dapat diatasi. Apakah yang maha kuasa itu memiliki daya untuk mencapai sesuatu yang memiliki imunitas terhadap interferensinya kemudian? Apakah ia memiliki segala daya, maka ia juga memiliki daya untuk membatasi kekuatannya sehingga ia tidak lagi menjadi maha kuasa; jika ia tidak memiliki kemampuan demikian, maka atas dasar tersebut ia tidak dapat disebut maha kuasa.

Apakah omnipoten dan omnisien kompatibel satu sama lainnya? Omnisien mengandaikan bahwa semua kejadian di masa depan sudah ditentukan dan tidak dapat diubah. Jika ada omnisien, maka omnipoten tak terbayangkan. Impotensi untuk mengubah sesuatu yang perjalanannya sudah ditentukan sebelumnya akan membatasi kekuatan dari sang agen.

Tindakan merupakan sebuah pertunjukan kemampuan dan pengendalian secara terbatas. Ia merupakan manifestasi manusia yang terkendala oleh keterbatasan kekuatan pikirannya, sifat fisiologis tubuhnya, perubahan-perubahan lingkungan, dan kelangkaan faktor-faktor eksternal yang oleh mana kesejahteraanya tergantung. Sia-sialah orang mengacu kepada ketidaksempurnaan dan kelemahan kehidupan manusia jika ia bertujuan mendeskripsikan sesuatu yang mutlak sempurna. Gagasan tentang kesempurnaan yang mutlak adalah sesuatu yang kontradiktif dalam segala hal. Keadaan sempurna yang mutlak harus dipandang sebagai sesuatu yang utuh, final dan tidak terpapar terhadap perubahan apapun. Perubahan akan hanya mencederai kesempurnaan tersebut dan mengubahnya menjadi ke adaan yang kurang sempurna; kemungkinan bahwa perubahan dapat terjadi adalah tidak kompatibel dengan konsep kesempurnaan yang mutlak. Tetapi absennya perubahan-mis. keabsolutan yang sempurna, kekakuan dan immobilitas-setara dengan absennya kehidupan. Kehidupan dan kesempurnaan merupakan dua hal yang tidak kompatibel; begitu pula halnya antara kematian dan kesempurnaan.

Sesuatu yang hidup tidaklah sempurna sebab ia pasti akan berubah; yang mati tidak sempurna karena ia tidak hidup.

Bahasa manusia yang hidup dan bertindak dapat membentuk perbandingan dalam derajat komparatif dan superlatif. Tetapi keabsolutan tidak tergolon sebagai derajat; ia adalah gagasan yang membatasi. Yang absolut tidak dapat ditentukan, tidak terpikirkan dan tak terperikan (ineffable). Ia konsepsi yang berupa fantasi semata (chimerical). Kebahagian yang sempurna, manusia yang sempurna, kebahagiaan abadi, adalah hal-hal yang tidak ada. Setiap upaya untuk memerikan kondisi-kondisi di tanah Cockaigne, atau kehidupan para malaikat, akan berakhir dalam paradoks. Ketika ada kondisi, yang ada adalah keterbatasan dan bukan kesempurnaan; yang ada adalah upaya untuk menaklukkan rintangan, rasa frustrasi dan ketidakpuasan.

Setelah para filsuf meninggalkan pencarian mereka akan hal yang absolut, para utopian meneruskannya. Mereka memintal impian tentang negara yang sempurna. Mereka tidak menyadari bahwa negara, sebagai aparatus sosial untuk melakukan kompulsi dan koersi, merupakan institusi untuk mengatasi ketidaksempurnaan manusia dan bahwa fungsi esensialnya adalah menerapkan hukuman kepada minoritas untuk melindungi mayoritas dari segala konsekuensi yang merusak dari tindakan-tindakan tertentu. Bagi manusia-manusia yang “sempurna” baik kompulsi maupun koersi tidak diperlukan. Tetapi kaum utopis tidak memerdulikan kodrat manusia dan kondisi-kondisi yang tak bisa diubah dalam kondisi manusia. Godwin menganggap bahwa manusia akan menjadi imortal dengan dihapuskannya hak milik. Charles Fourier berceloteh tentang samudra yang penuh dengan lemonade alih-alih air garam. Sistem ekonomi Marx dengan gegabah mengabaikan fakta tentang kelangkaan barang-barang faktor produksi. Trotsky mencoba meyakinkan bahwa di dalam surga kaum proletar “akan muncul tipe manusia yang secara rata-rata akan setinggi seorang Aristoteles, Goethe, atau Marx. Dan di punggung bukit-bukit ini, puncak-puncak baru akan bermunculan.”

Dewasa ini, kimera [ilusi--penerj.] yang paling populer adalah stabilisasi dan pengamanan. Kelak kita akan meneliti istilah-istilah ini. [ ]

Lihat hal. 412-414.

Bandingkan dengan di bawah, hal. 351.

Bandingkan dengan A. Eddington, The Philosophy of Physical Science (New York, 1939), hal. 28-48.

Mengingat ini bukan tulisan disertasi tentang epistemologi umum, melainkan landasan yang tidak terpisahkan bagi sebuah risalah ekonomi, maka tidak ada gunanya menekankan analogi-analogi antara pemahaman terhadap relevansi historis dengan tugas-tugas yang akan ditempuh oleh seorang dokter dalam melakukan diagnosis. Epistemologi biologi berada di luar cakupan tilikan kita.

Lihat hal. 251-255.

Lihat hal. 232-234 dan 239-244.

Lihat hal. 131-133.

Cf. F.H. Knight, The Ethics of Competition and Other Essays (New York, 1935), hal. 139.

William Godwin, An Enquiry Concerning Political Justice and Its Influence on General Virtue and Happiness (Dublin, 1793), II, 393-403.

Charles Fourier, Théorie des quatre mouvements (Oeuvres complètes, ed. ke-3 Paris, 1846), I, 43.

Leon Trotsky, Literature and Revolution, terj. R. Strunsky (London, 1925), hal. 256.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Tweet about this on TwitterDigg thisShare on RedditPin on PinterestShare on StumbleUponShare on Tumblr

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory