Ideologi

Ide dan Kemanusiaan Kita

Jadilah di dinding FB-nya kemarin, Nassim Taleb memuji Bob Dylan (penyanyi legendaris AS yang baru-baru ini dianugerahi Nobel). Sambil menjewer para intelektual. Menurutnya, si Bob itu orangnya sederhana tapi dalam. Sedangkan para intelektual justru sebaliknya: dangkal tapi rumit.

Taleb tergolong pemikir terpenting yang hidup di jaman kita. Posting singkatnya tersebut cukup menggelitik sebab dia menyiratkan arti pentingnya kualitas isi kepala manusia—alias ide.  Ini terhubung dengan posting di AK minggu lalu sewaktu menyitir pertanyaan kunci dalam sebuah kompetisi pitching: dapatkah teknologi menyelamatkan kemanusiaan?

Dalam lomba itu seorang kontestan menjawab: “Saya optimis teknologi mampu menyelamatkan kita sebab sulit dipungkiri bahwa teknologi memang punya kemampuan untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik dan maju. Contohnya adalah Korea Selatan. Hanya dalam waktu singkat, negara ini, yang seusia negeri tercinta kita Indonesia, mampu mengalami kemajuan dan perbaikan hidup warganya secara luar biasa, berkat teknologi.”

Singkat kata, para juri sepakat, lalu memutuskan sang kontestan sebagai pemenang. Selain pemenang ini, ada tiga kontestan lagi yang juga menyatakan optimisme mereka terhadap teknologi. Cuma satu orang saja yang pesimis.

Namun, optimisme ataupun pesimisme tidaklah relevan. Demikian pula alasan-alasan singkat yang disampaikan di lomba tersebut, yang terlalu singkat sebagai argumen. (Penjelasan bukan argumen, melainkan ulangan pernyataan yang tetap menuntut argumen.)

Kita acap terkesima oleh teknologi sehingga lupa akan satu hal krusial tentangnya. Seolah teknologi adalah sesuatu yang sifatnya jasadi atau eksternal belaka, semacam wujud fisik gawai semacam smartphone yang di jaman sekarang nyaris melekat di genggaman kita.

Padahal, apakah teknologi itu jika bukan buah akal manusia?  Tak lain teknologi adalah perwujudan suatu ide, hasil suatu gagasan yang bisa dipakai untuk gagasan di balik tindakan berikutnya. Komputer yang lagi saya pakai buat mengetik ini, contohnya, adalah produk gagasan yang sedang saya pakai untuk mewujudkan gagasan. Muasal teknologi dahsyat ini memang bukan dari jerih pemikiran saya sendiri, tapi bukan itu soalnya toh. Dia tetap hasil ide manusia. Dan saya, sebagaimana juga Anda, adalah manusia dan juga bagian dari kemanusiaan.

Jadi inti pertanyaan kunci minggu lalu adalah ini: dapatkah buah ide kita menyelamatkan kemanusiaan?

Kalau jawabannya harus berpulang ke sikap pribadi masing-masing, saya sendiri maunya sih bersikap optimis. Tapi saya yakin jawaban kayak gini juga tidak memuaskan. Saya juga tidak bisa bilang bahwa saya pesimis, sebab saya memang tidak pesimis untuk hal ini. Tapi jawaban konklusif terhadap pertanyaan kunci tadi memang tidak tergantung pada sikap individual, siapapun dia.  Jawabannya terletak pada sikap kolektif umat manusia terhadap ide tentang kemanusiaannya sendiri.

Bicara tentang maha-pentingnya ide mengingatkan sebagian kita kepada Ludwig von Mises.  Mises,  pemikir besar yang nyaris terlupakan, bukan cuma percaya pada pentingnya ide melainkan juga pada pentingnya menggantikan ide yang keliru dengan ide yang benar, sebab yang paling dahsyat menurutnya adalah ide. Pada akhirnya, yang menentukan semua urusan kemanusiaan adalah hasil pertarungan gagasan.

Teknologi ataupun segala hasil riset atas nama ilmu pengetahuan itu sendiri bersifat netral. Teknologi tentu tidak ambil peduli pada persoalan moral, filosofis ataupun politis. Tapi dia (teknologi) hanya akan berjaya dan bermanfaat penuh bagi kemanusiaan saat dia hadir dalam semangat jaman (zeitgeist) yang mencintai sesama  dan menghormati kebebasan.

Teknologi dalam kondisi genting akibat provokasi doktrin yang sesat justru akan menjadi instrumen penghancur bagi kemanusiaan dan peradaban ( sebagai pucuk capaian kemanusiaan). Jika malapetaka ini terjadi, kontribusi teknologi hanyalah secuil ketimbang kedahsyatan gagasan.

Lewat dua postingan termutakhirnya setelah lama lelap hibernasi, situs AK ingin berbagi ide: yaitu berbagi ide tentang pentingnya ide. Tentang pentingnya memiliki dan sama-sama menjaga ide yang baik, jernih, dan benar (atau setidaknya mendekati kebenaran) dan menanggalkan ide yang keliru, ide yang tidak kondusif terhadap harkat individu.

Nah, posting singkat ini adalah undangan dari/bagi kita semua supaya semakin bersedia pro-aktif melibatkan diri dalam proses pemilahan, pemilihan, dan pelahiran mutiara pemikiran yang layak diperjuangkan; ide-ide yang dapat memastikan keberlangsungan kemanusiaan; ide-ide yang dalam meski tampak sederhana (seperti gagasan dalam lirik lagu Oom Dylan), bukan ide-ide njlimet tapi dangkal (sebagaimana, umumnya, “lirik lagu” intelektual).

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Ide dan Kemanusiaan Kita”

  1. Bagaimana kalau agama itu juga sebuah ide? Jika ide diwujudkan dengan membentuk masyarakat yang islami seperti sekarang apa relevan

    Posted by yudi | 9 November 2016, 1:42 pm
  2. Maaf tanggapan ini telaat sekali. Nah, apakah agama itu juga konsep/ide? Menurutmu bagaimana, Yud?

    Posted by Nad | 14 December 2016, 11:50 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory