Uncategorized

Tentang Kematian

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 16, Tanggal 29 Januari 2008

Every hesitant good-bye
with no envisioned hi
is itself a mini size
of an eventual demise.

Farewell is never really
a phenomenon of the body;
easier said than done
it is a state of mind.

(Farewell, Tjipoetat Quill)

alt text

Setiap salam perpisahan yang terucap tanpa prospek pertemuan berikutnya pada dasarnya sama dengan dentang lonceng kematian. Kecuali mungkin bagi para bocah, setiap perpisahan bukanlah fenomena jasadi. Ia lebih menjadi keadaan pikiran, yang seringkali lebih gampang dikatakan ketimbang dijalankan. Begitu kurang-lebih kata sajak di atas.

Jika pengalaman merupakan satu-satunya hal yang dapat memberi otoritas pemahaman kepada manusia*), apakah yang dapat kita pahami tentang kematian? Akal manusia tidak akan dapat menyingkap tabir rahasia di baliknya.

Hidup manusia dijalani dalam tatanan ganda sekaligus: tatanan makrokosmos (dunia) dan mikrokosmos (diri sendiri).** Tapi kematian unik, sebab meski terjadi di tatanan mikro, ia bukan sebuah pengalaman. Ia akhir yang menutup seluruh pengalaman. Dalam hal ini, pintu pemahaman tertutup bagi manusia. Ia tidak diberkahi faculty (kemampuan) untuk memahaminya.***

Sepeninggal kematian seseorang, yang hidup dihadapkan pada dua pilihan: melupakan dan memaafkan. Pilihan ini bisa ditolak mentah-mentah, atau diterima, dengan atau tanpa syarat. Kadang hal ini berlalu demikian mudahnya, tapi tak jarang pula begitu sulitnya. Seringkali ini terjadi secara alamiah; tapi kadang harus dilakukan dengan penuh kesadaran, seperti misalnya melalui proses pelupaan dan proses pemaafan. Melupakan maupun memaafkan kadang seperti fenomena pernapasan: kita dapat melakukannya tanpa harus menyadarinya, tetapi dapat juga dengan menyengajakannya.

Barangkali panduan tergampang dan paling intuitif untuk menyikapi kematian adalah dengan menganalogikannya dengan kematian kita sendiri. Apa yang kita harapkan atas reaksi orang jika kita meninggal? Tentu, setiap orang ingin diperlakukan dengan patut dan wajar—mis. melalui prosesi pemakaman yang layak; dan agar kepada yang berduka terhadap kematian diberi waktu berkabung yang memadai. Sebagian besar dari kita mengharapkan doa-doa terbaik agar dapat menjalani alam misteri yang tak tersibak akal. Idealnya, semua hal yang moral ini tidak didasari pada pamrih, melainkan semata-mata pada good-will (niat baik)–satu-satunya jenis kebaikan manusiawi yang tidak dapat diselundupkan atau diselewengkan.

Bagaimana jika Nama Besar seseorang menimbulkan kegamangan? Bukankah sebagian manusia gampang terpesona dan disilaukan oleh kebesaran?

Setiap orang boleh bermimpi menjadi Ubermensch (manusia adikuasa)****; tapi, toh pada akhirnya ia harus menyadari bahwa setiap Gundala, Godam, Maja, Godot, Aquanus, Avatar, Naruto, Batman, Superman, atau Spiderman hanyalah milik dunia rekaan. Di dunia nyata, masing-masing individulah, dan bukan masyarakat ataupun Para Pembesar, yang harus mempertanggungjawabkan segala tindakan yang ditempuh dan pilihan yang diambil semasa hidup. Setiap individu dewasa dan yang secara hukum dianggap memiliki kewarasan diasumsikan memiliki kesadaran bahwa sebagian konsekuensi tindakannya semasa hidup tidak melulu selesai dengan kematian—azas hukum dan moralitas mengakui kondisi ini. Prinsip legalitas mengenal universalitas ini sebagai conditio sine qua non.

Jika seseorang yang atas dasar penyakitnya atau atas dasar pekerjaannya, dilimpahkan hak khusus sehingga dapat mengangkangi hukum, atau dihapuskan segala kesalahannya, maka kecuali jika semua warga negara lainnya atas dasar yang sama mendapat perlakukan serupa, esensi dan tujuan hakiki hukum tersebut tidak terwujud oleh karena maksim universalitas hukum tersebut tidak terpenuhi. Apabila hal ini dipaksakan, maka akan terjadi kontradiksi antara yang legal dan yang moral.

”Ketika hukum dan moralitas berkontradiksi, orang akan memillih alternatif yang tak kalah keji: menghilangkan sisi moralnya atau penghormatannya terhadap hukum itu sendiri.”*****

Image credit: http://mosaicartsource.wordpress.com

* David Hume, Enquiry Concerning Human Understanding;** Arthur Schopenhauer, The World As Will and Idea ;*** Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysic of Morals; Friederich W. Nietzche, Beyond Good and Evil; ***** Friederic Bastiat, The Law.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Tentang Kematian”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: