Uncategorized

Informasi vs Individu Abad 21 (Bag. 2)

Orang cenderung lebih suka punya pilihan ketimbang tidak. Namun, semakin banyaknya pilihan dapat menyulitkan, sebagaimana banyak dibuktikan dalam berbagai riset (misalnya ini).

Proses pemilihan melibatkan preferensi subyektif individu. Dengan bertambahnya opsi, proses pemilihan akan menuntut lebih banyak sumberdaya—berupa waktu (time) atau upaya (effort), misalnya. Orang yang memiliki kriteria tentang apa yang harus dipilihnya akan terbantu dalam proses pemilihan. Dan kriteria tidaklah datang dengan sendirinya; dia datang dari pengalaman, pengetahuan atau yang semacamnya. Baik gradasi/spektrum perbedaan yang kualitatif maupun kuantitatif dari opsi-opsi pilihan yang menuntut pengetahuan ini berpotensi menimbulkan kepenatan (fatigue) ataupun kegamangan (fear/anxiety) dalam pengambilan keputusan.

Bayangkan potensi kepenatan dan kegamangan seorang individu ketika pilihan-pilihan yang disuguhkan kepadanya adalah berupa informasi, yang volumenya tidak pernah semasif di jaman ini!

Tiga jenis informasi

Informasi di era kita seolah membombardir atau mengepung sejak pagi hingga pagi lagi. Dia hadir dalam wujud pernyataan-pernyataan yang simbolik maupun literal, yang verbal maupun non verbal), yang berupa gambar ataupunaksara, aural, atau visual, yang konvensional maupun yang digital.

Bahkan tanpa diundang sekalipun infomasi akan hadir sebagai pernyataan faktawi (facts, atau tepatnya dalam hal ini: factual), ujaran (assertions) maupun opini (opinions). Informasi faktawi adalah jenis yang kebenarannya berterima secara umum. Per definisi, dalam kerangka berpikir ilmiah, dialah penyataan terkuat yang kebenarannya dapat/sudah dibuktikan atau dan tidak tersangkalkan. Ujaran lebih lemah daripada pernyataan faktawi; untuk dapat memverifikasi kebenarannya, orang perlu semacam pembuktian, misalya penjajakan lewat survei. Opini adalah pernyataan yang mencerminkan sikap/pandangan subyektif seseorang terhadap hal yang diutarakannya. Akal dan Kehendak (AK) adalah mingguan daring (online). AK dibaca oleh penduduk berpendidikan tinggi, yang umumnya laki-laki. AK adalah mingguan terpenting di Indonesia. Nah, tiga kalimat terakhir dapat dijadikan contoh jenis-jenis informasi.

Informasi “terlemah”, yaitu opini, justru informasi yang paling dahsyat baik dari sisi volume maupun dampaknya. Keputusan-keputusan terpenting oleh individu ataupun sekelompok individu seringkali lebih berdasar pada opini ketimbang pada fakta. Pemilihan presiden di satu negeri atau gubernur di kota, keputusan dalam membeli mobil, ponsel, atau dalam memilih istri/suami pun dapatlah dijadikan bukti betapa dahsyatnya informasi yang berupa opini.

Apa implikasi dari uraian di atas?  Sepotong cerita ini kiranya dapat memperjelas konteksnya.

Alkisah, hiduplah dua orang anak kecil, si A dan B. Mereka teman kecil sepermainan. Jalan hidup memisahkan mereka selama berpuluh tahun, hingga pada suatu ketika kedua sahabat bertemu lagi. Si A kini menjadi raja. Sedangkan si B tetap seorang jelata. Saat bertemu, B memperlakukan A sebagaimana kenangannya akan masa kanak-kanak menuntunnya. Ia berperilaku sebagaimana dahulu—teman sepermainannya. A ternyata tidak sudi diperlakukan begitu. Singkat kata, sang raja menghukum mantan teman sepermainannya. Hukuman raja membuat B cacat seumur hidup dan diusir dari wilayah kerajaan tersebut.

Potongan episode cerita pewayangan ini diceritakan  belum lama ini oleh seorang terpelajar yang kebetulan juga seorang pejabat tinggi. Teman diskusi ini lalu menarik hikmah ajaran moral cerita tersebut. Menurutnya, bagaimanapun tata-krama itu harus dijaga. Kewibawaan itu harus dipelihara. Orang harus pandai-pandai menempatkan diri, tambahnya.

Teman saya barangkali tidak salah. Ia sekadar menyampaikan opininya. Namun, dari caranya menarik moral cerita tersebut saya juga beropini (lewat tulisan ini).

Pertama, mengubah opini seseorang tentang apapun memang bukan perkara mudah. Kedua, orang cenderung beropini berdasarkan kemauannya atau berdasarkan gagasan atau bayang-bayang gagasan yang sudah bercokol di benaknya (pre-conceived ideas). Ketiga, orang cenderung memilih opini yang selaras dengan kepentingannya (wishful thinking).

Pre-conceived ideas datang dari berbagai sumber baik dari pengalaman pribadi maupun dari sumber eksternal seperti melalui ajaran budaya–entah yang berupa mitos, legenda, dongeng, peribahasa, pameo, pendapat orangtua/guru/dosen, ataupun opini umum dari media massa.

(Bersambung)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Informasi vs Individu Abad 21 (Bag. 2)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: