// Arsip

Uncategorized

This tag is associated with 1 posts

Melawan Positivisme

Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam “mencetak” tenaga-tenaga teknis terdidik).

Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?

Stop Press: Kabar dari Canberra

Di awal Maret 2009 ini Akaldankehendak.com berulang tahun, genap berusia 2 tahun dan telah memasuki tahun ke-3 penerbitannya! Terima kasih banyak kami haturkan kepada Anda yang selama ini ….

Tentang Mal-Mal Besar di Kampung Besar

Tulisan ini melengkapi sekaligus memperbaiki masukan dari tulisan saya beberapa tahun lalu, tentang pembangunan mal-mal di Jakarta. Kalau dalam tulisan sebelumnya saya terkesan agak “sinis” terhadap pembangunan mal-mal di ibukota-dan dengan skeptis memperkirakan bahwa mal-mal baru di Jakarta sudah dirundung kegagalan sejak awal, saya dalam artikel singkat ini sikap saya amat positif!

Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 4 – Tamat)

Tragedi of the Commons adalah tragedi khas yang muncul akibat sikap aji mumpung manusia, ketika kondisi kepemilikan properti tidak terdefinisikan dengan jelas, atau gagal ditegakkan dengan baik, sehingga orang cenderung termotivasi untuk memuaskan keinginannya dalam jangka pendek dan mengabaikan sama sekali kepuasannya di masa mendatang. Tragedi ini muncul ketika sistem penyelenggaraan properti yang berlaku di masyarakat sedemikian rupa sehingga pihak-pihak yang terlibat mendapat insentif untuk bertindak, meski tetap rasional, seolah tidak ada hari esok….

Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 3)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Volume II Edisi no. 64 Tanggal 12 Januari 2009 Diposting tgl: 15 Januari 2009 Oleh: Sukasah Syahdan (Kembali ke Bagian 1) Cuma ada dua cara kita dapat menjadi pemilik properti: cara sukarela melalui proses produksi termasuk invensi (penemuan) dan pewarisan, dan cara-cara koersif semacam predasi, termasuk pencurian dan penjarahan, dan […]

Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 2)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Volume II Edisi no. 63 Tanggal 5 Januari 2009 Oleh: Sukasah Syahdan Kondisi dan Tipologi Properti Kalau kata class dipadankan sebagai kelas, kenapa classification berpadan dengan klasifikasi dan bukan kelasifikasi? Tapi ini sih tidak nyambung. Berhubung kita maunya nyambung, properti di sini harus kita golongkan ke dalam klasifikasi, meskipun penggolongan […]

Tentang Properti dan Kepemilikan (Bag. 1)

Isu sentral sosialisme, komunisme, kapitalisme, anarkisme, libertarianisme, etatisme, dirigisme, dan isme-isme lainnya berpusat pada konsep satu ini. Kemajuan peradaban bangsa-bangsa di dunia bermula dari sini; dan sebaliknya, hampir semua krisis berdarah yang menghancurkan capaian peradaban manusia, dari jaman prasejarah hingga pasca-kolonialisme, juga berawal persis dari persoalan tentangnya. Di Indonesia, berbagai konflik yang telah dan akan terus meletus di sepanjang eksistensi bangsa ini, yang kadang tampil dan dimaknai secara artifisial atau mewujud dalam konfik-konflik berparas SARA, isu-isu demokrasi/demokratisasi, atau dikotomi nasionalisme/internasionalisme, muncul tepat dari isu fundamental ini. Dengan kata lain, jika kita berhasil membenahi urusan satu ini, maka beribu bahkan berjuta konflik yang mengiringinya dapat terpecahkan dengan mudah, bahkan mungkin dengan sendirinya.

Homo Oeconomicus dan Ketercerabutan Ekonomi sebagai Takhayul

Berikut tanggapan atas dua artikel yang pernah dimuat di harian Kompas, dan dijadikan kliping di sini, yaitu Ketercerabutan Ekonomi (KE) dan Pasar Bebas adalah Segalanya (PBS). Kedua tulisan terpisah oleh dua penulis berbeda ini kiranya berkelindan sangat erat, seolah terlukiskan dalam gerakan tunggal dengan satu kuas besar yang sama. Meski keduanya berisi dua topik ekonomi berbeda, keterkaitan keduanya tidak dapat disangsikan; keduanya pelebaran dari suatu konsep fundamental: homo oeconomicus. Tanggapan ini mengasumsikan pemahaman terhadap konsep sederhana bernama ekonomi pasar. Jika hal-hal dalam artikel ini sahih bagi tulisan pertama, maka ia juga sahih bagi yang kedua; dan sebaliknya.

Fundamentalisme Pasar adalah Segalanya

Berikut sebuah artikel menarik yang terbit di harian Kompas (29/11/08), yang cukup perlu disimak dan dikritisi. Mengingat keterbatasan surat kabar cetak, kami menurunkannya di sini untuk menjaring komentar dan tanggapan pembaca, selain juga sebagai arsip. Catatan redaksi AK atas artikel ini akan diturunkan pada waktunya. Selamat menikmati!

Ketamakan dan EGP

Solusi-solusi yang sedang ditempuh pemerintah saat ini-bailout, nasionalisasi, subsidi, penggelontoran uang segar untuk melicinkan likuiditas, dll.–seringkali berarti, dilihat secara kritis dari sudut pandang berbeda, bahwa bisnis-bisnis yang sudah selayaknya rugi, tidak boleh merugi; perusahaan-perusahaan yang selayaknya bangkrut, tidak diijinkan bangkrut. Profit and loss adalah dua sisi pada mata uang yang sama, mengisolasi satu dari lainnya adalah hal yang mustahil–tidak ada teori ekonomi untuk itu; persistensi sia-sia terhadap usaha ini adalah bentuk kepandiran tersendiri….

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: