Hukum

Kejahatan dan Kecelaan

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 12, Tanggal 18 November 2007

Penyelenggaraan perhelatan kehidupan pribadi dan hidup bermasyarakat barangkali dapat sedikit lebih nyaman jika hukum membedakan crime dari vice dan mengakui implikasi legal dan moralnya.

alt text Roy Martin

Jika bahasa kita sudah menyediakan padanannya untuk yang pertama—yaitu ”kejahatan”, atau ”kriminalitas”, untuk yang kedua rasa-rasanya masih harus diciptakan dan/atau diparadigmakan. Maka tulisan ini ingin menawarkan ”kecelaan” sebagai padanan ”vice”, sembari menyikapi kasus Roy Martin, artis yang ditangkap oleh petugas kepolisian di sebuah hotel saat korban sedang mengonsumsi sabu. Perspektif hukum yang dipakai di sini berpegang pada prinsip kebebasan yang bertanggungjawab setiap individu, sebagaimana pernah dijabarkan lebih seabad lalu oleh Lysander Spooner.*)

Kejahatan adalah tindakan seseorang yang merugikan orang lain atau hak milik orang lain, sementara kecelaan adalah tindakan seseorang yang merugikan dirinya sendiri atau hak miliknya sendiri.

Kecelaan bukan kejahatan. Ia semata ‘kekeliruan’ yang dibuat seseorang dalam pencarian personal terhadap apa yang membuatnya senang atau bahagia. Beda dari kejahatan, kecelaan tidak mengimplikasikan adanya keburukan atau kerugian di pihak orang lain, atau interferensi dengan orang lain ataupun hak miliknya.

Sesuai prinsip hukum, kejahatan tidak terjadi tanpa niat jahat; tidak ada kejahatan yang dilakukan tanpa maksud merugikan orang lain atau hak miliknya. Kecelaan tidak dilakukan seseorang dengan niatan kriminal, melainkan atas motif manusiawi mencari dan melakukan hal-hal yang memberinya kebahagiaan, sebanal apapun hal itu di mata orang lain.

Perbuatan manusia dapat bersifat bajik atau cela, dan keduanya sesuai dengan hukum kodrati yang mengatur zat dan akal manusia. Pada perangkat hukum kodrati ini pula bergantung kondisi fisik, mental dan emosional manusia. Tambahan lagi, konstitusi fisik, mental, dan emosional setiap orang pasti berbeda, juga lingkungan sekitarnya.

Siapa yang (mampu) mengetahui atau (mampu) merasakan berbagai hasrat, kebutuhan, harapan, ketakutan, dan dorongan di diri seseorang, serta tekanan yang menerpa dari lingkungan di sekitarnya, selain si orang yang bersangkutan? Siapa yang tahu pasti kapan kebajikan berakhir dan kecelaan dimulai, kapan kecelaan bertransformasi menjadi kejahatan?

Kecelaan niscaya dilakukan setiap insan. Ia cuma berbeda dalam kadar, sebab tak seorang manusia dapat mengelak dari kodratnya.

Sudah sepatutnya Roy, sebagaimana masing-masing setiap manusia dewasa, menentukan sendiri apa yang dapat membuatnya bahagia, walau kadang justru dapat berakibat kebalikannya, sebab jika bukan dia yang melakukan tugas ini, siapa lagi?

Jadi, pun jika kecelaan yang dituduhkan kepadanya benar adanya, SWGL?**)

Inti persoalannya bukan berada pada diri seorang Roy, tetapi pada hukum hasil rembug segelintir manusia yang sama fananya, yang kebetulan hidup lebih awal daripada dirinya.

Hukum yang tidak mampu membedakan secara jelas antara kecelaan dan kejahatan di muka bumi adalah hukum yang tidak mengakui adanya hak, kebebasan, atau kepemilikan pribadi. Hukum yang demikian tidak cocok bagi manusia yang dewasa dan merdeka.

————–

*) Terutama dalam A Vindication of Moral Liberty, 1875.

**) So what gitu loch?

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Kejahatan dan Kecelaan”

  1. masalahnya, roy itu artis, mungkin ini alasan polisi menangkapnya,he2

    Posted by Giyanto | 13 February 2008, 8:48 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory