Uncategorized

Informasi vs Individu Abad 21

Sekitar 14 tahun silam tidak banyak orang tahu apa itu situs pencari (semacam webcrawler atau Altavista).  Masih teringat jelas, saya satu-satunya pegawai–di tempat kerja saat itu–yang sudah memanfaatkan kecanggihannya.

Sekarang orang tinggal sebut saja mantra “OK, Google” atau “Hi, Siri!”.  Atau pilih lalu klik situs penjelajah. Maka akan terbukalah gerbang pengetahuan (knowledge). Dahsyat.

Knowledge,” kata Francis Bacon, “is power.” Pengetahuan adalah daya, kekuatan atau kekuasaan.  Sekalipun Bacon kita anggap agak “lebay” saat menyatakan hal tersebut, revolusi teknologi informasi yang tengah kita nikmati dewasa ini memang menyediakan daya ungkit (leverage) dan menganugerahkan kita semacam hak khusus atau privilese.  Privelese tersebut ialah hak istimewa atas peluang untuk mendapatkan “power”—apapun itu bentuknya, yang berbeda bagi masing-masing individu.

Kita tentu boleh girang. Kita tentu ingin bisa juga dong memanfaatkan keistimewaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, hal apa sajakah yang menuntut kebijaksanaan kita selaku individu abad 21 yang sedang berada di tengah pusaran deras arus informasi digital?

Salah satunya adalah fenomena berikut: Di era internet ria sekarang ini sedemikian “mudahnya” dan “murahnya” kita mendapatkan informasi sehingga bahkan tanpa mencari atau membayar pun kita sering digempur habis-habisan. Pagi siang sore malam, kita dibanjiri informasi (dan disinformasi).

Satu hakikat yang sifatnya spontan (karena tidak ada yang benar-benar merancangnya) tapi sering mengelak dari pemahaman umum adalah bahwa kita ini sekarang sedang memasuki era otonomi atau era self-discovery yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana setiap individu yang mencari harus memilih dan memilah sendiri hasil-cariannya.

Mendapatkan informasi/pengetahuan persis ketika keberlimpahannya tidak pernah sedahsyat sekarang, ternyata tetap tidak mudah atau justru semakin susah.  Masing-masing dari kita sebenarnya sedang/semakin “dituntut” untuk mampu memilih dan memilah menu, porsi dan kualitas informasi dan “pengetahuan” yang dengan dengan gampangnya datang bergerombol menggempur kognisi kita. Yang kita elukan sebagai gerbang pengetahuan ternyata kotak Pandora.

Maka, wajar jika sebagian kita juga mengalami kegamangan akut. Mungkin bakal juga kronis.

Apakah kegamangan tersebut lantaran semakin banyaknya pilihan, atau adakah alasan lain yang mendasar? Apakah implikasi dari tuntutan di atas?  Apa konsekuensinya bagi individu abad 21?  Strategi apa yang dapat meningkatkan optimisme kita akan masa depan?)

(Bersambung)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Informasi vs Individu Abad 21”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: