Uncategorized

Semakin Minim Semakin Baik

(Akaldankehendak.com)

Buruknya sistem penempatan dosen dan besarnya beban rerata jam ajar (20 jam/minggu) dianggap sebagai penyebab utama minimnya minat dosen Indonesia untuk meneliti. Kementerian Riset dan Teknologi c.q. Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pun disarankan segera membenahi peraturan tentang penugasan dosen.[1]

Artikel singkat ini menyorot isu dari perspektif lain.

Argumen tentang perlunya pembenahan penugasan dosen tersebut didasari atas 2 asumsi implisit. Pertama, riset ilmiah itu penting; kedua, menerbitkan karya riset di jurnal ilmiah itu keharusan.

Kenapa riset ilmiah dan penerbitannya, penting?  Di samping untuk memajukan ilmu itu sendiri, satu tujuan utama penelitan ilmiah adalah untuk membangun masyarakat dengan cara menjawab persoalan-persoalan masyarakat. Penerbitan ilmiah, dalam pengertiannya yang paling pragmatis, penting sebab dia berpotensi menelurkan solusi untuk dijadikan dasar “kebijakan publik.”

(Stop press: jika kita tarik lebih lanjut, satu asumsi implisit lain adalah bahwa “kebijakan publik” diperlukan oleh sebab tanpanya masyarakat dianggap tidak mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut. Ini mungkin perlu didiskusikan kapan-kapan dalam artikel lain.)

Patut diingat, wacana di atas juga punya sisi lain. Sisi lain ini dapat ditelusuri dengan menyingkap nasib tulisan-tulisan ilmiah di jaman sekarang. Yang faktanya, ternyata, suram.

Berdasarkan penelitian terkini di negara maju:

  • artikel ilmiah paling banter dibaca oleh 10 orang.
  • 82 persen artikel humaniora bahkan tidak pernah satu kali pun dikutip.
  • dari yang dikutip, cuma 20 persen yang benar-benar dibaca.
  • separuh dari paper akademik tidak pernah dibaca orang kecuali oleh penulis, penanggap dan penyunting jurnal.[2]

Dengan kata lain, sudah cukup banyak peneliti asyik-khusuk menyoal, meneliti dan menawarkan solusinya atas persoalan yang bagi khalayak bukanlah isu, di ruang yang pula tidak terakses oleh publik.

Sudah terlalu banyak tulisan akademik yang hanya sekadar “plagiarisme kreatif” atas riset lama dengan tempelan tesis baru.

Sudah terlalu banyak akademisi yang hanya memproduksi kertas yang tidak dibaca, yang nilainya barangkali bahkan lebih rendah dari tisu toilet.

Semakin minim minat kita memproduksi sampah akademik, semakin baik.

Lebih baik lagi, bikin tisu sekalian.

Sumber:
[1] https://nasional.tempo.co/read/news/2016/12/29/079831105/ini-penyebab-dosen-di-tanah-air-kurang-suka-meneliti
[2] http://www.straitstimes.com/opinion/prof-no-one-is-reading-you

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Semakin Minim Semakin Baik”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: