Uncategorized

Sosok Karl Marx

(Sumber foto: https://fee.org/media/20960/wax_marx.jpg)

 

Oleh: Richard M. Ebeling

Ketika Karl Marx wafat di bulan Maret 1883, hanya 12 orang menghadiri pemakamannya di London, Inggris. Jumlah itu pun sudah termasuk keluarganya. Namun, selama lebih dari satu abad kemudian pasca-kematiannya, pemikiran Marx berpengaruh besar pada berbagai aspek sejarah dunia modern. Bahkan hingga saat ini, tidak banyak pemikir lain yang seberpengaruh  demikian. Sebagian orang berpendapat, sejak kelahiran Kristen dan kebangkitan Islam tiada sistem berbasis-keyakinan yang sedahsyat Marxisme dalam hal pengaruhnya secara global.

Kritik Marx terhadap kapitalisme dan masyarakat kapitalis telah membentuk pemikiran sosial di negara-negara Barat yang mengantarkan kepada negara-kesejahteraan dan intervensi ekstensif pemerintah dalam hal ekonomi. Kritiknya menjadi panji ideologis pengilham revolusi sosialis dan komunis di abad dua puluh. Berawal di Rusia pada 1917, kekuatan politiknya hingga kini masih bergeming di beberapa negara seperti Kuba, Korea Utara, Vietnam, dan Cina.

Atas nama visi Marxis tentang “masyarakat baru” dan “manusia baru,” revolusi sosialis dan komunis berujung pada pembunuhan, perbudakan, penyiksaan, dan kelaparan massal yang dialami puluhan juta orang di dunia. Para sejarawan memperkirakan bahwa dalam upaya mewujudkan dunia sosialis yang “baru” dan “lebih baik”, rezim-rezim komunis di abad dua puluh telah membinasakan sekitar 200 juta orang.

Kehidupan pribadi

Karl Marx dilahirkan pada 5 Mei 1818  di kota Rhineland Trier. Orang tuanya berkebangsaan Yahudi, dengan garis keturunan panjang sebagai rabi-rabi yang dihormati dari kedua sisi keluarganya. Demi karir hukumnya  di Kerajaan Prusia saat itu, ayah Karl Marx beralih-agama menjadi Protestan. Karl Marx sendiri tidak begitu mendalami agama; sejak berusia dini ia menolak semua keyakinan pada Yang Maha Kuasa.

Setelah sekian waktu belajar di Bonn, Marx pindah ke Universitas Berlin untuk meraih gelar doktor di bidang filsafat. Sebagai mahasiswa ia tergolong malas dan nyaris tak-berguna. Uang kuliah kiriman ayahnya kerap dihabiskan untuk makan dan minum. Malam-malam dihabiskannya untuk bermabukan di kafe-kafe atau mendebat filsafat Hegel dengan mahasiswa lain. Kendati begitu, ia berhasil meraih gelar doktor setelah merampungkan disertasinya untuk Universitas Jena di Jerman Timur.

Pekerjaan riil yang pernah dilakoni Marx semasa hidup adalah sebagai reporter sambilan atau penyunting di beberapa surat kabar dan jurnal (yang tak lama kemudian ditutup entah atas alasan pailit akibat kekurangan pelanggan, keterbatasan dukungan dana atau akibat sensor politik oleh pemerintah setempat.

Aktivitas politik Marx sebagai penulis dan aktivis membuatnya harus sering berpindah tempat tinggal, termasuk ke Paris, Brussels, dan akhirnya, pada 1849, ke London,  di mana ia menghabiskan sisa hidupnya, kecuali saat beberapa kali ia mengunjungi benua Eropa.

Marx tergolong “kelas menengah”.  Sikap budayanya sehari-hari dalam beberapa hal sehari-hari bahkan terkesan “Victorian”. Namun, ini tidak berarti ia sanggup  mempertahankan janji pernikahannya atau menahan diri dari perzinahan. Ia bahkan  menghamili pembantu rumah tangganya hingga melahirkan anak jadah. Semua ini terjadi di bawah satu atap yang menaungi istri dan anak-anaknya yang sah (Marx punya tujuh orang anak; yang hidup hingga dewasa hanya 3).

Namun, bila Marx sedang berada di rumahnya di London, anak jadahnya dilarang mengunjungi sang ibu. Si bocah hanya dibolehkan masuk ke rumah melalui pintu belakang dapur. Selain itu, Marx berhasil membujuk teman lamanya, Fredrick Engels–seorang donatur dan kolaborator intelektual, untuk mengakui anak haram tersebut sebagai anak Engels. Ini untuk menutupi aibnya dari cercaan sosial.

Sejarawan Paul Johnson dalam bukunya, Intellectuals (1988) menjelaskan:

Selama meneliti kejahatan kapitalisme Inggris, Marx menemukan banyak contoh pekerja yang diupah rendah; tapi ia tidak pernah menjumpai seorang pekerja pun yang benar-benar tidak diupah. Padahal, pekerja yang nasibnya semacam itu ternyata ada, bahkan di rumah tangganya sendiri … pekerja tersebut bernama Helen Demuth [yang menjadi pembantu keluarganya semasa hidup]. Wanita pekerja keras ini bekerja tanpa upah. Tugasnya bukan cuma mencuci atau menyikat, melainkan juga mengatur anggaran keluarga. Marx tidak pernah mengupahnya sepeserpun.

Pada 1849-50 … [Helen] menjadi wanita simpanan Marx dan kemudian hamil … Marx bersikeras menyangkal bahwa bayi tersebut hasil perbuatannya. Selamanya ia menolak bertanggungjawab. [Anak lelaki tersebut] yang tersisih dari rumahnya, lalu menjadi anak-angkat keluarga Lewis dari golongan kelas-pekerja.  Ia diizinkan bertandang ke rumah Marx untuk bertemu sang ibu. Namun, anak tersebut dilarang masuk lewat pintu depan dan hanya boleh bertemu ibunya di dapur.

Marx takut jika masyarakat tahu siapa ayah anak tersebut sebab hal ini aib yang fatal sebagai pemimpin dan ahli-nujum revolusioner … [Marx] membujuk Engels untuk mengakui [anak itu] secara pribadi, sebagai dalih cerita untuk konsumsi keluarga. Tapi Engels tidak sudi membawa rahasia ini hingga ke liang kubur. Sebelum meninggal akibat kanker tenggorokan pada 5 Agustus 1895, Engels yang saat itu sudah tak lagi mampu bicara tetapi tidak rela kalau Eleanor [salah satu putri Marx] terus beranggapan keliru tentang ayahnya, menuliskan tulisan ini dengan sebatang kapur: “Freddy [nama anak itu] adalah anak Marx”

Watak Marx: Kejam dan Pendusta

Dalam hal temperamen, Marx bisa kejam dan otoriter. Kepada siapa saja yang tak disetujuinya, Marx akan bertindak kasar dan jahat. Tak jarang ia mengejek mereka di muka umum. Marx tak pernah ragu sebagai munafik. Saat ada maunya dari seseorang, ia akan menyanjung orang tersebut lewat tulisan maupun secara lisan, untuk kemudian ditikamnya dari belakang dengan bahasa yang kotor. Marx sering memakai hinaan rasial dan kata-kata menghina untuk menggambarkan perilaku atau penampilan lawan-lawannya dalam gerakan sosialis.

Misalnya, pada 1862 dalam suratnya untuk Frederick Engels, Marx menggambarkan tokoh sosialis terkenal Jerman di abad kesembilan, Ferdinand Lassalle, sebagai berikut:

Si Yahudi Negro Lassalle … untungnya mati akhir pekan ini … Sekarang benar-benar jelas bagi saya bahwa dari bentuk kepala  dan teksturnya,  ia keturunan orang Negro yang dulu ikut bergabung dengan Nabi Musa hengkang dari Mesir (atau barangkali ibu atau neneknya dari pihak ayahnya keturunan hibrid negro). Kombinasi Jerman dan Yahudi dengan unsur utama Negro telah menghasilkan produk yang aneh. Sifat ngotot orang ini juga seperti sifat negro.

Dalam pikiran Marx, or ang Yahudi dalam masyarakat borjuis mencerminkan esensi dari segala sesuatu yang dianggapnya tercela dalam sistem kapitalis, dan hal itu hanya dengan berakhirnya sistem kapitalislah sebagian besar dari sifat-sifat yang tidak menarik tersebut dapat berakhir.

Berikut konsepsi Marx tentang alam pikiran Yahudi di Eropa abad kesembilan belas, dari esainya mengenai ” Pertanyaan tentang Yahudi” (1844):

Apa dasar sekuler paham Judaisme? Kebutuhan praktis, kepentingan diri. Apa yang dikultuskan di dunia ini oleh orang Yahudi? Tawar-menawar. Siapa tuhan bangsa Yahudi di dunia ini? Uang! … Tiada tuhan selain uang; uanglah sang tuhan-pencemburu Israel.Uang mendegradasi semua hal yang dianggap dewa bagi kemanusiaan dan mengubahnya menjadi komoditas … Apa yang terkandung secara abstrak dalam agama Yahudi—pelecehan terhadap teori, seni, sejarah, manusia sebagai tujuan dalam dirinya sendiri … Emansipasi sosial bagi bangsa Yahudi adalah emansipasi masyarakat dari keyahudiannya sendiri.

(Deskripsi karikatural Marx yang menegaskan “pola pikir Yahudi” ini secara menakjubkan mirip dengan gambaran umum yang kelak dituliskan oleh para “ilmuwan rasial” kelompok Nazidi di tahun 1930-an, yang mengutuk orang-orang Yahudi atas tuduhan-tuduhan serupa semisal pengejaran uang untuk kepentingan pribadi dan pengaruh buruk orang Yahudi terhadap bangsa Jerman.)

Marx juga oleh sebagian orang mungkin dapat dilabel sebagai plagiator. Pada1852-1862, Marx bekerja sebagai koresponden Eropa untuk New York Daily Tribune. Marx merasa tugas menulis dua artikel per minggu sebagai beban berat meski bayarannya  relatif baik. Itu sebabnya, ia memutuskan ikut berpartisipasi dalam intrik revolusioner; ia meneliti, membaca, dan menulis bahan untuk apa yang kelak menjadi karyanya yang terkenal, Das Kapital.

Selama sepuluh tahun Marx bekerja di surat kabar, Friedrich Engels menulis sekitar sepertiga dari artikel-artikel yang menyandang nama Marx.

(Bersambung)

 

Richard M. Ebeling is BB&T Distinguished Professor of Ethics and Free Enterprise Leadership at The Citadel in Charleston, South Carolina. He was president of the Foundation for Economic Education (FEE) from 2003 to 2008.

Artikel asli berbahasa Inggris diterbitkan oleh FEE.org.

https://fee.org/media/20960/wax_marx.jpg

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Sosok Karl Marx”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory