Uncategorized

Pasar Bebas dan Darwinisme Sosial

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 28, Tanggal 05 Mei 2008

Ada 2 hal penting yang saya rasa perlu diulas tentang pasar bebas. Keduanya terkait erat dengan beberapa keping artikel yang pernah diterbitkan di Jurnal ini (misalnya ini dan ini).

Yang pertama adalah tentang kekuatiran sebagian orang tentang berlakunya hukum rimba, yang sepertinya lengket melekat dalam imajinasi kita tentang pasar bebas. Hal kedua dan tidak kalah pentingnya adalah paranioa akan mitos kegagalan pasar.

Tulisan ini hanya berfokus pada isu pertama, yaitu tentang kekuatiran mengenai kekacauan, berlakunya hukum rimba, di mana yang besar akan memakan yang kecil, si kuat menindas si lemah, dan yang semacam itu. (Tentang kegagalan pasar sebagai mitos dapatlah kami sajikan kemudian dalam edisi-edisi mendatang.)

Mari langsung ke hutan rimba. Pandangan sejumlah orang yang pakar dan yang awam tentang berlakunya hukum rimba di pasar bebas di mana yang kuat menggontok yang lemah dan si kaya memerah si miskin timbul akibat misinterpretasi terhadap tilikan ilmu alam. Misinterpretasi ini adalah aplikasi pragmatis yang keliru (ke ranah sosial) dari teori biologi tentang evolusi dan seleksi alam, yang digagas seorang ilmuwan Inggris, Charles Darwin. Aplikasinya di bidang sosial ini sering disebut sebagai Darwinisme Sosial. Dengan penerapannya, pihak yang “nekad” mengadvokasikan pasar bebas tidak jarang diberikan label gratis, yaitu sebagai Darwinis sosial.

Benar dan patutkah demikian?

alt textFoto Charles Darwin (aucklandmuseum.com)

Kesimpulan penting yang ingin dicapai lewat penulisan ini langsung saja saya suguhkan, yaitu bahwa: retorika tentang Darwinisme sosial di dalam pasar bebas adalah isapan jempol belaka. Lebih dari itu, bukan sekadar keliru, pandangan tersebut justru bertolak seratusdelapanpuluhderajat dengan kenyataan sesungguhnya.

Jika di rimba raya berlaku hukum “survival of the fittest”, maka pasar bebas justru akan membuat semakin banyak orang “fit”.

Bagi sebagian pembaca, kesimpulan di atas mungkin cukup mengejutkan. Persis yang mau saya lakukan sekarang adalah sekadar menyatakan kembali darimana datangnya kesimpulan di atas. Kesimpulan tersebut sebenarnya bukanlah hal yang baru ataupun orisinil. Cukup banyak pemikir terdahulu yang telah menuliskannya dalam sejumlah literatur. Yang terutama saya rujuk di sini adalah buku Mises (Human Action, hal. 169-176); Rothbard (Power and Market); makalah George Reisman (Some Fundamental Insights into the Benevolent Nature of Capitalism). Belum terlalu lama berselang, seorang profesor ekonomi di Universitas Pepperdine, Gary Galles, juga mempermudah tugas saya kali ini dengan satu artikelnya yang merangkum pandangan ketiga tokoh di atas. Saya memutuskan tidak perlu menciptakan kembali roda argumentasi di artikel ini.

Seperti dinyatakan Galles, kekeliruan yang paling jelas dari pandangan terhadap mekanisme pasar sebagai medan “survival of the fittest” adalah bahwa bahkan di dalam pasar-pasar yang selama ini telah terkendala oleh berbagai peraturan dan perpajakan dll. sebagaimana yang kita saksikan dewasa ini, semakin banyak orang yang berhasil diselamatkan!

Kemakmuran dan teknologi yang tercipta lewat kapitalisme menunjukkan bahwa manfaatnya tidak cuma terbatas bagi yang paling fit saja. Meski terkendala luar biasa oleh intervensi pemerintah, kapitalisme tidak tertandingi dalam hal penyediaan berbagai barang dan jasa dalam skala massal dan harga yang lebih murah bagi semua orang. Semakin terbebas pasar dari kendala, semakin besar dia memproduksi-dan tanpa mencederai kebebasan atau merampas hak dari satupun individu! Bandingkan ini dengan cara menyubsidi si Budi dengan merampok si Badu. (Seperti pernah diucapkan seseorang, mudah sekali menjadi terkesan melakukan hal moral, apalagi dengan mengambil sumberdaya orang lain!)

Kapitalisme memperkaya siapa saja yang berani menjadi produktif. Sistem ini telah menyelamatkan nyawa miliaran orang yang barangkali tidak akan dapat bertahan hidup tanpanya. Pada kenyataannya kapitalisme memberi semua orang-yang paling lemah sekalipun, kesempatan terbaik bukan cuma untuk sekadar selamat, tetapi juga untuk berjaya. (Tentu ini bisa disetujui: siapa saja yang kaya tapi sembrono hari ini dapat jatuh miskin besok pagi; sebaliknya, siapa yang miskin saat ini, tidak tertutup kemungkinannya untuk menjadi sukses.) Salah satu petunjuk terhadap hal ini adalah semakin meningkatkanya waktu luang yang telah terjadi seiring dengan meningkatnya pasar. Bill Gates, yang tidak selesai sekolah, berhasil muncul menjadi orang terkaya di dunia, dan akan memberi ceramahnya Jumat ini di Balai Sidang. Yayasannya, yang mulai menjadi kekuatan sosial yang patut diperhitungkan dalam menolong kaum papa di dunia, mungkinkah terjadi dalam konteks hukum rimba?

Sebab di alam perjuangan yang Darwinian, satu orang diasumsikan memandang yang lain sebagai lawan atau musuhnya. Sebaliknya, di pasar bebas, bahkan seseorang yang berpotensi menjadi tiran bengis sekalipun tetap harus tunduk dan memusatkan usahanya dengan menawarkan nilai kepada konsumen, lewat cara damai transaksi tanpa paksaan. Satu kesimpulan yang saya nilai jenial dari Galles: pasar bebas bahkan menyalurkan dorongan kekuasaan menjadi pemberian layanan (service)!

Tentunya kita tertarik pada pemikiran yang benar atau setidaknya berdasar. Maka, akal kita menuntut jawaban atas pertanyaan ini: apa dasar bagi semua ini?

Landasannya adalah hak kepemilikan oleh individu-individu. Pengakuan terhadapnya adalah pencegah meletusnya perang di hukum rimba. Hukum kepemilikan mencegah invasi fisik terhadap segala nyawa, terhadap semua kebebasan, dan terhadap apapun hak milik seseorang kecuali jika orang tersebut memperkenankan terjadinya hal tersebut. Dengan tercegahnya invasi-invasi semacam itu, hak kepemilikan individu menjadi benteng pertahanan terhadap agresi yang memang amat mungkin dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah. Hak kepemilikan mencegah perekayasaan kebenaran di atas kekuatan.

Kompetisi bisnis adalah faktor lain yang amat krusial tapi sering gagal kita pahami. Pandangan kita tentang faktor yang satu ini sarat dengan berbagai mitos-lihat mis. monopoli, keserakahan pengusaha, dll. Padahal tidak sulit melihat bagaimana persaingan adalah cara jaminan alamiah yang inheren. Tidak boleh dilupakan bahwa pengusaha yang sukses memperluas “kekuasaannya” adalah dia yang paling banyak dilanggani “konstituennya” oleh karena produktivitas atau nilai tambah yang dirasakan nyata. Kompetisi secara bebas berarti bahwa hanya dia yang dapat memberi nilai tambah kepada konsumenlah yang akan menawan hati konsumen. Soal produksi dan konsumsi, pada analisis terakhir hanya berpulang kepada konsumen. Persaingan usahalah yang memungkinkan semakin banyak orang, misalnya, dapat membaca tulisan online ini dengan biaya yang semakin terjangkau.

Andai saja kita menangkap inti filsafat kerjasama dari David Ricardo (lihat artikel terkait di Jurnal ini), tentu semua paparan ini akan menjadi sesuatu yang lewah/mubazir (redundant). Sebab berabad lalu ekonom ini telah memperlihatkan betapa lebih superiornya kerjasama sosial dan sistem pembagian kerja antarmanusia itu-bahkan di antara mereka yang lebih unggul di segala bidang dari mereka yang lebih lemah–dalam mencapai kesejahteraan bersama ketimbang cara-cara agresi dan koersif. Justru melalui kerjasama dalam kedamaian pasarlah semua pihak memeroleh keuntungan melalui perkembangan sistem pembagian kerja dan investasi modal.

Kata Rothbard (dalam PM, hal. 1325), pihak-pihak yang menyamaratakan penerapan konsep “survival of the fittest” di medan hutan rimba dan di medan pasar justru melupakan satu pertanyaan yang paling mendasar: Fitness for what? Fit untuk apa?

Mereka yang disebut “fit” di hutan rimba adalah binatang-binatang yang paling mahir menggunakan kekuatan/paksaan. Sedangkan dalam konteks pasar? Adalah mereka yang paling piawai dalam melayani masyarakat. Hutan rimba adalah tempat yang keras tiada ampun di mana yang satu merampas dari yang lain, sementara yang lemah dan kebetulan masih hidup akan hidup dalam tingkat setara kelaparan.

Pasar adalah tempat damai yang produktif di mana para pelakunya melayani diri masing-masing, bertindak demi keuntungan sendiri-sendiri, di dalam suatu proses suka rela yang pada akhirnya, mau tidak mau, disadari maupun tidak, membuat kita saling melayani satu sama lain secara bersamaan dan hidup dalam tingkat konsumsi yang semakin meningkat. [ ]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

20 comments for “Pasar Bebas dan Darwinisme Sosial”

  1. hmmm…interesting comparison, nad!

    i’m wondering, is human included as part of the organisms in the jungle? where are we in the food chain? lions are considered the king of the jungle (supposedly the fittest animal in the jungle). sharks are the lions of the sea, but both animals are now in great danger for their survival because there isn’t enough food (other lower animals) in the jungle/sea anymore. The very ecosystems of these chains have been ‘damaged’ by us, humans. Are we then the fittest?

    I think human is ‘potentially’ worse than animals in the jungle, because we don’t exercise sustainability, we don’t accept the word ‘enough,’ we don’t preserve our ecosystem/nature, we don’t think long-term and/or for others, …where in the jungle, animals accept and exercise their roles. Animals evolve to the ‘fittest’ form depending on the environment they’re in, to solely procreate and play a bigger role in the sustainability of nature, where in which they belong to.

    It seems like capitalism, created by human, isn’t perfect yet. Every single one of us won’t be able to produce anything if we don’t have 1$ to start with to make another 1$ (Yunus’ idea). Conventional financial institutions ‘strangle’ people who want to borrow to be more productive or entrepreneurial. Education isn’t yet the rights for everyone in the world. Yunus even suggested that the rights for credits should be part of human rights, because so far…the ‘fittest’ and ‘fit’ ones don’t always practice sustainability and global social conscientiousness (until one they experience that their survival and/or their ‘well-being’ is being jeopardized).

    hmmm…I don’t know…if I’m making sense here 🙂

    Cheers.

    Posted by Maya | 6 May 2008, 10:22 pm
  2. you're making a lot of sense, of course. my whole point is only that the darwinian phrase is not appropriate to be used for human relationship that promotes life. it is possible for us to choose that way, but in that case we must let go of our wish to leave a peaceful life.

    it is possible that humans can be the worst type of animals; but it is also possible that we aren't, that's why ambivalent statements such as these cannot be made as foundation for thinking.

    as for yunus, please see my other comment. we can discuss it at greater length anytime.

    as for now, cheers.

    Posted by Nad | 8 May 2008, 6:25 am
  3. Bagaimana dengan:

    1. pak Tani yang cuma bisa garap sawah seluas 1 hektar? Mau beli tanah, duit dari mana? Yang harus pake pupuk seadanya, beli pupuknya pake uang dari mana? Emangnya pak Tani itu kurang
    2. si Tomi yang cerdas luar biasa tapi ortunya cuma mampu biayai sampai SMA.
    3. Ketamakan individu yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan dirinya? Sikut sana sikut sini. Suap sana suap sini? dibalik pelayanan terdapat kebusukan yang mengotori masyarakat?
    4. Kenaikan harga kebutuhan dasar karena dipermainkan oleh para spekulan kapitalis yang mengambil untung di setiap peluang, tidak peduli apaka peluang yang diraih itu menyebebabkan kelaparan bagi jutaan bahkan milyaran anak manusia?

    Posted by calon kapitalis | 12 May 2008, 5:39 pm
  4. Bagaimana kalau jawabannya begini:

    1 dan 2. Begitulah wajah sejati kehidupan dr dulu s.d. sekarang. Hidup tidaklah kejam atau bengis, melainkan apa adanya, kecuali manusia menafsirkan begini-begitu lewat pelabelan terhadapnya (saya belum lama mencoba ingatkan hal ini dalam tulisan terbaru tentang tumbuhan). Jika Anda mau menolong sang petani tersebut secara sukarela, tentu ini baik sekali, apalagi kalau bisa buat “mekanisme” yg sinambung bagi yg lain. Tapi prinsipnya adalah, dan ini yg terpenting, seorangpun tdk boleh dirugikan dalam proses tsb, mis. karena paksaan atau keterpaksaan pihak lain. Adalah kenyataan, tiap makhluk hidup berjuang melawan tantangan alam—bahkan yg tinggal diperkotaan. Setiap yg hidup hadir ke dunia dalam kondisi berbeda; masing2 dgn keterbatasan masing-masing dan kondisi alamiah ini yg menimbulkan perlunya kerjasama dalam sistem pembagian kerja, yg dlm beberapa kesempatan sudah diulas di jurnal ini. Cara lain tentu ada: a.l. saling rampok, saling sikut, seperti Anda bilang; tapi ini bukan cara terbaik; masyarakat yg tertarik dgn cara ini harus melepaskan tujuan hidupnya yg lain, yg beradab, mis. hidup damai saling menghargai hak milik.

    Tentang si Tomi, kalau dia memang cerdas (anggap saja definisi kita tentangnya sama), maka pasar bebas akan mengakomodasinya jauh lebih superior drpd sistem lain yg berpretensi menyeragamkan manusia (silakan baca jg: Tentang Kesetaraan). Dia tinggal memanfaatkan kecerdasan dan kerjakerasnya untuk kepentingan terbaiknya. Dia berpeluang sukses. Dia berhak untuk sukses, sama seperti Anda dan saya. Bukan untuk diartikan dia niscaya atau harus mendapatkannya.

    3 dan 4. Ini problem moralitas manusia yg tdk perlu dikacaukan dengan sistem pengelolaan perekonomian (tapi hasil penelusuran saya, pasar bebas lebih superior dlm hal ini—kapan-kapan akan saya tulis). Tiap manusia mampu menjadi jahat dan buruk. Sebut saja ini kodrat; tidak dapat dinafikan; mustahil dihilangkan, malah kalau ada doktrin yg mau coba kemusykilan penyeragaman, justru harus dicurigai sebab ini tidak logis dan penyiaan sumber daya. Setiap individu berhak ‘tamak’ dalam arti memilih cara terbaik untuk kepentingannya. Tapi dia harus ingat, setiap pilihan ada konsekuensinya, dan individu lain sama berhaknya. Masyarakat pasar bebas punya cara untuk resolusi konflik, yg terandal adalah sistem penegakan hak milik pribadi.

    Pertanyaan2 Anda penting sekali, dan mungkin akan berulang ditanyakan orang suatu hari; apa jwb sy ini cukup dpt meyakinkan?

    Salam.

    Posted by Nad | 12 May 2008, 9:49 pm
  5. Bung NAD, seperti biasa, tulisan yang memikat dengan aroma Austria yang kental 🙂

    Sekedar menambahkan sedikit. Steven Landsburg dalam bukunya yang laku keras, The Armchair Economist, bab 8, menulis kira-kira begini: perbedaan logika Darwin dan Smith, walaupun keduanya sama-sama berdasarkan rasional individu dan kompetisi, pasar bebas menjanjikan efisiensi. Ini karena dalam pendekatan Darwinisme, mekanisme harga absen.

    Posted by rizal | 16 May 2008, 7:57 pm
  6. halo mas rizal, terima kasih atas masukannya. lho itu bukan nama blog ya? baiklah nanti saya cek; siapa tahu ada perpus nasional. btw, benarkah kabar bahwa mas rizal lagi di fairfax? kalau benar, dan jika tak sibuk, mohon cerita serunya bagi-bagi–artikelnya apalagi.

    Posted by Nad | 20 May 2008, 8:20 am
  7. Hmmmm… Jadi Gitu Yach !!!

    Posted by tyoz | 29 May 2008, 5:08 pm
  8. Saya setuju perbedaan Darwin dan Smith disini. Tapi sepertinya Darwin telah direpresentasikan dengan salah. Seolah-olah dasar teori Darwin adalah agresi, koersi, dan survival of the fittest. Semuanya berkonotasi negatif secara moral.

    Setahu saya, dasar teori Darwin adalah seleksi alam dan mutasi acak. Kedua mekanisme ini netral secara moral.

    Sedikit tambahan, saya tinggal di Amerika dan simpati terhadap kapitalisme/mekanisme pasar. Tapi saya merasa sanjungan terhadap mekanisme pasar disini terlalu berbunga-bunga 🙂

    Posted by Roby | 11 June 2008, 10:04 am
  9. Trims atas komentarnya. Berharga sekali.
    “Tapi sepertinya Darwin telah direpresentasikan dengan salah. Seolah-olah dasar teori Darwin adalah agresi, koersi, dan survival of the fittest. Semuanya berkonotasi negatif secara moral.”

    Saya setuju; begitu juga pandangan saya setelah membacanya. Tapi ini bukan ttg pendapat saya; ini ttg pandangan sbg orang yg menariknya terlalu jauh.

    Ttg ‘sanjungan’ terhadap mekanisme pasar, singkatnya itu karena saya memang sangat kagum kepadanya. Kekaguman ini hasil simpulan logis (post-judice) yang saya dapatkan lewat perkembangan dan sejarah pemikiran ekonomi, bukan sekadar asumsi (prejudice).

    Saya mengerti orang Amrik yg seumur hidup di sanapun bukan jaminan akan mau/mampu menarik kesimpulan tsb.

    Salam!

    Posted by Nad | 11 June 2008, 2:06 pm
  10. Nad
    Anda terlalu simpatik terhadap mekanisme pasar, dan antipati terhadap seleksi alam. Saya kira kedua “sistem alokasi” ini lebih serupa dari yang Anda gambarkan.

    1. Sebagai contoh, Anda menulis:
    “Mereka yang disebut “fit” di hutan rimba adalah binatang-binatang yang paling mahir menggunakan kekuatan/paksaan. Sedangkan dalam konteks pasar? Adalah mereka yang paling piawai dalam melayani masyarakat. Hutan rimba adalah tempat yang keras tiada ampun di mana yang satu merampas dari yang lain, sementara yang lemah dan kebetulan masih hidup akan hidup dalam tingkat setara kelaparan.”

    Salah satu binatang yang paling ‘fit’ dalam seleksi alam di ‘hutan rimba’ adalah kecoak. Ordo kecoak sudah berumur ratusan juta tahun. Apakah kecoak makhluk yang mahir menggunakan paksaan? Namun, kok kecoak tetap bertahan?

    Poin saya, seleksi alam bukan sekadar soal koersi, melainkan soal strategi bertahan dalam sebuah lingkungan alam. Sama seperti strategi seorang wiraswastawan ‘produktif’ untuk bertahan di pasar bebas.

    2. Anda menulis:
    “Pasar adalah tempat damai yang produktif di mana para pelakunya melayani diri masing-masing, bertindak demi keuntungan sendiri-sendiri, di dalam suatu proses suka rela yang pada akhirnya, mau tidak mau, disadari maupun tidak, membuat kita saling melayani satu sama lain secara bersamaan dan hidup dalam tingkat konsumsi yang semakin meningkat.”

    Betul, tapi saya kira ini hanya berlaku dalam industri dengan para pemain pasar yang cenderung price taker. (Bahkan dalam industri ini pun, akan selalu ada upaya mencari peluang sehingga price-taker bisa menjadi price-maker — dan upaya ini kerap jauh dari citra “pasar yang damai”).

    Namun, jika Anda memperhatikan industri-industri yang secara sifatnya hanya mampu mengakomodasi sedikit pemain, atau yang mempunyai efek jaringan, citra pasar yang damai menjadi absurd.

    Ketika Microsoft membeli perusahaan-perusahaan piranti lunak kreatif yang lebih kecil, lalu membiarkannya mati begitu saja, Microsoft tidak berniat meningkatkan nilai tambah industri. Microsoft ingin mematikan kompetitor atau meningkatkan ketergantungan kita semua terhadap produknya.

    3. Pasar bebas tidak sama dengan pasar kompetitif, karena pasar bebas bisa anti-kompetisi. Pasar kompetitif hanya dimungkinkan oleh institusi yang baik yang menjaga terjaminnya kompetisi itu. Institusi ini tidak sekadar memastikan terjaminnya hak kepemilikan, melainkan bahwa kekuatan pasar yang berlebih tidak cenderung menjadi inefisien. Pasar bebas mungkin memang lebih mirip dengan seleksi alam.

    Rizal menulis:
    “Sekedar menambahkan sedikit. Steven Landsburg dalam bukunya yang laku keras, The Armchair Economist, bab 8, menulis kira-kira begini: perbedaan logika Darwin dan Smith, walaupun keduanya sama-sama berdasarkan rasional individu dan kompetisi, pasar bebas menjanjikan efisiensi. Ini karena dalam pendekatan Darwinisme, mekanisme harga absen.”

    Saya tidak tahu persis apa yang dimaksud “pendekatan Darwinisme” di sini. Tapi, tentu saja dalam seleksi alam ada mekanisme harga, tercermin dalam kemampuan bertahan hidup, yang juga berdampak pada komposisi populasi pelbagai aktor dalam rantai makanan.

    Posted by Arya Gaduh | 17 June 2008, 1:22 am
  11. Bung Arya, saya tidak anti teori seleksi alam per se. Fakta bahwa kecoak Anda selamat adalah observasi yang tajam(!), tapi ini tidak mengurangi penggambaran kompetisi koersif di hutan rimba 😉

    Penggambaran tsb banyak dijumpai dalam berbagai varian di berbagai media dalam dan luar negeri; itu yang saya coba tepis. Tesis saya, penyamaan pasar bebas dengan rimba, tidak perlu dan tidak patut; bukan cuma tidak tepat tetapi justru bertentangan.

    Dapat saya sarikan: Anda berangkat dengan, atau tiba pada, proposisi bahwa pasar bebas sama atau mirip dengan hutan rimba. Tentu sah. Kemiripan dalam hal-hal tertentu memang ada; itu sebabnya mereka diperbandingkan in the first place, tetapi menyamakan hakikat keduanya adalah suatu kekeliruan.

    Seperti saya katakan di atas: “Jika di rimba raya berlaku hukum “survival of the fittest”, maka pasar bebas justru akan membuat semakin banyak orang “fit”. ”

    Mari kembali ke contoh Microsoft yang anda angkat:

    Jika Anda pengusaha kreatif dan Microsoft berminat atas perusahaan Anda, apa Anda tertarik? Maybe no, maybe yes. Kalau tidak; wassalam, akhir cerita—transaksi bisnis suka rela tidak terjadi. Kalau Bill ngotot main kasar, itu soal lain. (The law of the jungle tidak mengenal kata ini–dan bagi saya ini fundamental: suka rela.)

    Kalau jawaban Anda, ya, dan lalu Microsof ternyata membiarkan mantan-perusahaan Anda mati, yang artinya si Bill menyiakan sumberdayanya sendiri secara sadar (strategi) dan sukarela, sementara Anda bebas melakukan apa saja dengan kompensasi dan profit yang Anda peroleh, di mana letak masalahnya? Apalagi kalau ternyata itu bukan perusahaan Anda.

    Sekarang pun kita bisa pakai paket Openoffice Linux, perangkat lengkap dari wprocessing hingga dbmanagement yang bisa dipakai di sistem windows pula. Barang bebas yang hebat ini produk pasar bebas; believe it or not: semua hal bagus dan kemajuan teknologis adalah produk kapitalisme—baik yang terkendala maupun tidak. Bagaimana saya tidak bersimpati dengannya?

    Yang lebih subtil dan cenderung kita lupakan, mengambil contoh Microsoft AS berarti mempraasumsikan bahwa Amerika (atau RI) sekarang hidup di alam pasar bebas. AS dewasa ini sedang mengusung dirinya sendiri ke kutub sosialisme. Kalau demikian definisi kita tentang pasar bebas, bagaimana sosialisme harus kita definisikan?

    Jadi, anda benar. Saya memang bersimpati kepada pasar bebas. Sangat. Dukungan saya adalah karena di sana terdapat sovereignty individu. Individu berdaulat atas dirinya sendiri dan tindakan-tindakannya terhadap hak-miliknya sendiri.

    Contoh pasar bebas dalam bentuk internet kiranya lebih baik bagi proposisi Adam Smith berabad yang lalu; kita tidak perlu menjadi price maker atau price maker dalam menulis atau mengakses sebuah Jurnal online semacam yang sedang Anda baca. (Paling tidak, sejauh tidak ”diregulasi”). Poin saya, keberlakuan prinsip pasar bebas tidak perlu dibatasi secara sempit pada price making dan price taking. Konsep pasar bebas tidak menjadi absurd dengan pemosisian biner tersebut, sekalipun kasus-kasus yang Anda maksud benar terjadi. Pasar adalah “the foremost social body” (Mises; 1962; h.315).

    Pasar bebas yang anti-kompetisi tampak bagi saya sebagai contradictio in terminis; tapi saya perlu menelaah hal ini lebih dalam. Dugaan kuat saya, ini berpulang, dan di sisi lain mengarah, pada pemahaman terhadap teori mono- /oligopoli. Tapi saya tidak ingin bicara hal tersebut di sini sekarang, suatu saat mungkin akan saya tulis.

    Singkat kata, perekonomian yang tidak direcoki elit adalah ideal yang harus dicari, karena ini bagi saya tuntutan akal, meskipun ideal tersebut harus bernama pasar bebas, atau yang secara tidak populer dijuluki–alas!: kapitalisme.

    Posted by Nad | 17 June 2008, 2:38 pm
  12. Kalau boleh tanya, bagaimana menjelaskan pernyataan kapitalisme membuat para individunya berdaulat terhadap dirinya sendiri? Orang-orang Marxist akan berkata bahwa hubungan buruh dan majikan adalah hubungan yang exploitatif karena majikan dapat menekan para buruh dengan gaji yang kecil dan buruh tidak punya pilihan lain karena harus bertahan hidup. Jika kita adalah seorang buruh yang tidak memilki pilihan tentu saja kita menderita.
    Tentang progressifitas yang dilakukan oleh kapitalisme, bukankah itu merupakan sumber dari penderitaan kita sebagai umat manusia. Siapa bilang penemuan sepedamotaor atau mobil itu meningkatkan kualitas hidup manusia, bukankah justru semakin menurunkan. Tidak berbicara tentang global warming yang lagi populer akhir-akhir ini, tetapi tentang ideologi kita yang berpikir bahwa berjalan beberapa kolo saja sudah melelahkan yang mungkin secara biologis kita mampu melakukanya. So Why Capitalism.

    Posted by dora | 6 July 2008, 4:40 pm
  13. Dora yg baik, kalau boleh usul, silakan baca beberapa tulisan Pilar yang sedikit banyak telah menyinggung pertanyaan-pertanyaan mendasar tsb. Di sini saya coba tambahkan sedikit saja (tanpa niat apapun untuk mengubah opini yg mungkin telah Anda yakini).

    Kapitalisme alias perekonomian pasar alias pasar bebas berdasar pada azas kebebasan individu dalam bertindak, termasuk dalam memproduksi dan berkonsumsi. Re pandangan orang-orang Marxist, memang Marx berpendapat begitu. Namun, harus dikatakan bahwa pandangan-pandangannya tentang pembentukan nilai dan teori pertukaran, keliru. Amat keliru, malah. Misalnya: apakah jika saya menghabiskan waktu berbulan-bulan membuat minuman aneh yang tidak enak dari lumpur Sidoarjo, Anda akan bersedia membayar Rp 5 ribu per gelasnya? Mungkin Rp.1 pun Anda tidak mau bayar; tapi begitulah kata Marx, proses nilai diciptakan atas kontribusi labor di dalamnya produksi. Re teori pertukaran, Marx pun keliru, sebagaimana Aristoteles ribuan tahun sebelumnya.

    Faktanya, tidak ada paksaan dalam hubungan ketenagakerjaan, kecuali dalam perbudakan atau, hei, justru di era Komunisme! Kita bisa belajar ini dari sejarah. Kalau sekarang Anda bekerja, Anda mungkin dapat menyelami kebenarannya sendiri secara intuitif. Dlm hal dua teori mendasar ini, tugas terpenting bagi proponen Marxist saya kira adalah memperbaiki Manifestonya agar romantisme yang ingin digagasnya dapat justifikasi logis. Re orang-orang yang tidak punya pilihan, ini problem kehidupan yang terlepas dari sistem penyelenggaraan perekonomian. (Bagi saya, sistem kapitalisme paling berpeluang u) mengatasinya–lewat kebebasan berproduksi.//Banyak orang diposisikan harus merasa bersalah atas hasil kemajuan teknologi, padahal tanpa kemajuan teknologi yang paling subur di iklim kapitalisme, jutaan bahkan miliaran manusia mungkin rang akan mati, bahkan oleh sebab saja, misalnya pertumbuhan populasi (ingat Malthus). Sebagian orang memang “kangen” pada nostalgia noble savage. Mereka merasa bersalah karena kondisi hidup dewasa ini jauh lebih baik. Kalau mereka konsisten, mereka masih dapat hidup bebas di hutan-hutan, tanpa sepeda motor ataupun mobil. Saya ingin sedikit mereformulasi pertanyaan Anda menjadi begini. Memang ada sisi “negatif” dari solusi yang dibuat kemanusiaan dalam mempertahankan hidup dan peradaban selama ini—ini adalah persoalan yang harus kita pecahkan. Global warming, misalnya, yang dianggap oleh sebagian orang sbg problem genting di era kita (saya amat skeptis dengan ini); kalaupun ini benar, solusi sejatinya tidak akan, ulangi lagi: tidak akan, datang dari pemerintahan sebesar apapun gembar-gembornya. Anda tahu di mana solusinya yang tidak mengorbankan individu-individu yang hidup di masa ini?

    Posted by Nad | 6 July 2008, 8:01 pm
  14. Syukur alhamdulilah.
    Haleluya!!
    Segala puji syukur bagi Tuhan ternyata di Indonesia masih ada orang-orang berakal sehat. Dulu saya orang yang juga anti kapitalisme (yah, mungkin karena saya produk sekolah negeri orde baru). TEtapi setelah universitas, saya temukan buku Milton Friedman, Free to Choose. Mulai saat itu saya adalah pendukung kapitalisme dan getol mempertahankan argumentasinya. Memag betul, kapitalisme adalah ideologi yang blum dikenal. Sebelum saya sampai di blog ini, saya kunjungi Yahoo Answer dan betapa ngerinya saya melihat disitu tentang apa yang banyak orang lihat tentang kapitalisme. Bahkan, pemberi jawaban terbaik menilai kapitalimse membawa dunia kiamat lebih cepat. Terlintas dipikiran saya, apakah masih  ada orang di Indonesia ini yang masih punya akal sehat? Ingin rasanya disitu saya posting pertanyaan yang sama; Apakah masih ada di negara ini yang punya akal sehat dan melihat betapa bekrja dengan sangat baiknya kebebasan pasar tersebut. Tetapi saya sempatkan berkunjung ke google dan mencari kata kunci “pendukung kapitalisme” dan saya berakhir di blog ini.

    Tetapi masalah yang dihadapi sekarang tampaknya  suara para pendukung kapitalisme kurang terdengar, lebih terdengar para penentangnya. Tampaknya kita harus lebih aktif lagi dalam berkarya dan saya ingin merubah blog saya yang dulunya berisi tulisan bodoh saya, menjadi blog yang mempromosikan kapitalisme. Tetapi masalah saya adalah waktu saya yang harus saya habiskan untuk menulis tampaknya tidak selaras dengan kesibukan pekerjaan saya. Kalu boleh minta saran pada mas Nad, pekerjaan mas itu apa sih? Bagaimana menyelaraskan waktu menulis dengan pekerjaan?

    Posted by mahaganti | 2 December 2008, 1:09 pm
  15. Syukur alhamdulilah. Haleluya!! Segala puji syukur bagi Tuhan ternyata di Indonesia masih ada orang-orang berakal sehat. Dulu saya orang yang juga anti kapitalisme (yah, mungkin karena saya produk sekolah negeri orde baru). TEtapi setelah universitas, saya temukan buku Milton Friedman, Free to Choose. Mulai saat itu saya adalah pendukung kapitalisme dan getol mempertahankan argumentasinya. Memag betul, kapitalisme adalah ideologi yang blum dikenal. Sebelum saya sampai di blog ini, saya kunjungi Yahoo Answer dan betapa ngerinya saya melihat disitu tentang apa yang banyak orang lihat tentang kapitalisme. Bahkan, pemberi jawaban terbaik menilai kapitalimse membawa dunia kiamat lebih cepat. Terlintas dipikiran saya, apakah masih ada orang di Indonesia ini yang masih punya akal sehat? Ingin rasanya disitu saya posting pertanyaan yang sama; Apakah masih ada di negara ini yang punya akal sehat dan melihat betapa bekrja dengan sangat baiknya kebebasan pasar tersebut. Tetapi saya sempatkan berkunjung ke google dan mencari kata kunci “pendukung kapitalisme” dan saya berakhir di blog ini. Tetapi masalah yang dihadapi sekarang tampaknya suara para pendukung kapitalisme kurang terdengar, lebih terdengar para penentangnya. Tampaknya kita harus lebih aktif lagi dalam berkarya dan saya ingin merubah blog saya yang dulunya berisi tulisan bodoh saya, menjadi blog yang mempromosikan kapitalisme. Tetapi masalah saya adalah waktu saya yang harus saya habiskan untuk menulis tampaknya tidak selaras dengan kesibukan pekerjaan saya. Kalu boleh minta saran pada mas Nad, pekerjaan mas itu apa sih? Bagaimana menyelaraskan waktu menulis dengan pekerjaan?

    Posted by mahaganti | 2 December 2008, 1:12 pm
  16. mahaganti, terima kasih atas infonya.  sesama produk orde baru, saya paham apa yang anda katakan, rasakan, kuatirkan. eh, blognya di mana? re pekerjaan, saya baru berhenti sbg analis. re tips, itu beraat. tapi ini kuncinya: biar matamera, enjoy aja…. punya artikel?

    Posted by Nad | 3 December 2008, 6:56 pm
  17. @mahaganti,

    Nabi Yusuf itu spekulan, dengan berbekal mimpi firaun dia berani melakukan spekulasi penimbunan bahan pangan yang investasinya besar (gudang-gudang pangan dan management stock). Tanpa ada spekulan spt Yusuf, akan banyak rakyat Mesir yang mati kelaparan.

    Catatan: bahan pangan yang ditimbun Yusuf, dikemudian hari dijual, bukan dibagikan dengan gratis lho.

    Spekulan, kapitalist….., semua ada perannya dalam hidup ini. Mereka dibasmi, maka ekonomi hancur.

    Posted by imam semar | 5 December 2008, 8:59 pm
  18. Mw tanya nich..

    apa sich keterkaitan antara kapitalisme dan darwinisme?

    makasih….

    Posted by Budi Hendrawan | 13 May 2010, 5:45 pm
  19. mw tanya nich…

    apa sich keterkaitan antara kapitalisme dan budaya barat ?

    makasih…

    Posted by Budi Hendrawan | 13 May 2010, 5:46 pm
  20. waduh, perlu waktu 2 tahun untuk menjawab pertanyaan saudara nad… minta maaf… pekerjaan saya masih sama dengan 2 tahun lalu. dan ngomong2, saya punya blog tetapi nebeng ama friendster (http://mahacorp.blog.friendster.com/) ini untuk tulisan saya yang belum di proof read dan di revisi, dan sekarang udah malas nulis, dan sekarang udah kebanyakan nulis di catatan di facebook, check it out… punya facebook ngga?
    @ budi hermawan, untuk pertanyaan itu, sebaiknya anda baca buku sosiolog klasik Max Webber berjudul “Protestant ethics and spirit of capitalism”.

    Posted by mahaganti | 25 May 2010, 2:17 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: