// Arsip

buku

This category contains 18 posts

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 7)

Apa yang salah dengan para pengarang ini bukanlah terletak pada kenyataan bahwa mereka telah memilih untuk memotret kenestapaan dan kemiskinan. Seorang seniman akan dapat memperlihatkan kehebatannya dalam menangani subyek apapun. Kesalahan besar mereka terletak pada misrepresentasi dan misinterpretasi mereka yang tendensius terhadap kondisi-kondisi sosial.

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 6)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Volume II Edisi 44, Tanggal 25 Agustus 2008 Oleh: Ludwig von Mises (Kembali ke Bagian 5; atau ke Bagian 1) 3.  CATATAN TENTANG ROMAN DETEKTIF Abad ketika kekuatan gerakan anti-kapitalisme radikal seakan tak tertahankan telah menghasilkan sebuah genre kesusastraan baru, roman detektif. Generasi [Amerika] yang sejaman dengan generasi yang telah […]

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 5)

Kesusastraan bukanlah sebuah konformisme, melainkan pembangkangan. Pengarang yang hanya mengulangi apa yang sudah disetujui semua orang dan menyajikan apa yang ingin mereka dengar bukanlah pengarang besar. Yang terpenting adalah sang inovator, pemberontak, pembawa suara tentang sesuatu yang belum pernah didengar, penolak standar tradisional yang bertujuan mengganti yang usang dengan nilai dan gagasan baru. Dengan demikian, pengaran besar sudah seharusnya anti-otoritarian dan antipemerintahan, berlawanan dari mayoritas besar sejawatnya, dan tidak bisa diakurkan. Tepatnya, ia penulis yang kebanyakan bukunya tidak dibeli oleh publik.

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 4)

Di perekonomian pasar tidak seorangpun menjadi miskin oleh karena kenyataan adanya sejumlah orang yang berhasil menjadi kaya. Kekayaan milik mereka yang kaya bukanlah sebab dari kemiskinan siapapun. Proses yang memperkaya orang, sebaliknya, adalah sinonim dari proses yang memperbaiki pemuasan keinginan banyak orang. Para pengusaha, kapitalis dan teknolog akan makmur sejauh mereka berhasil menyediakan pasokan barang kepada para konsumen dengan cara yang paling baik.

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 3)

Orang-biasa pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan mereka yang telah mendulang kesuksesan melebihi dirinya. Ia bergerak dalam lingkaran sesama orang biasa. Ia tidak pernah bertemu dengan bosnya secara sosial. Ia tidak pernah belajar dari pengalaman pribadi tentang betapa berbedanya seorang pengusaha atau eksekutif dalam hal-hal menyangkut kecakapan dan kemampuan yang diperlukan agar berhasil melayani konsumen. Rasa iri dan kesal yang timbul kemudian ini tidak dapat dilampiaskan kepada orang lain yang sama-sama terdiri atas darah dan daging, kecuali pada pada abstraksi-abstraksi yang samar seperti “pengelola”, “modal”, dan “Wall Street.” Kebenciannya kepada bayangan samar tersebut tidak mungkin dapat dilampiaskan dengan kegetiran yang sama seperti yang mungkin dirasakannya terhadap sesamanya, yang ditemuinya sehari-hari.

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 2)

Di masyarakat yang berbasis kasta dan status, setiap individu dapat menyalahkan nasib buruk yang mereka alami kepada kondisi-kondisi di luar kendalinya. Kalau ia menjadi budak, itu disebabkan oleh sebuah kekuatan non-manusiawi yang telah menakdirkan segalanya dan telah memberinya kelas demikian. Oleh karena status tersebut bukan akibat dari perbuatannya sendiri, tidak ada alasan baginya untuk merasa nista atas kepapaannya. Istrinya tidak bisa menyalahkan dirinya atas statusnya itu. Jika sang istri bertanya: “Mengapa Kang Mas bukan seorang bangsawan? Kan kalau Kang Mas bangsawan, aku jadi permaisurinya,” ia mungkin akan menanggapinya begini: “Seandainya aku terlahir sebagai pangeran, Dik, aku tidak bakal mengawini putri budak, melainkan Tuan Putri dari bangsawan lain; mengapa sampeyan bukan putri, itu jelas kesalahan adik semata, sebab adik tidak pintar dalam memilih orang tua!”

Mises: Persoalan-Persoalan Epistemologis dalam Ilmu Sosial

Saya baru selesai perbaiki, gabung dan format ulang naskah Persoalan-Persoalan Epistemologis Dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan Sosial Yang Mengkaji Tindakan Manusia, Ludwig von Mises, Human Action, Bab II, (40 halaman). Silakan unduh dari tab PDF. Kirim artikel ini:

Ilmu Ekonomi dan Metode Mazhab Austria

Selesai diterjemahkan, dan sedang dalam proses penyuntingan: ILMU EKONOMI DAN METODE MAZHAB AUSTRIA, karya Prof. Hans Hermann Hoppe. Jika Anda berniat tertarik menjadi sponsor penerbitan atau menerbitkannya, silakan hubungi saya. Kirim artikel ini:

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory