Uncategorized

Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial (Bag. 1)

Oleh: Giyanto
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 18 Tanggal 25 Februari 2008

Tulisan ini mencoba merefleksikan dan bukan untuk menemukan hal-hal baru yang barangkali diharapkan oleh teman-teman. Pengalaman bergulat dalam banyak hal, seperti menjadi buruh, siswa, pengangguran, mahasiswa, pemikir, peminat buku, organisatoris dan yang terakhir mencoba berbisnis setidaknya memberikan ciri khas saya secara “unik” dalam usaha mengungkapkan gagasan yang “aneh-aneh” agar dapat dipahami teman-teman di komunitas ini.

Kali ini kita akan membahas epistemologi ilmu sosial. Setelah tertatih-tatih dalam memahami karya von Mises yang telah diterjemahkan di Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak oleh Bung Nad (Sukasah Syahdan) akhirnya memberikan saya keberanian untuk menulis hal ini.

Selain frustasi memahami arti sifat statistik yang induktif dalam setiap metode kajian ilmu sosial—kalau bisa dibilang aneh. Ini adalah bentuk kekecewaan dan frustasi atas ilmu yang saya pelajari yaitu Ilmu Sosial.

Bertahun-tahun mempelajari ilmu sosial, seolah saya “belum” mendapatkan apa-apa. Setiap jurnal penelitian yang saya baca dari penelitian yang ada, rekomendasi yang dihasilkan semua sama: kurang adanya koordinasi antar lembaga/institusi sosial jadi diharapkan setiap lembaga pemerintah melakukan koordinasi. Setidaknya hasil itu yang sering saya temukan dalam rekomendasi kajian ilmu sosial dalam mencoba memecahkan permasalahan sosial. Tidak ada solusi lain.

Terlepas dari teori-teori besarnya Khun, Capra dan lain sebagainya dalam usaha menjelaskan berbagai perkembangan proses ilmu pengetahuan. Dengan kacamata yang sangat sederhana sebenarnya kita dapat melihat ketidaksesuaian antara teori-teori dan “realitas sosial”. Seandainya teman-teman menganggap “seksi” untuk menjadi sosialis ataupun intelektual saya kira itu merupakan mimpi yang wajar.

Hal tersebut diperparah oleh perpecahan dan semakin banyak munculnya spesialisasi bidang kajian ilmu tentang manusia. Dan ketidakseimbangan peran atau penyebarluasan berbagai disiplin ilmu yang sudah saya singgung dalam artikel sebelumnya, Kritik Logika Aristotelian.

Kecenderungan untuk meminati kajian politik, yang sebenarnya sudah saya “sindir” berkali-kali merupakan awal mula dari keresahan intelektual saya pribadi. Lambatnya pemahaman akan kajian ilmu pengetahuan yang lebih dalam, dalam mengkaji manusia secara utuh tidak dapat dilakukan. Hal ini disebabkan dalam melihat fenomena manusia kita cenderung menggunakan paradigma, teori, dimensi dari perspektif bacaan kita. Kita tidak pernah benar-benar membuka “perilaku-perilaku dasar” manusia yang sebenarnya setiap hari kita lihat. Kebutaan intelektual ini saya kira disebabkan oleh “ego” terhadap disiplin ilmu kita masing-masing. Namun demikian saya merasa beruntung mendapatkan “media” seperti yang disediakan oleh teman-teman di Komunitas Embun Pagi.

Faktor lain, yang saya kira lebih penting, ialah paradigma positivistic yang sudah bertahan-tahun menjangkit pemikir-pemikir sosial. Ketidakpercayaan diri dalam menggunakan kajian deskriptif ataupun analitis non statistik sudah lama tumbuh dalam pikiran para ahli ilmu pengetahuan sosial. Ejekan-ejekan yang sering saya baca di buku Filsafat Ilmu (misal Buku Filsafat Ilmu Populer Karya Jujun Suryasumantri) oleh para pakar saya kira telah memicu penyakit ketidakpercayaan diri tersebut. Ejekan bahwa tanpa matematika ataupun statistik Ilmu Sosial kurang sahih menurut saya sangat tidak beralasan.

Logika Ilmu sosial sangat berbeda. Obyek ilmu sosial tidak seperti obyek pengetahuan alam yang cenderung tetap. Obyek ilmu alam tidak memiliki relasi yang dinamis dengan variabel di luarnya. Relasi tersebut cenderung tetap. Berbeda dengan kajian Ilmu Sosial yang mempunyai relasi yang tidak tetap terhadap variabel-variabel di luarnya. Seandainya seorang manusia hanya dipengaruhi oleh variabel-variabel tetap diluarnya dan tidak berusaha untuk membalikan stimulus yang ada yang barangkali kemudian membalik menanggapinya dengan respon secara timbal balik, saya kira itu bukan manusia tapi lebih dekat dengan robot. Manusia yang harus menunggu untuk mendapat stimulus untuk dapat bertindak, sekali lagi, saya kira itu bukan manusia. Dan saya juga menganggap aneh apabila Bordeu memiliki rumusan yang pasti tentang tindakan “praksis manusia”,

Kecenderungan epistemologis yang muncul baru-baru ini merupakan reaksi ketidakpuasan dari patron metodologi yang ada. Keberanian para ahli antropologi untuk memakai metode grounded research merupakan cikal bakal “pemberontakan tersebut”. Walaupun ada sedikit “malu-malu” untuk menggunakannya. Yang masih menyerang akut saat ini, yang barangkali termasuk yang diusung oleh Bung Nad di Jurnal Kebebasan A&K, dalam bidang Ilmu Ekonomi. Dan saya memprediksi virus-virus ketidakpuasan terhadap ketidakmampuan Ilmu Ekonomi dalam usaha memprediksi setiap permasalahan ekonomi membawa kita kembali mengakui kesahihan metode yang barangkali dianggap purba, yaitu: praksiologi.

Anjloknya bursa saham di Amerika Serikat telah membuat negara-negara di seluruh dunia menjadi “was-was”. Berbagai analisis ekonomi yang saya baca masih cenderung dangkal. Padahal permasalahan tersebut sebenarnya hanya membutuhkan solusi sederhana yang telah sering disampaikan orang tua kita yang secara ilmiah bukan “pakar”-nya—setidaknya menurut pakar Ilmu Ekonomi. Atau, solusi tersebut dapat diungkap dari kebijaksanaan-kebijaksaan klasik Cina maupun Jawa Kuno….

Bersambung ke Bag.2

(* Giyanto penggiat Komunitas Embun Pagi. Tulisannya di atas dipublikasikan dengan penyuntingan minimum oleh Jurnal A&K dari sumber aslinya, Komunitas Embun Pagi. Hak cipta ada pada penulisnya.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

4 comments for “Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial (Bag. 1)”

  1. Saya sepakat dengan tulisan ini. Dalam hal ekonomi, kita sudah banyak menyaksikan betapa tidak nyambungnya logika bacaan para ekonom yang kebetulan memegang posisi sebagai decision maker dengan realitas sosial. Kemiskinan hanya berhenti dalam ukuran statistik dan indeks2 kuantitatif lainnya (USD 2, ukuran BPS, dll). Kita lihat juga liberalisasi ekonomi yang menyebabkan bangsa ini lebih senang jadi pedagang ketimbang berusaha dengan nyata menghasilkan sesuatu. Kenapa kita malu untuk mengangkat sistem ekonomi Majapahit atau ekonomi Islam misalnya? Rumus ekonometri tak membuat kenyang orang miskin and save the world even dengan alasan untuk membantu perumusan suatu policy.

    Posted by Mayjen TNI Harsoyo | 25 February 2008, 1:48 am
  2. Saya sepakat dengan tulisan anda. Dengan logika ekonomi yang ada dapat memudahkan memutuskan kebijakan ekonomi, tetapi tidak mempermudah ekonomi.

    Posted by chunaifi | 29 February 2008, 5:31 am
  3. Terimakasih untuk tanggapannya. Kegiatan ekonomi tujuannya memang bukan untuk dipermudah, tapi untuk dilakukan dengan tindakan kongkret serta semangat yang tinggi!

    Posted by Giyanto | 29 February 2008, 3:17 pm
  4. […] gugatan saya terhadap epistemologi ilmu sosial dalam artikel Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial [1 dan 2], salah satu kesalahan terbesar kita ialah penggunaan angka-angka serta menggeneralisasi […]

    Posted by Pertanian dan Paradoks Beras Miskin Dalam Perspektif Praksiologi « Akal & Kehendak | 31 March 2008, 1:11 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory