Edisi 20

Ilusi Stabilisasi (1)

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 20, Tanggal 10 Maret 2008

supplydemand.jpgTerkait dengan enigma kenaikan harga-harga sembako dan berbagai upaya pengatasannya, begitu banyak tulisan telah dipublikasikan akhir-akhir ini di berbagai media tulis-cetak. Sementara, kita semua tahu puluhan atau ratusan institusi keuangan dan non-keuangan telah didirikan dengan menyedot dana luar biasa besar, khusus untuk merencanakan dan menyetabilkan harga.

Namun hingga sejauh ini, sejumlah pertanyaan mendasar tentang harga gagal ditanyakan, atau dianggap tidak perlu ditanyakan. Ini sangat disayangkan, sebab di sanalah terletak inti persoalan dan kunci jawabannya.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut adalah: Apakah harga dapat distabilkan? Seberapa jauh dan seberapa perlukah stabilisasinya dilakukan? Dan siapa yang harus melakukannya?

Jika semuanya dapat dijawab dengan tepat, maka pemahaman terhadap persoalan yang sedang kita hadapi dapat meningkat, dan solusi yang benar akan didapat. Tulisan ini bertujuan memberi jawabannya.

Pertama, apa itu harga? Tak lain dan tak bukan dia adalah nilai tukar antara dua komoditas yang diekspresikan dalam salah satu komoditas tersebut. Kalau Anda dapat menukar sepotong roti dengan 2 butir telur, maka harga roti adalah 2 butir telur; atau nilai sebutir telur adalah ½ potong roti.

Meski sehari-hari kita lebih mengenal relasi antarbarang ini dalam nilai uangnya—misalnya: harga roti @ Rp. 2 ribu; atau harga sekilo telur Rp 10 ribu, dll., kebiasaan ini tidak perlu mengecoh pemahaman akan hakikat harga. Uang di sini dipakai sebagai denominator saja, untuk mempermudah dan memungkinkan perhitungan.

Orang mungkin akan bingung kalau ditanya, berapa harga dari uang senilai Rp. 10,000? Pertanyaan semacam itu memang tidak lazim, Tapi dengan bantuan definisi di atas, kita tidak perlu bingung. Harga uang tersebut dapat dinyatakan dalam komoditas apapun yang tersedia di pasar. Misalnya, kalau uang senilai 10,000 dapat membeli sekilo telur, maka harga uang tersebut adalah sekilo telur.

Setelah jelas dengan hakikatnya, sekarang kita bahas formasi terbentuknya harga dan sifat-sifatnya.

Pertama, harga setiap komoditas ekonomi tidak bisa diceraikan dari kekuatan hukum persediaan dan permintaan. Kaidah elementer ini mengatakan bahwa perimbangan hubungan antara ketersediaan komoditas dengan permintaan terhadapnya akan menuju kepada suatu titik keseimbangan nilai harganya. Kaidah ini bersifat tidak terbantahkan.

Oleh karenanya itu dapat dipastikan bahwa, kalau penawaran barang melebihi permintaan terhadapnya, maka titik keseimbangan harga barang tersebut akan bergeser. Dengan kata lain, harga akan turun; demikian berlaku sebaliknya. Hubungan antara penawaran dan permintaan komoditas, serta substitutabilitas, karakter, faedah, dan sifat produksi komoditas tersebut juga mempengaruhi rigiditas harga. Sebagian barang memiliki harga yang relatif melekat (sticky), sebagian lain relatif gampang-berubah (plastis).

Lebih dari sekadar representasi keseimbangan, bagi setiap konsumen dan produsen harga adalah sinyal krusial pemandu perilaku konsumsi dan keputusan produksi. Sebagai sinyal, sifat inherennya adalah instabilitas–dengan atau tanpa intervensi sekalipun oleh siapapun. Harga dalam pengertian ekonomis ini tidak mungkin distabilkan.

Harga adalah fenomena ganda dalam beberapa pengertian. Jika tidak sedang mencerminkan keseimbangan pasokan-permintaan di masa lalu, maka harga sekarang sedang mencerminkan ekspektasi kondisi keseimbangan masa depan. Dia menjadi fenomena ganda sekali lagi, saat dinyatakan dalam unit ukur hitungnya, yaitu uang, dalam arti nilainya dapat berupa nilai-relatif yang nominal, dapat pula riil.

Hakikat harga yang nyaris berlawanan dengan intuisi, sehingga sering luput dari pemahaman, adalah bahwa dia sesungguhnya berupa hasil penilaian yang berawal dari dan berpulang ke subyektivitas manusia.

Meski penetapan harga awal sebuah komoditas ekonomi dipengaruhi oleh biaya-biaya produksi, pada akhirnya sinyal harga yang bekerja setiap saat transaksi berlangsung secara sukarela di pasar yang tak terkendala berpulang kepada valuasi subyektif manusia. Proses valuasi tersebut berlangsung di benak para pelaku transaksi, pada suatu titik waktu dan tempat tertentu secara konkret.

Orang tidak bisa benar-benar membandingkan nilai air dengan nilai berlian per se, melainkan nilai masing-masing dalam unit tertentu pada suatu titik waktu tertentu dan dalam konteks latar geografis tertentu. Seorang politisi dapat mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk menerbitkan otobiografinya seharga eceran Rp.50.000,00; tetapi jika Anda sebagai calon pembeli tidak menilai komoditas tersebut layak-beli, tak sepeserpun uang berpindah tangan. Untuk benar-benar berlaku, harga artifisial itu harus tunduk pada kemauan pasar. Pada akhirnya, sukses tidaknya penawaran harga dalam proses transaksi di alam kebebasan ditentukan oleh permintaan konsumen.

Dalam menjelaskan fenomena harga, bahkan Adam Smith pun membuat sejumlah kekeliruan (Wealth of Nations, Bab V). Saat mencari elemen stabilitas di dalam konstruk harga, ia mensinyalir bahwa tenaga kerjalah (labor) satu-satunya elemen yang tetap di dalamnya. Kekeliruannya ini kelak dimanfaatkan oleh ekonom lain, David Ricardo. Dan dari Ricardo, Marx kelak mendalilkan teorinya yang fatal tentang tenaga kerja dan hukum besi upah.

Kita sudah boleh menyimpulkan dari eksposisi di atas, bahwa satu-satunya hal yang stabil tentang harga adalah ketidakstabilannya.

Harga bahkan dapat menjadi ekstra instabil oleh karena standar populer pengukurannya, yaitu uang, justru nihil akan nilai tetapnya sendiri! Sebab uang tidak lain adalah juga komoditas.

Bahkan seandainya jumlah total uang di sebuah negara tidak berubah, harga akan tetap instabil. Ini dapat dipahami dengan membayangkan perekonomian di sebuah pulau terpencil yang masyarakatnya saling bertukar hasil produksi; sudah mengenal uang sejati, berbentuk emas misalnya, dalam jumlah yang diasumsikan tetap.

Seiring dengan kenaikan produktivitas dan perubahan permintaan di pulau tersebut, akan terjadilah peningkatan jumlah hasil produksi yang tersedia di pasar. Uang yang jumlahnya tetap kini berhadapan dengan barang ekonomi yang jumlahnya bertambah. Di sini hukum penawaran-permintaan kembali bekerja sedemikian rupa, sehingga meskipun jumlah total uang yang ada tetap, nilai semua komoditas ekonomi tetap dapat diakomodasikan oleh uang-uang yang ada. Harga-harga niscaya akan bergerak turun, menyesuaikan diri untuk mencapai keseimbangan antarkomoditas yang kini kian beragam.

Kendati secara nominal jumlah uang tidak berubah, secara riil dia akan mencukupi untuk memfasilitasi transaksi pasar bagi semua komoditas ekonomi. Oleh karena itu, ketika A mengatakan ingin menjadi bilyuner, yang benar-benar ia maksudkan adalah bahwa ia menginginkan daya-beli riil uangnya meningkat agar dapat membeli lebih banyak barang/jasa.

(Lanjut ke Bag. 2)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

Comments are closed.

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory