Epistemologi

Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial (Bag. 2)

Oleh: Giyanto
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 19, Tanggal 03 Maret 2008

(Bag. 2 – Tamat)

plato-and-aristoteles.jpgTidak bermaksud menjadi kiri, tulisan ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa apa yang kita yakini dalam epistemologi yang dipakai secara umum oleh ahli ilmu sosial sebenarnya semakin menjauhi kebenaran atau realitas itu sendiri.

Dengan kata lain, saya sebenarnya lebih mengiyakan pandangan subyektfivitasnya Thomas Kuhn. Atau yang lebih kontemporer barangkalai Capra. Entitas sosial apabila dianalogikan ibarat sebuah sistem tubuh—dengan logika biologi alih-alih seperti yang sekarang dipakai ialah logika fisika. Atau bila memakai analogi Rothbard seperti jaring laba-laba. Jadi, seandainya paradigma yang ada sekarang memakai paradigma empiris “obyektif” dengan kacamata ilmu pengetahuan alam, bukan tidak mungkin, para ahli ilmu sosial yang sekarang “menjabat” atau meneliti dan menulis di jurnal ilmiah telah melakukan sesuatu yang sia-sia dan menghabiskan waktu. Ini berarti suatu generasi yang hilang atau buta terhadap pencerahan ilmu tentang manusia.

Saya menyadari konsekuensi mengatakan yang demikian. Apabila benar-benar diterapkan mengenai paradigma yang saya yakini, bukan tidak mungkin, semua struktur kelembagaan yang ada di dunia akademis berubah total. Dan ini, menurut saya, tidak akan mungkin dilakukan karena para akademisi akan lebih mementingkan kepentingannya sendiri atau hak mereka untuk berstatus quo karena terkait dengan profesi, daripada benar-benar melakukan tanggungjawab ilmiah dalam memperjuangkan kebenaran ilmiah yang belum tentu hasilnya. Apalagi ide-ide tersebut hanya dikatakan oleh “anak kecil” seperti kita.

Akan tetapi, seperti yang dikatakan Hayek, bukankah tugas intelektual untuk “memasarkan ide” dan selalu mengingatkan setiap penyimpangan yang ada di masyarakat. Termasuk dunia akademis. Dan mengenai peran untuk mendebatkannya secara filosofis sudah dilakukan oleh orang-orang yang setidaknya sudah saya sebut dalam tulisan ini.

Begitu banyak bukti-bukti mengenai subyektvitas ilmu pengetahuan sosial. Sejarah perjuangan ideologi ataupun sejarah penemuan teori-teori di bidang ilmu alam telah dapat menjadi bukti bagi seringnya ketersesatan perjalanan menegakkan ilmu pengetahuan pada jalurnya. Nasib tragis yang dialami oleh Wegner dalam memperjuangkan Toeri Kontinental Drift bisa dijadikan bukti, atau nasib Galieo, Kopernikus, dan begitu banyak teoritikus lainnya yang bernasib sama. Dan dalam bidang ekonomi saya memprediksi pandangan-pandan Ludwig von Mises akan berdengung keras di dunia akademik ekonomi setelah penyia-nyian masyarakat akademis yang tidak lepas dari pengaruh ideologi politik yang bermain sekarang ini. Akan tetapi, saya yakin kebenaran akan berbicara dengan sendirinya entah suatu saat nanti.

Namun demikian sebuah fakta sejarah kurang lengkap apabila dipergunakan sebagai bukti ilmiah. Bukti yang ada di depan mata, ialah mandulnya peran ilmuwan sosial di masyarakat umum. Bahkan seringkali orang-orang yang memiliki pengaruh ilmiah dalam ilmu sosial biasanya orang-orang “terpinggirkan” dalam dunia akademiknya. Bukankah ini merupakan bukti kecil dari fenomena tersebut. Contoh lain barangkali bisa dilihat dari produktivitas karya-karya sosial. Dari pengamalan saya sebagai pembaca, pandangan-pandangan sosial malah sering muncul dari mulut-mulut yang bukan ahlinya. Semisal yang sering menjadi kasus di Indonesia ialah profesi wartawan, sastrawan, peneliti lepas, pebisnis dan lain sebagainya.

Sebagai tambahan, hasrat untuk menyerukan kebenaran ilmiah sebenarnya sudah menjadi bawaan bagi setiap manusia yang berpikir. Dan apabila ada yang sebagian atau bahkan kebanyakan diam itu disebabkan keberadaan mereka di struktur internal organisasi yang menerapkan paradigma yang ada. Toh apabila orang-orang yang “berpikir” tersebut mengetahui, mereka akan memilih diam daripada untuk memilih melakukan “keributan” yang barangkali akan dicap “berisik” dan membikin onar. Barangkali dalam bentuk ekstrim dituduh mencari popularitas.

Analisis lain yang saya tuduhkan kalau bisa dikatakan gugatan terkait keberadaan bangsa Indonesia yang dalam “kelahirannya” “berbarengan” atau bisa dikatakan “disebabkan” oleh pertarungan ideologi-ideologi besar. Pengaruh sosialisme dari tahun 1945-1965 dan selanjutnya pengaruh liberalisme ala aqlo saxon dari tahun 1966 sampai sekarang masih menjadi landasan “darimana” gagasan itu seharusnya muncul sehingga bisa dikatakan sahih. Apakah kesahihan sebuah ilmu hanya didasarkan pada latar belakang geografis, budaya, peradaban atau apapun itu? Saya kira pandangan tersebut menandakan kesempitan bepikir. Sebuah paradigma seharusnya bisa diterima apabila dia dapat dipergunakan untuk menjawab permasalahan yang ada, dalam hal ini permasalahan sosial. Dan sekarang kita malah menjauhi dari idealisme tersebut.

Hal-hal di atas sebenarnya merupakan idealisme dari seorang yang frustasi. Lebih parahnya, bila melihat seretnya penerbitan berkala di dunia akademik, bisa dikatakan dunia akademik kita sebenarnya telah mati suri. Dari kasus yang sekarang saya temui, penerbitan-penerbitan jurnal malah lebih banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang secara akademik berada di luarnya. Mereka sebagian berdiri disebabkan oleh berbagai motif. Namun, tanpa menyelidiki motif tersebut, seharusnya kita patut mengapresiasinya dengan pikiran terbuka. Beberapa kasus tersebut, seharusnya menjadi refleksi semua pihak, termasuk intelektual, bahwa tanggungjawab ilmiah sebenarnya dapat diperankan oleh berbagai macam profesi, dan tidak harus sebagai filsuf yang seringkali dimimpikan oleh para intelektual jika hanya ingin meninggikan strata ilmiahnya.

Dari fakta tersebut, begitu sangat jelas, sehingga mempengaruhi keyakinan saya pribadi untuk mengambil posisi, walaupun harus tertatih-tatih dengan cara berputar-putar untuk berpindah profesi untuk hanya sekedar mencari dan terus mencari apa yang seharusnya dan patut diperjuangkan.

Selain ketersesatan penggunaan paradigma, kita juga telah kurang sesuai dalam menggunakan alur berpikir logis dalam upaya menelaah sumber permasalahan ilmu sosial.

Cerita singkat mengenai perjalanan panjang diakuinya teori continental drift barangkali bisa dijadikan inspirasi. Dari perspektif kesejarahan ilmu alam, saat Alfred Lothar Wegener menemukan Teori Continental Drift, mula-mula dia hanya sekilas melihat gambaran peta Amerika Selatan dengan garis pantai barat Afrika yang begitu identik, Wegener membayangkan bahwa kedua benua tersebut pernah menyatu. Baru kemudian dia mengumpulkan detail-detail penemuan yang ada untuk mendukung teorinya.

Padahal, penelitian geologis telah lama dilakukan oleh para geolog yang hanya mefokuskan detail-detail geologi tanpa membayangkan gambaran muka bumi secara keseluruhan. Akhirnya argumen Wegener mendapat bantahan tanpa pengujian terlebih dahulu dari para ahli geologi yang merasa paling tahu pada bidang tersebut. Namun demikian, Wegner bersikap acuh dan menikmati bidangnya dalam klimatologi. Hingga 60 tahun kemudian kebenaran ilmiah terungkap dan bukti-bukti yang mengarah bahwa benua itu bergerak semakin banyak.

Barangkali sejarah tersebut bisa terulang dengan cerita terbalik. Para ahli ilmu sosial, termasuk para ekonom, selama ini telah terlalu menyederhanakan dan terlalu menjeneralisasikan manusia melalui sederet angka-angka. Sekumpulan data administrasi yang belum tentu kesahihannya telah menjadi agregat-agregat yang dianggap mewakili manusia. Tanpa menyelidiki pada tingkat mikro apa yang sebenarnya dilakukan manusia, apa alasan mereka melakukan sesuatu, bagaimana mereka bertindak untuk mencapai tujuan tersebut, belum diselidiki sama sekali. Sehingga, hanya orang-orang jalanan atau praktisi yang mengetahui dengan jelas tapi kurang mampu menyatakannya secara argumentatif tertulis ataupun mendasarkan pada teori yang sahih untuk menjelaskan permasalahan yang dihadapinya.

Sebagai contoh, petani sering mendapati nilai harga beras mereka dibandingkan dengan barang kebutuhan konsumsi yang lain sangat rendah, apabila sekarang harga beras ditingkat dasar mencapai Rp. 4000,- bisa jadi harga di tingkat konsumen mencapai Rp. 5.000,-. Barangkali dalam mekanisme pasar hal tersebut dapat diterima karena jalur distribusi yang terlalu panjang. Namun, yang lebih memprihatinkan, dengan harga dasar Rp. 4000,- Seandainya dibandingkan dengan harga komoditas lain serta ditambah faktor-faktor produksi yang dibutuhkan dalam pertanian yang harganya terus naik, maka nilai beras dengan nominal yang demikian sangat tidak menjadi berarti. Akibatnya, dalam istilah ekonomi yang lebih keren, akan terjadi defisit anggaran yang dialami petani. Tindakan yang sering ditempuh petani, bapak saya biasanya, dengan menyewakan salah satu sawahnya untuk menyokong biaya produksi pada tiap awal musim tanam. Dan hal tersebut terus berlarut-larut sehingga para petani tidak pernah mengalami keuntungan sama sekali disebabkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang sifatnya inflasif. Belum lagi biaya-biaya keluarga seperti pendidikan, listrik, pajak dan lain sebagainya.

Permasalahan tindakan-tindakan manusia berdasarkan pilihan-pilihan yang demikian sulit apakah ilmuwan sosial atau ahli ekonomi mengetahuinya? Saya masih ragu hal demikian diketahui oleh ilmuwan yang duduk manis di mimbar akademik yang sangat terhormat. Dan apakah data-data yang dianggap subyektif tersebut bisa digunakan oleh pemerintah untuk mengambil kebijakan? Paling-paling yang digencarkan malah iklan pembayaran pajak agar tepat waktu! Suatu paradoks yang sering terjadi di kehidupan realitas.

Fenomena pemiskinan secara sistematis tersebut sering dianggap hal yang remeh-temeh; permasalahan sosial yang demikian dianggap terjadi secara kasuistik dan parsial. Bukti yang bisa dianggap sahih ialah pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui angka-angka. Dengan demikian laporan pertanggungjawaban pemerintahan dapat diterima oleh rakyat yang diwakili oleh anggota legislatif melalui “data-data” yang telah dianalisis oleh kementrian ekonomi. Dan sandiwara tersebut diulang berkali-kali tiap lima tahun sekali.

Memang tidak mudah menerapkan paradigma individualisme metodis dalam epistemologis ilmu sosial. Mises telah memperingatkan:

“Meyakini bahwa keseluruhan kolektif itu dapat divisualisasikan adalah suatu ilusi. Keseluruhan kolektif tidak pernah dapat dilihat; kognisinya selalu merupakan hasil dari pemahaman atas makna yang diberikan manusia pada tindakannya. Kita memang dapat melihat keramaian, misalnya kerumunan manusia. Apakah kerumunan itu hanya sekedar pertemuan ataukah sebuah badan teorganisasi atau jenis lain dari entitas sosial merupakan sebuah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh pemahaman akan makna yang mereka berikan bagi keberadaan tersebut. Dan makna ini selalu merupakan makna dari individunya. Bukanlah indera kita, melainkan pemahaman kita, sebagai sebuah proses mental, yang membuat kita memahami entitas sosial.”

Mises menambahkan:

“Siapa saja yang bermaksud memulai kajian tentang tindakan manusia dari unit-unit kolektif akan mendapati rintangan tak terperi berupa kenyataan bahwa setiap individu pada saat yang sama juga dapat merupakan bagian nyata dari beragam entitas kolektif. Persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh mulitiplisitas unit-unit sosial yang berkoeksistensi dan antagonisme-antagonisme mutual mereka dapat diatasi hanya melalui individualisme metodologi.”

Singkat kata, sekarang kita tidak hanya melakukan kesalahan terbesar abad ini, namun dengan sengaja kita, masyarakat ilmiah, telah membodohi masyarakat yang seharusnya tercerahkan oleh keberadaan ilmu pengetahuan.

Salah seorang dosen saya pernah mengatakan dengan enteng bahwa: “Abad dua puluh adalah abad kuantitatif”. Namun dalam hati saya mengatakan “Abad dua puluh ialah abad kegelapan”.

Memang sangat mudah melupakan sebuah kesalahan! [ ]

(Catatan: Lanjutan ini merangkum Bagian 2 dan 3 dalam naskah asli yang diterima redaksi. Dipublikasikan di Jurnal A&K dengan penyuntingan minimum. Hak cipta ada pada penulisnya.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

9 comments for “Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial (Bag. 2)”

  1. bunyi teori alferd?

    Posted by gilang | 18 March 2008, 4:47 pm
  2. gilang
    bunyi teori Alfred:

    Dalam bahasa Jerman Wegener mengatakan: die Verschiebung der Kontinente, Inggrisnya: continental drift, Indonesianya: “pergeseran benua” dengan kata lain teori Alfred mengatakan bahwa benua itu terapung dan bergerak/bergeser.
    masalahnya, pada waktu itu Wegner bukanlah seorang ahli geologi, dia adalah seorang astronom yang bekerja sebagai pengamat cuaca (meteorologi) sedangkan teorinya dalam buku Asal Usul Benua-Benua dan Samudra-Samudra, yang terbit tahun 1915, mangatakan bahwa benua itu bergerak merupakan bidang kajian ahli geologi yang pada saa itu menganggap bahwa tidak mungkin benua yang begitu besar dan hanya terdiri dari batu-batuan bisa bergerak. Bagi Geolog, pandangan seperti itu jelas tidak logis. Sehingga Wegener dicemooh oleh para ilmuwan.
    Walupun Francsi Bacon(1920), Comte de Buffon, Antonio Anider pellagrioni, Eduard Seuss (Austria), Frank Taylor (Amerika) pernah menyinggung bahwa benua itu bergerak, tapi hanya Wegener yang berani menelitinya sendiri gagasan itu dengan mengembangkan dan mencari bukti-bukti bidang lain seperti: geologi, peleontologi, Paleoklimatologi, serta bidang baru saat itu; Zoogeografi, Biogeografi-nya Sclater dan Wallace…
    Untuk mengenai sejarah perkembangan ilmu zoogeografi, serta Wegner atau Darwin, bisa dibaca di karangan Simon Winchester: Krakatau khususnya Bab III….Terima kasih atas pertanyaannya…

    Posted by Giyanto | 18 March 2008, 4:56 pm
  3. […] saya terhadap epistemologi ilmu sosial dalam artikel Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial [1 dan 2], salah satu kesalahan terbesar kita ialah penggunaan angka-angka serta menggeneralisasi manusia […]

    Posted by Pertanian dan Paradoks Beras Miskin Dalam Perspektif Praksiologi « Akal & Kehendak | 3 April 2008, 5:46 pm
  4. (R)Evolusi Ilmu Pengetahuan Sosial telah terjadi. Lihat: http://www.scientist-strategist.blogspot.com. Terimakasih. (QZ – Scientist & Strategist)

    Posted by Qinimain Zain | 19 May 2008, 5:04 am
  5. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 27 Mei 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

    (Original post by Qinimain Zain | May 27, 2008, 10:38 pm)

    Posted by Qinimain Zain | 28 May 2008, 11:13 am
  6. Terima kasih atas tanggapan serta ajakan diskusinya Pak Zain. Setelah saya sedikit mempelajari kecenderungan2 kajian metodelogi terbaru, memang berbagai usaha telah dilakukan untuk mencoba memahami manusia (sebagai alternatif/menandingi positivistik). Walaupun ada berbagai macam bentuk seperti naturalis, falsifikasi, hermeunik dsb. Namun demikian, saya masih menganggap mereka berkutat pada paradigma filosofis empiris.
    Tapi kalau saya renung2, setiap paradigma metodologi punya peran dan fungsi masing-masing. Dan perkembangan mereka sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantatitas ahli (ilmuwan) yang mengembangkannya. Dan yang sekarang berkembang sangat pesat, saya melihatnya, dalam ilmu antropologi.

    Kalau ditanya strategi: barangkali kita patut mencoba paradigma epistemologinya Mises. Apriorisme deduktif…

    Dan patut mengkaji serta mengembangkan konsep manusia seperti: tindakan, tujuan, cara, prinsip, perubahan, pilihan, waktu, ruang, dsb.

    Dan bila kita cermati konsep2 tersebut, maka sifatnya sangat universal. Karena dalam berbagai budaya dan sejarah beradaban manusia tidak mungkin menghindar dari konsep tersebut. Secara lokal (mikro) ataupun makro dapat diterapkan untuk mengkaji manusia..

    Dengan demikian, berbagai data, temuan dari penelitian empiris. Dalam pandangan Mises, jelas itu termasuk bersifat historis…

    Sehingga ilmuwan akan sulit “menguak” berbagai hukum seputar tindakan manusia.

    Saya menggunakan kata “menguak” dan bukan “membangun”, karena hukum2 ilmu sosial itu sebenarnya sudah ada dan kita belum bisa melihatnya saja.

    Dan sekali lagi, semua itu tergantung pada kemauan ilmuwan (khususnya ilmu sosial) itu sendiri untuk setidaknya menguji serta mengembangkan setiap paradigma yang ada (Termasuk dari Mises)…

    barangkali itu, terima kasih…

    Posted by Giyanto | 29 May 2008, 2:25 am
  7. Sekarang ini ada metode2 kuantitatif baru yang dipakai untuk menjelaskan fenomena konstruksi kolektif dari individu. Yang dipakai adalah bukan hanya model statistik, tapi juga model matematik.

    Saya pikir, secara analitik, masalah ilmu sosial harus dipisahkan dengan masalah sosial. Penyederhanaan adalah sesuatu yang tak terhindarkan dalam pengembangan ilmu. Ini tak bermasalah asal kita selalu sadar bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah hasil penyederhanaan.

    Saya sendiri melihat ilmu sosial adalah ilmu dasar. Belum sampai ilmu terapan seperti teknik rekayasa. Meskipun tentunya studi di bidang kebijakan terus berkembang sehingga kemampuan kita melakukan intervensi terus bertambah.

    Posted by Roby | 11 June 2008, 2:27 am
  8. Dan intervensi itulah sumber masalahnya….

    Posted by Giyanto | 11 June 2008, 6:59 pm
  9. Ada yang jelas terbaca dari tulisan ini, gambaran mengenai dampak ideologis ilmu sosial. Melancarkan kritik epistemologis adalah melancarkan kritik ideologis. Apa yang dilakukan oleh Mises-Rothbard-Hoppe dalam kritik-kritik epistemologi mereka tidak lain adalah sebentuk kritik ideologi. Sekedar membawanya dalam tataran polemik keilmuan dan kefilsafatan semata tanpa penjelasan yang cukup mengenai dampak ideologisnya akan membawa bahasan dan kajian dalam bidang terus berputar-putar dalam kekeliruan yang sama.

    Misalnya dalam komentar Roby di atas “Sekarang ini ada metode2 kuantitatif baru yang dipakai untuk menjelaskan fenomena konstruksi kolektif dari individu. Yang dipakai adalah bukan hanya model statistik, tapi juga model matematik.” Apa bedanya antara kedua metode tersebut secara ideologis? Dan apa sesungguhnya yang disebut dengan “konstruksi kolektif dari individu” itu? Tidakkah kekeliruan metodologisnya justru berawal dari situ; dari konstruksi-konstruksi itu?

    Ketidakpekaan ideologis ini kemudian terjelma dalam pikiran Roby selanjutnya, “Saya pikir, secara analitik, masalah ilmu sosial harus dipisahkan dengan masalah sosial.” Karena itu, baginya, penyederhanaan menjadi “sesuatu yang tak terhindarkan.” Tahukah Roby dan orang-orang yang berpkir seperti itu bahwa ada yang disebut dengan legitimasi ilmu sosial dalam rekayasa sosial? Tahukah mereka bahwa masalah ilmu sosial justru berdangka pada masalah sosial, bahkan secara analitik sekalipun. Dan bahwa penyederhanaan yang “tak terhindarkan” itulah yang menjadi pokok soal kita manakala kita mampu melihat secara lebih menyeluruh apa yang sesungguhnya bisa dan telah disumbangkan ilmu sosial dalam melegitimasi intervensi dan rekayasa yang menyumbang pada pembantaian, perang, pemiskinan, dan berbagai bentuk agresi terhadap individualitas manusia. Penyederhanaan positivistis dan berbagai bentuk metodologisnya yang lain adalah masalah ilmu sosial sekaligus masalah sosial.

    Dan untuk mengulangi, tanpa perlu menjadi ilmu terapan, ilmu sosial positivistis telah menyumbang diterapkannya intervensi dan rekayasa sosial yang parah yang, salah satu misalnya, adalah lewat sumbangan pemahaman keliru bahwa pasar tidak bisa dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Sungguh, kritik epistemologi adalah kritik ideologi karena ilmu sosial selalu mengasumsikan sebuah ideologi dibalik mimbar ilmiahnya. Kecuali itu, yang tersisa hanyalah kenaifan tak terkira.

    Posted by amato | 2 April 2013, 1:39 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory